
Di saat Emma masih belum menyadari sumber kebingungan nya saat ini, Pak Kiman sudah mengambil tempat duduk di samping gadis muda tersebut.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Emm?" Tanya Pak Kiman tiba-tiba.
"Uh? Menunggu Papa pulang..tunggu sebentar. Bukankah Anda adalah papa ku, ya?" Tanya Emma dengan pikiran yang masih kebingungan.
Gadis itu sedikit terganggu dengan potongan-potongan ingatan yang tak ia mengerti hubungan nya. Meski begitu satu hal yang Emma yakini kebenaran nya. Bahwa Pak Kiman adalah Papa kandung nya.
"Benar begitu kan, Pa?" Tanya Emma kembali.
Pak Kiman mengusap kepala Emma sekali sebelum menjawab pertanyaan nya.
"Kalau kamu masih mau memanggil ku dengan sebutan itu, tak apa-apa. Papa akan sangat senang sekali," ujar Kiman sambil memberinya pandangan sedih.
"Uh? Kenapa Papa bilang begitu? Tentu saja Papa akan selalu menjadi Papa nya Emma! Memang nya ada ya mantan Papa? Enggak ada lah, Pa! Mantan pacar, baru ada!" Seloroh Emma asal.
Pak Kiman terkekeh singkat.
"Hehe.. kamu benar-benar mirip Mama mu, Emm. Kalian begitu pintar berdalih. Mungkin itulah yang membuat Papa dulu kagum pada Mama mu.." ujar Kimanto dengan pandangan menerawang ke laut lepas.
"Dihh.. Emma gak mau lah dibilang mirip Mama, Pa! Mama tuh cerewet banget! Emma sering diomelin! Emma tuh cool lah kayak Papa!" Ujar Emma sambil menyandarkan kepala nya ke bahu Kimanto.
Kimanto lalu mengusap rambut Emma beberapa kali. Sesuatu menusuk dada lelaki itu. Rasa nya sudah lama sejak ia memanjakan Emma seperti ini.
'Jika saja aku masih memiliki kesempatan untuk melakukan ini..' pikir Kimanto dalam hati.
Sayang nya, waktu nya hampir habis. Harus ada yang lelaki itu sampaikan kepada Emma, sebelum ia pergi ke dunia yang lain nya.
Masih sambil mengusap kepala sang putri, Kimanto pun lalu kembali berkata.
"Emma.. jika nanti kamu terbangun, dan mengingat mimpi ini.. Papa ingin kamu tahu, kalau penyesalan terbesar yang pernah Papa lakukan adalah meninggalkan mu dan juga Mama mu," ucap Kimanto.
"Humm? Mimpi? Jadi, ini tuh mimpi ya, Pa?" Tanya Emma balik.
"Dengarkan Papa untuk terakhir ini, Emm.. rebahkan kembali kepala mu ke Papa, Nak. Biarkan Papa menyimpan memori ini untuk Papa kenang saat Papa pergi ke dunia yang lain.." pinta Kimanto kepada Emma.
Emma pun kembali merebahkan kepala nya di bahu Kimanto. Lalu ia memasang kuping nya baik-baik, sesuai permintaan dari sang Papa.
"Papa ingin sekali mendapatkan maaf mu, Nak. Walau Papa tahu, dosa Papa kepada mu sungguh teramat besar sekali. Meski begitu, tolong Maafkan Papa mu yang bodoh ini, Emm.. demi kedamaian hati mu sendiri.." lanjut Kimanto.
"Tolong maafkan Papa yang begitu bodoh dalam mencintai. Hingga mengabaikan hal indah yang sudah Papa miliki," lanjut Kimanto kembali.
"Hal indah itu maksud nya, Pa?" Tanya Emma dengan spontan.
"Kamu.. dan juga Mama mu, Emm. Kalian adalah hal terindah yang pernhs Papa miliki. Namun karena dibodohi oleh cinta kepada wanita yang lain, Papa malah melupakan kalian.. tolong ampuni Papa.." pinta Kimanto dengan suara yang mulai terdengar serak.
Emma tadi nya hendak mengangkat pandangan nya ke atas. Akan tetapi tangan Kimanto menahan nya agar tetap bersandar di bahu lelaki itu. Alhasil, Emma pun hanya bisa mendengar dalam diam saat beberapa detik berikut nya lelaki itu terisak dalam diam.
Entah kenapa, meski Emma masih bingung dengan apa yang diucapkan oleh Kimanto, gadis itu merasakan sesuatu menekan dada nya begitu kuat. Hingga Emma merasa dada nya menjadi sesak dibuat nya.
'Sebenar nya ada apa ini? Aku tak mengerti dengan apa yang Papa katakan. Tapi, kenapa aku ikut menangis juga?!' batin Emma memekik kaget.
Ya. Emma terkejut saat ia menyadari dua buliran air mata tahu-tahu telah menganak sungai dari ujung kedua mata nya.
Dalam diam, pasangan ayah dan anak itu pun saling bersandar pada satu sama lain sambil menatap laut biru lepas yang diguyur oleh sinar kemerahan sang senja.
