Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Bertemu Sella



"Kakak! Sella kangen Kakak!" Panggilan spirit Sella sontak membuat spirit Emma menoleh.


Entah mungkin karena energi nya telah habis saat ia tertidur di atas pohon, Emma tahu-tahu terbangun di depan sebuah ruko yang ramai pengunjung.


Pada awal nya Emma belum sadar kalau spirit nya kembali ke Pasar Ghaib. Namun setelah melihat beberapa ruko yang pernah dikunjungi nya bersama spirit Sella dan Cello, tahu lah Emma di mana ia berada kini.


Apalagi tak lama setelah ia berjalan, Emma mendengar panggilan Sella kepada nya.


"Sella!" Emma bergegas menghampiri spirit anak asuh nya itu.


Kedua perempuan beda usia itu langsung berpelukan erat cukup lama.


"Cello mana, Sell?" Tanya Emma kemudian.


"Gak tahu, Kak. Sella juga bingung. Biasanya walau kami main masing-masing di dunia nyata, nanti kami ketemu lagi di Pasar Ghaib ini. Tapi hampir seharian ini Sella tungguin Cello, tapi dia belum muncul juga," jawab Sella dengan raut khawatir.


Emma lalu teringat kalau Cello ikut bermain kejar-kejaran dengan nya dan juga Pak Adda.


'Apa jangan-jangan Cello tertangkap ya? Bukan kah waktu itu Pak Adda bilang, siapapun yang tertangkap akan mendapat hukuman menjadi teman tidur nya?' batin Emma sibuk berpikir.


"Mungkin dia cuma lagi keliling aja, Sell. Nanti juga ketemu," sahut Emma menghibur Sella.


"Gitu ya, Kak? Hh.. Kakak kok lama banget di dunia nyata? Terus tentang Pak Adda.." Sella kembali bertanya. Kali ini topik nya adalah tentang Pak Adda.


Emma kembali teringat kalau Sella sempat dijatuhkan ke lantai dari ketinggian oleh Pak Adda, sebelum akhirnya ia hilang kesadaran. Hal ini pasti meninggalkan trauma tersendiri di pikiran anak perempuan tersebut.


"Gak apa-apa. Habis itu, Pak Adda ngajak Kakak dan Cello main di luar rumah," Emma bercerita setengah jujur.


"Sella takut sama Pak Adda.." ungkap Sella dengan jujur.


"Yah.. ada baiknya nanti Sella menghindari Pak Adda ya!" Emms lalu menasihati anak itu.


"Sella juga takut sama nenek itu.." lanjut Sella dengan tak menatap mata Emma.


Emma mengerutkan kening.


"Nenek mana, Sell?"


Tanya Emma kemudian.


'Jangan-jangan maksudnya itu adalah bibi..' tebak Emma dalam hati.


"Itu loh, nenek yang suka keliling beresin barang berantakan di rumah, Kak.. dia juga jahat!" Ungkap Sella takut-takut.


'Benar. Maksud Sella memang ternyata adalah Bibi Hara!' gumam Emma lebih lanjut.


"Tapi Sella heran karena Kak Celia suka ngobrol sama nenek itu.." imbuh Sella kembali.


"Oh ya?"


"Iya, Kak. Dan nenek itu juga sepertinya menyukai Kak Celia. Gak seperti ke Sella dan Cello. Nenek itu jahat kalau ke kami," lanjut Sella.


'Kami itu maksud nya mungkin adalah dia dan Cello ya..' pikir Emma.


"Hmm.. memang nya apa yang sudah dilakukan sama bibi.. emmm.. maksud kakak Nenek itu ke kamu, Sell? Kok kamu bilang beliau jahat sih?" Tanya Emma kemudian.


"Nenek itu kan yang udah bikin Sella jadi boneka di dunia nyata, Kak!" Ungkap Sella dengan pandangan marah.


"Cello juga?"


Detik berikutnya ekspresi di wajah spirit Sella berubah menjadi sedih.


"Padahal Sella gak terlalu suka juga sih kak jadi boneka. Sella juga pingin bisa bangun lagi di tubuh asli nya Sella.." ujar Sella melamun.


