Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Bertemu Sella dan cello lagi



Emma yang kini terkurung dalam tubuh boneka pun kemudian dibawa oleh Pak Adda menuju kamar para boneka arwah.


Pak Adda bahkan melempar nya asal ke atas kasur merah yang selama ini Emma lihat selalu kosong tak ada yang menempati nya.


Setelah lelaki itu kembali pergi dan mengurung Emma dalam kamar itu, Emma pun bergegas bangun dan melihat ke sekeliling nya.


Kini bentuk ruangan yang dulu terlihat cukup besar itu terlihat semakin luas di mata boneka nya Emma. Gadis itu lalu melihat kedua boneka arwah lain nya. Yakni boneka Sella dan juga Cello terbaring diam di atas kasur nya masing-masing.


Emma berusaha untuk turun dari atas kasur. Namun, begitu dilihat nya jarak kasur ke lantai cukup tinggi, gadis itu pun mengurungkan niat nya.


'Tinggi banget! Ya ampun! Gimana aku bisa lari ini?!' Emma mulai merasa panik.


Emma lalu mencium aroma kemenyan. Dan pandangan nya langsung menangkap penampakan sesajen yang terletak di atas meja yang berada di ujung ruangan itu.


Emma tak menyukai bau kemenyan itu. Karena itu membuat nya merasakan kantuk berat.


'Jangan tidur, Emma! Ayo berusaha lah untuk bisa lari dari tempat ini!' Emma menyemangati diri nya sendiri.


Akan tetapi, aroma kemenyan itu semakin menyengat di penciuman sang boneka arwah yang baru bangkit itu. Akhirnya, tanpa Emma kehendaki, ia pun segera merasa lemas dan terjatuh tak sadarkan diri.


...


...


Emma terbangun tiba-tiba di dunia yang menurutnya aneh.


Ada banyak orang melayang di sekitar nya. Meskipun ada juga yang menapakkan kaki nya di tanah seperti diri nya.


Sesaat kemudian Emma pun tersadar.


"Hah?! Aku.. aku kembali jadi diriku lagi!" Seru Emma yang kegirangan saat melihat tubuh nya telah kembali menyerupai tubuh manusia nya.


Gadis itu berpikir jika ia telah kembali ke tubuh asal nya lagi.


"Tapi.. di mana aku berada sekarang?" Tanya Emma pada udara kosong di depan nya.


Emma lalu menajamkan penglihatan nya lagi pada orang-orang di sekitar nya.


Saat itu ia berada di sebuah pasar. Pasar yang Emma tak pernah kenali adanya di mana. Tadi nya Emma hendka bertanya pada salah satu pengunjung tentang nama tempat itu. Namun Emma terkejut saat ia baru saja menepuk bahu orang yang hendak ia tanya.


Pemandangan kepala tanpa wajah pun langsung menoleh ke arah Emma. Pemilik nya adalah orang yang tadi nya hendak ia tanya tentang nama tempat itu.


"Aargggh!" Emma menjerit kaget sekaligus juga takut.


Ia langsung mundur dan menabrak orang lain di belakang nya.


"Ma..maaf! Aku..aaaarrgghh!!" Lagi-lagi Emma menjerit.


Kali ini sebab nya adalah orang yang ia tabrak ternyata memiliki mulut berupa moncong dengan gigi-gigi runcing yang berlumuran darah.


Emma yang masih terjatuh di atas tanah pun kembali bergerak mundur, menjauhi sosok makhluk menyeramkan itu.


Naas, ia kembali menabrak orang kain di belakang nya. Tapi tidak! Lagi-lagi yang Emma tabrak bukan lah orang. Melainkan sosok manusia berkepala serigala yang menggeram marah ke arah Emma.


"Aaargghh!!" Emma langsung terdiam kaku dan menyembunyikan kepala nya di antara dua siku. Ia sungguh ketakutan saat itu. Karena Emma baru saja menyadari kalau saat ini ia berada di pasar yang dipenuhi oleh ratusan dan mungkin juga ribuan makhluk halus!


