It’S So Hurts

It’S So Hurts
Tugas Seorang Zein diMulai



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Zein dan Stella kini sedang duduk tenang menanti sampai Bryan selesai ditangini.


Keduanya terlihat sama-sama diam, dengan pemikiraan mereka masing-masing. "Siapa yang menembak? Dan apa tujuannya?" batin Zein yang berkecamuk dengan pemikiraanya sendiri.


Tidak ingin berlarut, Zein akhirnya bangkit dari duduk dan mendekat ke arah Hitto, "kamu urus ayah Dara, sembunyikan dia di tempat yang aman, aku akan kembali ke Indonesia sekarang," seru Zein yang kini menatap Hitto dan Stella bergantian.


Mendengat keputusaan itu, Stella terlihat menghembuskan nafasanya kasar, dan beranjak mendekati Zein.


"Zein, apa kamu tahu, jika semua orang berhak mendapatkan sebuah kata maaf," ucap Stella lembut.


Zein menatap Stella bingung, karena tidak mengerti apa maksud dari ucapan Stella ini.


"Kembalilah dan pulanglah, jika kamu tidak ingin baikan sama Bundamu, tapi kamu harus ingat, ada Griffin yang membutuhkanmu," seru Stella lagi, memberikan pengertian pada Zein.


Sudah cukup lama Zein mengabaikan Griffin, Dan membiarkan anak itu hidup di tengah-tengah kekejamaannya hidup.


Apa lagi mereka sering menerima laporan, jika Griffin selalu dipukul, ditendang dan dilukai oleh teman-temannya, membuat Stella rasanya ingin sekali muncul dan memperlihatkan diri dihadapan cucunya itu, namun sayang, demi pengasingan, hanya Zein sajalah yang boleh muncul.


Zein semakin menatap Stella bingung, apa yang sebenarnya diinginkan oleh Mamah angkatnya ini sekarang.


"Mamah tau, kamu pasti berpikir, bagaimana bisa Mamah menyuruhmu mengurus Griffin di saat kekasihmu masih belum ditemukan. Mamah tau itu Zein, tapi bisakan keduanya jalan bersamaan, sambil kamu merawat Griffin, sambil kamu mencari keberadaan Dara, Mamah rasa semuanya tidak sulit Zein," ucap Stella lagi.


Zein terus terdiam, karena sudah mengerti apa yang maksud dari ucapan Stella, namun tetap saja pikiran tertuju ke Dara.


Akan tetapi, kewajiban tetaplah kewajiban, dia boleh mendiamkan Valen, tapi dia tidak bisa mengabaikan Griffin, karena dari awal itu memanglah tugasnya.


"Aku akan kembali ke Indonesia Mah, tolong jaga dan tempatkan ayah Dara di tempat yang aman," ucap Zein, sebelum akhirnya dia pamit terlebih dahulu, meninggalkan Stella dan Hitto yang masih menunggui Bryan.


Zein melangkahkan kakinya pergi menuju bandara untuk menaiki pesawat umum. Karena dia tahu jika Stella akan menggunakan Jet pribadinya nanti.


Sepanjangan jalan, Zein kembali terdiam sambil terus memikirkan di mana keberadaan Dara? Kenapa dia begitu sulit ditemukan?


Mereka adalah keturunan keluarga atas, yang informasi sekecil apapun pasti akan ditemukan, tapi kenapa rasanya saat ini sulit sekali? Siapa gerangan yang berada dibalik semua ini? Pertanyaan yang terus terputar di kepala Zein tanpa satupun ada yang bisa menjawabnya.


*****


Sedangkan di sisi lain, terlihat wanita dengan perut buncitnya sedang bercocok tanam di halaman sebuah rumah sederhana, sambil menikmati suasana pedesaan yang tenang.


"Heii mbak, tetangga baru ya," sapa salah satu ibu yang tidak sengaja lewat di depan rumah Tasya.


"Iya bu, saya adalah pindha ke sini 2 hari yang lalu bu," sahut Tasya dengan senyum.


Namun tetangga lainya yang berada di depan rumahnya kini terlihat berbisik-bisik sambil melihat ke arah perut Tasya.


"Dua hari ini aku lihat dia tinggal, tapi tidak ada suaminya?" tanya ibu-ibu itu.


Tasya yang mendengar itu langsung emosi dan menusuk-nusuk tanah di dalam pot dengan kasar, dan berlari masuk ke dalam rumahnya.


