Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Pagi Merona



Tak lama setelah Boneka Cello pergi mengamuk menuju kamar nya, Emma mendengar suara adzan berkumandang di kejauhan.


Pandangan nya langsung tertuju pada boneka Sella yang masih tergeletak tak sadarkan diri di atas kasur nya. Emma pun bergegas mengambil boneka Sella untuk diantarkan nya kembali ke kamar sang boneka.


Di perjalanan menaiki tangga, ia dibuat terkejut saat melihat boneka Cello tergeletak di salah satu anak tangga. Ia pun sama tak bergerak nya dengan boneka Sella.


"Cell? Cello?" Emma mencoba menggoyang-goyangkan boneka Cello beberapa kali. Namun usaha nya itu tak membuahkan hasil.


Cello masih saja diam tak bergerak di tangan nya.


Melihat penampilan Cello yang kotor dengan percikan lumpur di baju dsn wajah nya, Emma buru-buru menaiki anak tangga dua-dua.


Ia takut bila majikan nya, Nyonya Sofia keburu bangun dan melihat rupa kedua anak nya itu saat ini.


Syukurlah, Emma selesai mengelap Cello dan menggantikan baju nya dan juga baju Sella sebelum Nyonya Sofia terbangun.


Usai merebahkan tubuh dua boneka asuh nya itu kembali ka kasur nya masing-masing, Emma pun bergegas kembali ke kamar nya lagi. Ia sungguh berkejaran dengan waktu saat ini. Karena ia belum menunaikan shalat subuh saat jarum jam sudah menunjukkan pukul lima lewat belasan menit.


***


Selesai subuh, Emma sebenarnya ingin kembali memejamkan kedua mata nya. Namun ia teringat dengan nasihat Retno dulu kepada nya.


Flashback.


'Jangan dibiasakan tidur setelah subuh, Emma! Itu kebiasaan yang enggak baik! Kata bu ustadzah juga, ada dua waktu istimewa yang kalau kita pergunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka kita akan diberi rezeki batin dan juga rejeki zhohir,' tutur Retno kepada Emma.


'Kapan waktu nya itu, Ma?' tanya Emma penasaran.


'waktu setelah ashar sampai maghrib yang akan memberikan kita rejeki batin dan ketentraman hati. Serta waktu shalat subuh sampai terbit matahari. Di mana pada waktu itu kita akan diberi kelapangan rejeki zhohir,' papar Retno panjang kali lebar.


'Oo.. pantas aja ada istilah jangan suka tidur pagi-pagi. Nanti rejeki nya dipatok ayam. Maksud nya tuh itu ya, Ma?' seru Emma menebak-nebak.


'Nah! Itu benar tuh, Emm! Maka nya jangan suka tidur pagi ya! Kamu gak mau kan rejeki yang harus nya milik kamu malah dikasih ke orang lain?!' tanya Retno dengan tatapan serius.


'Tergantung juga sih rejeki apa dulu, Ma..' sahut Emma sambil tersenyum-senyum.


'Maksud kamu apa, Emm? Jangan mikir yang aneh-aneh deh!' Retno menegur putri semata wayang nya itu.


'Apaan sih, Ma?! Belum apa-apa udah main nuduh aja ke anak nya sendiri. Dengerin dulu dong omongan Emma sampai selesai!' Emma membela diri.


'Habis nya, seringnya kan kamu tuh suka ngomong nyeleneh!' tukas Retno kembali menuding Emma.


'yaudah. Emma gak jadi ngomong deh!' Emma pura-pura terlihat kesal di depan Retno.


Sehingga pada akhirnya Retno pun kembali mengalah dan membujuk sang putri.


'Iya. Iya. Mama minta maaf deh. Memang nya kamu mau ngomong apa sih, Emm?' tanya Retno dengan sikap sabar.


Emma lalu menghadiahi ibunda nya cengiran lebar. Baru kemudian menyampaikan isi pikiran nya.


'Kalau Emma sih tergantung rejeki yang kayak gimana dulu yang mau Emma terima..' ujar Emma sambil tersenyum lebar.


