Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Kata Hati Emma



Perbincangan Emma dan Retno terus terngiang-ngiang di benak Emma. Bahkan setelah Retno kembali lelap dalam istirahat nya.


Emma memandang wajah sang Mama yang pulas tertidur. Sementara benak nya mengingat kembali ucapan Mama nya tadi.


Flashback satu jam yang lalu..


"Mama tahu ada yang kamu sembunyikan dari Mama, Emm.. apa ini tentang kesehatan Mama?" ujar Retno menerka-nerka.


"Mama selalu bilang pada ibu dokter nya kalau Mama ingin pulang sesegera mungkin. Namun kamu dan bu Dokter selalu menjawab santai. Menyuruh Mama untuk fokus pemulihan saja lah.. tak perlu buru-buru pulang kata nya. Memang nya apa yang terjadi Emm? Tolong kasih tahu Mama.." selidik Retno sambil memohon.


"Itu.. sebenar nya.. "


Emma kesulitan untuk menjawab pertanyaan sang ibunda. Benak nya kusut oleh kebimbangan untuk mengatakan kondisi Mama yang sebenar nya atau tidak.


"Bilang aja sejujur nya ke Mama, Emm. Mama tahu ada kondisi khusus yang membuat kamu ingin Mama beristirahat di rumah sakit lama-lama. Padahal Mama bisa juga kan rawat jalan di rumah," imbuh Retno lebih lanjut.


"Mama mikirin biaya perawatan di rumah sakit, Emm. Kita mau bayar pakai apa? Pakai daun kan gak mungkin. Mama gak mau uang tabungan kamu habis cuma untuk.."


Emma buru-buru memotong ucapan Retno.


"Ma.. Mama jangan sungkan gitu dong sama Emma. Emma ikhlas kok tabungan Emma buat Mama berobat. Yang penting buat Emma, Mama bisa sehat lagi. Jadi nanti kita cepat pulang lagi ke rumah. Kalau Mama sehat, kan, Emma juga ngerasa tenang jadi nya.." papar Emma menyampaikan isi hati nya.


"Tapi Emm.. kamu kan masih ada kebutuhan lain yang perlu kamu pikirin," sanggah Retno kembali.


"Kebutuhan apa sih, Ma? Orang Emma masih pengangguran gini.. jadi Gak ada yang perlu Emma pikirin selain Mama, Mama, dan Mama aja," tutur Emma sambil bergelayut di tangan Retno.


"Husy.. diajak ngomong serius kok ya malah ngajak becanda melulu sih, Emm!" Tegur Retno kepada Emma.


Meski begitu, seulas senyum terbit di wajah Retno yang masih terlihat pucat.


"Iih.. kata siapa Emma enggak serius? Orang Emma serius koo, Ma! Buat Emma, Mama itu nomor satu yang gak ada dua nya di dunia ini! Jadi please, Mama fokus sama kesehatan Mama aja dulu ya. Urusan uang, biar Emma yang pikirin. Oke?"


"Hhh.. " Retno menghela napas dalam-dalam.


Ditatapnya wajah sang putri lekat-lekat. Betapa rasa khawatir memenuhi benak wanita paruh baya tersebut.


Kekhawatiran satu-satu nya dalam hidup nya yang singkat ini. Yakni berkenaan dengan putri satu-satu nya itu. Emma.


Retno sungguh berharap bila Emma bisa segera menemukan pendamping hidup nya. Seorang lelaki yang baik seperti mendiang ayah Emma, Kimanto.


'Jika saja Kang Mas masih hidup...' lirih Retno merapalkan harapan terdalam nya dalam hati.


"Ya sudah. Terserah kamu saja lah, Emm. Tapi Mama mau tanya sekali lagi ke kamu, Emm. Apa Bu Dokter mengatakan ada kondisi lain yang mengharuskan Mama dirawat lama di rumah sakit? Jawab yang jujur, Emm.. Mama siap untuk mendengar nya," tanya Retno dengan pandangan teguh.


Emma mengerjap beberapa kali.


