
"Emm.. ada yang harus ku jelasin ke kamu tentang malam perpisahan SMA dulu. Waktu kamu tiba-tiba minta putus dari ku!" Ujar Reno tiba-tiba.
Seketika pandangan Emma pun terangkat hingga menatap tepat pada kedua mata milik Reno. Reno menangkap kebencian yang sama mulai bangkit kembali di mata mantan kekasih nya itu.
Dengan terburu-buru, Reno pun melanjutkan ucapan nya.
"Malam itu, aku dipaksa nenggak miras sama Beni dan geng nya. Aku sebenarnya gak mau. Tapi mereka maksa aku, Emm. Posisi ku sulit waktu itu," ujar Reno mengawali cerita nya.
"Terus, aku pergi ninggalin mereka untuk cari kamu. Soal nya kepala ku udah terasa pusing banget waktu itu. Aku mau ajak kamu pulang duluan," lanjut Reno.
"Tapi terus aku ambruk di lorong. Dan sempat gak sadarkan diri. Sampai akhirnya tahu-tahu kamu datang. Dan aku baru sadar kalau aku dan Mei Chan lagi.." Reno menelan saliva nya yang menyangkut di kerongkongan.
Rasa nya untuk mengakui kesalahan yang tak diperbuat nya dulu sungguh sulit bagi pemuda itu. Namun ia tetap melanjutkan lagi penjelasan nya.
"Aku gak tahu kalau Mei Chan yang cium aku, Emm! Kupikir itu kamu! Aku beneran mabuk waktu itu! Tapi terus kamu datang dan minta putus!"
"Baru lah aku mulai sadar sama keadaan di sekitar ku. Dan aku sadar sama apa yang sudah Mei lakuin. Aku langsung ninggalin dia dan kejar kamu. Tapi belum sempat aku kasih penjelasan, kamu udah tampar aku di depan orang-orang. Kamu minta putus begitu aja tanpa mau dengar penjelasan ku dulu," ungkap Reno yang sebenar nya.
Kedua mata Emma kembali mem bola. Ada rasa tak percaya di kedua manik milik gadis itu, Reno bisa melihat nya. Sehingga pemuda itu pun kembali menegaskan status hati nya lagi kepada Emma.
"Sejak dulu sampai sekarang, aku tuh nyesel berat, Emm. Aku menyesal karena kejadian di malam perpisahan itu bisa sampai terjadi. Kalau aja itu gak terjadi, mungkin saat ini aku dan kamu masih bersama.." imbuh Reno dengan tatapan sendu.
Selama beberapa saat keduanya saling menatap mata masing-masing dalam diam. Baru ketika ada pengunjung kantin yang melewati kedua nya lah Emma tersadar dengan keberadaan mereka di kantin.
Dengan malu, gadis itu langsung mendorong dada Reno hingga kedua nya terpisah tak berpelukan lagi.
Emma merasa canggung untuk menatap mata Reno lagi saat ia menyadari beberapa pasang mata lain di kantin yang melirik ke arah nya dan juga Reno.
"Sebaik nya kita segera pergi dari sini, Ren!" Titah Emma terdengar mendesak.
Gadis itu langsung saja berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kantin.
Reno yang tak menangkap gelagat malu Emma berpikir kalau Emma masih juga tak mempercayai penjelasan nya tadi. Karena nya pemuda itu pun kembali mengejar dan memanggil Emma.
"Tapi Emm! Aku sungguh-sungguh sama ucapan ku! Aku masih dan akan selalu cinta sama kamu!" Teriak Reno dengan suara lantang.
Mendengar teriakan pemuda itu, beberapa pengunjung di kantin pun semakin intens menata Emma dan juga Reno.
Sementara itu Emma kembali berbalik dan menarik tangan Reno untuk segera pergi bersama nya.
"Ya ampun, Ren! Ku bilang kita pergi dulu kan?! Ngomong nya jangan di sini! Ada orang! Aku malu!" Ungkap Emma dengan wajah yang telah merah padam.
Menyadari ucapan Emma, Reno sempat mengedarkan pandangan nya ke sekitar.
'Ah.. Emma benar. Di sini memang ada orang yang melihat. Tapi tunggu dulu!' benak Reno tiba-tiba tersadarkan dengan gelagat Emma yang tersenyum-senyum di samping nya.
Pandangan nya pun ikut tertarik ke kedua tangan mereka yang saling berkait.
Reno pun langsung didera perasaan bahagia yang diterima nya dengan suka cita.
Emma tak marah kepada nya lagi. Itu berarti Emma mempercayai penjelasan nya tadi.
"Jadi, kamu percaya sama ucapan ku kan, Emm?" Bisik Reno tepat di telinga Emma.
Gadis itu langsung memalingkan wajah nya ke arah yang lain. Emma mencoba untuk menyembunyikan rona merah yang telah menjalar ke seluruh wajah nya kini.
"Iya! Aku percaya! Tapi jangan ngomong lagi deh, Ren! Di sini banyak kuping yang bisa ikut dengar!" Tegur Emma masih sambil memalingkan wajah nya menjauhi Reno.
