Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Kebenaran



Begitu mengetahui kalau ketiga tubuh Sella, Cello dan Celia ternyata ada di villa Grandhill, Emma pun terpikirkan untuk melihat dengan mata kepala nya sendiri.


Meski begitu, Emma merasa segan untuk mengatakan keinginan nya itu secara langsung kepada Bi Hara. Terlebih lagi kepada majikan nya, Nyonya Sofia.


Bisa jadi, begitu Emma mengatakan keinginan nya untuk melihat ketiga anak Sofia yang terbaring koma, justru ia akan langsung disekap dan tak bisa lagi keluar dari villa ini dengan bebas.


Karena Emma menduga ada sesuatu yang tak bisa ia lihat sembarangan berkenaan dengan kondisi terkini ketiga anak Sofia tersebut.


Pikiran Emma mendadak melayang pada sesajen yang pernah dilihat nya ada dalam kamar para boneka. Besar kemungkinan ia akan kembali melihat sesajen serupa seperti yang pernah dilihat nya dulu.


Akhirnya, Emma menyudahi perbincangan nya dengan Bi Hara sampai di sana. Lalu mengganti topik pembicaraan ke hal yang lain.


Bi Hara pun tak tampak mencurigai Emma. Karena gadis itu bersikap abai terhadap informasi terkait ketiga anak Sofia tersebut.


Selesai dengan urusan di dapur, Bi Hara kembali pamit kepada Emma untuk membereskan pekerjaan nya yang lain. Dan Emma mempersilahkan nya pergi.


Sementara itu, Emma menyusun rencana baru dalam pikiran nya. Kali ini tujuan nya satu. Bahwa ia harus melihat kondisi fisik dari tubuh manusia milik Sella, Cello dan juga Celia.


Emma kembali menghabiskan waktu nya bersama boneka Sella dan Cello sepanjang sisa hari itu.


Hingga akhirnya kesempatan bagi rencana nya pun akhirnya tiba juga.


Menjelang sore, saat Emma selesai menempatkan kembali para boneka arwah itu ke kamar nya di lantai atas, pandangan Emma langsung tertuju pada kamar utama milik Nyonya Sofia.


Menurut Bi Hara, dalam kamar itulah ketiga anak Sofia terbaring koma dengan berbagai alat penunjang hidup nya.


Dengan perlahan Emma melangkah mendekati pintu kamar tersebut. Tak lupa pula ia pasang kuping nya setajam mungkin. Jika sewaktu-waktu ia mendengar suara orang atau langkah kaki yang mendekat, ia bisa segera pergi tanpa ketahuan telah menyusup ke dalam kamar utama milik Sofia.


Begitu berada di depan pintu, Emma mencoba membuka handel pintu tersebut. Sayang sekali pintu nya terkunci.


"Yah.. tentu saja dikunci, Emm. Siapa juga yang mau meninggalkan rahasia nya di tempat yang bisa dimasuki oleh orang lain dengan sebebas-bebas nya? Kamu ini kelewat bodoh atau apa sih?" Emma merutuki dirinya sendiri.


"Neng Emma lagi apa?"


Emma terlonjak kaget saat mendengar suara bi Hara tahu-tahu sudah berada di belakang nya.


"Bi.. Bi Hara! Anu.. Emma tadi itu.."


Emma merasa gugup. Ia tak tahu harus menjelaskan apa kepada Bibi Hara. Pada akhirnya Bibi Hara lah yang memunculkan jawaban nya sendiri kepada Emma.


"Neng Emma mau lihat non Sella, Den Cello dan Non Sofia ya, Neng?" Tanya Bi Hara dengan wajah ramah.


Tak bisa mengelak, akhirnya Emma mengangguk dan mengaku jujur kepada Bi Hara.


"Iya, Bi. Tapi kunci nya terkunci. Jadi.."


"Neng mau masuk?" Bi Hara tiba-tiba menawarkan bantuan.


"Ehh?" Emma malah kebingungan karena ia malah tidak ditegur ataupun dimarahi oleh Bi Hara.


"Boleh kah, Bi?" Tanya Emma sedikit berharap.


