
'Siapa sih ni cowok? So kenal banget..' gumam Emma menilai pemuda asing di hadapan nya.
Menyadari kalau ucapan nya tak bermakna apa-apa bagi Emma, akhirnya pemuda itu pun kembali memperkenalkan diri nya kepada gadis itu.
"Oh, baiklah! Kurasa tak apa-apa bila kita berkenalan lagi. Nama ku Rudolf, Nona Cantik! Dan kau tak perlu memperkenalkan diri mu lagi. Nama mu Emma bukan? Aku memiliki ingatan fotogenik. Jadi cukup sekali aku melihat atau mendengar sesuatu, maka aku akan mengingat nya selalu. Mengagumkan, bukan?" Ujar Rudolf dengan percaya diri.
Emma ternganga keheranan saat mendengar Rudolf begitu lancar berceloteh.
"Hihihi.. Om! Om bikin Kakak Cantik bingung, tahu!" Kekeh Sella di samping Emma.
Emma terkejut saat mendengar Sella sudah bisa tertawa kembali. Ia pikir Sella masih akan bersedih dalam waktu yang lama tentang mama nya dan Cello.
Detik berikut nya Emma merasa malu karena ucapan Sella memang ada benar nya.
"Oke. Jadi, kamu ini Om Baik nya Sella ya? Salam kenal. Nama ku.."
Ucapan Emma kembali dipotong oleh Rudolf.
"Emma. Sudah ku bilang kan kalau aku masih mengingat nama mu, Nona Cantik! Jadi, kenapa kalian mengerubung di sini? Apa kalian hendak membeli bubuk pemadat diri?" Tanya Rudolf kemudian.
"Huh? Bhbuk..bubuk apa tadi kau bilang?" Tanya Emma yang merasa telah salah mendengar.
"Pemadat diri. Kupikir begitu, karena kalian berhenti tepat di depan toko nya bukan?" Rudolf menjelaskan dugaan nya.
Emma langsung menengok ke toko di samping nya. Di sana tertulis, "Bubuk Pemadat. Spirit baru rasa jadi Spirit Lama!"
Tak mengerti dengan maksud iklan tertulis di depan toko, Emma pun spontan bertanya kepada Rudolf.
"Apa guna nya itu? Apa itu seperti semen?" Emma asal menebak.
"Semen? Ahahahaha! Tentu saja bukan, Nona Cantik! Bubuk Pemadat itu biasanya diincar oleh para arwah muda yang belum bisa memadatkan diri. Jadi dengan bubuk itu, hantu yang baru sekali pun bisa menjadi padat dan menyentuh benda duniawi di dunia nyata," papar Rudolf menerangkan.
"Ooh.. begitu.."
Emma langsung membayangkan sosok ruh Susi. Seingat Emma, sahabat nya itu bisa ia sentuh. Padahal jasmani Susi sebenarnya masih hidup. Tapi Emma bisa menyentuh ruh nya yang terasa dingin di kulit.
"Apa jangan-jangan Susi juga memaksi bubuk Pemadat itu ya? Tapi itu berarti dia juga pergi ke Pasar Ghaib ini kah?" Tanpa sadar Emma bergumam pelan.
Gumaman nya itu terdengar oleh Rudolf. Sehingga pemuda itu pun laku bertanya.
"Apa Susi itu teman mu Nona Cantik? Dia sejenis apa? Boneka yang dikutuk juga kah?" Cecar Rudolf.
"Ehh? Bukan.. dia itu manusia biasa. Tapi karena kecelakaan, dia pun koma. Aneh nya ruh nya bisa gentayangan sendiri. Saat aku dalam tubuh boneka ku pun aku bisa menyentuh nya seolah ia seperti manusia lain nya. Ku pikir, apa itu karena dia menggunakan bubuk pemadat juga?" Tanya Emma kepada Rudolf.
Emma berhatap perkiraan nya itu benar. Dan ia pun berharap bisa bertemu dengan ruh Susi di Pasar Ghaib ini.
Emma ingat terkahir kali pertemuan mereka adalah saat Susi menyuruh nya dan Reno untuk pergi meninggalkan ruang rahasia. Sementara Susi melawan serangan hantu Celia.
Emma ingin tahu kondisi ruh Susi saat ini.
"O.. rupa nya begitu. Hmm.. ruh, spirit, arwah, atau hantu. Itu semua sama saja. Janya panggilan nya saja yang berbeda. Akan tetapi ada perbedaan jenis spirit berdasarkan penyebab nya menjadi spirit," Rudolf mulai menerangkan.
