
Kemudian Hara mempersilahkan Reno untuk duduk menunggu di ruang tamu.
"Silahkan Tuan tunggu di sini. Saya akan menyiapkan makanan untuk Tuan. Tapi harap sabar menunggu. Karena majikan saya sedang keluar rumah, jadi saya belum masak-masak hari ini. Karena itu saya akan memasak sebentar untuk Tuan," ujar Bi Hara dengan sikap ramah.
Reno mengangguk dan balas tersenyum.
'Bagus lah! Yang lama sekalian juga gak apa-apa kok, Bu!' imbuh Reno dalam hati.
Hara pun berlalu pergi dari ruang tamu. Meninggalkan Reno seorang diri di sana.
Setelah beberapa waktu berlalu, Reno langsung saja berdiri dan melihat ke sekitar ruangan tempat nya berada.
Selanjut nya Reno menyusuri setiap ruangan dari seberang lorong tempat Hara pergi beberapa waktu yang laku.
Reno akan membuat alasan lain bilamana ia tertangkap basah sedang keluyuran di dalam villa tersebut.
'Duh. Kok gak ketemu-ketemu juga ya? Apa jangan-jangan boneka nya ada di lantai atas ya?' Gumam Reno sambil melirik ke arah tangga yang menuju lantai dua dari villa tersebut.
"Tuan?" Reno sedikit terlonjak saat ia mendengar suara Bi Hara menyapa nya dari belakang.
Reno pun langsung berbalik dan memasang wajah kalut seketika itu jua.
"Maaf Bu, toilet nya di mana ya? Saya daritadi nyariin tapi gak ketemu-ketemu juga," ujar Reno beralasan.
"Ohh begitu.." ekspresi di wajah Hara pun menajdi normal kembali usai mendengar penuturan dari Reno tadi.
"Mari saya antarkan Tuan! Maaf, kota bekum berkenalan. Nama saya Sahara. tuan cukup memanggil saya Bi Hara," ujar Hara sambil memperkenalkan diri.
"Bi Hara? Saya Reno Bi," sahut Reno sambil mengekor di belakang Hara.
Sambil berjalan menuju toilet, Reno melayangkan pandangan nya ke sekitar. Tujuan nya adalah utnuk menemukan keberadaan boneka apapun di villa ini.
"Silahkan tuntaskan hajat Tuan di sini. Saya akan menunggu di luar pintu!" Ujar bi Hara dengan sikap sopan.
"Baiklah Bi.." sahut balik Reno.
Sebenarnya pemuda itu ingin agar Bi Hara pergi saja tak usah menunggui nya di depan toilet. Dengan begitu ia akan bisa melanjutkan penelusuran nya kembali di villa ini.
Tak berapa kama, Reno pun menuntaskan hajat nya. Setelah selesai, ia kembali ke ruang tamu bersama Bi Hara. Keduanya pun mengobrol di perjalanan menuju ruang tamu.
"Rumah ini besar sekali ya, Bi?" Reno berkomentar asal.
"Ya, Tuan!" Sahut Hara cukup singkat.
"Panggil Reno saja ya, Bi. Saya lebih merasa nyaman bila dipanggil begitu," tegur Reno dengan halus.
"Baiklah.. Reno.." ucap Bi Hara dengan patuh.
"Tapi seperti nya rumah ini terlalu besar untuk ditempati berdua saja dengan bibi dan majikan bibi.." ijar areno kebih lanjut.
"Ada tukang kebun juga sih, Ren," jawab Bi Hara memberitahu.
"Oo.. apa tak ada anak kecil kah, Bi? Maaf.. bila pertanyaan saya terlalu privat?" Ujar Reno kembali dengan raut bersalah yang begitu meyakinkan.
"Tak apa-apa, Nak Reno. Ini bukan hal privat untuk diceritakan kok. Majikan saya memiliki tiga orang anak," jawab Bi Hara separuh jujur.
"Oh.. ada anak-anak juga ternyata. Saya kira tak ada anak kecil di rumah ini. Karena saya tak melihat satu mainan pun di rumah ini, Bi. Semisal mainan robot atau pun boneka. Saya juga mempunyai keponakan satu. Dan dia kalau sudah bertemu dengan saya pastilah mainan nya akan berantakan di mana-mana," keluh Reno sejujur nya.
"Oh.. kamar anak-anak berada di atas, Tuan. Jadi semua mainan nya juga ada nya di lantai atas," Jawab Hara.
"Ooh.. begiru toh. Hmm.. tapi sepertinya anak-anak majikan bibi sedang tertidur ya? Gak ada suara berisik anak-anak soal nya," jawab Reno kembali untuk mengemukakan analisis nya.
