Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Main Petak Umpet



Emma dan Sella masih bersembunyi di kolong meja.


Syukurlah Sella mengerti kalau Emma tak ingin keberadaan mereka ditemukan oleh Pak Adda.


Hingga lama setelah Pak Adda berlalu pergi sajalah akhirnya Emma dan Sella kembali keluar dari kolong dsn mengobrol.


"Tadi itu Pak Adda kan ya, Kak? Kakak juga takut sama Pak Adda ya?" Tanya boneka Sella tiba-tiba.


"Sella memang nya takut sama Pak Adda?" Emma malah bertanya balik setelah menangkap kata "juga" dalam pertanyaan Sella tadi.


"Iya, Kak. Pak Adda bikin Sella takut!" Ungkap boneka Sella dengan jujur.


"Memang nya kenapa, Sell?" Tanya boneka Emma.


"Soal nya, dulu Sella pernah ketemu sama Pak Adda. Terus, Sella diajak main ke rumah nya yang ada di luar rumah kita ini, Kak!" Boneka Sella asik bercerita.


"Waktu itu Sella sendirian. Cello masih ada di dapur. Jadi, pas di rumah Pak Adda, Sella di...di.." Sella terlihat kebingungan berkata-kata.


"Sella diapain sama Pak Adda?" Tanya Emma menyemangati.


"Itu lho, Kak. Pak Adda angkatin baju yang waktu itu Sella pakai, terus.."


Boneka Sella kembali terlihat bingung sekakigus tak nyaman untuk melanjutkan cerita nya lagi.


Hanya saja Emma seolah mengerti pada apa yang hendak dikatakan oleh Sella kepada nya. Karena itulah Emma mencoba melanjutkan kalimat Sella.


"Apa Pak Adda pegang-pegang.. maaf.. perut dan anggota tubuh Sella yang lain?" Tanya boneka Emma.


Dalam hati Emma, ia menahan bendungan amarah yang siap muntab jika jawaban yang akan diucapkan oleh boneka Sella berikut nya sesuai dengan dugaan nya.


Dan, benar saja. Boneka Sella mengangguk pelan. Ia pun terus menundukkan kepala nya selama beberapa waktu dalam diam.


Dada Emma terasa sesak. Ingin sekali rasanya ia memberikan pukulan terkuat nya ke area sensitif milik Pak Adda.


Benar dugaan Emma. Pak Adda memang sepertinya memiliki penyimpangan sek sual. Bahkan Sella saja, yang notabene nya hanya sesosok boneka pun begitu tega ia gera yangi.


Emma bersyukur dalam hati. Beruntung sekali ia tak disekap lama-lama dalam gudang rahasia di bawah tanah saat dulu. Jika ia lebih lama lagi disekap, bisa jadi ia pun akan menjadi korban pele cehan sek sual dari lelaki pendiam itu.


Boneka Emma langsung meraih bahu boneka Sella untuk kemudian memeluk hya. Dalam pelukan itu Emma mencoba mengalirkan penghiburan nya terhadap boneka Sella.


Emma mungkin tak bisa menjelaskan perasaan tak nyaman yang dirasakan oleh Sella itu namanya apa. Akan tetapi Emma ingin menemangkan hati boneka arwah yang masih kecil itu dari trauma masa lalu nga atas perlakuan Pak Adda kepadanya dulu.


"Mm.. Sella senang, karena Kakak ada di sini sama Sella. Cello sering bersikap menyebalkan, Kak. Sella malas main dengan nya!" Boneka Sella pun menyampaikan curhat nya kepada boneka Emma.


Boneka Emma lalu melepas pelukan nya pada tubuh boneka Sella. Kemudian ia pun balas berkata.


"Iya. Kakak pun senang, Sell. Tadi nya kakak takut banget sama kamu dan Cello. Kamu tahu itu juga kan?" Gantian Emma yang bercerita.


"Iya. Tahu. Waktu pertama kali kita ketemu kan, Kak?" Terka Sella.


Boneka Emma mengangguk pelan.


"Iya. Waktu itu kakak belum kenal kalian. Jadi kakak menganggap kamu dan Cello menyeramkan. Padahal kamu kan manis banget ya, Sell.. maaf ya sudah salah paham ke kamu," ujar boneka Emma dengan tulus.


