
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Sesampainya di rumah, Dara yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah syuting tadi, kini merebahkan dirinya. “Ke mana Zein? Dia pergi tidak bilang, dan tadi juga janji mau di rumah aja, benar-benar tidak bisa dipercaya,” gumam Dara, sambil terus memijat keningnya pusing.
Lalu, karena merasa kelelahan, akhirnya dia tertidur di sofa sambil menunggu kepulangan Zein.
Sementara di sisi lain, Arvan membawa Zein pulang ke Mansion Lesham, tempat adiknya berada.
“Uncle, kenapa kita ke sini?” tanya Zein bingung.
Arvan hanya diam enggan menjawab pertanyaan dari Zein, dia memilih untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam Mansion Lesham.
“Duduk, Zein!” perintah Arvan dengan tegas, dan tak lupa dia memberikan tissue basah untuk Zein membersihkan darah yang sudah mengering itu.
Tidak lama kemudian, keluarlah Stella dan Aiden yang juga termasuk keluarga angkatnya.
“Zein,” tegur Stella lembut.
Namun Zein hanya diam saja, tanpa mengerti arah tujuan mereka semua berkumpul di sini.
Arvan melemparkan foto-foto Tenry dan Nayra yang merupakan ibu kandung dari Dara.
Dan disusul foto Lucas dan juga Bryan, ayah Dara.
“Kamu tau apa hubungan keempat orang ini ?” tanya Arvan menyelidik ke arah Zein.
“Nayra dan Tenry adalah kakak beradik kandung, sedangkan Lucas dan Bryan adalah sepupu sekali, dan sekaligus anak buah dari papah kamu, Apa kamu tau itu?” tanya Arvan lagi.
“Aku tau tapi aku tidak peduli,” sahut Zein, membuat Aiden dan Stella hanya bisa menghela napasnya kasar.
Arvan mencoba untuk menahan segala emosinya menghadapi Zein yang mempunyai sifat persis dengan Lucas. “Zein, jika itu adalah saudara Ayah mungkin masih bisa, tapi ini adalah saudara kandungmu yang merupakan anak dari tantemu, itu tidak boleh, Zein,” sahut Stella, yang lebih mengerti pelajaran masyarakat ini.
Zein tersenyum menanggapi mereka. “Sejujurnya, kalian bukan mempermasalahkan hubunganku dengan Dara yang merupakan sedarah, tapi kalian mempermasalahkan aku yang jatuh cinta kepada musuh aku sendiri. Sebenarnya apa mau kalian semua? Jika kalian mau aku pergi dari kehidupan kalian, maka aku akan melakukanya. Tapi jika kalian berharap aku putus dan meninggalkan Dara, maka bermimpi saja,” terangnya pada Arvan dan Stella.
Lalu berdiri dari duduknya, dan ingin beranjak keluar. “Zein, aku memerintahmu sebagai Tuan, bukan sebagai Uncle! Dan aku memerintahmu untuk meninggalkan Dara dan menikahi Tasya!” bentaknya tegas, mengingatkan posisi
Zein sebagai bawahan dari keluarga besar ini.
Zein menghentikan langkahnya, dan membalikkan tubuhnya menatap ke arah Arvan yang sedang berdiri dengan mengepalkan tangannya, “Dia kekasihku, bukan saudaraku. Jika kalian memaksaku menikahi Tasya, maka suruh Kak Aiden membangkitkan kakaknya yang sudah mati, lalu nikahkan mereka,” balas Zein dengan berani. Lalu kembali melangkahkan kakinya pergi.
“Zein Alucas,” teriak Arvan lagi, memanggil Zein agar menghentikan langkahnya.
Tapi Zein sama sekali tidak peduli, dia akan menghalau siapa saja yang berniat untuk merusak hubungannya dengan Dara.
Dengan rasa emosi, Zein mengendarai mobilnya pulang, dan berniat untuk pindah ke kota lain, agar keluarga besarnya itu tidak lagi mengganggu mereka.
Cklleekkk, Zein membuka pintu dengan perlahan, dan menghidupkan lampu untuk menerangi ruang tamu.
“Sayang,” panggil Zein terkejut melihat Dara yang tertidur di sofa ruang tamu.
“Engggh,” leguhan Dara, ketika merasa tidurnya tergangu karena mendengar suara kekasihnya pulang.
“Pindah ke dalam ya,” pinta Zein, langsung mengangkat tubuh Dara untuk berpindah tidur di kamar.
Sedangkan Dara, memilih untuk tidur kembali, agar bisa mengumpulkan tenaganya untuk menghadapi Zein besok.
