
"Jangan bawa Kakak ku!" Pekik boneka Sella yang langsung menggigit kaki Reno sekencang-kencang nya dengan gigi boneka nya.
"Aarrghh!!" Langkah Reno terhenti seketika.
"Sella! Jangan!" Emma memberi peringatan kepada Sella.
Sementara itu, Reno langsung menjangkau boneka Sella yang menggelayut di kaki nya. Namun saat ia sudah memegang tubuh boneka Sella, boneka itu malah ganti menggigit tangan nya kini.
"Aarggh!!" Reno mengaduh kesakitan lagi.
Dengan spontan, dihempaskan nya boneka Sella ke udara.
"Sella! Tidak!!" Pekik Emma yang merasa khawatir terhadap Sella.
Syukurlah boneka Sella terjatuh ke atas kasur. Jadi itu tak terlalu menyakitkan bagi nya.
Meksi begitu, Boneka Sella kembali melompat ke arah Reno untuk menyerang pemuda itu lagi. Terlebih saat dilihat nya kedua lengan Kakak Cantik nya yang kini tiada lagi.
"Kau!! Kau! Tega nya kau merusak tangan Kakak Cantik!" Jerit Sella yang meraung marah.
"Sella! Jangan! Dia ini teman Kakak! Dia orang baik, Sell!" Jerit Emma memberitahu Sella.
Sella yang sudah bertengger di atas kepala Reno dan bersiap untuk menjambak rambut nya pun seketika melepas cengkeraman nya pada rambut Reno.
Sella lalu menunduk dan menatap boneka Emma yang ada di bawah nya.
"Dia, teman kakak?" Tanya Sella mengulang dengan pandangan bertanya.
"Iya, Sell! Kak Reno ini udah nolongin Kakak dari sekapan Pak Adda di ruang rahasia! Sekarang Kakak harus pergi dari villa ini secepat nya! Kamu mau ikut Kakak?" Ajak Emma.
"Emm.. dia itu tapi kan.." Reno tak jadi melanjutkan kalimat nya, usai ia menerima tatapan peringatan dari Emma.
"Tapi Sella lagi nungguin Cello, Kak.. dan Mama juga lagi sakit.." ujar boneka Sella terlihat bimbang.
Diingatkan tentang Cello, Emma jadi ingin menangis sedih. Sayang nya wajah boneka nya tak mampu untuk mengeluarkan air mata. Jadi ia hanya bisa menahan sesak yang menghimpit dada saja.
Emma kesulitan untuk memberitahu Sella tentang nasib tragis kembaran nya itu. Akhirnya pandangan Emma pun tertuju pada profil majikan nya, yakni Sofia.
Sofia tampak terbaring diam dalam tidur nya. Terlalu tenang, menurut Emma.
Sebuah dugaan pun melintas di benak Emma. Ia lalu meminta tolong Reno untuk mengecek sesuatu.
"Ren! Bisa tolong cek wanita di kasur itu? Maksud ku, cek denyut jantung atau nadi nya.. aku khawatir, dengan semakin agresif nya sikap Bi Hara dan Pak Adda akhir-akhir ini, mereka mungkin juga tak akan segan untuk menyakiti Nyonya Sofia pula," ujar Emma meminta tolong.
Reno langsung menuruti apa kata Emma. Didekati nya wanita yang terbaring di atas kasur dengan segera. Dsn setelah ia mengecek denyut nadi dan juga ada tidaknya hembusan napas di bawah hidung sang wanita, Reno pun tercengang.
"Emm! Kamu benar, Sayang! Wanita ini sudah meninggal.." ujar Reno dengan suara pelan.
Boneka Sella spontan melompat turun dari atas baju Reno ke samping tempat jasad Sofia terbujur kaku.
"Maksud Kakak ini, Apa, Kak? Mama meninggal? Meninggal itu bukan nya mati ya, Kak?? Iya Kak? Jawab Kak!" boneka Sella mendesak Emma untuk menjawab pertanyaan nya.
Merasa dada nya sesak, Emma pun berusaha menabahkan diri.
'Kasihan sekali Sella. Sekarang dia hanya tinggal sendiri. Pertama ayah nya dibunuh oleh Bi Hara. Lalu kembaran nya, Cello, yang kemungkinan besar disiksa oleh Pak Adda. Dan sekarang, ibu kandung nya pun harus pula tiada!' batin Emma merasa getir atas nasib yang menimpa boneka Sella.
Melihat Sella, sebuah keputusan pun dibuat mendadak oleh Emma. Terlebih saat Reno mengajak nya untuk bergegas pergi.