Belum sempat mulut nya mengatakan kebenaran, tanpa gadis itu sadari air mata nya malah berlinangan.


"Maaf! Maafin Emma, Ma! Ma..mata Emma kelilipan.. Emma.. mau cuci mata dulu ya! Sebentar!"


Buru-buru Emma keluar ruangan. Demi bisa menyembunyikan isak tangis yang hampir meluncur keluar pula dari mulut nya..


Emma terus berlari hingga sampai di depan taman rumah sakit. Di sana, ia kembali menangis untuk waktu yang lama.


Suasana taman malam itu cukup sepi. Jadi tak banyak yang menyadari saat ada seorang gadis yang terisak-isak di depan taman rumah sakit.


Lagipula, saat itu sudah jam sembilan malam. Jadi kebanyakan sudah beristirahat di ruangan inap, atau pun selasar rumah sakit.


Sekitar setengah jam lama nya Emma menenangkan diri di depan taman. Setelah menangis perasaan gadis itu terasa jauh lebih baik.


Emma bahkan sempat berintrospeksi diri. Ia menegur dirinya sendiri yang bersikap cengeng di depan sang Mama sesaat sebelum nya.


Setelah memikirkan baik-baik segalanya, termasuk juga tawaran pekerjaan dari ibu Sofia, akhirnya Emma sampai pada satu keputusan.


Kalau ia akan menerima pekerjaan itu. Dengan begitu, Mama bisa menerima pengobatan terbaik untuk penyakit kanker nya. Dan Mama bisa dirawat di rumah sakit hingga ia benar-benar sembuh dari penyakit nya.


Setelah memantapkan hati nya, Emma pun kembali ke ruang inap Retno di lantai dua.


Flashback selesai.


Kembali ke saat ini.


Saat Emma kembali lagi ke ruang inap Retno. Ibu nya itu ternyata telah pulas tidur. Emma pun menatap sendu wajah sang ibu.


Untuk waktu yang cukup lama, ia merenungkan banyak hal. Secara sadar, Emma pun mengajak bincang Retno dengan suara pelan.


Kata-kata yang mungkin hanya bisa disampaikan oleh gadis tersebut hanya saat Retno pulas tertidur. Karena jika Retno terbangun, besar kemungkinan Emma tak akan berani bebas bicara seperti berikut ini.


"Emma minta maaf ya, Ma.. mungkin nanti Emma akan jarang menjenguk Mama kalau Emma udah masuk kerja lagi," Emma bicara dengan suara berbisik.


"Tapi Emma mau, Mama tetap semangat ya untuk sembuh. Emma kerja lagi juga buat Mama. Nanti kalau Mama udah sembuh, Emma mau kita piknik ke pantai ya, Ma. Kita lihat sunset bareng-bareng.." Emma lanjut berbisik.


"Eh, tapi Mama pasti gak akan mau ya diajak lihat sunset. Soal nya waktu nya pas maghrib banget ya, Ma? Yang ada Mama ga fokus lihat sunset dan malah sibuk nyari mushola lagi, nanti. Ihihi.." Emma terkekeh sendiri.


"Terus nanti Emma juga yang kelimpungan deh. Gak jadi deh lihat sunset nya," imbuh Emma sambil tersenyum tipis.


"Kita lihat sun rise aja ya, Ma! Kalau sun rise kan, nanti kita bisa shalat subuh dulu. Janji ya, Ma?" Bisik Emma bermonolog.


Usai menyampaikan harapan dan keinginan nya, Emma pun terdiam lama. Ditatapnya wajah Retno dalam hening. Sementara kesenduan itu kembali meretas di seisi hati Emma.


Emma kemudian merebahkan kepala nya di dekat kepala sang Mama. Sehingga ia bisa menatap wajah renta Retno untuk waktu yang lama.


"Emma sa...yang Mama.." bisik Emma untuk yang terakhir kali. Sebelum akhirnya ia ikut terlelap ke dunia mimpi.


...


Keesokan pagi nya, Emma mengatakan sejujurnya kepada Retno, perihal penyakit kanker yang ia derita.


***