Pemuda tampan itu lalu duduk secara asal di pinggiran toko. Kemudian memberi isyarat tangan kepada Emma dan Sella untuk mengikuti aksi nya.
Akhirnya Emma dan Sella pun ikut duduk di pinggiran toko bersama Rudolf.
"Pada dasar nya, semua spirit tinggal di dunia yang sama yakni, Dunia Spirit. Pasar Ghaib ini pun berada dalam wilayah Dunia Spirit. Meksi begtiu, setiap tempat di dunia spirit hanya bisa dimasuki oleh spirit dengan jenis-jenis tertentu," terang Rudolf.
"Berdasarkan penjelasan mu tentang Susi tadi, ku rasa teman mu itu mungkin tinggak di Bukit Antara. Karena dibilang gentayangan pun dia masih memiliki jasad yang hidup di dunia nyata," jelas arudolf.
"Aku pun masih mempunyai tubuh manusia yang hidup di dunia nyata!" Peotes Emma.
"Ya, memang. Tapi kau juga dikutuk kan? Jadi, kau hanya bisa memasuki Pasar Ghaib ini saja. Tak bisa pergi ke bagian lain dalam Dunia Spirit ini," terang Rudolf.
"Hh.. jadi begitu."
'Padahal kupikir aku bisa bertemu lagi dengan susi di sini.. tapi.. syukurlah kalau begitu. Itu berarti Susi tak dikutuk atau gentayangan seperti Mbak Kunti yang ku temui di Toko Misi,' lanjut Emma dalam hati.
"Om Baik, menurut Om, sekarang Cello ada di msns ya, Om?" Tanya Sella penuh harap.
"Oh! Kembaran mu itu ya gadis Kecil? Hmm.. dia ada di dimensi lain dari dunia Spirit ini. Aku sudah mengatakan nya kepada mu kan beberapa waktu lalu?" Ujar Rudolf.
"Iya. Tapi Sella kangen Cello, Om. Apa Sella bisa ketemu lagi sama Cello?" Tanya Sella mengejar jawaban Rudolf.
"Hmm.. Om yakin kamu gak akan mau bertemu dengan nya sementara waktu ini, Gadis Kecil. Saudari mu itu sedang dalam masa pendisiplinan sekarang.. itu seperti.. mm.. belajar! Ya! Anggap saja begitu! Karena kau juga tahu kan kalau Cello itu sedikit agak.."
'Jahat..' pikir Emma.
Dan kedua netra Emma juga Rudolf pun saling bertemu pandang. Keduanya sama-sama tahu apa yang sedang dipikirkan oleh lawan nya masing-masing.
"..jahil. ya. cello itu sedikit jahil kan ya. Jadi dia harus belajar dulu untuk bersikap baik. Baru mungkin nanti dia bisa berpindah tempat ke Desa Eden, tempat di mana spirit baik berkumpul," papar Rudolf panjang kali lebar.
"Jjmm.. " Sella tampak murung.
"Sudah lah Gadis Kecil. Jangan bersedih! Ini. Om Tampan mu ini akan membagi mu beberapa koin lagi. Dengan begitu, kau bisa membeli beberapa gulali lagi, bukan? Kau mau? Mau kan, Nak? Kalau begitu, tersenyumlah!" Seru Rudolf menghibur Sella.
Sella memberi Rudolf senguman tipis nya.
"Terima kasih, Om Baik!" Ucap Sella dengan tulus.
"Kembali kasih, Gadis Kecil.. Oh.. tidak! Om sudah sangat terlambat sekarang! Kalau begitu, Om pergi lebih dulu ya!"
Pamit Rudolf terburu-buru.
Sebelum Rudolf menjauh, Emma sempat kembali bertanya pada pemuda itu.
"Rudolf!" Panggil Emma.
"Ya? Ada apa lagi Nona Cantik?! Bergegaslah! Aku sedang berburu waktu saat ini!" Ujar Rudolf tak sabar.
"Mm.. apa Anda termasuk ke dalam makhluk yang dikutuk? Atau gentayangan?" Tanya Emma tiba-tiba.
Rudolf langsung menyengir lebar. Wakah tampan nya seketika menyilaukan semua spirit yang melihat nya, termasuk juga Emma.
Emma buru-buru menundukkan wajah nya karena merasa malu. Dalam hati nya ia merutuki kebodohan nya karena telah menanyakan hal yang tak perlu.
Meski begitu, Emma masih sempat mendengar jawaban pemuda tersebut.
"Aku bukan termasuk ke dalam salah satu nya, Nona Cantik! Sebut saja aku sebagai.. Pengembara!" Seru Rudolf setengah berteriak.
***