Mendengar itu, Emma jadi merasa iba kepada anak perempuan di hadapan nya itu.


"Sella tahu gak, tubuh asli Sella sekarang ada di mana?" Tanya Emma tiba-tiba.


Kepala Sella langsung menegak berdiri. Ditatapnya wajah Emma dengan pandangan penuh harap.


"Tahu, Kak! Sella tahu!" Jawab Sella bersemangat.


Emma tersenyum.


"Ada di mana, Sell? Apa ada di rumah juga?" Emma menebak.


"Bukan, Kak!" Sella menggelengkan kepala nya


"Terus di mana?"


"Di rumah sakit. Pertama kali bangun dalam bentuk spirit, Sella dan Cello sadar kalau kami ada di rumah sakit. Ada banyak selang dan pipa panjang yang tersambung ke tangan dan mulut kami," Sella bercerita.


"Terus?"


"Terus, lamaaaa banget kami duduk nungguin di samping tubuh manusia kami. Sampai tiba-tiba aja Sella ngerasa kayak ditarik gitu, Kak! Ada benag merah yang tiba-tiba muncul dan ikat Sella. Terus benang itu narik Sella ke rumah. Dan tahu-tahu, Sella udah jadi boneka deh.." Sella mengakhiri cerita nya.


Emma kembali teringat dengan pengalaman serupa yang juga ia alami sesaat sebelum spirit nya terperangkap dalam tubuh boneka. Kejadian nya persis seperti yang terjadi kepada Sella.


"Sella awalnya takut, Kak.. takut banget. Dan bingung juga. Kenapa Sella bisa jadi bineka? Sella kira Mama yang pingin Sella jadi boneka. Tapi terus Sella akhirnya tahu kalau itu adalah perbuatan nenek jahat!" Sella meretaskan amarah nya.


Emma langsung menarik Sella ke dalam pelukan nya. Ingin sekali gadis itu menghapus memori buruk serta amarah dalam hati anak yang sedang ia peluk saat ini.


Tak seharusnya anak semuda Sella dan Cello mengalami kejadian setragis ini. Walaupun Emma juga merasa dirinya pun tak sepatutnya dipaksa menjadi boneka seperti sekarang ini.


"Sabar ya, Sayang. Pasti nanti ada jalan nya buat kamu.. dan juga Cello kembali ke tubuh mu lagi. Oke?" Emma mencoba menghibur kembali Sella.


"Iya, Kakak.." sahut Sella dengan nada patuh.


Setelah hening sejenak, Sella lalu melepas pelukan nya ke tubuh Emma. Anak perempuan itu lalu kembali menatap wajah Emma dengan bingung.


"Sella jadi ingat Cello lagi, Kak. Dia sebenarnya ke mana ya?" Tanya sella kembali.


Ditanya seperti itu, Emma pun kebingungan untuk menjawab nya.


'Bagaimana aku bisa mengatakan kepada Sella, kalau kemungkinan saat ini Cello masih bersama dengan Pak Adda? Jika aku mengatakan itu, Sella mestilah akan jadi sangat khawatir!' Emma bergumam dalam hati.


"Mau cari Cello bareng-bareng sama Kakak yuk!" Ajak Emma akhir nya.


Emma mencoba mengulur waktu di depan Sella. Semntara ujung jati nya sangat berharap kalau Cello sedang baik-baik saja saat ini.


Entah apa yang akan dilakukan Pak Adda kepada Cello. Jika benar boneka lelaki itu telah dihukum menjadi 'teman tidur' lelaki paruh baya tersebut.


Selagi mengulur waktu, Emma dan Sella pun pergi membeli berbagai cemilan untuk kembali mengisi energi mereka yang telah terkuras.


Sedikit banyak nya Emma merasa bersalah kepada Sella. Karena ketika keduanya kembali ke dunia nyata nanti, anak asuh nya itu jelas tak akan menemukan Emma terbangun di dalam villa. Karena pada kenyataan nya, Emma telah kabur dan tertidur di atas pohon yang jauh dari lokasi vila berada.


***