Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Membuat Kenangan



Keesokan hari nya...


"Emma kerja lagi, Ma.alhamdulullah majikan Emma orang kaya yang baik hati. Dia single parent dengan dua anak yang maish balita. Emma jadi pengasuh untuk dua anak nya itu," Emma memgawali kalimat nya di depan Retno.


"Alhamdulillah! Bagus itu, Nak! Kamu yang semangat kerja nya ya! Mama gak apa-apa pulang aja beberapa hari lagi. Kalau kita maksa minta pulang juga nanti dikasih.." tutur Retno bersemangat.


Emma meringis. Tak menyangka kalau ibu nya masih saja ngotot ingin pulang ke rumah di saat kondisi nga belum pulih benar.


"Jangan,Ma. Mama di rumah sakit aja sementara ini. Lagipula, setelah pulih pasca kecelakaan, Mama juga harus lanjut berobat lagi," Emma mulai menyampaikan rahasia tentang kanker hati yang diderita oleh Rerno.


"Berobat apa, Emm?" Tanya Rerno kebingungan.


Emma berusaha menelan gumpalan yang menahan nya untuk berkata jujur kepada Rerno. Selama beberapa waktu, Emma menjeda kalimat nya.


Baru ketika ia merasa hati nya telah siap, Emma pun menyampaikan diagnosa dokter Liani atas kondisi tubuh Retno yang sebenar nya.


"Kata Dokter Liani, Mama mengidap kanker hati stadium 2!" Ungkap Emma dalam satu tarikan napas.


Gadis itu menundukkan wajah nya selama beberapa detik. Ia merasa tak mampu untuk melihat dua manik mata milik sang ibunda meredup kala mengetahui kabar tersebut.


Jangan kan Retno. Emma sendiri pun merasa hati nya remuk saat pertama kali mendengar berita itu dari mulut Dokter Liani. Apalagi Mama yang menjadi penderita nya?!


"Apa? Emm..? Kamu ngomong apa barusan, Nak?" Tanya Retno terpatah-patah.


Lagi-lagi Emma menelan gumpalan yang menyumbat tenggorokan nya dari berkata-kata.


Ia tahu kalau hari ini pastilah akan tiba. Ia tahu detik-detik ibu nya mengetahui perihal kanker itu pasti akan terjadi.


Retno harus bersiap dan berdamai dengan takdir yang menimpanya kini. Sama seperti Emma yang harus menerima dan mengambil keputusan terbaik untuk kepulihan sang ibunda kemudian.


Emma meneguhkan hati nya. Baru kemudian ia mengangkat wajah nya hingga lurus menatap ke dalam mata Retno.


Di raih nya tangan sang ibu yang terasa kecil di tangan Emma. Ditekan nya tangan renta milik sang ibunda yang juga sarat akan kerapuhan.


Betapa ingin Emma mengambil beban penyakit itu dari tubuh ringkih sang ibunda. Jika bisa memilih, ia mungkin ingin Tuhan memberikan penyakit itu untuk nya saja. Jangan ibu nya. Jangan Mama nya..


"Ma, kata Dokter Liani, sekarang Mama ada kanker hati stadium 2.." ucap Emma mengulang.


"Kanker hati? Stadium dua? Maasyaa allah.." Retno langsung merebahkan kepala nya ke tiang ranjang pasien. Saat ini ia memang sedang dalam posisi duduk.


Retno menatap langit-langit kamar dalam diam. Ia mencoba mencerna dan menerima takdir yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta untuk nya.


"Tapi Mama jangan khawatir. Itu masih bisa disembuhkan kok. Masih bisa kemo, terapi, dan juga macam-macam tindakan lain nya. Emma gak ngerti semua nya itu. Tapi Emma percaya sama Dokter Liani, kalau Mama bisa kembali sehat lagi. Jadi Mama jangan pesimis duluan ya,Ma!" Pinta Emma sambil menggenggam erat jemari Retno.


"Tapi biaya nya, Emm..! Itu pasti perlu biaya yang lebih besar lagi!" Cecar Retno dengan ekspresi cemas.


"Tenang aja, Ma. Syukurlah majikan Emma yang baru mau bantu meringankan biaya pengobatan Mama nanti. Ditambah pake tabungan Emma,insya Allah uang Emma cukup untuk biaya berobat Mama," papar Emma bercerita.


"Tapi Emm.. itu uang kamu,Nak. Mama gak enak hati.."


Ucapan Retno seketika itu juga langsung dipotong oleh Emma.


"Jangan mikir gitu dong, Ma. Bagaimana pun juga Mama satu-satu nya keluarga Emma di dunia ini. Jadi please, jangan mikir apapun selain sembuh dan sembuh ya, Ma. Yang penting Mama kembali sehat. Buat Emma, itu udah lebih dari cukup!" Tukas Emma dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Hati Retno serasa dihimpit batu kala mendengar putri tunggal nya bicara. Lebih terasa sesak lagi manakala ia harus menyaksikan kedua manik mata Emma yang begitu tersiksa menghadapi kondisi nya sekarang ini.


