Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Cerita Bi Hara



Malam hari nya, Emma meminta ijin pada majikan nya untuk pulang menjenguk sang ibunda pada akhir pekan ini.


"Jangan pekan ini. Saya ada urusan keluar kota. Pekan depan pun sama. Mungkin dua pekan lagi baru saya ada di rumah," jawab Nyonya Sofia dengan senyuman tipis.


Emma merasa sedikit kecewa. Walaupun ia sudah menduga jawaban seperti inilah yang akan didapatkan nya.


Lagipula ia baru juga bekerja kurang dari seminggu, jadi wajar juga bila ia belum bisa meminta ijin untuk berlibur.


"Sudah kan? Saya mau istirahat dulu. Kalau ada perlu apa-apa, tanya saja pada Bi Hara," tutur Sofia sambil bangkit dari sofa.


"Baik, Nyonya," sahut Emma dengan kepala tertunduk.


Beberapa hari berikut nya, Emma menjalani hari-hari nya dengan rutinitas menjadi nanny bagi para boneka arwah.


Sesekali hantu Celia masih meneror nya di waktu malam. Namun Emma selalu berhasil selamat dari semua ancaman hantu Celia.


Pada akhir pekan yang dihadapkan Emma bisa berlibur, Nyonya Sofia benar tak pulang ke villa sore itu. Menurut Bibi Hara, majikan mereka itu harus pergi keluar kota untuk mengurusi bisnis kosmetik milik nya.


Malam itu, Emma merasa tak tenang. Karena malam itu ia akan melakukan apa yang sudah direncanakan nya sejak dua malam sebelum nya.


Flashback.


Emma sedang mengajak anak-anak berjalan di halaman villa pada suatu pagi yang mendung. Setelah puas berjalan selama satu jam, Emma lalu beristirahat di depan teras.


Merasa kehausan, gadis itu pun hendak mengambil air mineral di kulkas yang ada di dapur. Saat itulah ia tak sengaja mendengar suara percakapan seseorang di sebuah kamar yang terbuka sedikit.


Emma tertarik untuk mendengar percakapan tersebut saat ia mendengar nama nya disebut.


Seperti inilah kiranya isi percakapan itu.


'Celia menolak tubuh boneka yang kuberikan pada nya. Dia ingin memiliki tubuh manusia yang sehat. Seperti Emma..' bisik suara halus yang terdengar seperti suara seorang perempuan.


Emma langsung menduga kalau itu mestilah Nyonya Sofia.


'Sebentar lagi, aku akan melakukan ritual pergantian ruh. Saat itu terjadi, kau harus membantu ku berjaga di luar ruangan. Jangan sampai si tukang ikut campur itu kembali mengganggu rencana ku! Sudah cukup sekali dulu dia membantu Emma kabur!' kembali suara yang sama berbisik pelan.


Emma mencengkeram erat botol air mineral yang dipegang nya. Dalam hati nya ia merasa gelisah saat mendengar percakapan yang membahas tentang diri nya itu.


'Satu purnama lagi akan terjadi gerhana bulan. Saat itu adalah waktu terbaik untuk melakukan pergantian ruh Celia dan juga Emma. Aku akan mengabari mu lagi nanti. Sekarang, pergilah!' titah suara perempuan itu kemudian.


Emma langsung saja berlari menjauhi pintu dan berjaga di tikungan lorong di mana ruangan tadi berada.


Setelah beberapa lama, Emma bergaya seperti sedang menenggak air. Padahal sebenar nya ia menunggu seseorang yang akan segera keluar dari ruangan tadi.


Seseorang yang sedang merencanakan hal buruk kepada Emma. Pergantian ruh, katanya!


Tak lama kemudian, Emma harus menahan diri dari tidak menjerit saat Pak Adda berjalan melewati nya.


Pada mula nya Pak Adda cukup terkejut saat melihat Emma. Namun karena Emma menyapa nya ramah, lelaki itu pun langsung bernapas lega dan memberikan anggukan singkat.


Sementara itu, Emma harus menahan diri untuk tidak melemparkan botol mineral di tangan nya ke kepala Pak Adda.


Tahulah gadis itu saat itu juga bahwa Pak Adda berkomplotan dengan seorang wanita, yang Emma duga adalah Nyonya Sofia, untuk mencelakai Emma.


