Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Reno Datang



'Aku akan membalas mu...' ucap hantu Celia terdengar seperti bisikan pelan.


Boneka Emma terkejut. Ini adalah kali pertama ia mendengar sang hantu bicara. Sebelum-sebelumnnya hantu Celia hanya terdengar mende sah saja di telinga Emma.


"Dia ternyata bisa bicara juga ya.." gumam Emma dnegan suara pelan.


'Tentu saja! Bukan kah seorang kau sudah menjadi boneka, Kakak? Karena itu lah kau sekarang bisa mengerti bahasa ku!' bisik hantu Celia menjelaskan.


Emma menatap was-was ke arah sang hantu.


"Apa sebenarnya mau mu? Bukan kah dengan wujud ku yang seperti ini, tujuan mu sudah terpenuhi?!" Tuding Emma penuh emosi.


Bertemu kembali dengan hantu Celia di saat seperti ini tak membuat Emma lantas menjadi takut pada nya lagi.


Emma lebih merasa marah kepada sang hantu. Karena keegoisan nya untuk memiliki tubuh baru lah akhirnya Emma dijadikan sebagai korban.


Korban yang dikutuk. Boneka terkutuk. Boneka arwah!


'Aku diusir dari dalam tubuh mu oleh teman pacar mu, Kak! Aku tak bisa kembali ke tubuh mu lagi!' jerit sang hantu memberi tahu.


"Apa?! Maksud mu Reno berhasil mengusir mu?! Hahahaha! Bagus lah! Memang taj seharusnya juga kau mencuri tubuh spirit lain, Celia! Jangan tamak!" Tegur Emma dengan keras.


'Jangan sok pintar, Kakak! Kau tsk tahu kenderitaan ku sebagai hantu yang gentayangan! Tak bisa kembali ke tubuh sendiri selama bertahun-tahun lama nya! Kau pikir itu hal mudah untuk diterima apa?!' hantu Celia pun menjeritkan amarah nya.


"Tapi aku tak ada hubungan nya dengan apa yang menimpa mu, Celia! Itu adalah takdir dari Tuhan! Kenaoa lantas kau malah mencuri tubuh orang lain yang tak bersalah?! Itu tamak dan jahat sekali!' balas Emma mengamuk marah.


'Cih. Tak ada yang berhak bahagia bila aku tak mendapatkan keinginan ku!' jerit hantu Celia sebelum ia menerjang boneka Emma dengan sangat cepat.


Boneka Emma terpental jauh dan menabrak dahan sebuah pohon.


"Aarghh!"


Gabruk!


Boneka Emma hendak kembali bangkit, namun hantu Celia lagi-lagi menerjang ke arah nya. Kali ini arwah jahat tersebut melempar tubuh boneka Emma ke atas setinggi mungkin, lalu menghempaskan nya ke atas tanah dengan sekeras mungkin.


Gabrukk!


"Asrgghh!!"


Kejadian seperti itu terus berlangsung selama beberapa kali. Bahkan hingga tangan dan boneka Emma tak lagi memiliki bentuk normal nya. Usai patah karena benturan yang bertubi-tubi.


'Dia sedang dalam perjalanan ke sini untuk mencari mu. Tapi tentu saja, Kak. Aku tak akan membiarkan nya mendapatkan ruh mu kembali. Akan kubuat dia tersiksa karena tak bisa membuat mu kembali terbangun di tubuh asli mu itu, Kak! Hihihihihiii..!!' hantu Celia memekik tawa dengan cukup nyaring.


"Ja..jahat sekali..!" Lirih boneka Emma yang benar-benar telah kehabisan energi.


Secara perlahan, boneka Emma pun kehilangan kesadaran nya. Hal terakhir yang ia lihat hanyalah profil hantu Celia yang menertawakan nya serta gelap pekatnya hutan di pertengahan malam nan dingin ini.


'Ma.. Emma kangen Mama..' sebait rindu pun meluruh di benak Emma saat itu.


***


Keesokan hari nya..


Reno menaiki motor nya menuju villa Grandhill. Ada misi yang harus ia capai. Dan itu adalah menemukan raga boneka yang telah menjerat ruh milik Emma.


Reno pun telah memiliki rencana nya sendiri untuk bisa mendatangi villa Grandhill tanpa dicurigai oleh para penghuni nya. Sebuah amunisi untuk melakukan aksi nya itu kini tersampir dalam kantung jaket yang ia kenakan kini.


Reno kembali melewati jalanan sepi di pertengahan hutan. Ia ingat, kali pertama ia pergi melewati jalanan ini adalah di waktu malam saat ia menemukan Emma duduk sendirian di pinggir jalan.


