
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Setelah seharian Jingga sibuk bermain sepedanya yang sama sekali tidak bisa dimainkan, karena dia masih belum paham bagaimana cara naik sepeda.
“Sayang Jingga, minum obat dulu yuk sayang,” seru Dara, yang selalu membawakan obat-obatan untuk putrinya.
Jingga menganggukan kepalanya pelan, lalu menerima obat yang diberikan mamahnya, “ayah kapan pulang?” tanyanya pada Dara.
“Kenapa? Jingga sudah tidak sabar ingin belajar naik sepeda ya?” tanya Dara yang dijawab anggukan kepala oleh Jingga.
“Ya sudah, tunggu ayahnya di dalam saja yuk sayang, ini sudah petang, mama mau memasak untuk ayah, dan juga tamu yang akan datang,” ajak Dara pada Jingga.
Terlihat Jingga yang sangat enggan untuk masuk ke dalam rumah, namun Dara lebih tidak mau meninggalkan Jingga di luar, karena takut ada penculik.
Dengan sedikit memaksa Dara menarik tangan putrinya masuk ke dalam rumah, tidak lupa dia mengunci pintu rumahnya agar Jingga tidak bisa kabur.
“Jingga nonton tv dulu saja ya nak,” ucap Dara sambil menyalakan Tv untuk Jingga.
Namun sepertinya Jingga menolak, hingga memilih untuk masuk ke dalam kamarnya, “Jingga, bukan begitu maksud mama nak,” serunya, merasa jika putrinya itu sedang marah karena dirinya tidak mengizinkan anaknya itu bermain di luar.
Lagi-lagi Jingga memilih diam, dan mengambil buku pelajaraanya, “Jingga mau belajar, Jingga mau teman,” ketusnya pada Dara yang kali ini bingung dengan permintaan putrinya.
“Teman?” tanya Dara lagi. Akan tetapi Jingga sudah tidak ingin menjawabnya sama sekali.
Merasa diabaikan, Dara membiarkan sejenak Jingga mengambil waktu untuk dirinya sendiri, sedangkan dia pribari, memilih untuk memasak karena Zein tadi pagi mengatakan jika akan ada tamu yang datang ke rumah mereka.
Malam ini Dara mencoba memasak makanan asia yang dia lihat dari youtube, dan tidak lupa dia sesekali melihat Jingga yang berada di dalam kamar. Apakah masih aman atau tidak.
Sambil berlari-lari membersihkan rumah, sambil memasak dan merawat Jingga, semua pekerjaan dia lakukan dengan perasaan riang, tidak ada keluhan bahkan perasaan lelah yang terlihat di wajahnya.
Waktu menunjukan pukul 6.00pm, semua makananpun sudah siap dimasak olehnya. “Aahhh, semua makanan sudah siap, sekarang aku tinggal mandi, dan bersiap-siap menerima tamu,” gumamnya lembut, dan tidak lupa dia menghampiri putrinya terlebih dahulu.
“Jingga sayang, mandi dulu yuk,” ajaknya pada Jingga.
“Bohhhooongg, pergggi,” usirnya pada Dara, Jingga terlihat begitu marah saat ini.
“Kan, ini pasti gara-gara ayahnya pulang lambat hari ini, jadinya dia gak bisa naik sepeda,” batin Dara, yang mulai mengetahui sumber masalahnya.
“Sayang Jingga, hari ini adalah hari pertama ayah kerja, jadi mungkin pekerjaanya banyak nak,” ujarnya mencoba menjelaskan.
Akan tetapi, Jingga tetap tidak mau menerima itu, dia memilih untuk menarik selimut hingga menutupi tubuhnya hingga kepala.
Dara hanya bisa menghela nafasnya kasar, dan memilih untuk mandi terlebih dahulu. Selepas mandi, Dara melihat pintu terbuka, “ayah sudah pulang,” teriaknya agar Jingga mendengarnya.
“Kenapa sih mah teriak-teriak,” tegur Zein, yang tidak menyukai jika Dara bersuara nyaring.
Dengan melangkah mengambil tas milik suaminya, Dara tersenyum manis, “anaknya marah yah, karena ayah tadi tidak pulang cepat, padahal dia berharap ayah pulang sore dan mengajarkannya naik sepeda,” balas Dara.
Zein menganggukan kepalanya pelan, lalu membuka kemeja kerjanya, hingga tereksposlah roti sobek yang dia miliki.
“Kalau begitu ayah mandi dulu ya mah, setelah itu baru ke kamar Jingga,” serunya pada Dara, lalu segera beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Zein mandi, Dara langsung bergegas untuk menyiapkan makan malam.
Ting,,tongg bunyi bel rumah mereka, “ahhh itu pasti temannya ayah,” gumamnya, dan segera berjalan membukakaan pintu untuk tamu.
“Hallo,” sapa Dara dengan ramah.
“Hallo, nyonya Dara, saya adalah Kasim, dan ini istri saya Dina, dan yang ini adalah anak saya Mafa,” ucapnya memperkenalkan diri.
