Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Kemunculan Susi



"Syaaahhhhh..."


Desa han pelan memenuhi pendengaran Emma yang tak tuli.


Sekuat tenaga gadis itu mencoba menahan diri dari membuka kedua mata nya. Menghalau rasa takut yang semakin kuat mencengkeram benak nya.


Karena keberadaan hantu Celia yang telah setengah jam an ini menemani nya dalam ruang tempat Emma disekap.


'qul a'uudzu birob bin naaass.. malikin naas.. ilaahin naas..' Emma terus merapalkan ayat-ayat suci yang diketahui nya sebagai penangkal dari gangguan jin.


Telah beberapa hari berlalu sejak terakhir ia disekap dalam ruang tertutup ini.


Pada hari pertama saat ia menyadari kalau ia harus berbagi kamar dengan tubuh Celia yang terbaring koma, Emma sudah bersiap-siap jika ia harus pula berbagi kamar dengan sosok hantu nya Celia.


Dan dugaan Emma sangat tepat. Pada malam hari nya, hantu Celia memang benar datang menghampiri nya.


Hantu perempuan itu terus mende sah di dekat kepala Emma. Membuat gadis itu hampir mati terkejut dibuat nya.


Karena itulah pada keesokan hari nya, Emma akan langsung berpura-pura tidur saat hantu Celia datang ke kamar itu.


Emma memilih untuk mengabaikan nya. Karena jika tidak, ia bisa-bisa gila dibuat nya.


Dengan pura-pura tidur saja hantu Celia masih terus mengganggu Emma. Apalagi bila ia membuka mata dan menjerit sejadi-jadi nya?


Itu hanya akan jadi perbuatan yang percuma. Karena hendak lari pun ia tak bisa. Sebab kedua tangan dan kaki Emma telah dirantai ke tiang kasur tempat nya berbaring.


Tak hanya gangguan dari hantu Celia saja yang membuat Emma ngeri dalam penyekapan nya itu. Kedatangan Pak Adda sebanyak dua kali sehari, pada pagi dan sore hari pun membuat Emma tak kalah ngeri.


Lelaki itu memang sejauh ini selalu datang untuk memberikan Emma makan. Saat itu kedua tangan nya bisa terbebas dan ia pun bisa pergi ke kamar kecil.


Akan tetapi, Emma selalu merasa tak nyaman setiap kali proses itu berlangsung. Karena Pak Adda akan selalu melihat nya dengan tatapan yang.. entah lah.


Wajah Pak Adda memang selalu terlihat datar di mata Emma. Akan tetapi Emma bisa merasakan hasrat pada tatapan milik Pak Adda terhadap nya. Terutama setiap kali lelaki itu membuka ikatan rantai pada tangan Emma.


Emma menyadari sentuhan-sentuhan lain dari Pak Adda pada bagian belakang tubuh nya. Sentuhan yang spontan membuat Emma merinding ngeri dan bergegas menjauhi lelaki tersebut.


"Syaahhhh.." suara desa han dari hantu Celia menyadarkan Emma pada kondisi nya saat ini.


"Syaaaahh...."


"Syaahhh..."


Perlahan suara desa han itu semakin menjauh, hingga akhirnya hilang. Baru saat itu lah Emma membuka kembali kedua mata nya.


Dua bulir kristal bening pun menganak sungai dari ujung kedua netra milik Emma. Batin nya sudah merasa jerih dengan serangan hantu Celia yang terus menerus menyerang psikis nya.


Emma tak tahu, dengan cara bagaimana ia bisa terbebas dari kondisi nya saat ini. Ia bahkan tak yakin bisa terbebas. Karena Bi Hara yang ia harapkan menjadi penolong nya di rumah ini justru adalah psikopat yang mengancam nyawa dan jiwa Emma.


Di antara rasa jerih yang menyiksa Emma, gadis itu jadi bertanya-tanya. Bila sejak dulu Bi Hara adalah seorang yang jahat, lalu siapa yang sudah menolong nya dulu, saat ia bisa kabur dari villa Grandhill pertama kali?


Nyonya Soraya kah? Atau Pak Kiman?


Rasa-rasanya Emma sulit untuk mempercayai kedua orang itu lah yang telah menyelamatkan nya dulu.


'Kalau begitu, siapa yang sudah menyelamatkan ku dulu?' Emma bertanya pada dirinya sendiri.


Suasana terasa lengang. Emma tak tahu, di mana persis nya ia disekap saat ini.