Setelah beberapa lama, Kimanto kembali bicara.
"Lanjutkan lah hidup mu semaksimal mungkin, Emm. Jangan memandang cermin masa lalu mu yang kelam terlalu lama. Karena masa depan mu itu ada di hadapan. Jadi kamu harus menatap ke depan, bukan ke belakang," lanjut Kimanto memberikan nasihat nya.
"Lupakan dendam, benci dan semua perasaan negatif yang ada di hati mu, Emm. Karena semua emosi negatif itu ibarat bara api kecil yang mengumpul sedikit demi sedikit dalam hati mu. Bila kau tak segera memadamkan nya, bara-bara api yang kecil itu lambat laun akan membesar hingga kemudian bisa menghanguskan diri mu sendiri. Itu sungguh merugi," lanjut Kimanto lagi.
Setelah beberapa lama, Kinanto lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku baju nya.
"Ambillah ini, Emm..."
Emma lalu menerima sebuah apel berwarna keemasan dari tangan Kimanto.
"Ini apel kah, Pa? Tapi warna nya emas.." tanya Emma memandang apel itu keheranan.
"Ini adalah Buah Pengingat, Emm," jawab Kimanto singkat.
"Buah Pengingat? Kenapa dinamakan begitu, Pa?" Tanya Emma lagi.
Kimanto lalu mengajak Emma untuk berdiri. Ia pun lalu mengajak Emma untuk berjalan pelan tanpa menjawab pertanyaan terakhir Emma tadi.
Kedua nya lalu keluar dari pantai, dan tiba di depan sebuah air terjun buatan dari tebing yang tinggi nya hanya sekitar lima meter saja. Meski itu terlihat buatan, namun aliran air yang turun dari atas nya cukup kencang di penglihatan Emma.
Emma bingung dengan alasan Kimanto mengajak nya ke tempat ini.
"Kenapa kita ke sini, Pa?" Tanya Emma yang masih memegang buah apel keemasan itu di tangan kiri nya. Sementara sedari tadi tangan kanan nya digenggam erat oleh sang Papa.
"Papa ingin mengantarkan mu pulang, Emm. Makan lah Buah Pengingat ini sekarangg juga, lalu pergilah melewati air terjun buatan itu. Dengan begitu, saat kamu terbangun nanti, kamu akan mengingat kenangan kita selama ada di pantai tadi.. mungkin hanya ini saja yang bisa Papa tinggalkan untuk mu, Emm. Pergilah!" Titah Kimanto terdengar agak mendesak.
"Tapi.. Emma belum mau pulang, Pa.. Emma masih mau di sini sama Papa.." tolak Emma yang masih enggan untuk berpisah.
"Kamu harus bangun sekarang juga, Emm. Dunia mu menunggu mu!" Ujar Kimanto lagi.
"Lalu gimana sama Papa? Apa Papa akan tetap di sini?" Tanya balik Emma.
Kimanto tak menatap mata Emma saat ia memberikan jawaban nya.
"Dunia Papa pun menunggu Papa, Emm. Kita berpisah dulu sampai di sini. Hiduplah berbahagia Emm.. Reno lelaki yang baik. Jangan sia-siakan kebaikan nya. Seperti yang pernah Papa lakukan saat menyia-nyiakan kebaikan mu dan juga Mama mu dulu.." nasihat Kimanto kembali terdengar.
Meski Emma masih kebingungan dengan percakapan ini, gadis itu tetap menuruti perintah Kimanto. Ia lalu mendekati air terjun untuk melewati nya.
Tapi tepat sebelum ia melangkah, Emma kembali mendengar suara Kimanto mengingatkan nya.
"Makan buah Pengingat nya juga, Emm.. dan ingatlah kenangan ini. Papa sayang padamu, Nak.."
Tanpa berbalik lagi, Emma memakan buah apel keemasan di tangan nya. Lalu langsung melewati air terjun Pelupa.
Dan..
Sekejap kemudian, Emma tahu-tahu telah terbangun dari tidur nya yang lama.
Begitu terbangun, kedua mata gadis itu langsung saja basah membanjir.
Emma mengingat mimpi nya tadi. Ia mengingat pesan dan kalinat perpisahan dari Kimanto kepada nya dalam mimpi.
Gadis itu pun akhirnya meluruh dalam tangisan panjang. Di penghujung subuh yang masih menyimpan sisa malam yang kelam.
Di samping Emma, Sella terbangun oleh suara isak tangis sang Kakak. Namun Emma tak jua menghentikan tangisnya dalam waktu yang lama.
Ada kesedihan sekaligus juga rasa bahagia dan lega yang dirasakan oleh Emma. Setelah pertemuan singkat nya dengan sang Papa di alam mimpi tadi.
'Terima kasih, Pa.. sudah mengunjungi Emma dalam mimpi..Emma janji, Emma akan melakukan apa yang Papa minta. Dan Papa juga gak usah khawatir, karena Emma udah maafin Papa. Jadi, Papa juga bahagia ya di sana!' pesan Emma teruntuk Kimanto yang ia bisikkan pada angin pagi yang dingin.
***