
"Terus sejak kapan dua boneka itu muncul di rumah ini, Bi?" Tanya Emma kepada Bi Hara, asisten rumah tangga di villa Grandhill tersebut.
"Itu terjadi sekitar tiga tahun yang lalu, Neng. Tiba-tiba aja Nyonya bawa pulang tiga boneka ke villa ini. Satu boneka lelaki, dan dua boneka perempuan. Masing-masing boneka itu diberi nama seperti nama ketiga anak Nyonya yang sedang koma," jawab Bi Hara menjelaskan.
"Apa waktu itu boneka nya sudah bisa gerak sendiri, Bi?" Tanya Emma lagi.
"Belum sih, Neng. Bibi baru tahu kalau boneka nya bisa bergerak sekitar beberapa bulan setelah boneka itu ada. Itupun bibi kaget banget, Neng. Soal nya, bibi baru kali ini ngelihat boneka bisa gerak sendiri dan ngomong sendiri. Yah, walaupun itu cuma bibi lihat beberapa kali aja dalam setahun pertama sejak boneka-boneka itu ada," lanjut Bi Hara.
"Bibi ngerasain takut juga?!" Tanya Emma sedikit kaget.
Tadinya gadis itu pikir kalau Bi Hara tak memiliki perasaan takut terhadap para boneka arwah Sella dan juga Cello. Namun ternyata anggapan nya itu salah besar.
Terlebih saat Emma mendengar penjelasan dari Bi Hara dalam kalimat nya berikut.
"Ya takut lah, Neng! Siapa juga yang gak ngerasa takut kalau ketemu boneka yang dirasuki setan!" Bi Hara sedikit mengeraskan suara nya.
"Terus kenapa bibi milih untuk tetap kerja di sini? Kenapa gak pindah aja ke tempat yang lebih membuat bibi merasa nyaman?" Tanya Emma kembali.
"Itu karena Bibi gak tahu harus kerja di mana lagi, Neng. Di umur bibi yang sudah tua seperti ini, mencari pekerjaan itu rasanya sulit benar, Neng. Maka nya bibi bertahan aja sampai sekarang di villa ini," papar Bi Hara.
"Lagipula dua boneka itu juga tak pernah mengganggu bibi juga kan, ya. Jadi ya sudah. Bibi anggap mereka seperti anak betulan nya Nyonya Sofia saja. Sedikit banyak nya, anggapan itu mengurangi rasa takut yang sebenar nya juga bibi rasakan," imbuh Bi Hara lebih lanjut.
"Gitu ya, Bi.." Emma terdiam merenung.
Alasan Bi Hara itu cukup masuk di akal juga. Di usianya yang sudah mendekati senja itu, memang akan sulit bagi Bi Hara untuk mencari pekerjaan baru yang lebih baik dan besar gaji nya dari bekerja di villa ini.
"Kalau Neng Emma sendiri, kenapa gak pindah kerja? Bukan nya dulu Neng Emma juga pernah pergi diam-diam kan dari sini?" Tanya Bi Hara.
Diingatkan pada aksi kabur nya saat bekerja pertama kali dulu, telah membuat Emma jadi malu sendiri. Dengan kepala tertunduk, Emma pun menggumamkan jawaban yang tak jelas untuk Bi Hara.
"Soal itu.. Emma butuh uang untuk pengobatan Mama, Bi. Gaji di tempat lain belum tentu bisa ngebantuin biaya pengobatan Mama," jawab Emma dalam gumaman nya.
"Yang sabar ya, Neng.. mestilah akan selalu ada jalan buat masalah yang lagi Neng hadapi. Dan semoga Mama Neng Emma juga lekas sembuh dan sehat lagi," doa Bi Hara.
"Aamiin.. makasih ya, Bi.." ucap Emma dengan tulus.
"Sama-sama, Neng.." jawab Bi Hara.
Suasana kembali hening beberapa saat. Sampai kemudian kembali pecah oleh suara Bi Hara kemudian.
"Neng Emma mau minum teh? Atau susu? Bibi buatkan ya, Neng!" Bi Hara langsung bangun dari kursi di dapur untuk kemudian mengambil gelas kaca dari dalam kabinet.
Wanita itu sudah akan menuangkan serbuk teh ke dalam sebuah teko kecil.