"Oke. Oke. Kita cari tempat yang sepi orang aja yuk! Gimana kalau kita ke apartemen ku?!" Ajak Reno bersemangat.
Sadar kalau ucapan nya itu bisa disalahartikan lagi oleh Emma, pemuda itu pun kembali melanjutkan ucapan nya.
"Apartemen ke dua ku maksud nya! Di sana kamu sekalian bisa beristirahat. Baru besok nya kita ke sini lagi jengukin Mama kamu, Emm. Lagian kalau kamu maksa mau nengokin jam segini, takutnya malah ganggu jam istirahat nya Tante Retno. Iya kan?" Reno mengemukakan argumen nya.
Emma terlihat memikirkan usulan dari Reno tersebut.
"Oke. Aku mau ke apartemen kamu. Tapi.. aku cuma numpang nginap semalam ini aja ya! Besok-besok aku mau temanin Mama di rumah sakit!" Ujar Emma terburu-buru.
Reno langsung sumringah.
"Siip lah! Ayo sayang! Kita pulang!" Ajak Reno bersemangat.
Emma menahan diri untuk tidak terkikik geli oleh rasa bahagia yang menangkup hati nya saat ini. Ia pun mengikuti langkah Reno di samping nya. Kedua tangan mereka masih saling berkait hingga mereka tiba di tempat parkiran.
***
Sesampai nya di apartemen Reno...
"Nah. Kamu istirahat aja dulu di sini ya, Emm. Aparteman ku yang lain ada di lantai atas. Kalau ada apa-apa, nanti kamu telpon aku aja. Nomor nya 08*****," Reno memberitahu Emma.
Emma mengedarkan pandangan nya ke interior apartemen milik Reno.
Apartemen ini berada di lantai 22 sementara apartemen yang Reno tinggali ada di lantai 23.
Emma memandang takjub ke sekitar nya. Tak menyangka kalau Reno bisa memiliki dua apartemen kelas mewah seperti ini.
"Ini beneran tempat tinggal kamu, Ren?" Tanya Emma tiba-tiba.
"Iya. Kenapa? Kamu ngerasa ini kurang nyaman? Apa mau tukeran sama kamar ku yang di atas kah? Aku juga ngerasa view di lantai ini kurang bagus sih dibanding yang di lantai atas," ujar Reno bermonolog.
"Bukan! Bukan itu maksud ku! Maksud ku tuh, ini beneran apartemen milik kamu sendiri? Bukan punya orang tua kamu?" Tanya Emma memastikan.
"Iya. Ini punya ku sendiri, Emm. Yang di atas juga atas nama ku. Tadi nya lantai ini memang atas nama Mama. Tapi terus Mama kasih ke aku sebagai kado ulang tahun ku yang ke 19. Kalau apartemen yang di atas, itu aku beli sendiri dengan uang ku. Kenapa memang nya?" Tanya Reno keheranan.
"Gak nyangka aja. Seingatku kamu selalu tampil sederhana waktu SMA. Jadi kupikir kamu dari keluarga sederhana juga. Aku gak nyangka kamu bisa tinggal di apartemen semewah ini," ungkap Emma sejujurnya.
Reno terlihat malu usai mendengar ucapan Emma itu.
"Ah. Biasa aja lah Emm. Dari dulu Mama sama Papa memang selalu ngajarin aku untuk hidup sederhana. Jadi sampai sekarang pun aku masih Reno yang sama kok, Emm!" Reno mencoba merendah.
"Serius sederhana? Dengan tinggal di apartemen ini?" Emma tersenyum menggoda Reno.
"Hahaha.. tampil sederhana bukan berarti harus hidup di rumah yang sederhana juga kan Emm? Gimana pun juga kenyamanan rumah adalah prioritas utama seseorang dalam memilih tempat tinggal kan?" Reno menyampaikan argumen nya.
"Nah. Ucapan mu itu ada benar nya juga. Jadi, makasih ya Ren untuk malam ini.." ujar Emma tiba-tiba.
"Makasih karena kamu udah nolongin aku. Lagi dan lagi," imbuh Emma lebih lanjut.
"Kalau kamu gak datang di saat aku benar-benar membutuhkan bantuan, aku gak tahu, gimana nasib aku setelah malam ini.." ucap Emma dengan kekhawatiran yang tersirat nyata di wajah nya.
"Hussyy.. jangan mikirin yang buruk-buruk lagi, Emm! Mulai sekarang, kamu cukup pikirin yang baik-baik, oke? Aku akan selalu ada untuk kamu.." hibur Reno yang kini sudah kembali melingkari pinggang Emma dengan kedua lengan nya.
Emma reflek merebahkan kepala nya di dada bidang Reno. Ketika ia tersadar, ia sempat hendak menarik diri nya lagi. Namun tangan Reno menahan nya untuk tetap dalam posisi nya itu.
"Tenang lah, Emm. Mulai saat ini, aku akan pastikan kamu bahagia selalu selamanya!" Reno mengikrarkan janji nya kepada Emma.
***