Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Meninggalkan Reno



Begitu sampai di ruang rahasia, Reno, Emma dan juga boneka Sella langsung mendapati keberadaan Pak Kiman yang masih tertahan di dinding.


"Syukurlah, Emm! Dia masih hidup! Tapi, nadi nya sangat lemah sekali.. kita harus segera mendapatkan pertolongan untuk nya. Tapi kita kuga tak bisa membawa nya pergi dengan motor ku. Apa di sini ada mobil yang bisa dipakai?" Tanya Reno kemudian.


"Ada, Ren. Mobil milik Nyonya Sofia! Tapi.. aku gak tahu kunci nya ada di mana?" Jawab Emma menyesali ketidaktahuan nya.


"Sella tahu di mana Mama biasa menyimpan kunci, Kak!" Jawab Sella tiba-tiba.


Reno dan Emma pun lantas tersenyum kompak.


"Baguslah! Kamu hebat, Sell! Kami bergantung kepada mu!" Ujar Reno sambil mengusap kepala boneka perempuan tersebut.


Reno segera melepaskan tali yang mengikat Pak Kiman dengan menggunakan pisau cutter yang ia bawa di ransel nya.


Kemudian, Reno memanggul Pak Kiman sementara Emma ia letakkan di dalam kantong jaket yang ia kenakan. Dengan boneka Sella yang juga berada di ksntong yang sama.


Rombongan kecil itu pun bergegas kembali melewati jalan kedatangan mereka tadi. Sesampainya di kamar Sofia, Sella lalu menunjukkan kunci mobil yang disimpan Sofia di dalam laci yang tak terkunci.


Setelah itu, rombongan itu pun segera keluar dari villa dan menuju garasi mobil.


"Ahh! Sial! Mobil nya tak juga mau hidup! Seperti nya ada masalah pada mesin nya. Bagaimana ini, Emm?" Gumam Reno yang terlihat frustasi karena mobil nya tak jua mau berjalan.


"Mungkin bensin nya habis?" Tebak Emma.


"Bukan itu penyebab nya. Tapi aku gak ngerti soal mobil. Begini saja. Kita pergi dulu dengan motor ku. Kita tinggalkan Pak Kiman untuk sementara di kobil ini. Semoga saja bantuan yang dikirimkan Sein bisa segera sampai!" Ujar Reno panjang lebar.


"Jika menurut mu itu yang terbaik, aku ikut saja lah Ren!" Jawab Emma.


Akhirnya Reno pun meninggalkan Pak Kiman di dalam mobil dengan kondisi pintu tertutup namun jendela yang sedikit terbuka untuk jalur ganti udara.


Reno tak lupa pula untuk menyelimuti Pak Kiman agar lelaki itu tak mati kedinginan. Setelah itu, ia segera berlari membawa Emma dan juga Sella menuju halaman depan kamar gudang Pak Adda. Tempat di mana Susi mengatakan telah memarkirkan motor Reno di sana.


Sayang sekali, saat Remo menstarter motor nya, motor itu pun tak juga mau hidup. Belum sempat ia hendak mengecek apa yang terjadi pada motor nya, saat ia mendengar suara dari dalam gudang yang pintu nya baru ia sadari telah terbuka separuh nya.


"Mereka mungkin belum pergi terlalu jauh! Dnegan Kiman yang terluka parah, mereka pasti hendsk membawanya menggunakan mobil. Syukurlah tadi aku sempat membuat mobil dan motor pemuda itu rusak. Sekarang, ayo kita pergi mencari mereka!" Teriak suara yang dikenali Reno sebagai milik Bi Hara.


Ketakutan setengah mati, Reno pun langsung berlari sekencang-kencang nya. Sambil berlari, ia mendekap Emma dan Sella agar keduanya tak terjatuh di jalan saat ia berlari kencang.


Satu-satubnya harapan Reno saat ini adalah bantuan dari Sein akan segera datang untuk menyelamatkan mereka.


"Itu dia di sana? Aku melihat pemuda itu berlari ke arah hutan!" Pekik Hara terdengar memecah keheningan malam.


Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Sudah dua jam lama nya Reno berlari dan berletih ria demi bisa menyelamatkan Emma.


Semangat pemuda itu masih tak jua surut untuk membawa Emma pulang kembali ke apartemen nya. Tempat paling aman yang bisa ia pikirkan. Akan tetapi, keletihan yang dialami oleh fisik nya itu membuat laju lari nya menjadi semakin pelan.


"Hah! Hah! Hah! Hah!"


Reno terus berlari menembus jalanan sepi di malam yang gelap nan lagi pekat.


Sampai kemudian ia tersandung batu hingga terjatuh. Meski begitu ia spontan membalikkan tubuh nya saat terjatuh. Sehingga badan nya tak menimpa boneka Emma dan juga Sella yang ia dekap erat di dada.


Gubrak!