'Ya ampun! Ya ampun! Ya ampun! Apa lagi coba ini??! Aku ada di mana??!' batin Emma menjerit ngeri.


"Kakak Cantik! Kakak di sini??" Sapa suara seorang anak perempuan cantik dengan gaun lolita dan permen lolipop besar di tangan kanan nya.


Anak perempuan itu berusia sekitar 8 tahun. Dan di samping nya juga berdiri seorang anak lelaki dengan usia yang setara dengan nya.


Emma merasa tak mengenali kedua anak itu. Bisa jadi itu adalah kali pertama ia bertemu dengan kedua anak itu.


"Si..siapa kalian?!" Fanya Emma sedikit gugup.


Meski begitu, Emma tak merasa takut dengan kedua anak di depan nya itu. Karena pensmpilan keduanya tampak seperti manusia normal lain nya.


"Aku Sella, Kak! Dan ini Cello! Kakak gimana sih?!" Ucap Sella yang terlihat kesal.


"Huh? Sella.. Cello. Seperti pernah mendengar... Oh! Ka..kalian itu boneka arwah yang kuasuh kan??!" Fanya Emma ambil menuding ke arah kedua anak tersebut.


"Iya kakak! Kakak Cantik ngapain di sini?" Tanya Sella penasaran.


"Memang nya ini ada di mana?" Tanya balik Emma.


"Ini itu Pasar Ghaib untuk para spirit, Kak. Kakak Cantik kok bisa ada di sini sih? Kan Kakak masih hidup!" Seru Sella yang terlihat bingung.


Emma mengernyit kebingungan. Ia sendiri pun tak tahu bagaimana ia bisa ada di tempat aneh ini.


Gadis itu berusaha mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi. Dan, setelah beberapa lama, Emma pun akhirnya teringat dengan pengalaman horor nya telah dipaksa menjadi boneka arwah oleh Bi Hara.


"Bibi Hara!!!" Emma menggemakan nama sang pelaku yang sudah membuatnya terjebak di dunia ini.


"Oh! Apa nenek itu berhasil membuat kak Celia memiliki tubuh Kakak Cantik?" Sella menebak.


"Tentu saja lah, Sell! Tak bisakah kau melihat nya? Kakak Cantik sekarang sama seperti kita bukan? Lihat saja tanda bintang hijau di kening nya itu!" Tunjuk Cello ke wajah Emma.


'Dasar bocah gak sopan! Main tunjuk-tunjuk ke muka orang aja!' umpat Emma yang kesal karena tudingan jari milik Cello.


'Tunggu dulu! Apa katanya tadi? Ada tanda bintang hijau di atas kening ku?? Masa sih??'


Emma langsung mencari sesuatu agar ia bisa bercermin. Akan tetapi ia langsung menyesali usahanya itu. Karena Emma malah kembali melihat pemandangan para makhlus halus nan menyeramkan di sekitar nya saat itu.


"Eh! Iya, ya! Apa itu berarti sekarang Kakak juga udah jadi boneka seperti kami, Kak?? Yeayy! Asikkk!!" Sella berseru kesenangan.


Dan Emma langsung memelototi anak perempuan yang tadinya mulai ia favoritkan itu.


'Bisa-bisa mya anak ini bersennag-senang di atas penderitaan ku!' Emma mencibir dalam hati.


"Kakak? Kakak Cantik kenapa diam aaja? Apa Kakak sariawan?" Tanya Sella perhatian.


"Dasar bodob! Memang nya bisa ya hantu seperti kita ngerasain sariawan? Kamu aneh banget sih, Sell!" Ledek saudara kembar Sella, yakni Cello.


"Cello jahat ah! Nanti Sella lapor ke Mami lho!" Ancam Sella dengan muka memerah menahan marhs.


Melihat situasi yang mulai emmanas, Emma pun bergegas bangun berdiri untuk menengahi keduanya.


Jangan sampai keduanya bertengkar di pertengahan jalan seperti ini. Karena itu jelas akan menarik perhatian para orang, eh, makhluk di dunia ini.


***