
"Duduk sini, Ren! Dekat Tante. Kamu tuh ya. Setiap ke sini selalu sibuk bawa apa-apa. Padahal gak usah bawa apa-apa juga gak apa-apa, Ren! Tante kan makan nya belum boleh yang ada rasa," ujar Retno kepada Reno.
"Yah.. gak apa-apa lah Tante. Kan bisa dimakan sama perawat di sini. Jadi biar mereka lebih perhatian lagi kan tuk jaga Tante," kilah Reno berasumsi.
"Tapi tetap aja, Ren. Tante kan jadi ngerasa gak enak sama kamu!" Ujar Retno kembali.
"Gak usah sungkan lah Ma, ke Reno! Kan dia mau jadi calon menantu nya Mama! Jadi biar lah dia caper duluan.." ucap Emma tiba-tiba.
"Apa?!"
"Hah?!"
Retno dan Reno kompak terkejut dengan ucapan Emma barusan. Kedua orang itu pun langsung menatap Emma lekat-lekat. Ingin kembali mendengar penjelasan Emma atas ucapan nya barusan.
Sementara itu, Emma yang kini menjadi fokus perhatian dua orang lain di kamar itu pun langsung jengah dan mencari kambing hitam untuk ia pertunjukkan. Agar ia tak lagi intens diperhatikan lama-lama oleh Retno dan juga Reno.
"Kenapa kamu ikutan kaget juga sih, Ren?! Kan kamu yang ngelamar aku semalam tadi?! Apa kamu cuma bercanda aja ya!" Tuding Emma dengan wajah merah padam karena malu.
Reno langsung megap-megap seolah kesulitan untuk berkata-kata.
"I..iya sih.. jadi, kita married nih ya?" Tanya Reno dengan kegembiraan yang perlahan memancar luas dari wajah nya.
"Terserah kamu lah! Kamu yang ngajakin, ya kamu juga lah yang mutusin!" Ucap Emma dengan ketus.
Melihat akhlak putri nya yang kelewat tak sopan terhadap Reno, Retno pun bergegas menegur Emma.
"Emma! Ngomong nya bisa lembut dikit kan? Kamu tuh nanya nikah, udah kayak nagih hutang aja. Jaga etika kamu, Emm!" Tegur Retno dengan pandangan tegas.
"Iya, Ma. Maaf deh. Maaf," sahut Emma dengan wajah bersungut-sungut.
'Gara-gara Reno nih aku kena omel Mama! Duh! Bekum nikah aja aku udah ngerasa kayak jadi anak tiri nya Mama deh. Sementara Reno udah kayak jadi raja di mata Mama!' keluh Emma tanpa suara.
"Maaf ya, Nak Reno. Emma ini sebenarnya baik. Cuma ya kadang-kadang dia kesusahan untuk ngerem mulut nya. Jadi.." ujar Retno kepada Reno.
"Iya Tante. Tenang aja. Reno udah terbiasa kok dengan Emma yang kayak gini," sahut Reno dengan ekspresi santai.
Mendengar ucapan Reno, justru malah mendatangkan kerutan di antara kedua dahi Retno.
"Jadi, biasanya Emma selalu bersikap gitu ke kamu, Ren?!" Tanya Retno dengan nada meninggi.
Menyadari kalau ia telah salah ucap, Reno pun jadi salah tingkah. Pemuda itu terlihat kebingungan unthk memadamkan api yang tak sengaja telah ia pantik di antara Emma dan juga Retno.
Reno langsung melirik ke samping. Dan ia langsung meringis saat mendapati Emma yang kini memelotoinya dengan kedua mata membola lebar.
'Duh! Salah omong deh gue!' tegur Reno pada dirinya sendiri.
"Udah dong, Ma! Jangan ngulitin kesalahan Emma di depan Reno gini. Emma kan jadi tengsin!" Keluh Emma mengingatkan Retno.
"Ya kamu nya juga dong, Emm! Lain kali lebih dijaga lagi dong ucapan nya! Mama kok ya jadi gak percaya kalau Reno benar ngelamar kamu. Apa gak sebalik nya malah, hah?" Tuding Retno blak-blakan.
"I..itu.. soal itu, Reno beneran yang melamar Emma kok, Tante, semalam tadi. Sebenarnya Reno juga gak enak untuk ngomong nya dengan cara langsung seperti ini. Reno tadi nya berniat untuk mengajak Mama dan Papa Reno untuk menemui Tante. Tapi.."