Ruangan tempat nya berada kini sama sekali tak ia kenali. Tak ada jendela di ruangan ini. Sehingga Emma tak bisa mengira-ngira waktu siang dan malam di tempat itu.


Awal pertama kali Pak Adda menjenguknya, Emma memohon dan meminta tolong pada lelaki tersebut untuk membebaskan Emma. Namun Pak Adda tak bergeming.


Lelaki itu hanya menghadiahi Emma wajah datar nya dan segera berlalu pergi dari kamar itu setelah Emma menyelesaikan hajat nya.


Beberapa hari ke depan nya, Emma menyerah untuk berharap pertolongan dari Pak Adda. Terutama setelah ia melihat kilat liar dalam tatapan Pak Adda terhadap nya.


"Emma.."


Emma tersentak kaget saat mendengar suara bisikan di dekat nya.


Ia mengenal betul suara itu. Meski begitu Emma tak bisa mengingat langsung siapa pemilik nya.


Dengan spontan, gadis itu lalu mengedarkan pandangan nya ke sekeliling. Dan Emma sangat terkejut saat mendapati sosok yang amat dikenalinya kini telah berdiri di depan pintu.


Emma mengira-ngira dalam benak nya, sudah berapa lama kiranya ia tak bertemu dengan sosok di depan nya itu.


Dua minggu? Tiga minggu? Emma lupa.


Yang jelas, kemunculan sosok yang dikenalnya itu tentu membawa kesenangan tersendiri bagi Emma. Karena ia jadi memiliki harapan untuk bisa terbebas dari tempat ini.


"Susi?! Gimana bisa kamu masuk ke sini?!" Tanya Emma pada sosok di depan pintu.


Susi saat ini berdiri di bagian ruangan yang remang-remang. Memang, satu-satunya sumber cahaya dalam ruangan itu hanyalah sebuah lilin yang menyala di atas nakas dekat kasur.


Meskipun Emma tak bisa melihat jelas wajah Susi, namun ia mengenali betul postur tubuh kawan karib nya itu.


"Emm.. aku akan membantu mu keluar dari sini," ucap Susi dalam bisikan pelan nya.


Susi lalu mendekati Emma dengan gerakan halus.


"Tapi Sus, aku gak bisa pergi dari tempat ini! Tangan dan kaki ku di rantai ke kasur ini!" Emma menyampaikan permasalahan utama nya saat itu.


"Enggak, Emm. Kamu bisa. Tangan mu gak dikunci kok!" Sanggah Susi dalam bisikan yang sama.


"Apa maksud kamu, Sus? Jelas-jelas tangan ku ini di..ehh?? Terbuka? Kok bisa ya? Padahal aku ingat banget tadi Pak Adda kunciin tangan ku lagi ke rantai itu!" Gumam Emma yang tersadar kalau tangan nya tak lagi dirantai.


Dan saat ia melihat ke arah kaki nya pun lagi-lagi Emma terhenyak kaget. Ternyata kaki nya pun kini telah terbebas entah sejak kapan.


"Gimana bisa..?" Emma kembali bergumam sendiri.


"Ayo, Emm! Kamu harus segera pergi, sebelum orang itu datang lagi!" Bisik Susi mengingatkan Emma.


Diingatkan begitu, Emma pun mengesampingkan semua rasa bingung dan pertanyaan dalam benak nya.


Dengan sigap, gadis itu segera beranjak turun dari kasur, lalu mendekati Susi yang masih berdiri di tempat yang sama. Dalam remang-remang cahaya.


"Sebenarnya aku bingung kenapa kamu bisa ada di sini, Sus. Tapi itu bisa kita bicarakan nanti. Sekarang, apa kamu tahu jalan keluar dari tempat ini? Oh ya! Tentu saja kamu pasti tahu ya, Sus! Kamu kan bisa masuk ke sini. Jadi pasti kamu juga tahu jalan keluarnya kan ya! Hehehe.." Emma terkekeh sendiri.


Susi memberikan Emma senyuman tipis.


"Ikuti aku, Emm!" Ajak Susi yang kemudian langsung berbalik pergi.


Tanpa membuang waktu, Emma pun segera mengikuti langkah Susi di belakang. Namun sebelum Emma menutup pintu kamar yang telah mengurung nya selama beberapa hari ini, pandangan nya ia sapukan ke wajah pucat Celia yang terbaring kaku di atas kasur.


"Good bye, Celia! Tolong jangan ikuti aku lagi ya!" Pamit Emma dalam bisikan yang terlampau pelan.


***