Selanjutnya reno menyantap mie gorneg yang telah diseduh oleh Bi Hara.
Mengingat dengan siapa ia berhadapan saat ini, Reno pun selalu membaca bismilah dan wiridan dalam hati. Agar ia terhindar dari jerat ilmu pelet yang dimiliki oleh nya.
Reno pernah membaca catatan tentang Hara di file profil milik Sein. Di sana dikatakan, kalau Hara pernah melakukan proses bertapa di lereng gunung yang terkenal angker.
Wanita itu digadang-gadang berhsisl menguasi ilmu pelet dari hasil semedi nya saat itu.
Apalagi Reno juga menangkap kilat hasrat dan senyuman satir di wajah Bi Hara. Meski itu hanya untuk sesaat saja.
Tahulah Reno, kalau makanan dan minuman yang sedang disantap nya itu pasti telah dibubuhi sesuatu oleh wanita jahat tersebut.
'Bagaimana ini? Apa aku harus memakan ini? Aku takut kalau aku akan diguna-gunai pula oleh nya melalui makanan dan minuman ini,' batin Reno begitu kalut.
Syukurlah, di saat Reno sedang menggalau, seorang lekaki bertubuh kekar tiba-tiba melongokkan kepala nya ke ruang tamu.
Lelaki itu kemudian menatap sekilas ke arah Reno, yang diangguki oleh Reno sekali.
'Dia itu Adda bukan? Lelaki psiko yang memiliki kelainan mental dan sek sual?' tebak Reno dalam hati.
Adda lalu beralih menatap Hara dan mengatakan kepada nya.
"Aku menemukan nya, Hara. Tapi, kondisi nya sangat buruk," ujar Adda mengatakan kalinat yang tak dipahami oleh Reno.
Reno lalu melihat saat Hara memberikan isyarat kepada Adda untuk menutup mulut nya dari berkata-kata lagi.
"Nak reno, kalau begitu, bibi pamit dulu ya. Ada pekerjaan yang harus Bibi selesaikan terlebih dulu. Jika Nak Reno sudah selesai, tinggalkan saja piring nya di atas meja," ujar Hara memberi tahu.
"Baik, Bi. Terima kasih banyak!" Jawab Reno dengan hati yang buncah karena perasaan lega.
'Alhamdulillah... Hampir aja aku terpaksa harus makan makanan ini,' gumam reno sambil melirik ke piring yang masih penuh oleh mie goreng buatan Bi Hara.
Setelah memastikan kalau Bi Hara dan Adda telah menghilang ke lain ruangan, Reno pun bergegas mengambil kantong plastik dari dalam ransel nya. Selanjutnya ia menumpahkan semua mie goreng tersebut ke dalam plastik. Sementara untuk air minum nya, Reno tuangkan ke dalam akuarium di ruangan tersebut.
"Sekarang, aman.." gumam Reno.
Saat menuangkan air ke dalam akuarium, Reno kembali terpikirkan ide untuk memperpanjang masa keberadaan nya di villa ini.
"Tapi rencana itu cukup berisiko. Hmm.. atau apa sebaiknya kupakai rencana itu saja ya? Dengan begitu pergerakan ku untuk menyelidiki villa ini tak lagi dicurigai," gumam Reno lebih lanjut.
Selanjutnya, Reno kembali ke sofa tempat nya duduk sesaat tadi. Iablalu merebahkan badsn nya ke punggung sofa. Seolah-okah menampilkan citra diri yang kekenyangan usai makan banyak.
Itu terjadi tepat ketika Hara masuk ke dalam ruangan.
"Sudah habis?" Tanya Hara saat mekihat makanan dan minuman yang ia sediakan telah habis ditandas oleh Reno.
"Sudah, Bi. Terima kasih.." tutur Reno dengan wajah sumringah.
Selama beberapa saat Hara mengamati ekspresi wajah Reno. Setelah melihat kalau Reno bersikap lebih ramah terhadap nya, wanita paruh baya itu pun kemudian mengambil posisi duduk tepat di sebelah Reno.
Pada mulanya Reno terkejut dengan gelagat Hara tersebut. Namun sesaat kemudian, pikiran nya menangkap sinyal aneh dari setiap gestur yang ditunjukkan oleh Hara kepada nya.
Tengok saja saat ini.
Bi Hara dnegan tanpa rasa malu langsung menepuk paha Reno beberapa kali.
"Jangan sungkan. Aku bisa membuat kan mu mie goreng yang lebih lezat lagi. Apa kau mau mencoba nya, hmm?" Tanya Hara dengan ekspresi menggoda yang aneh nya justru membuat Reno ingin kabur sejauh-jauh nya.
***