Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Terbangun di Rumah Sakit



Setelah mengisi energi hingga full, Emma mengajak Sella untuk kembali ke dunia nyata.


"Kakak, tak bisa kah kita tinggal di sini saja?" Pinta Sella tiba-tiba.


"Memang nya kenapa, Sell?" Tanya Emma merasa tertarik untuk mendengar alasan Sella.


Anak perempuan tersebut tampak diam sebentar. Sampai kemudian ia kembali bicara.


"Walau semua spirit di sini penampilan nga seram-seram, tapi tak ada yang berbuat jahat kepada kita," Jawab Sella yang enggan untuk kembali ke dunia nyata.


"Hmm.." Emma terlebih dulu mensejajarkan pandangan nya dengan kedua netra milik Sella.


Setelah itu, barulah ia berkata kembali.


"Di sini bukanlah dunia kita yang sebenarnya, Sell. Kita masih ada sesuatu yang harus kita selesaikan terlebih dulu di dunia nyata," tutur Emma mencoba bijak.


"Apa, Kak? Lari dari penjahat?" Tanya Sella dengan polos nya.


Emma meringis kala mendengar jawaban sekena nya dari mulut Sella itu.


"Bukan! Bukan itu! Lari sendiri adalah bentuk kita untuk mempertahankan sesuatu yang kita miliki agar tidak dirampas oleh yang lain. Itu salah satu bentuk dari perjuangan nama nya!" Seru Emma bersemangat.


"Perjuangan.. seperti pahlawan, Kak?" Terka Sella kembali.


"Ahaha.. enggak sampai seperti pahlawan juga sih. Tapi intinya ya, Sell.. Setiap dari kita pasti mempunyai sesuatu untuk diperjuangkan. Karena memang pastilah ada tujuan yang harus kita capai di kehidupan yang singkat ini. Tapi itu bukan di dunia ini, Sell. Dunia kita yang sebenar nya adalah di Dunia nyata!" Papar Emma dengan nada mantap.


Sang anak langsung menundukkan wajah nya, menatap jalanan. Benak nya terlalu rumit untuk mengerti maksud dari ucapan Emma sesaat tadi.


Dan Emma menyadari hal itu. Ia pun kembali menambahkan.


"Jadi begini. Selama ini di Pasar Ghaib ini apa yang kita lakuin, Sell?" Tanya Emma tiba-tiba


"Mm.. makan?" Jawab Sella sekena nya.


"Ya. Terus, selain itu apalagi coba?" Kejar Emma.


"Mm.. gak tahu.. oh! Sella tahu! Kita makan untuk mengisi energi kan, Kak?" Seru Sella.


"Nah. Setelah itu, ada lagi gak?" Emma masih mengejar jawaban dari mulut Sella.


Dikejar seperti itu, membuat sang spirit menjadi bingung. Ia pun menghadiahi Emma dengan pandangan tanya.


"Sella gak tahu kak. Memang nya ada jawaban yang lain lagi ya?" Emma bertanya bingung.


"Gak ada ya? Di sini kita cuma singgah sebentar aja kan untuk makan dan mengisi energi? Setelah itu kita akan kembali ke dunia nyata lagi. Iya kan, Sell?" Emma merunutkan pandangan nya.


Sella mengangguk setuju.


"Nah. Itu berarti tempat ini hanyalah tempat singgah kita yang sementara, Sell. Karena di dunia nyata itulah kita masih memiliki banyak hal untuk dilakukan. Kita bisa sekolah, bekerja, bermain bersama kawan, menjelajah ke banyak tempat. Itu adalah salah satu tujuan yang bisa kita jadikan patokan dalam menjalani hidup," papar Emma panjang lebar.


"Tapi Sella gak tahu di dunia nyata Sella bisa ngapain lagi. Soalnya Cello sekarang udah gak aga. Mama juga.." ungkap Sella merasa sedih.


Terhadap jawaban Sella yang satu itu, Dada Emma pun menjadi sesak dibuat nya. Gadis Itu langsung saja memeluk Sella erat demi mengusir rasa sepi yang saat ini tengah merajai benak anak perempuan itu.


"Kamu Kan masih punya Kakak.. kita bisa berjuang bersama-sama untuk pergi keluar dari hutan itu. Lalu kita ke rumah sakit untuk menjenguk Mama nya Kakak. Kamu pasti akan menyukai Oma. Soal nya Ona orang yang baik banget!" Ucap Emma terdengar meyakinkan.