'Jangan menolak rejeki, Emma! Itu sikap sombong nama nya!' Retno kembali menegur sang putri.


'Dih, Mama! Obrolan nya serius melulu! Belum juga Emma selesai ngomong, malah dipotong lagi.. dipotong lagi!' Emma menggerutu.


'Tauk ah. Emma lupa mau ngomong apa. Ngobrolin yang gak jelas sama Mama bikin perut Emma lapar jadi nya. Indomie dong, Ma..?' pinta Emma dengan wajah mengiba.


Flashback selesai.


Teringat dengan obrolan nya dulu dengan Retno, Emma pun menahan mata nya dari terpejam usai shalat subuh.


Bingung harus melakukan apa, tadi nya Emma hendak pergi ke dapur dan melihat apakah Pak Kiman sudah menyiapkan makana untuk sarapan pagi. Karena ia mulai merasa lapar saat ini.


Tetapi Emma teringat kembali dengan percakapan nya dnegan Reno via chatting semalam tadi. Akhirnya, karena penasaran dengan jawaban dari pertanyaan nya semalam yang belum dijawab Reno, hingga ia sampai tertidur, Emma pun meraih ponsel milik nya di atas nakas dan menyalakan ponsel nya kembali.


Begitu lampu ponsel menyala, Emma langsung melihat layar percakapan nya semalam dengan Reno. Ternyata Reno telah membalas pesan nya semalam tadi. Mungkin saat Emma telah lelap dalam tidur nya lagi.


Beginilah isi pesan dair Reno: demamπŸ’™ padamu..


"Huh? Apa maksud..!!!" Gumaman Emma langsung terhenti.


Begitu gadis itu menyadari apa maksud pesan Reno dalam emotikon yang dikirim nya kepada Emma semalam tadi.


'Demam πŸ’™ padamu.. demam πŸ’™ padamu.. demam cinta..padamu..'


Benak Emma mengulang-ulang satu kalimat tersebut berulang kali. Dan semburat kemerahan pun kembali meronakan wajah cantik dari gadis tersebut.


"Dasar gombal!" Dumel Emma dengan hati yang berbunga-bunga.


Emma kemudian meletakkan kembali ponsel nya di atas nakas. Sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi ke dapur.


Saat menuju dapur, Emma tak sadar kalau ia selalu menyunggingkan senyuman lebar di wajah nya.


***


"Duh.. kayak nya Neng Emma lagi senang banget. Dari tadi kelihatan nya senyum terus?" Goda Bi Hara saat keduanya bertemu di depan pintu dapur.


Emma langsung tersadar dan mengatupkan mulut nya rapat-rapat. Dalam hati nya ia menegur kembali dirinya sendiri.


'Ya Ampun, Emm! Cuma karena pesan gombal dari Reno aja bikin kamu dianggap gila sama orang-orang di rumah ini! Nyadar dong, Emm! Jangan baper!' tegur Emma dalam hati.


"Mm.. biasa aja kok, Bi. Oh ya, Pak Kiman udah selesai buat sarapan belum ya, Bi?" Tanya Emma mengalihkan topik.


"Neng Emma udah kelaparan ya? Sebentar ya Bibi tengok. Kayak nya sih belum. Soal nya masih kedengaran suara wajan nya tuh lagi diajak perang!" Seloroh Bi Hara sambil tersenyum.


"Hihihi.. Bi Hara bisa aja!" Komentar Emma.


Keduanya lalu berjalan bersama ke dalam dapur. Dan serentak saja, Penciuman Emma langsung digoda dengan bau harum aroma nasi goreng.


"Hmm.. wangi nya sedap banget.. pagi Pak Kiman!" Sapa Emma mencoba tetap bersikap ramah pada koki yang cukup jutek tersebut.


"Hmm!" Sahut Pak Kiman dengan deheman pelan.


Dalam hati nya, Emma menggerutu kesal.


'Heran deh. Apa salah nya sih ngebalas dengan kata-kata? Jawaban nya cuma hmm aja! Dipikir nya aku ini kambing apa! Yang didehemin langsung ngerti bahasanya!' gerutu Emma dalam hati.


***