Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Perbincangan Monolog dengan Cello



Emma menguatkan hati nya untuk melangkah mendekati sofa tempat para boneka duduk.


Saat itu, ruangan tivi yang memang tak terlalu terang karena masukan cahaya ke dalam ruangan yang minim, membuat pergerakan boneka Cello terlihat mengerikan di mata Emma.


Emma menelan ludah nya sendiri yang menyangkut di kerongkongan.


Gadis itu berusaha menenangkan jantung nya yang mulai berdebum tak beraturan. Terutama ketika dilihat nya boneka Cello terus memperhatikan diri nya yang datang mendekat.


Begitu sampai di dekat Cello, Emma memilih sofa kosong di samping Cello.


"Cello, kamu tahu hal yang sebenarnya terjadi di kolam tadi kan?" Tanya Emma dengan suara pelan.


Perlahan, kepala boneka Cello mengangguk sekali.


Emma mengerutkan kening nya bingung.


'Tumben banget dia diam! Biasa nya dia paling ceriwis dan cekikikan sendiri!' gumam batin Emma.


"Bisakah kamu ceritakan ke Kakak, apa yang sebenar nya terjadi?" Pinta Emma kemudian.


Boneka Cello diam saja. Tak menjawab pertanyaan Emma.


"Cell, kakak minta tolong banget. Apa tadi itu ulah Kak Celia?" Tanya Emma dengan kalimat menjurus.


Boneka Cello kembali menganggukkan kepala nya.


'Nih anak, eh, nih boneka kenapa sih? Dari tadi cuma angguk-angguk aja! Apa dia lagi puasa tah ya?' Emma sibuk berasumsi dalam hati.


"Kamu kenapa gak ngomong kayak biasanya, Cell? Apa kamu gak bisa ngomong sekarang ini? Kamu takut?" Kali ini Emma bertanya dengan kalimat beruntun.


Selanjutnya boneka Cello menggelengkan kepala nya sekali, mengangguk sekali, lalu menggelengkan kepala nya lagi sekali.


'Duh, Ma! Apa aku ajakin pakai bahasa nya orang tuna wicara aja ya? Habis nya dari tadi kerjaan nya angguk-geleng-angguk-geleng aja!' Emma menggerutu dalam hati.


"Jadi, kamu gak bisa ngomong sekarang ini, Cell?" Tanya Emma memastikan.


Dan Cello kembali mengangguk sekali.


Emma berpikir sebentar.


Setelah memikirkan berbagai alasan sang boneka tak bisa bicara, akhirnya Emma hanya bisa menduga satu hal saja.


"Apa kamu gak bisa ngomong karena hari masih siang?"


Boneka Cello lalu menggeleng dan mengangguk kemudian. Tingkah nya itu membuat Emma jadi kebingungan.


Akhirnya Emma memutuskan untuk tak lagi mengajak boneka Cello bicara.


'Capek ah. Banyak nanya, tapi jawaban nya cuma bisa dapat anggukan atau gelengan kepala!' gerutu Emma dalam hati.


Gadis itu lalu menyenderkan kepala nya ke bahu sofa yang ia duduki. Sementara boneka Cello masih terus memperhatikan nya lekat-lekat.


Kelamaan diamati oleh sang boneka, akhirnya Emma pun kembali bertanya kepada nya.


"Kenapa, Cell?" Tanya Emma.


Cello tak menjawab. Tiba-tiba saja ia malah terkulai lemas di atas sofa tempat nya berada. Dan setelah nya ia kembali tertidur, seperti hal nya saudari nya, boneka Sella.


"Huh? Ni anak kenapa sih?" Emma bergumam pelan.


"Neng Emma? Ini wedang jahe yang bibi buatin barusan. Dihabisin ya, Neng!" Suara Bibi Hara di belakang Emma segera membuat gadis itu menoleh ke belakang.


"Bi Hara.." sahut Emma.


"Iya. Kalau bisa, jangan suka main di kolam belakang ya, Neng. Itu kolam nya lumayan dalam, soal nya. Air nya juga kotor kan ya.." Bi Hara menasihati Emma.


"Iya, Bi. Gak tahu deh. Kayak nya tadi Emma kepleset. Jadi nyebur deh ke kolam," Emma mengarang cerita.