Bi Hara memberikan senyuman menenangkan kepada Emma. Baru kemudian mengatakan,


"Tentu saja boleh, Neng.. bibi bukain ya?"


Dengan linglung, Emma pun bergeser dan mempersilahkan Bi hara untuk membuka pintu. Ia tak menyadari ada yang aneh dari sikap Bi Hara pada siang hari itu.


Jika saja Emma lebih peka, ia seharusnya berpikir, kenapa Bi Hara begitu mudah nya mempersilahkan Emma masuk ke dalam kamar utama majikan mereka tanpa sepengetahuan Nyonya Sofia?


Cklek.


Pintu kamar utama pun terbuka.


"Silahkan masuk, Neng," tutur Bi Hara mempersilahkan.


Dengan langkah pelan, Emma mulai masuk terlebih dulu.


Pandangan gadis itu langsung terfokus pada keberadaan kasur big size yang ada di seberang ruangan.


Selain kasur itu, terdapat juga cermin besar serta meja hias di samping kasur. Sebuah lemari putih menghias sisi lain dari kasur tersebut.


Pandangan Emma langsung memutari seisi ruangan. Dan seketika dahi nya pun langsung berkerut. Ia tak melihat keberadaan tiga anak Sofia, seperti yang telah dikatakan oleh Bi Hara kepada nya.


"Di mana mereka, Bi? Di sini tak ada.."


BRAK!


Terdengar suara pintu terbanting menutup.


Klik.


Kali ini, pintu pun dikunci oleh Bi Hara.


Emma pun langsung berbalik dan terkejut saat kedua matanya menangkap pandangan Bi hara kepada nya. Ada yang berbeda dari pandangan Bi Hara saat itu. Karena Emma tak lagi melihat kelembutan dan kesabaran di mata Bi Hara. Malah Emma merasa gelisah saat menerima tatapan dari wanita paruh baya tersebut.


"Bi..bibi.. kenapa pintu nya dikunci, Bi? Dan di mana anak-anak nya Bu Sofia? Bukan nya kata Bibi, mereka ada di dalam sini?" Emma bertanya dengan nada ragu.


Sedetik kemudian, Emma menangkap senyuman sinis di wajah Bi hara. Melihat itu, sesuatu berdesir dalam hati Emma. Dan ia merasakan firasat buruk yang akan menimpanya kemudian.


"Kau memang gadis yang baik, Emma.. sekaligus juga bodoh. Kau begitu mudah nya menyerahkan diri mu kepada ku. Dan aku berterima kasih untuk itu," ujar Bi Hara dengan senyuman sinis nya.


Emma tak pernah melihat Bi Hara tersenyum sinis seperti itu sebelum nya. Karena nya, ia pun masih terlihat bingung dengan apa yang sebenar nya terjadi.


"Bi..bibi kenapa? Apa maksud ucapan Bibi itu? Emma gak ngerti!" Emma setengah meneriaki Bi Hara.


"Lihat? Kau memang bodoh kan? Hahaha.. tapi tak apa. Justru karena kebodohan mu itu lah akhirnya putri ku bisa mendapatkan tubuh pengganti. Tubuh mu.." ujar Bi Hara menjelaskan.


Emma masih terlihat bingung untuk memahami semua ucapan Bi Hara. Sehingga ia pun meminta kejelasan lagi pada wanita paruh baya tersebut.


"Putri ibu? Siapa yang ibu maksud?"


Kemudian sesuatu melintas di benak Emma. Dan ia pun tercengang dengan pemikiran nya sendiri itu.


"Maksud ibu bukan Celia kan?! Celia itu anak nya Nyonya Sofia kan, bu?!" Emma bertanya untuk mendapatkan kebenaran dari mulut Bi Hara.


Sayang nya, ucapan Bi Hara berikut nya sontak membolak-balikkan semua pengetahuan yang Emma miliki tentang para penghuni di villa Grandhill ini.


Bi Hara berkata,


"Tentu saja yang ku maksud adalah Celia. Memang nya siapa lagi kalau bukan dia?!" Ujar Bi Hara dengan suara lantang.


"Apa?!!" Emma terkejut setengah mati. Sementara benak nya terlalu pusing untuk mengurai rahasia yang baru diketahuinya ini.


***