"Oma, Kak?"


"Iya! Mama nya Kakak. Kamu bisa memanggil nya sebagai Oma! Beliau pasti juga akan menyukai mu, Sell. Soalnya kamu itu ngegemesin banget!" Seloroh Emma sambil menggoyang-goyangkan pelukan nya di tubuh Sella.


"Bagus! Dalam hitungan ketiga, kita pulang bareng-bareng ya, Sell!" Ajak Emma.


"Iya, Kak! Satu.."


"Dua.."


"Tiga!"


Dan keduanya pun langsung menggerakkan tangan sambil merapal mantra untuk kembali ke dunia nyata. Saat itu berlangsung, keduanya tak pernah melepaskan ikatan pandangan yang terjalin di antara dua netra milik masing-masing.


Dua senyuman milik Emma dan Sella pun perlahan memudar lenyap dari Pasar Ghaib tersebut. Keduanya kini menuju dunia yang lain. Dunia mereka yang sebenar nya.


***


Begitu Emma membuka mata, ia sempat kebingungan sebentar karena netra nya menangkap pemandangan atap langit berwarna putih dan putih.


Emma menengokkan kepala nya ke samping kanan, dan ia kembali dihadapkan dengan warna putih. Dinding putih.


Emma menengokkan kepala nya ke kiri, dan ia tercenung kaget saat melihat sosok seseorang yang sedang tertidur sambil duduk di samping tempat dirinya terbaring.


'Aku.. tidur di atas kasur kan ini?' Emma bertanya pada dirinya sendiri.


Sebuah nakas kecil berwarna krem terletak di samping kasur. Berbagai jenis buah berada di sana. Dan perut Emma langsung keroncongan dibuat nya.


'uhh? Kenapa baru bangun perut ku langsung merasa lapar ya? Bukan kah aku sudah mengisi energi sampai full di pasar Ghaib?' pikir Emma kebingungan.


Secara perlahan Emma meraih perutnya. Dna ia pun sontak tersadar diangkat nya segera kedua tangan yang tadi hendak ia raihkan ke arah perut.


"Ta.. tangan?!" Ucap Emma dengan suara serak.


'ehh? I..ini adalah tangan manusia! Aku sudah kembali jadi manusia?!' benak Emma terlalu bahagia untuk menerima kenyataan yang begitu diharapkan nya itu.


Emma langsung meraba pipi, wajah, badan dan juga lengan milik nya. Dan ia benar-benar bahagia karena ia sungguh telah kembali menempati tubuh manusia nya lagi!


Tak puas dengan meraba, Emma langsung membangunkan orang yang sedang tertidur di samping kasur nya.


"Ma..! Mama!" Panggil Emma masih dengan suara serak nya.


Emma tak memikirkan kenapa suara nya menjadi serak. Kebahagiaan karena telah memiliki tubuh manusia lagi terlampau mengisi penuh benak nya saat ini.


Tak lama kemudian Retno pun terbangun. Dan akhirnya, sepasang ibu dan anak itu pun langsung melepas kebahagiaan yang dirasakan masing-masing dengan pelukan pelepas rindu.


"Emma kangen Mama! Emma kangen banget, Ma!" Tutur Emma dengan suara serak nya.


"Iya, Sayang! Mama juga bersyukur sekali kamu bisa kembali bangun.. satu bulan lebih Mama menunggu kamu bangun, Nak. Mama gak tahu, ternyata kami sudah menghadapi hari-hari yang berat selama Mama di rumah sakit. Mama minta maaf, ya, Emm.." sahut Retno sambil terisak-isak.


"Satu bulan, Ma? Maksud Mama, Emma tidur selama satu bulan? Uhuk! Uhuk!" Emma memekik tak percaya hingga membuat nya terbatuk-batuk.


"Iya, Sayang. Ah. Maafkan Mama lagi. Ini minumlah dulu, Emm! Kamu pasti haus sekali kan?"


Retno lalu menyodorkan Sella segelas air putih yang ada di atas nakas kecil samping kasur.


Setelah selesai, Emma langsung menagih Retno untuk menceritakan apa saja yang sudah terjadi selama satu bulan masa tidur nya itu.


"Jadi Ma, ceritain ke Emma. Apa sebenarnya yang udah terjadi selama Emma gak sadarkan diri?" Pinta Emma dengan tatapan penasaran.


***