
Sesampai nya di rumah, Emma langsung mengemas beberapa helai baju nya ke dalam sebuah koper ukuran sedang.
Emma tak berlama-lama mengemas pakaian nya, karena ia merasa tak nyaman saat memasuki kembali rumah nya yang telah kosong cukup lama itu.
Memang, sesekali tetangga nya, Ceu Edah datang untuk membersihkan nya dan juga mengantarkan baju ganti untuk Mama di rumah sakit. Namun tetap saja, selebih nya rumah Emma itu ditinggal kosong oleh pemilik nya.
Setelah berkemas, Emma pun langsung menaiki motor Reno kembali menuju apartemen pemuda itu.
Emma masih menempati apartemen Reno yang ada di lantai bawah. Sementara Reno tinggal satu lantai di atas nya.
Kedua nya kini sedang menyantap fried chicken di ruang televisi.
"Heran. Kamu suka banget sama ayam chicken ini sih?" Tanya Reno yang terlebih dulu selesai makan.
"Kalimat mu rancu tahu, Ren! Ayam itu kan bahasa Inggris nya 'chicken'. Jadi jangan panggil 'ayam chicken' lah! Itu kan berarti 'ayam-ayam'!" Ujar Emma mengoreksi.
"Mulai deh, jadi kritikus lagi. Dari dulu, kamu senang banget sih ngajakin debat, Yang?" Tuding Reno.
"Masa iya, Sih? Enggak ah! Biasa aja!" Emma mengelak.
"Lha itu tadi apa coba? Eh. Kamu belum jawab pertanyaan ku, lho, Yang.." seru Reno mengingatkan.
"Pertanyaan apa?" Tanya Emma.
"Itu tadi.. kenapa kamu suka banget makan ayam chi.. ayam goreng?" Tanya reno kembali.
"Habis nya enak sih. Kriuk-kriuk nya itu lho.. krenyes-krenyes di mulut!" Ujar Emma sambil menikmati ayam goreng nya yang ketiga.
"Hmm.. tadi nya aku pikir ini ayam goreng buat makan malam kamu sekalian, Yang. Tapi kayak nya bakal langsung habis deh. Empat potong lho itu, Emm!" Ujar Reno menggoda.
"Biarin ah. Perut ku kan lapar berat, Ren. Gak tahu sih kamu waktu aku disekap tuh aku makan nya apa adanya banget! Biar kata menu nya enak, tapi kalau hati ketakutan karena mikirin 'bisa bebas atau enggak'. Ya jadi nya makan pun gak enak!" Papar Emma menceritakan pengalaman nya saat disekap.
"Maka nya sekarang kamu tuh balas dendam gitu ya, Yang?" Tebak Reno.
Emma langsung menyengir lebar.
"Yah.. anggap saja begitu!" Sahut Emma singkat.
"Terus, sore kita mau ke mana nih?" Tanya Reno tiba-tiba.
"Mau ke mana? Ya ke rumah sakit lah, temanin Mama. Ngomong-ngomong, kamu hari ini memang libur ya, Ren?" Tanya balik Emma.
"Iya. Meliburkan diri. Demi kamu, Yang.." ungkap pemuda itu jujur.
"Serius?! Ya ampun, Ren.. maaf ya! Aku jadi gak enak hati sama kamu.." tutur Emma yang kini tertunduk malu.
"Nyantai aja, Yang. Aku cuma libur sehari ini aja kok. Besok juga aku kerja lagi. Maka nya, mumpung aku libur, sore kita keluar yuk! Aku gak mau diam dua-duaan sama kamu lah di apartemen!" Ungkao Reno tiba-tiba.
"Lho? Memang nya kenapa?" Tanya Emma keheranan.
"Godaan berat buat ku, Yang. Atau.. apa kita ke Pak Ustadz aja ya sore nanti? Kita nikah siri dulu baru nanti.. aduh!"
Reni mengusap wajah nya yang ditepok oleh Emma dengan bantal.
"Sakit, Yang.." Reno merajuk.