Reno berusaha untuk kembali bangkit. Namun naas, ia berdiri saat posisi kaki nya masih belum sempurna benar. Alhasil ia pun terkilir.


"Argh! Sial sekali!" Reno mengumpat kesal pada dirinya sendiri.


"Ren! Kamu kenapa? Kaki mu sakit? Kamu pasti capek banget ya?!" Tanya Emma dengan kalimat beruntun.


"Gak apa-apa, Emm! Aku bisa atasi ini..aargghh! Sial! Sial! Sial!"


Kaki nya yang terkilir sungguh terasa sakit. Ia bahkan tak yakin bisa berjalan lebih jauh lagi dari titik tempat nya berada saat ini.


Sebuah keputusan pun akhirnya dibuat oleh Reno.


"Emma! Dengerin aku baik-baik! Sebaiknya kamu dan Sella pergi lebih dulu! Aku akan alihkan perhatian mereka, oke?!" Usul Reno tiba-tiba.


"Enggak mau! Mana bisa aku tinggalin kamu di tangan mereka, Ren?! Kamu udah gila apa?! Mereka itu semuanya orang gila, Ren! Kalau kamu disiksa sampai.." boneka Emma merasa tenggorokan nya tercekat.


Ia tak mampu untuk menyuarakan dugaan nya atas apa yang bisa menimpa Reno nanti bila sampai Bi Hara dan Pak Adda berhasil menangkap nya.


"Tujuan mereka itu kamu, Emm! Jadi jangan buat usaha ku sejauh ini berakhir sia-sia! Aku mau kamu pergi sekarang juga! Dan aku akan mengalihkan mereka ke arah yang lain. Sebentar, ini dia!"


Reno laku menempatkan ponsel milik nya ke dalam kantong serut yang ada di samping gaun Sella.


"Sella, kamu bawa ponsel kakak ya! Kalau nanti ada telepon dari teman kakak, angkat saja! Dia akan bisa menemukan kokasi kalian berada dengan segera. Dengan begitu, kalian bisa selamat!" Ucap Reno kepada boneka Sella.


"I..iya Kak.." sahut Sella terlihat gugup.


Meski Sella sebenarnya masih merasa asing dengan Reno. Akan tetapi sejauh ini lelaki itu membuat nya merasa aman. Jadi Sella pun akan dengan senang hati untuk menuruti apa kata lelaki di depan nya itu.


"Pergilah, Emm! Ayo! Sebelum mereka sampai ke sini dan melihat kalian pergi!" Titah Reno memaksa.


"Tapi Ren.." Emma masih terlihat enggan untuk meninggalkan Reno.


"Pergilah Emm! Jangan takut! Akan ada bantuan yang menyelamatkan kamu.. dan juga aku. Jadi kamu harus selamat dulu ya, Sayang!" Ujar Reno kembali mendesak Emma.


Merasa tak bisa lagi menyanggah usulan Reno, Emma pun akhirnya setuju untuk pergi terlebih dulu bersama Sella.


Tapi sebelum itu, boneka Emma kembali berkata.


"Menunduk lah, Ren!" Ucap boneka Emma tiba-tiba.


Reno yang sebenarnya tak mengerti dengan maksud Emma menyuruh nya menunduk, tetap saja megikuti keinginan kekasih nya itu.


Reno lalu menundukkan kepala nya.


Boneka Emma lalu melangkah cepat mendekati Reno. Dan dalam sekejap, kedua bibir pun menyatu singkat. Bibir hangat milik Reno. Serta bibir dingin nan kaku milik boneka Emma.


Cup.


Reno tertegun. Ia tak menyangka kalau Emma akan mencium nya begitu saja. Ini adalah ciuman paling aneh dan mendebarkan dalam hidup Reno selama ini.


Meski bibir Emma yang mencium nya tadi terasa kaku, entah bagaimana ciuman itu berhasil membuat jiwa Reno terasa terbakar oleh bara cinta yang mendadak menyala terang di benak nya.


Tanpa disadari, pemuda itu pun melebarkan senyuman. Sementara saat itu, Boneka Emma telah berbalik dan bersiap pergi untuk meninggalkan nya.


"Kalau gitu, kamu jaga dirimu baik-baik ya, Een!" Itulah permintaan Emma sebelum ia pergi bersama Sella.


Sementara itu Reno pun tak kama melontarkan sahutan nya atas ucapan Emma.


"Yang tadi gak bisa dihitung sebagai ciuman pertama kita ya, Emm! Aku akan menagih nya lagi nanti!" Seloroh Reno mengandung jenaka.


Emma tak menggubris ucapan Reno. Ia terus saja berlari menjauh dari tempat Reno masih terduduk di tanah. Meninggalkan hati nya yang kini mulai kembali merana.


'Kamu harus tunggu aku, ya, Ren!' desis batin Emma dalam pengharapan nya.


***