"Kita harus pergi sekarang juga, Emm. Kita harus melaporkan kematian wanita ini ke polisi!" Ujar Reno dengan suara tabah.
"Ya. Ayo, Ren! Kita pergi dan laporkan semua kejahatan di villa ini ke kantor polisi. Terserah bila polisi itu tak mempercayai tentang kejahatan yang menimpa ku. Tapi kematian Nyonya Sofia, dan juga..ah! Aku baru ingat juga, Ren! Ada orang yang disekap juga di kamar rahasia yang lain!" Papar Emma baru teringat pada Pak Kiman.
"Kiman..Kimanto maksud kamu?" Reno ingin memastikan pendengaran nya benar.
"Ya. Dia itu koki yang bekerja di villa ini. Beberapa waktu lalu aku tak sengaja menemukan nya disiksa di ruang rahasia!" Tutur Emma lebih lanjut.
"Kita juga harus menolong nya, Ren! Mungkin saja beliau masih hidup kan?" Emma berseru dengan nada mantap.
".." Reno tampak menatap lekat Emma selama beberapa saat.
Tadi nya pemuda itu hendak mengatakan kepada Emma perihal identitas sebenar nya dari lelaki yang bernama Kimanto itu bagi diri Emma. Akan tetapi dengan kondisi yang tak memungkinkan seperti sekarnsg ini, seperti nya ia harus menunda menyampaikan informasi itu di lain waktu.
"Oke. Kita cek dulu ya Pak Kiman. Semoga saja beliau masih bisa kita selamatkan. Tapi sebentar, aku hubungi Sein dulu. Biar dia kirim bantuan secepat nya ke villa ini," ujar Reno kemudian.
Reno lalu mengirim pesan singkat kepada Sein. Berharap bantuan yang dihadapkan bisa segera datang menjemput mereka nanti.
Selagi menunggu Reno mengabari Sein, boneka Emma pun mendekati boneka Sella untuk membujuk nya pergi bersama ia dan juga Reno.
"Sella, kamu ikut kakak ya? Kita harus pergi dari rumsh ini sekarang juga. Rumah ini berbahaya saat ini. Ada orang jahat yang tinggal di sini. Kamu mau kan, Sell?" Ajak Emma penuh harap.
"Tapi Mama, Kak..?" Tanya Boneja Sella terlihat menyedihkan.
"Kita pergi dulu sekarang. Nanti setelah kita bebas, baru kita bawa Mama pergi juga dari sini. Kamu mau kan, Sell?" Ajak Emma kembali.
"Lalu.. Cello gimana, Kak?" Tanya Sella kembali di sela isak nya yamg masih tersisa.
Tenggorokan Emma serasa tercekat.
'Aku tak bisa mengatakan kebenaran tentang Cello saat ini juga kepada Sella. Dia pasti akan sangar bersedih bila mengetahui kalau dia sudah kehilangan dua sosok yang berhubungan dekat dengan nya,' gumam batin Emma.
Emma lalu memberanikan diri untuk menatap mata boneka Sella. Setelah itu, ia pun menyampaikan dusta yang dibuat nya.
"Cello sudah ada di tempat yang aman, Sell! Jadi, ayo ikut kami!" Ajak Emma kembali.
Meski mula nya terlihat ragu, pada akhirnya boneka Sella pun mengangguk kaku.
"Iya, Kak. Sella mau ikut Kakak.." jawab Sella akhirnya setuju.
Setelah Reno selesai mengabari Sein, ia dan dua boneka yang kini didekap nya erat di dada pun kembali menyusuri lorong menuju kamar rahasia yang lain.
Reno sengaja memeprcepat laju lari nya semaksimal mungkin. Ia khawatir bila kegaduhan di malam ini cukup untuk membangunkan Bi Hara dari tidur nya.
Dan, bila Bi Hara terbangun lalu menyadari apa yang terjadi pads Pak Adda, maka itu adalah hal yang paling terakhir Reno harapkan untuk terjadi. Karena dnegan begitu, Pak Adda pun bisa dilepasnya lagi, dan kesempatan mereka untuk pergi akan menjadi sangat-sangat kecil.
Reno sempat ragu untuk melajukan lari nya. Namun saat ia mengingat kalau yang sedang mereka selamatkan ini adalah ayah kandung dari wanita yang sangat ia cintai, pemuda itu pun meneguhkan pendirian nya lagi.
'Aku harus membantu Emma menyelamatkan ayah nya. Jika tidak, kelak sata aku mengatakan pada Emma bahwa Pak Kimanto itu adalah ayah kandung nya yang telah lama menghilang, maka ia bisa jadi akan sangat marah kepada ku..' gumam Reno tanpa suara.
***