Akhirnya Emma pun memutuskan untuk menyelidiki rencana yang dimaksud oleh Nyonya Sofia tersebut. Rencana untuk menukarkan ruh nya dengan ruh dari hantu Celia.


Tapi sebelum itu, Emma harus mencari tahu terlebih dahulu tentang Celia. Siapa sebenar nya dia? Dan kenapa majikan nya itu ingin membiarkan arwah Celia menghuni tubuh Emma?


Flashback selesai.


Kembali ke saat ini, saat Emma baru selesai makan malam bersama Bibi Hara di ruang makan.


Malam itu majikan mereka tak ada di rumah. Jadi Pak Kiman dan Pak Adda makan malam di kamar nya masing-masing.


Selesai makan, Emma membantu Bi Hara mencuci bekas makan mereka. Sambil lalu, Emma pun mengajak Bi Hara berbincang.


"Bibi, dulu bibi pernah cerita kalau sebenar nya Nyonya Sofia itu punya tiga anak kan?" Tanya Emma tiba-tiba.


Gerakan tangan Bi Hara saat menyabuni piring sempat terhenti beberapa saat. Sebelum akhirnya ia me-resume kegiatan nya lagi.


"Iya. Memang nya kenapa Neng? Kok tiba-tiba nanyain itu?" Tanya balik Bi Hara sambil menatap Emma dengan pandangan bingung.


"Mm.. enggak. Penasaran aja sih. sama penyakit yang diderita sama anak-anak nya Bu Sofia. Emma heran. kenapa di kamar anak-anak ada satu kasur kosong yang gak diisi. Apa memang dulu Non Celia kamar nya di situ juga ya?" tanya Emma.


"Oh..kasur itu ya.."


Bi Hara tampak memikirkan sesuatu sebentar. Sebelum akhirnya ia menjawab keingintahuan Emma.


"Iya memang Nyonya mempunyai tiga orang anak, Neng. Anak pertama Nyonya adalah Non Celia. Usianya sekitar empat atau lima tahun di atas si kembar yang sekarang Neng asuh," tutur Bi Hara bercerita.


"Dia benar tinggal di kamar itu, Bi? terus sakit koma dan dirawat di rumah sakit?" Tanya Emma kemudian.


"Iya, Neng. Setahu bibi sih, Non Celia sakit keras. Sampai akhirnya koma dan gak bisa bangun-bangun lagi. Dia sekarang dirawat di rumah sakit, Neng. Cuma gak tahu juga sih kondisi nya sekarang gimana. Soal nya Nyonya gak pernah cerita tentang anak-anak nya kan ya.." lanjut Bi Hara bercerita.


"Terus, suami nya ibu Sofia di mana?" Tanya Emma lagi.


"Waktu itu suami Nyonya masih ada. Dan beliau selalu menjadi penguat dan teman nyonya bercerita," imbuh Bi Hara.


"Terus si kembar lahir..mereka mulanya tumbuh sehat, Neng. Tapi terus penyakit misterius yang sudah menyerang kakak perempuan mereka dulu itu pun juga menyerang si kembar. Keduanya juga koma dan gak bisa bangun dari tidur nya pada suatu pagi. Saat itulah Nyonya semakin depresi. Dan pertengkaran dengan Tuan besar pun jadi sering terjadi," lanjut Bi Hara.


"Terus, Bi?" Tanya Emma semakin penasaran.


"Terus, Tuan Muda keluar dari rumah ini. Dan sejak saat itulah Nyonya tinggal sendiri di rumah ini."


"Kapan kejadian nya itu, Bi? Maksud Emma, kapan si kembar juga tiba-tiba koma?" Tanya Emma memperjelas.


"Kejadian nya waktu si kembar umur tiga tahun kayak nya, Neng. Itu sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Kalau sekarang, Non Sella dan Den Cello mestilah sudah berumur 8 tahun," jawab Bi Hara.


"Terus sejak kapan dua boneka itu muncul di rumah ini, Bi?" Tanya Emma lebih lanjut.


Ia sungguh penasaran dan ingin mengupas tuntas rasa penasaran nya saat itu juga!


***