“Oh iya, masuk pak, suami saya masih mandi,” imbuhnya pelan, lalu membuka pagar rumah dan mempersilahkan keluarga pak Kasim itu masuk.
“Silahkan duduk pak,bu,” ucapnya mempersilahkan tamu itu untuk duduk.
Setelah tamu-tamu itu duduk dengan nyaman, barulah Dara kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam untuk menyiapkan minum.
Dara membuat meniuman sirup yang sehat, karena ini sama sekali tidak ada gulanya, dan selepas dia membuat minum, dengan segera dia langsung membawa minuman itu untuk para tamu. “Silahkan diminum, pak, ibu,” ucapnya dengan sopan.
“Eh Kasim, sudah datang kamu,” serunya dengan santai, padahal dia sangat tau bahwa yang sedang berada dihadapannya ini adalah bos tempatnya bekerja.
“Iyah tuan Zein, kami baru saja datang,” jawabnya dengan sopan.
Zein tersenyum, lalu melihat ke arah Mafa, “usia anakmu ini berapa?” tanyanya pada Kasim.
Kasim menatap ke arah putranya, “13 tahun Tuan, dan dia sudah kelas 2 smp, tapi tahun ini dia sudah naik kelas 3,” jawab Kasim.
“Oh sama dengan anak saya, tapi dia baru mau masuk SMP minggu depan,” sahut Dara dengan tersenyum manis.
Lalu terlihat Zein yang duduk dihadapan Mafa, “kamu mau tidak bermain dengan anaknya uncle, dia gadis kecil yang imut dan cantik,kamu maukan jadi temannya,” tawarnya pada Mafa, yang terlihat berpikir sejenak.
“Boleh om,” jawabnya santai.
Zein tersenyum, lalu menggengam tangan Mafa kuat, “ayo masuk ke dalam, kita bangunin dia,” ajak Zein pada Mafa.
“Ayo om,” sahut Mafa.
Ckleeekkkk pintu kamar Jingga terbuka, terlihat Jingga yang tadinya sedang membaca buku, tiba-tiba langsung berpura-pura tidur.
“Jingga sayang, lihat siapa yang sedang bersama dengan ayah,” serunya dengan suara yang menggoda.
Jingga membuka sedikit matanya dengan mengintip, tapi dia takut jika ketahuan kalau dia hanya berpura-pura tidur.
Zein memberikan kode pada Mafa agar mendekat ke arah Jingga. “Hallo Jingga, aku adalah Mafa, aku adalah teman kamu sekarang,” ucapnya memperkenalkan diri.
Mendengar kata teman, sontak saja Jingga langsung membuka matanya dan melihat siapa yang sedang berbicara dengannya, “Mafa,” gumamnya menyebutkan ulang nama teman barunya.
“Iya, Mafa, nama kamu siapa?” tanya Mafa dengan menjulurkan tanganya ke arah Jingga.
Namun bukannya menerima Jingga malah langsung memeluk tubuh Mafa, “Jingga,,aku Jingga,” lirihnya pelan, membuat Mafa menjadi salah tingkah.
Di usianya yang menginjak remaja, sebenarnya memang tidak pantas Jingga langsung memeluk tubuh Mafa, namun Zein membiarkannya, karena dia bisa meminta Jingga untuk menganggap Mafa sebagai kakak laki-lakinya.
“Ayah tinggal dulu ya, kalian biar main berdua,” seru Zein, yang memberikan ruang bagi mereka berdua untuk bermain.
Mafa dan Jingga menganggukan kepala mereka bersama, setelah menatap kepergian Zein, Mafa kembali menatap ke arah Jingga. Namun matanya membulat seketika di saat melihat darah yang keluar dari hidung Jingga.
“Jingga ini?” tanyanya dengan sedikit menyentuh darah di hidung Jingga.
Menyadari hal itu, Jingga langsung cepat mengambil tissue dan mengelap darah itu agar tidak keluar lagi.
“Jingga apa kamu baik-baik saja?” tanya Mafa yang sedikit khawatir.
Jingga menganggukan kepalanya pelan, dan tersenyum manis ke arah Mafa, sambil berjalan mengambil buku mewarnainya, “Jingga baik-baik saja,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Setelah itu barulah dia menunjukan hasil gambar dan lukisannya pada Mafa, ini adalah pertama kalinya dalam hidup dia mempunyai teman, karena biasanya dia hanya dimusuhi dan dijauhi saja.
Jinggapun tidak mengerti apa alasan mereka menjauh, tapi dia cukup senang kali ini, karena Tuhan mengabulkan permintaanya untuk memiliki seorang teman. Dan mungkin itu sebabnya Tuhan mengirim Mafa untuknya sebagai kakak sekaligus teman.
Note : Gengs, Mimin Infokan untuk karya Aldo Dan Brina Sudah Mimin Update ya , dan udah gangi judul THE MEJESTY I’ts MY HUSBAND.
LANGSUNG SAJA CEK PROFIL MIMIN YA, KALAU RAME MIMIN LANJUT LAGI SOALNYA. TAPI KALAU GAK RAME, MIMIN LANJUTNYA SETELAH KARYA INI SELESAI.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*