"Iya. Gak apa-apa Kakak Cantik. Sella ngerti kok. Lagipula, waktu itu juga Cello udah buat tangan Kakak berdarah kan? Sella minta maaf soal itu ya, Kak. Cello sungguh gak sengaja, Kak," boneka Sella kembali membela kembaran nya.


"Oya, Kak. Jadi, kakak akan tinggal terus bareng Sella kan di sini? Kakak Cantik gak akan menghilang atau pulang lagi ke rumah lama Kakak?" Tanya boneka Sella kepada Emma.


"Yah.." Emma menggantungkan jawaban nya.


Saat ini ia mungkin belum menemukan cara agar ia bisa keluar dari villa Grandhill ini. Tapi Emma tak berencana untuk mengatakan itu kepada Sella ataupun Cello.


Jika ia hendak pergi, Emma tak akan memberitahu seorang pun di rumah ini. Jika bisa malah kepergian nya tak akan disadari oleh semua penghuni villa Grandhill lain nya.


Lalu, tiba-tiba saja Emma terpikirkan sebuah rencana untuk kabur lagi.


'Ah, benar! Kenapa aku tak terpikirkan untuk memakai cara itu ya untuk kabur?!' Emma tiba-tiba berseru riang dalam benak nya.


Boneka Sella yang melihat kegembiraan mendadak di mata Emma pun langsung bertanya kepada nya.


"Kakak eknapa? Kakak tiba-tiba aja merasa senang? Apa Kakak juga sennag kalau tinggal di villa ini bareng Sella selama nya?" Tanya boneka Sella dengan kegirangan yang tak kalah dari kegirangan Emma sesaat tadi.


Canggung karena jawaban di hati nya tak sesuai dengan harapan boneka Sella, akhirnya boneka Emma pun hanya bisa mengangguk kaku.


Sella mungkin mengira anggukan itu sebagai ganti jawaban 'Ya' atas pertanyaan nya tadi.


Padahal sebenar nya, benak Emma mulai menysun rencana mendetail untuk aksi kabur nya itu.


Ia berencana untuk melakukan nya pada malam hari ini juga.


Tali untuk itu, ia harus bisa pergi dari pantauan boneka Sella terlebih dulu.


Karena jika boneka Sella mengetahui rencana Emma, bisa jadi boneka asuh nya Emma itu akan membocorkan rencana nya secara tak sengaja.


Boneka Emma lalu menatap beberapa keping biskuit untuk bekal nya saat melarikan diri nanti.


'Sepertinya ini akan kurang. Aku harus membawa perbekalan lebih dari ini. Karena perjalanan ku nanti pasti akan sangat lama' gumam batin Enma.


"Kak? Kakak cantik? Apa yang kakak pikirkan? kenapa kakak melamun lama?


Emma tersadar dari lamunan panjang nya untuk bisa kabur, saat ia merlndengar panggilan boneka Sella di dekat nya.


Boneka Emma pun kemudian mengembalikan fokus perhatian nya kepada boneka Sella.


"Kita main apa ya, Kak? Kakak mau main bola? Atau main congklak? Biasnaya Sella memainkan itu bersama Cello," sella bertanya.


"Bagaimana kalau kita bermain petak umpet? Hum? Sella yang bersembunyi. Nanti Kakak yang akan cari Sella, gimana?" Emma mengusulkan sebuah permainan.


Bukan tanpa alasan Emma mengusulkan permainan ini. Niat nya dengan permainan ini, rencana Emma untuk bisa kabur pun akan bisa berhasil. Jikalau pun yak berhasil, Emma masih memiliki dalih kalau ia sibuk mencari keberadaan Sella yang bersembunyi dengan begitu baik. Begitu lah pemikiran Emma.


"Oke! Kakak hitung sampai sepuluh ya, Kak!" Seru Sella bersemangat.


"Siap! Satu.. dua.."


Emma memulai hitungan nya. Sementara itu dalam hati nya Emma merasa gugup sekaligus juga bersemangat. Karena sebwntar lagi ia akan mengejar jalan kebebasan nya dari villa Grandhill dan seluruh penghuni nya ini.


***