Saat itu emma baru saja berhasil kabur dari villa tempat nya bekerja. Dan Reno yang memang telah mendapatkan hasil pelacakan yang dilakukan oleh Sein terhadap nomor Emma pun sedang di perjalanan menuju tempat ponsel Emma berada.


Beruntung bagi Reno. Belum sampai ia pada tujuan nya, ia telah bertemu dengan Emma di pertengahan jalan.


Reno pun langsung membawa Emma pulang kembali. Dan sedikit memaksa gadisbtersebut untuk tinggal sementara di apartemen ke dua milik nya.


Flashback selesai.


Kembali ke saat ini. Di mana Reno telah berada di depan pintu villa Grandhill yang ia tuju.


Reno memencet bel dinpintu. Berharap seseorang di dalam villa akan segera membukakan pintu untuk nya.


Dan, syukurlah. Harapan Reno langsung terkabul. Seorang wanita berwajah keibuan muncul dari balik pintu yang membuka.


"Ya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita tersebut, yang merupakan Bi Hara.


Wajah Reno sedikit menegang saat bertatapan dengan wanita yang wajah nya pernah ia lihat dalam file profil yang telah dikumpulkan oleh Sein, sahabat nya.


'Sial! Aku malah bertemu dengan orang paling berbahaya di villa ini!' rutuk Reno menyesalkan nasib nya.


Meski begitu, Reno buru-buru menetralkan ekspresi di wajah nya kembali. Dan membalas pertanyaan Bi Hara dengan nada yang dibuat nya ramah pula.


"Maaf, Bu. Saya mau tanya sesuatu?" Tanya Reno dengan sikap sopan.


"Ya? Apa itu, Tuan?" Tanya Bi Hara kembali.


"Saya sedang mencari orang ini.. dia adalah Papa dari pacar saya yang sedang terbaring sakit sekarang ini. Pacar saya ingin menemui Papa nya setelah lama sekali mereka tak bertemu. Saya mendapatkan informasi kalau bekiau bekerja di sini. Jadi, bisakah Ibu menolong saya?" Tanya Reno seraya mengulurkan sebuah pas foto berukuran foto frame kepada Bi Hara.


Hara lalu melihat foto di tangan nya. Dan ia sedikit terkejut saat mendapati wajah Pak Kiman dalam foto tersebut.


"Jadi, apa Ibu mengenali nya?" Tanya Reno mengulang.


Hara lalu menyerahkan kembali foto tersebut kapada Reno. Sambil berkata,


"Maaf, Tuan. Saya tak pernah melihat nya. Mungkin Tuan salah informasi. Tapi di villa ini hanya tinggal saya dan majikan saya saja. Tak ada lelaki seperti dalam foto itu tinggal ataupun bekerja di villa ini," tutur Hara penuh dusta.


Reno menyadari kalau Hara telah membohongi nya. Karena itu lah Reno pun mengganti taktik.


"Begitu.. sayang sekali. Padahal saya sudah jauh-jauh ke villa ini. Mm.. maaf. Bisakah ibu membagi saya sedikit makanan dan minuman? Motor saya tadi mogok di perjalanan hutan. Jadi saya berjalan kaki cukup jauh untuk sampai di villa ini," tutur Reno menjuruskan taktik baru.


Tujuan pemuda itu hanya satu. Ia ingin menelusuri villa ini dan menemukan boneka yang telah mengikat ruh Emma di dalam nya.


Bi Hara menatap Reno utnuk sesaat. Ia sedang menimbang-nimbang sekiranya ia memperbolehkan Reno untuk masuk dan beristirahat terlebih dahulu atau tidak.


Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya Hara mempersilahkan Reno untuk masuk ke dalam rumah.


'Lagi pula lelaki ini cukup tampan juga. Aku biss menggunakan ilmu pelet ku untuk menjerat nya. Dengan begitu, aku akan memiliki dua abdi setia di vila ini. Yakni Adda dan juga pemuda ini! Hehehe..' gumam batin Hara.


"Silahkan masuk, Tuan! Tunggulah sebentar. Saya akan menyiapkan makanan untuk Tuan!" Ujar Hara dengan senyuman ramah imitasi nya.


Sementara itu, Reno langsung menghela napas lega karena akhirnya ia bisa masuk ke dalam villa tersebut.


'Bersabarlah, Emm. Aku akan membawa mu pulang kembali!' janji Reno kembali bergaung dalam hati pemuda itu.


***