
"Anda gila!" Emma meraung marah sambil menarik tubuh boneka Sella ke arah nya.
"Cih. Kau memang anak yang membosankan!" Gerutu Pak Adda pelan.
"Ya sudha. Begini saja. Kita akan mengganti permainan!" Usul Pak adda kemudian.
Perhatian Emma langsung terfokus pada ucapan pak Adda. Sementara boneka Cello langsung mengeluh tak terima.
"Yah.. ! Kenapa ganti permainan sih, Paman?" Protes Cello.
"Tenang, boy! Kita akan melakukan permainan yang lebih mengasyikkan lagi . Lihat saja nanti!" Ujar Pak Adda dengan seringai jahat yang terhias di wajah nya.
Emma langsung mendapatkan premonisi yang tak menyenangkan di benak nya.
'Mestilah permainan yang diusulkan oleh Pak Adda itu bukan permainan yang aman dan menyenangkan!' tuding Emma tanpa suara.
"Permainan apa itu, Paman?!" Tanya Cello yang terlihat begitu riang dan penasaran.
'nah! Dan Cello ini sepertinya ketularan gola nya daei Pak Adda ini!' tuding Emma lebih lanjut lagi dalam hati.
"Kita bermain kejar-kejaran saja, bagaimana? Paman yang akan mengejar. Sementara kamu dan nona kecil ini akan Paman kejar. Bagaimana menurut mu, boy?" Tanya Pak Adda kepada Cello.
"Hah. Itu sih gak seru, Paman!" Cello menolak mentah usulan permainan tersebut.
"Jelas akan seru lah, boy! Karena siapa yang berhasil tak tertangkap dalam waktu setengah jam ke depan nya maka akan Paman berikan hadiah. Bagaimana menurut mu?" Tanya Pak Adda lagi kepada Cello.
"Hadiah?! Wahh! Kalah gitu, Cello mau, Paman!" Seru boneka Cello bersemangat.
Emma merasa curiga dengan permainan yang diusulkan oleh Pak Adda tersebut.
'Pasti permainan nya gak akan sesederhana seperti yang biasanya!' Emma sibuk menerka dalam hati.
"Bagaimana menurut mu, Nona kecil? Kau juga harus ikut permainan ini ya!" Ajak Pak adda dengan seringaian tipis di wajah nya.
Emma tak lantas menjawab. Ia terlebih dulu berpikir,
'Mungkin sebaiknya aku ikut permainan ini. Siapa tahu dengan begitu, aku akan menemukan cara untuk keluar dari villa ini!' putus Emma pada akhirnya.
"Baok! Aku setuju! Memang hadiah nya apa?" Tanya Emma penasaran.
"Itu rahasia. Kenapa kau tidak menanyakan hukuman nya saja bila kau kalah nanti, Nona Kecil?" Tanya Pak Addda dengan seringaian yang sama.
"..memang nya, apa hukuman nya?" Tanya Emma ragu-ragu.
"Hukuman nya adalah.. siapapun yang berhasil ku tangkap dalam setengah jam ke depan nanti. Maka dia akan menjadi teman tidur ku selama dua hari ke depan!" Ujar Pak Adda dengan santai nya.
"Ti.. tidur?! Teman tidur?! Apa maksud nya itu, Pak?!" Tanya Emma yang mulai kembali merasa tak nyaman usai bertatapan dengan Pak Adda dalam waktu yang cukup lama.
"Ya. Sepeti istilah yang ku sebutkan itu, Nona Kecil. Bila kau kalah nanti, maka kau akan menjadi teman tidur ku selama dua hari.. sudah jelas bukan?" Tanya pak Adda.
'Gila! Ni orang pedofil atau apa sih?! Pikiran nya kayak nya mesyum melulu! Maksud dia dengan teman tidur tuh 'itu' bukan sih?!' Emma sibuk bergumam dalam hati.
"Wahh! Kalau gitu sih, Cello juga mau dihukum aja, Paman! Cello mau lihat kamar Paman!" Pekik Cello bersemangat.
Emma menatap takjub ke arah Cello.