'Allah, Yaa Rabb.. kuatkan kami.. kuatkan putri ku ini..' doa Retno merayap ke angkasa.


Retno kemudian meraih bahu Emma untuk ia peluk. Pasangan ibu dan anak itu pun lantas melepaskan rasa sedih nya secara bersamaan.


"Terima kasih, Sayang.. Mama bahagia punya Emma sebagai anak nya Mama. Mama sayang kamu, Nak.." Retno bergumam ke dekat telinga Emma.


Emma menganggukkan kepala nya sekali. Ia tak mampu menyahuti kalimat Retno tadi.


Karena bila ia mengeluarkan sepatah kata lagi, besar kemungkinan bendungan di kedua mata nya akan jebol seketika.


Jadi lah akhirnya gadis itu hanya mengeratkan pelukan nya pada tubuh ringkih sang ibunda.


Dan Retno mengerti bahasa tubuh dari sang putri. Bahwa Emma pun memiliki rasa yang serupa sepertinya.


Kedua ibu dan anak itu sungguh saling menyayangi antara satu sama lain.


Setelah beberapa lama berpelukan dalam diam, Retno melepas pelukan nya pada Emma.


Selanjutnya wanita paruh baya itu pun kembali bertanya.


"Majikan kamu itu laki-laki atau perempuan Emm? Kamu tadi bilang dia single parent kan?"tanya Rerno bertubi-tubi.


"Perempuan, Ma. Iya. Dia punya dua anak yang masih kecil. Jadi nanti Emma ngurusin kedua anak nya itu," jawab Emma menjelaskan.


"Oo.. syukurlah.. Mama kira tadi nya majikan kamu itu laki-laki. Duda gitu.. jadi Mama pikir dia mungkin minta yang macam-macam ke kamu. Habis nya kamu tadi bilang kalau majikan mu itu mau bantu ngebiayain pengobatan Mama kan? jaman sekarang mana ada orang baik yang enggak pamrih," tutur Retno bernada skeptis.


Emma meringis. Dalam hati nya ia membenarkan prasangka sang ibunda. Ibu Sofia, majikan nya itu memang bukan majikan baik yang tanpa pamrih. Karena bagaimana pun juga Emma harus mau menemani dua anak nya, yang ternyata adalah boneka setan, selama 24 jam/7 hari.


Ya. Emma harus bekerja selama enam bulan di villa Grand hill itu tanpa bisa pulang menjenguk sang ibunda.


Ini sungguh pengorbanan yang berat bagi Emma. Tapi demi Retno agar bisa kembali pulih, Emma menabahkan diri nya untuk menerima kembali pekerjaan tersebut.


"Yah.. tapi ternyata ada kan, Ma. Majikan Emma yang sekarang memang orang yang baik, kok!" Emma sengaja berdusta.


Gadis itu tak ingin membuat ibu nya khawatir dengan kenyataan terkait dua boneka arwah yang menjadi anak asuh nya nanti.


'Biarlah Mama fokus memulihkan diri nya. Jadi Mama tak perlu mengkhawatirkan ku dulu,' bisik batin Emma.


"Syukurlah jika memang benar begitu.. itu nama nya rejeki kamu, Emm. Kamu harus pandai-pandai bersyukur," Retno memberikan nasihat nya.


"Iya, Ma.. tapi Ma.. rumah majikan Emma ini ada di luar kota. Jadi, besar kemungkinan Emma gak bisa sering pulang jenguk Mama.." ujar Emma dengan nada menyesal.


"Hm.. tapi kamu masih bisa telepon Mama kan, Emm?" Retno memberi usul.


Emma mengangguk sambil tersenyum.


"Bisa, Ma," jawab Emma singkat.


"Bagus. Kalau gitu, kamu nanti sering-sering telpon Mama aja ya, Emm..?" Pinta Retno.


"Iya, Ma.. "


Keduanya kemudian lanjut membincangkan tentang hal yang lain. Kali ini pembahasan kedua nya berkisar tentang hal-hal yang membuat keduanya bisa tersenyum dan tertawa.


Emma mencandai Retno. Begitu pun sebalik nya. Pasangan ibu dan anak tersebut tahu, kalau waktu keduanya untuk bersama akan segera berakhir tak lama lagi. Karena nya kedua nya pun berusaha mengisi memori manis dalam kenangan milik masing-masing.


Agar kelak saat kedua nya terpisah jauh, masing-masing mereka bisa menekan beban rindu yang menghimpit dengan cara mengulang memori-memori manis yang mereka ciptakan saat ini.


Kenangan manis yang sekaligus juga terasa pahit di hati masing-masing.


***