
Tiba-tiba Emma bangun berdiri dari kursi yang ia duduki. Ia terburu-buru berpamitan pada Reno seraya berbalik hendak pergi.
"Sorry, Ren. Aku.. aku lagi gak dalam kondisi oke untuk ngasih jawaban. Jadi.."
Ucapan Emma terpotong, bersamaan juga dengan bahu nya yang tertahan oleh tangan Reno. Pemuda itu tiba-tiba melingkarkan tangan nya di sekitar bahu Emma. Sehingga kini punggung gadis itu menempel erat dengan dada nya.
"No, please, Emm! Jangan lari lagi! Aku serius ngomong gini sama kamu, Emm!" Ujar Reno di dekat telinga Emma.
"Reno! Apaan sih?! Lepasin gak? Malu dilihat orang!" Elak Emma yang berusaha melepaskan dirinya dari kurungan Reno.
Dalam sekali putaran, tahu-tahu tubuh Emma telah berbalik. Sehingga kini kedua muda dan mudi itu pun saling berhadapan.
Reno menatap kedua manik mata milik Emma dalam-dalam. Ia mencoba menyelami kedalaman hati gadis itu melalui dua manik mata yang dulu selalu mengatakan kejujuran kepada nya.
"Aku cinta kamu, Emm. Sejak dulu, sampai sekarang. Dari sekarang, sampai nanti. Aku akan selalu cinta sama kamu!" Ungkap Reno sejujur nya.
Emma yang tak bisa melepaskan pinggang nya dari lingkaran tangan Reno pun akhirnya pasrah. Meski begitu, ia mencoba memalingkan pandangan nya ke arah yang lain.
Sayang nya satu tangan Reno lalu menangkap dagu Emma. Dan membawa kedua mata itu kembali saling bertatapan.
"Sedari dulu, gak pernah ada wanita lain selain kamu yang bisa bikin jantung aku deg deg an tak menentu. Cuma kamu yang bisa bikin aku nyengir sendiri pas baca sms dari kamu. Dan cuma kamu yang bisa bikin aku gak enak makan, gak enak tidur, kalau kamu kesal ke aku. Aku serius ini, Emm!" Lanjut Reno menyatakan perasaan nya.
Emma merasa kedua mata nya tak lagi bisa ia palingkan. Setiap kata yang teruntai dari mulut Reno sungguh membuat hati nya jadi berdesir aneh.
Desiran cinta yang dulu sering ia rasakan setiap kali ia melewati waktu bersama pemuda itu semasa SMA. Sayang nya desiran itu harus tercabut paksa dari rutinitas keseharian nya dan berganti dengan perasaan marah terhadap pemuda yang sangat dicintai nya itu.
Bagaimana pun juga Reno adalah cinta pertama Emma. Selalu ada sesuatu yang spesial dari cinta pertama dibandingkan dengan cinta lain yang datang sesudah nya. Bukan begitu?
Pun jua dengan Emma. Bagi gadis itu, Reno pernah menjadi matahari nya. Bintang terang nya. Air kehidupan nya. Sayang nya semua itu harus pupus usai pengkhianatan yang dilakukan oleh pemuda itu bersama dengan Mei Chan, kawan nya sendiri.
Teringat tentang Mei Chan, kedua mata Emma yang mulai luruh oleh binar cinta pun tiba-tiba mengeras kembali. Rasa peras itu kembali datang dan menyiksa batin Emma.
Perasaan terluka yang maha sakit saat ia melihat Reno bercumbu dengan Mei Chan, kawan baik nya dulu.
Emma tak mau ia kembali terluka lagi. Sayang nya, sekat pembatas yang memisahkan rasa sakit itu akhirnya jebol pada malam hari ini.
Mengingat pengkhianatan Reno dulu telah membuat Emma kembali terluka. Luka hatinya dirasa terlampau perih sehingga ia bahkan tak bisa menahan bendungan di kedua sudut mata nya pula.
Kristal bening pun akhirnya meluruh dari sudut mata Emma. Gadis itu menangis tanpa suara.
Reno cepat tanggap.
Dengan segera pemuda itu membawa Emma ke dalam pelukan nya. Entah apapun yang Emma pikirkan saat itu, Reno tahu kesedihan lah yang sedang Emma rasakan saat ini.
Pemuda itu sempat menangkap kilat amarah juga kesedihan di mata Emma sebelum gadis itu pecah dalam tangis nya. Benak Reno pun mengacu pada satu kesalahan fatal yang ia lakukan di masa lampau.
Kesalahan yang membuat jalinan cinta nya dengan Emma terputus begitu saja pada malam itu.
Flashback.
Reno hendak mencari Emma. Kepala nya terasa berat. Jadi ia ingin segera pulang bersama kekasih nya itu. Salahkan Beni yang memaksanya menenggak miras di gudang sekolah.