'Cello pasti belum mengerti dengan jalan pikiran lelaki mesyum ini! Ya ampun! Dia malah mau terjun bebas ke mulut buaya darat! Dasar bodoh!' Umpat Emma dalam hati.
"Gak bisa main itu lah, Pak! Sella juga masih tertidur.." tolak Emma kembali.
"Itu sih mudah, Nona Kecil! Kita biarkan saja dulu dia di sini. Nanti saat ia terbangun, ia pasti akan kembali ke kamar nya lagi. Bukan begitu, Cello?" Tanya Pak Adda lagi kepada boneka Cello.
"Apa itu berarti Anda mau melepaskan Sella begitu saja?" Tanya Emma memastikan apa yang ia dengar.
"Ya. Tentu saja. Jadi, kau akan ikut serta juga, bukan, Nona Kecil?" Tanya Pak Adda kembali.
Emma tak menyahut. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepala nya sekali.
"Baiklah! Ayo kita mulai!" Ujar Pak Adda kemudian.
Jika saja Emma masih dalam tubuh manusia nya saat ini, sudah tentu jantung gadis tersebut akan berdegup sangat kencang. Namun karena ia kini berada dalam tubuh boneka yang kaku.
Jadi jelas saja Emma tak akan merasakan sensasi jantung yang berdegup itu. Hanya saja, dada boneka Emma mendadak terasa sesak penuh saat itu.
"Sekarang, kau berlarilah terlebih dulu! Aku akan menghitung sampai tiga puluh, sebelum aku mengejar mu," titah Pak Adda kemudian.
Tiba-tiba saja Emma terpikirkan sebuah ide.
"Tunggu dulu! Bukankah bila kita bermain di dalam rumah, itu akan membangunkan orang lain yang sedang tertidur? Bagaimana kalau kita bermain di luar villa saja?" Emma mengusulkan.
Padahal sebenarnya tujuan Emma mengikuti permainan ini adalah agar ia bisa berada di lapangan terbuka dan berlari menjauhi vila dengan langkah secepat yang ia bisa.
"Hmm.. aku merasa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Nona Kecil. Apa kau mempunyai rencana yang tak ku ketahui? Tanya Pak Adda kemudian.
Emma langsung menggelengkan kepala nya keras-keras.
'Sialan! Lelaki jahat ini benar-benar peka! Dia sudah langsung mencurigai ku atas usulan ku bermain di luar villa!' umpat Emma dalam hsti.
"Begitu.. hmm.. baiklah! Ayo kita pergi ke luar halaman! Di snaa kita bisa berlari sebebas-bebas nya!" Seru Pak Adda bersemangat.
"Ayo Paman!" Sahut boneka Cello dengan semangat yang tak kalah euforia nya.
Sementara itu Emma yang mendengar ucapan dari Pak Adda kepada semua nya pun langsung berseru senang.
'Yes! Umpan ku berhasil dimakan oleh Pak Adda!' pikir Emma dalam hati.
Selanjutnya, Pak Ada mengambil tubuh boneka Sella yang terkulai di lantai. Kemudian ia memandu boneka Emma dan Cello untuk keluar dari ruang rahasia tersebut.
Sesampainya di depan ruang tivi, Pak Adda lalu menjatuhkan boneka Sella pada salah satu sofa dengan asal.
"hey! pelan-pelan lah, Pak!" tegur Emma dengan berani.
Pak Adda tak menggubris ucapan Emma. Selanjutnya, lelaki itu kembali memimpin boneka Cello dan juga Emma untuk keluar dari Villa.
Malam gelap pekat tanpa sinar maupun bayangan..
Manakala ketiga sosok tersebut keluar dari Villa, jarum jam hampir menunjukkan waktu di pertengahan malam. Di luar sana, langit terlihat begitu hitam pekat. Sayang nya Emma tak menangkap citra bulan atau pun bintang-bintang di langit malam saat itu.
Padahal Emma berharap ada beberapa titik bintang kecil saja di atas sana. Untuk bisa Emma pilih menjadi petunjuk bagi nya dalam menentukan arah.
Emma bermaksud untuk kabur menjauhi villa Grandhill dan para penghuni nya yang gila, malam ini juga!
***