Dia kembali menangis mengingat begitu sulitnya kah dirinya diterima di masyarakat, dengan keadaan hamil seperti itu?


"Kamu kuat Tasya, kamu tidak boleh lemah, kamu harus berjuang demi bayimu," gumamnya meyakinkan dirinya harus siap menerima cacian masyarakat tantang buruknya tanggapan soal hamil tanpa suami.


"Oh iya, akukan bisa saja bilang kalau suami aku lagi tugas di Lebanon, tidak salah dong kalau aku bilang suamiku adalah abdi negara," ucapnya lagi, mulai yakin untuk menciptakan kebohongan demi keadaan yang kondusif.


*****


"Nyonya, makan malam telah siap," panggil salah satu pelayan yang berada di belakangnya.


Wanita itu melirik sekilas, lalu menggelengkan kepalanya menolak untuk makan saat ini.


"Aku tidak mau makan, silahkan kamu buang saja semua itu," sahut wanita itu.


"Nyonya Dara, bekerjasamalah, kami tidak ingin mendapatkan masalah jika kamu sakit nyonya," tandas pelayan itu. Hingga salah satu pria bertubuh tegap dengan tatapan yang tajam masuk ke dalam kamar Dara.


"Bekerja samalah Dara, aku tau kamu ingin bebas dari sini, tapi itu adalah sebuah mimpi yang tidak nyata, karena yang bisa membebaskan kamu hanyalah bos kami," sahut pria itu.


"Siapa bos kalian? Aku sama sekali tidak pernah punya urusan dengan bos kalian itu, aku ingin bebas, kenapa kalian memenjarakaanku seperti ini," teriak Dara, merasa muak dengan semua ini.


Sudah hampir sebulan dia dikurung bak putri Rapunzzel. Dengan seluruh kemewahaan, dengan seluruh kemegahaan istana, tapi dia hanya sendiri, jika malam tiba seperti ini dia ingin bebas dan bertemu dengan Zein.


"Anda akan bebas, setelah tugas seseorang selesai Nyonya, setelah itu kamu akan dibebaskan dari sini," balas pria itu, dan langsung menarik paksa tangan Dara, untuk turun ke bawah dan menghabiskan makan malamnya.


"Lepasaakan aku!!lepaskan," teriak Dara meronta dalam gengaman pria itu.


"Pria gilaaa,lepaskan aku!!" bentak Dara lagi.


"Yuda Nyonya, nama saya adalah Yuda, dan saya tidak akan segan-segan bertindak kasar jika Nyonya tidak mau menuruti saya," seru Yuda penuh penekananan serta ancaman terhadap Dara.


Dara terdiam dan ingin menangis, "aku hanya ingin bebas," lirihnya pelan, sambil meneteskan air matanya, karena merasa takut dengan sosok yuda.


"Anda akan bebas nyonya, tapi nanti setelah seseorang menyelesaikan tugas utamanya, baru Anda akan bebas," balas Yuda, kembali memberikan pengertian terhadap Dara.


"Kapan?" teriaknya merasa frustasi dengan jawaban yang seperti itu.


"16 tahun lagi," jawab Yuda dengan santai. Namun berbeda dengan Dara yang merasakan sesak di dadanya.


Ini bukan 16 bulan tapi tahun, membuat Daea terdiam bingung, bagaimana bisa dia melewati 16 tahun tanpa siapapun, hidup sendiri di tengah lautan, hanya dengan pelayan dan kemewahaan, apa yang bisa dibanggakan dari semua ini? Kenapa harus selama itu?


Setelah sampai di meja makan, Yuda meninggalkan Dara yang sedang duduk dengan tenang, "habiskan makan malammu! Karena masih ada 16 tahun lagi kamu harus bertahan hidup sampai kamu bertemu dengan orang luar," seru Yuda sebelum melangkahkan kakinya pergi.


Dara tersenyum menanggapi ucapan Yuda, "16 tahun lagi, siapa yang jamin kalau Zein akan menungguku selama itu," gumamnya sinis, meratapi nasibnya yang sangat malang.


Dia tidak tahu siapa seseorang yang sedang menyelesaikan misinya? Dan apa hubunganya dengan dirinya?


Yang dia tahu sekarang adalah menunggu sampai tugas seseorang itu selesai baru dia akan bebas.


*****


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