Saat siswa lain nya mengagumi sajian acara perpisahan sekolah, Beni dan geng nya malah pesta miras di gudang sekolah. Dan Reno yang tak sengaja lewat malah ikut dicekoki nya dengan miras itu.
"Ren! Tunggu! Aku juga mau pulang!" Seru Mei Chan di belakang Reno.
Reno tak habis pikir, bagaimana bisa Mei Chan berani gabung dengan Beni dan geng nya di gudang? Yah, walaupun Beni tak mencekoki Mei Chan dengan miras, namun tetap saja. Keberadaan nya di antara pria di sana saat mereka dalam kondisi mabuk itu cukup mengkhawatirkan juga bukan?
"Arrgghh.. sial! Kepala ku pusing banget. Beni memang benar-benar.."
"Duduk sini dulu, Ren! Aku panggil Emma dulu deh ya!" Ujar Mei Chan seraya bangkit.
Akan tetapi, Reno yang mulai dilanda mabuk tiba-tiba malah menahan tangan Mei Chan dan menarik nya.
Sementara kedua mata pemuda itu terpejam, mulut nya tak henti merapalkan sebuah nama. Nama gadis yang dicintai nya.
"Emma? Jangan pergi! Sini temani aku, Emm! Aku.." Reno bergumam dalam kondisi tak sadar.
Sementara itu Mei Chan yang tangan nya dipegang erat oleh Reno pun akhirnya kembali duduk di samping pemuda itu.
Lama gadis itu menatap Reno dalam diam. Hingga kemudian, Mei Chan tiba-tiba saja mendudukkan diri nya di antara kedua kaki Reno, lalu mencium bibir pemuda itu.
Cup. Sekali.
Cup. Kedua kali.
Dan pada ciu man yang ketiga, Mei Chan menahan bibir nya cukup lama menempel pada bibir Reno. Gadis itu seolah lupa pada status Reno yang telah menjadi pacar dari teman baik nya. Pacar nya Emma.
Telah lama sebenarnya Mei Chan menyukai Reno. Namun karena pemuda itu telah menjadi kekasih Emma, akhirnya Mei Chan sempat melupakan perasaan nya itu.
Tapi kini, di saat kesempatan untuk bersama dengan Reno tersaji di hadapan nya, akhirnya Mei Chan pun melempar kerasionalan nya. Ia kesampingkan pertemanan nya dengan Emma demi bisa memadu kasih dengan Reno, kini. Meski hanya untuk malam ini saja.
Mei Chan semakin liar menarikan bibir nya di atas bibir Reno. Sehingga tanpa sadar, Reno pun membalas ciu man yang dihadiahi oleh gadis itu kepada nya.
Dalam alam bawah sadar nya, Reno mengira ia sedang bercumbu dengan Emma. Terlebih lagi mata nya serasa berat untuk ia buka. Sehingga ia mengikuti arus rasa yang bergejolak pada tubuh bagian bawah nya.
Pikir Reno, ia sedang menci um Emma. Pikir Reno, ia sedang menuai madu kasih bersama kekasih nya. Padahal...
Tiba-tiba saja, Reno tersentak kaget oleh lengkingan tinggi dari suara yang begitu dikenal nya. Suara seorang wanita yang meneriakkan sesuatu yang tak jelas di pendengaran Reno.
Pemuda itu mencoba membuka kedua mata nya. Sayang sekali, penglihatan nya masih terlihat buram. Kesadaran pemuda itu masih mengambang di atas awan. Jadi ia tak bisa mencerna kejadian di sekitar nya cukup cepat.
Baru ketika suara melengking itu mengatakan kalimat final nya lah, Reno akhirnya tersadar dari alam mabuk nya.
"Kita putus, Ren! Dasar brengsek!" Umpat suara itu.
"Emma..?" Reno bergumam pelan.
Jelas sekali pemuda itu mendengar kalimat putus dari Emma, kekasih nya.
'Tapi kenapa?' tanya Reno masih belum sadar dengan posisi Mei Chan di pangkuan nya saat itu.
Selang beberapa detik kemudian, Mei Chan berkata tepat di depan wajah Reno.
"Aku..suka kamu kok Ren. Aku mau jadi pacar kamu!" Ungkap Mei Chan menawarkan diri.
Saat itulah Reno tersadar dengan keberadaan Mei Chan di atas pangkuan nya. Dan ia pun akhirnya tersadar kalau sedari tadi ia telah bercumbu dengan gadis itu. Dan Emma menangkap basah aksi keduanya.
Dengan segenap tenaga yang muncul entah dari mana, Reno pun meraung marah. Ditepisnya Mei Chan hingga menjauh dari nya. Dan Reno pun bergegas berlari untuk mengejar cinta nya.
"Emma! Tunggu dulu! Aku bisa jelasin, Emm!" Panggil Reno pada Emma yang telah lama berlalu pergi.
Flashback selesai.
***