Reno melirik ke arah Emma. Ia langsung ingin terkekeh geli saat dilihatnya Emma merajuk sambil menyilangkan kedua tangan nya di depan dada sambil mengerucutkan mulut nya pula.
'Emma ku cute banget sih!' puji Reno dalam hati.
"Tapi ya gak apa-apa juga lah Reno bilang duluan ke Tante saat ini. Biar nanti Mama-Papa Reno menyusul ke sini untuk menemui Tante. Gak apa-apa ya, Tante?" Ujar Reno meminta maaf.
"Emma, bisa tolong keluar dulu, Sayang? Mama mau bicara sama Reno," pinta Retno tiba-tiba.
Emma yang masih merengut, langsung saja menuruti perintah Retno. Gadis itu pun kemudian pergi keluar dari kamar rawat sang Mama.
Setelah hanya berdua dengan Reno, barulah Retno kemudian berkata.
"Nak Reno. Tante minta kamu jawab yang sejujur-jujurnya ke Tante. Apa Nak Reno sungguh menyukai anak Tante, Emma? Tante gak mau kamu terpaksa menikahi Emma karena sesuatu hal. Apalagi kamu lihat sendiri kan kalau saat ini kondisi Tante lagi kurang baik. Jadi Tante harap kamu memikirkan baik-baik semuanya sebelum membuat keputusan untuk melanjutkan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius!" Tutur Retno menasihati.
Nasihat dari Retno itu lalu segera ditimpali oleh Reno.
"Tante, Reno sebenarnya pernah berhubungan cukup dekat dengan Emma sewaktu kami masih SMA dulu. Tapi karena ada suatu kesalahpahaman, hubungan kami terpaksa berakhir," Reno menceritakan kisah cinta nya bersama Emma kepada Retno.
"Meski begitu, Reno bernsi jamin 100 persen ke Tante, kalau sedari dulu, perasaan Reno gak pernah berubah. Reno sayang Emma selalu dan selalu, Tante. Jadi Reno minta tolong ijin dari Tante untuk kami melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan," Papar Reno panjang kali lebar.
"Hh.. kalau memang kamu yakin untuk menjadikan Emma pendamping hidup mu kelak, Tante cuma minta satu hal ke kamu, Ren!" Ujar Retno menyampaikan syarat nya.
"Apa itu, Tant?" Reno bertanya.
"Tante minta tolong, kamu jaga Emma dari segala hal yang membahayakan nya. Bahkan jika itu termasuk berjaga dari dirinya sendiri. Bahagiakan anak Tante itu dengan segenap hatimu ya, Nak Ren.. Tante minta tolong sekali. Tante gak tahu, apa Tante bisa kembali sehat setelah melewati rangkaian pengobatan kanker ini," papar Retno terdengar sedikit pesimis.
"Jangan bilang begitu, Tant. Tentu saja Tante akan sembuh! Tante akan menyaksikan saat Reno membuat Emma menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini. Insya Allah,!" Janji Reno kepada wanita paruh baya di depan nya.
Retno tersenyum kala mendengar penuturan Reno barusan.
"Syukurlah kalau begitu. Tante akan menjadi lebih tenang bila kamu dan Emma segera menikah. Tapi sebelum nya, Tante ingin tahu. Apa orang tua mu akan menyetujui hubungan kalian? Maaf saja. Tante mengira kalau kamu adalah anak orang berada, Nak Ren," ujar Retno.
"Dan jangan tanya dari mana Tante mengetahui nya. Sebut saja ini adalah insting seornag ibu. Karena itu, Tante khawatir bila status kalian yang berbeda, akan menjadi penghalang restu orang tua kamu, Nak Reno," imbuh Retno lebih lanjut.
"Tenang saja, Tante. Mama dan Papa orang nya welcome kok. Mereka akan mengikuti keinginan Reno. Asalkan Reno bahagia, Mama dan Papa akan merestui Reno menikah dengan siapapun pilihan Reno!" Ujar Reno dengan nada yakin.
Sedetik kemudian, wajah Retno pun menjadi lebih tenang.
"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih ya, Nak Reno.. karena kamu sudah menyayangi Emma dengan tulus," ucap Retno dengan nada damai.
"Reno yang seharus nya bilang makasih ke Tante. Karena mau ijinin Reno meminang putri Tante, Emma," balas Reno dengan wajah yang sengaja ia tundukkan.
***