"Lagian kalau ngomong suka asal gitu! Apa-apaan nikah siri?! Kalau mau seriusin aku, yang benar lah!" Protes Emma.
"Lho? Memang nya nikah siri itu gak benar apa?" Tanya bslik Reno.
"Ya enggak lah!" Jawab Emma segera.
"Tapi kan sering nya, nikah siri itu cuma dijadiin dalih sama para cowok gak bertanggung jawab. Yang mau enak-enakan nikmati perempuan, tapi gak mau tanggung jawab di mata hukum!" Tuding Emma lebih lanjut.
"Lho? Kata siapa itu, Yang?" Tanya Reno terheran-heran.
"Ya kata aku lah! Memang nya kamu gak dengar apa, tadi?" Tuding balik Emma.
"Emma, Sayang ku, Cinta ku, Manis ku.." rayu Reno membujuk Emma.
Dan itu berhasil menerbitkan senyuman tipis di bibir Emma.
"Jangan salah kaprah dong sayang.. kamu gak bisa menyalahkan proses sakral, yaitu nikah siri, hanya karena oknum yang tidak bertanggung jawab. Kan enggak semua lelaki juga kayak gitu, Yang. Macam aku nih. Aku sih jelas enggak gitu lah!" Seru Reno dengan percays diri nya.
Emma semakin tersenyum mendengar kepercayaan diri dalam kalimat Reno tadi.
"Oke.. iya. Mungkin aku salah. Tapi kan memang sering nya begitu, Ren!" Ujar Emma tak mau mengala.
"Terserah kamu deh, Love. Aku mah ikut kamu aja!" Ujar Reno pada akhirnya.
"Nah! Gitu dong! Itu baru nama nya lelaki idaman! Selalu nurut apa kata istri! Hihihi" Emma terkikik geli.
Wajah Reno terlihat datar. Agak nya ia sufha pasrah bila harus kalah dalam perdebatan nya dengan Emma untuk ke depan nya nanti.
Setelah beberapa lama terdiam, Reno pun kembali bicara.
"Jadi.. kamu mau kita langsung nikah di KUA ggitu?" Tanya Reno to the point.
"Iya! Ehh..??"
Emma baru tersadar kalau Reno telah menjebak nya dalam pertanyaan pemuda itu tadi.
Dan Reno yang akhirnya berhasil mendapatkan jawaban yang dinginkan nya dari mulut Emma pun langsung bersorak girsng.
"Yes! Kalau gitu, kita ke KUA aja deh yuk sore nanti!" Ajak Reno tiba-tiba.
Seketika itu pula kedua mata Emma membulat lebar. Ia terheran-heran karena Reno begitu mudah mengajak nya menikah.
"Mau apa?!" Tanya Emma dengan spontan nya. Walaupun sebenarnya gadis itu bisa menebak jawaban Reno berikut nya.
"Ya nikah lah sama kamu! Kita nikah langsung ke KUA sore nanti. Jadi nanti malam kita bisa tinggal di satu aparteman yang sama!" Seru Reno kegirangan.
'Tuh kan benar tebakan ku! Reno kelihatan udah ngebet nih kayak nya!' Emma berkomentar dalam hati.
"Enggak mau!" Tolak Emma mentah-mentah.
"Kok gak mau sih, Yang? Kan kamu yang tadi bilang maunya gitu.. kita nikah lamgsung secara agama dan juga hukum negara!" Reno mengingatkan Emma pada ucapan nya tadi.
Gantian Emma yang kini tak lagi bisa mengelak dari janji nya tadi.
"Itu.. soalnya.. mm.."
Usai jeds beberapa detik, Emma kembali menemukan kata-kata nya.
"Soalnya kantor KUA bisa aja kan udah tutup sore nsnti!" Jawab Emma sekenamya.
"Kalau gitu, habis makan deh ya, kifa ke KUA?!" Ajak Reno lebih lanjut.
Pada akhirnya, hampir sesiangan itu Emma direcoki oleh Reno yang ngotot mengsjsk nya untuk pergi ke KUA.
***