"Mm.. boleh, Bi. Emma mau susu putih, ada?" Emma menerima tawaran dari Bi Hara dengan senang hati.
Gadis itu pun ikut bangkit dan mengambil gelas yang lain dari dalam kabinet untuknya sendiri.
"Ini gelas nya, Bi!" Emma menyodorkan gelas kaca yang tadi baru diambil nya ke dekat tangan Bi Hara.
"Baik. Makasih, Neng. Bisa tolong sekalian ambilkan susu nya, neng? Ada di pintu kulkas," ujar Bi Hara.
Sambil menunggu Bi Hara membuat nya, Emma kembali mengajak Bi Hara berbincang tentang para boneka.
"Jadi, sebenar nya ketiga anak Nyonya Sofia itu masih hidup ya saat ini? Mereka lagi dirawat di rumah sakit?" Emma kembali bertanya.
"Setahu Bibi sih begitu, Neng.. tapi sekarang mereka gak dirawat di rumah sakit lagi sih," papar Bi Hara memberitahu.
"Huh? Terus mereka sekarang ada di mana, Bi?" Tanya Emma kembali dibuat penasaran.
Terlebih dulu Bi Hara menatap Emma lekat-lekat. Sebelum akhirnya sebuah jawaban pun keluar dari mulut wanita paruh baya tersebut.
"Ketiga anak nya Nyonya Sofia itu sekarang dirawat di villa ini, Neng. Mereka ada di kamar utama milik Nyonya Sofia," jawab Bi Hara.
Emma terkejut.
"Mereka sudah dibawa pulang ke sini? Jadi mereka sudah sadar, Bi?!" Tanya Emma dengan nada terkejut.
Bi Hara pun menggelengkan kepala nya sekali.
"Enggak, Neng. Ketiga anak nya Nyonya itu masih koma dan tak sadarkan diri. Selama setahun terakhir ini, Nyonya tidur bersama ketiga anak nya yang koma di kamar nya. Ia menganggap anak-anak nya itu hanya sedang tertidur lama. Kasihan sekali, Nyonya.." ucap Bi Hara sambil menampilkan ekspresi iba.
Emma tersentak kaget.
"Be..begitu kah, Bi?! Tapi bagaimana dengan pengobatan mereka? Apa Nyonya sudah menghentikan pengobatan mereka?!" Tanya Emma penasaran.
"Belum, Neng Emma. Non Celia, Non Sella dan Den Cello masih terhubung dengan selang infus dan masker oksigen sepanjang tahun ini. Jadi mereka bertiga masih hidup secara jasmani. Namun sayang nya mereka tak pernah terbangun atau membuka mata. Meski hanya untuk sekali saja. Menyedihkan sekali, bukan, Neng?" Bi Hara menarik simpati Emma pada cerita nya itu.
"Iya, Bi. Kasihan banget.." sahut Emma.
Sementara itu, dalam hatinya gadis itu menyambung ucapan nya tadi dengan kalimat yang tak berani ia katakan, meski hanya kepada Bi Hara sekali pun.
'Kasihan banget anak-anak itu. Sudah lah mereka koma. Sekarang ruh mereka pun terjebak dalam tubuh boneka. Kecuali satu anak itu saja mungkin yang masih belum terjebak dalam tubuh boneka,' gumam Emma dalam hati.
"Bibi.. apa bibi tahu soal kemenyan yang ada di kamar anak-anak?" tanya Emma tiba-tiba.
"Kemenyan, Neng?"
Emma melihat Bi Hara terlihat tak nyaman untuk menjawab pertanyaan nya kali ini.
"Iya, Bi. Emma pernah lihat ada kayak sesajen dan kemenyan gitu di kamar anak-anak. Apa bibi tahu soal itu?" tanya Emma mengulang.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Bi Hara menjawab pertanyaan Emma juga. Meski pun ia menjawab nya dengan suara berbisik.
"Tapi Neng janji ya jangan bilang siapa-siapa!"
Emma langsung mengangguk cepat.
"Itu memang suruhan dari Nyonya, Neng. Bibi juga gak tahu maksud nya apa.. Tapi bibi curiga, kalau itu tuh buat manggil kaum lelembut, Neng!" papar Bi Hara mengejutkan Emma.
***