"Iya, Bi. Makasih ya, Bi.." sahut Emma.


"Sama-sama, Neng. Kalau gitu, Bibi ke atas dulu ya. Mau beresin kamar nya Nyonya," pamit Bi Hara.


"Nyonya Sofia udah berangkat kerja ya, Bi?" Tanya Emma.


"Udah, Neng. Kenapa? Mau tanya soal minta ijin pulang ya?" Tebak Bi Hara.


Emma melebarkan senyuman nya.


"Iya, Bi. Nanti malam aja deh bilang nya. Semoga aja diijinin ya, Bi.." ujar Emma penuh harap.


"Iya, Neng. Kalau alasan nya tepat, dan waktu nya tepat, Nyonya biasanya ngasih ijin aja sih.." jawab Bi Hara.


"Gitu ya, Bi?"


"Iya, Neng. Bibi ke atas ya, Neng?" Pamit Bi Hara lagi.


"Eh, iya. Emma lupa. Maaf ya, Bi. Kerjaan Bibi jadi tertahan karena Emma ajakin ngobrol," ujar Emma dengan raut menyesal.


"Gak apa-apa, Neng. Bibi senang kok ngobrol sama Neng. Sebelum nya kan bibi satu-satu nya pegawai wanita di villa ini. Jadi gak ada yang bisa Bibi ajakin ngobrol," papar Bi Hara menerangkan.


Kemudian, Bi Hara pun pergi menuju lantai atas. Sementara itu, Emma melirik ke arah wedang jahe yang ada di atas nampan.


Ternyata selain wedang jahe, terdapat juga potongan buah kiwi dan mangga di piring kecil. Emma menebak, buah itu untuk dua boneka asuh nya.


Saat itu memang memasuki jam untuk ngemil. Jam sepuluh pagi.


Akhirnya, setelah menyeruput wedang jahe sedikit demi sedikit, Emma pun menyodorkan potongan buah yang ada di piring ke depan mulut boneka Sella dan juga Cello.


Meski kedua boneka itu tampak diam tak bergerak saat Emma menyodori mereka buah, namun Emma tahu. Kalau keduanya sedang menyesap sari-sari yang ada di buah tersebut.


Belajar dari pengalaman, Emma tak lagi perlu membuktikan kalau potongan buah yang telah ia sodorkan pada para boneka itu tak lagi memiliki rasa, alias hambar.


Lagipula, cukup sekali ia mencicipi sisa makanan para boneka arwah. Dan ia tak tergoda untuk mengulangi nya kembali.


.


.


.


Rutinitas Emma di sisa hari itu dilalui nya bersama para boneka arwah. Ia bahkan mengajak serta keduanya ke kamar saat waktu zuhur tiba.


Emma menempatkan boneka Sella dan boneka Cello di atas kasur. Sementara ia menunaikan shalat zuhur.


Emma mengakui kebenaran ucapan Mama nya dulu. Bahwa shalat menjadi perlindungan diri nya dari segala sesuatu.


Lagipula, Emma merasakan tenang setiap kali ia usai menunaikan shalat. Dengan shalat, Emma merasakan perlindungan tak kasat mata dari teror hantu Celia.


Mungkin kedatangan Pak Kiman saat di kolam tadi juga adalah bentuk perlindungan Allah yang menjaga nya dari hantu Celia.


Entah lah, Emma tak bisa memastikan hal itu juga saat ini. Mungkin baru nanti malam, Emma bisa memastikan kejadian yang sebenar nya. Saat boneka Cello dan Sella kembali bisa bergerak bebas dan berbicara.


Menjelang ashar, Emma berada di kamar nya sendirian. Saat itu kedua boneka asuh nya sudah Emma temlatkan di kasur nya masing-masing.


Keduanya telah Emma lap dan sodorkan bubur buatan Pak Kiman.


Sebenar nya Emma merasa perbuatan nya menyuapi para boneka itu sebagai perbuatan mubadzir. Bagaimanalah tak mubadzir? Jika bubur itu tetap terlihat utuh tak tersentuh. Pada akhirnya bubur itu harus dibuang begitu saja ke tempat sampah.


Tapi mau bagaimana lagi? Memang itulah job desk nya Emma. Jadi ia harus mengerjakan tugas nya se profesional mungkin.


***