Ketika Zein sudah berada di dalam kamar, dengan perlahan,dia membaringkan tubuh Dara. Dan setelah itu, dia mengambil handuk basah untuk membersihkan tubuh Dara, lalu menggantikan kekasihnya itu baju tidur, agar tidur kesayangannya bisa nyenyak.
Zein memandangi wajah Dara yang begitu tenang dan cantik ketika tidur, “Aku tidak tau, apa yang kamu punya hingga aku bisa jatuh cinta sedalam ini dengan kamu.”
Cuuuppp, Zein mengecup singkat kening Dara, mencurahkan seluruh rasa cintanya pada wanita ini. “Besok kita pindah ya, mungkin ke daerah yang tidak akan pernah bisa ditemui orang lain,” ajaknya pada Dara, sebelum akhirnya dia menutup matanya kembali.
******
Keesokan harinya, Dara yang terbangun lebih dulu, kini mulai melakukan aktivitasnya seperti biasa. Dia memasak dan menyiapkan pakaian kerja untuk kekasihnya, dan setelah semuanya selesai, barulah dia mandi dan ber-make-up.
“Kamu mau ke mana pagi-pagi begini ?” tanya Zein yang baru saja membuka matanya dan masih berbaring di atas tempat tidur.
Dara menolehkan pandanganya menatap Zein, dan beranjak naik ke atas tempat tidur. “Aku ada jadwal syuting pagi ini, Sayang. Kamu sarapan sendiri dulu, tidak apa ya? Aku sudah masak kok,” ucapnya lembut, sambil mengusap lembut wajah Zein.
“Dara, aku mengizinkan kamu bekerja, tapi kamu juga harus ingat waktu lah, jangan biar pagi, malam kamu pergi, aku itu ngerasa kalau kamu sudah tidak mencintaiku Dara,” ketus
Zein pelan, membuat Dara mendadak pusing dengan sikap Zein di pagi ini.
Zein membalikkan tubuhnya, membelakangi Dara yang sedang menatapnya, “Aku kan sudah bilang kita akan pindah hari ini, apa kamu tidak mengerti?” tegasnya lagi, dan semakin membuat Dara bingung.
Dara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Sayang, seingat aku kamu tidak pernah bilang kalau kita mau pindah, lalu bagaimana aku mau mengerti?” tanya Dara bingung.
“Ada, semalam aku bilang, di saat kamu tidur,” sahutnya santai, membuat Dara ingin sekali memukulnya.
“Zein Alucas Sayang, kamu tahu kan kalau orang bicara itu harus dalam kesadaraan yang penuh,” sindir Dara, merasa jika saat ini Zein mulai berlebihaan.
Zein yang merasa enggan menyahuti Dara, kini mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Dara yang menatapnya dengan rasa kesal.
“Ini lelaki kenapa ya? Bukannya menjelaskan kemana dia semalam, malah dia marah-marah tidak jelas,” gumam Dara, tanpa ingin mengambil pusing lagi, dia memilih untuk melanjutkan merias wajahnya.
Tak lama kemudian Zein yang baru saja selesai mandi, kini menatap Dara dengan tajam,
“Kamu pulang jam berapa ?” tanyanya pada Dara. Karena menurutnya sangat percuma jika dilarang untuk bekerja, pasti Dara akan mengomel lagi.
“Aku pulang sore, Sayang. Jangan ditunggu ya, karena aku akan mampir ke rumah Tyas sebentar, dan--”
“Aku ikut denganmu,” sahut Zein, sontak membuat Dara menatapnya heran.
“Kenapa ?” tanya Dara.
“Kenapa apanya? Aku adalah kekasihmu, wajar aku ikut denganmu, dan aku tidak suka penolakan,” tegasnya pada Dara, yang hanya bisa dijawab gedikan bahu singkat dari kekasihnya.
“Pasti ada sesuatu yang disembunyikan olehnya, tidak biasa dia seperti ini,” batin Dara, merasa heran dengan sikap Zein hari ini.
“Oh ya, Sayang, kita akan ke rumah Kak Aiden nanti malam, sebagai tanda perpisahaan sebelum kita pindah dari kota ini,” tandasnya lagi, yang dijawab anggukan kepala oleh Dara, karena enggan untuk bertanya apa alasannya.
Karena menurut Dara, apa yang dilakukan oleh Zein itu adalah yang terbaik untuk semuanya, mungkin saja, karena kejadian kemarin, Zein merasa bahwa mereka harus pindah agar tidak terus menerus terbayang dengan kejadian pengkhianatan itu.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