
Angin malam terasa dingin menusuk kulit. Di kejauhan, Emma bisa melihat barisan pepohonan yang menaungi hutan. Pucuk-pucuk nya yang bergoyang terlihat seperti sosok yang menari tarian indah.
Lenggok kanan.. lenggok kiri..
Emma terpukau melihat tarian alam yang mengundang matanya saat itu.
"Mungkin karena angin nya memang sedang kencang ya. Hmm.. apa mau hujan ya?" Gumam Emma bermonolog. Mengusir rasa sepi yang merajam hati nya.
Emma lalu berjalan ke arah belakang villa. Dan, di sanalah akhirnya ia mendapati keberadaan sebuah gudang kecil.
Bangunan gudang tersebut luas nya tak lebih dari 3 x 4 meter. Bangunan nya terpisah dari bangunan villa Grandhill. Namun dengan warna cat yang masih senada. Putih gading.
Emma berjalan ke arah gudang tersebut. Dan mengetuk pintu nya beberapa kali.
"Assalamu'alaikum!" Sapa Emma sekali.
Angin dingin kembali lewat di belakang Emma. Dan samar-samar gadis itu seperti mencium wangi bunga.
'Ini seperti wangi bunga...kantil?' gumam batin emma.
Tok. Tok. Tok!
Kembali Emma mengetuk pintu. Kali ini dengan ketukan yang lebih keras dari sebelum nya.
"Assalamu'alaikum! Pak Adda? Saya Emma. Mau ngabarin kalau waktu makan sebentar lagi. Jadi.."
Belum selesai Emma berkata, saat tiba-tiba saja pintu terbuka sedikit.
Sesosok lelaki pendiam dengan ekspresi murung menatap Emma dari daun pintu yang terbuka sedikit.
"Ya. Nanti saya ke sana!"
Brak!
Pintu kembali tertutup, usai Pak Adda menyelesaikan kalimat nya.
Emma yang masih berdiri did epan pintu pun terhenyak selama beberapa saat.
"Dih. Soliter banget sih! Kayak takut aku mau masuk ke dalam kamar nya aja!" Emma menggerutu kesal.
Ia pun berbalik dan kembali ke dalam villa. Tanpa menyadari kalau sepasang mata menatap kepergian nya dari pinggir jendela gudang kecil yang tak tertutupi tirai.
Malam itu, acara makan malam kembali berlangsung dalam suasana hening. Emma pun mulai terbiasa dan bersikap cuek terhadap para rekan semeja nya saat makan.
Gadis itu sibuk menyantap tumis udang, kepiting bumbu asam manis, dan juga makanan seafood lain nya yang terhidang di atas meja.
'Asli! Ini makanan enak-enak banget! Pak Kiman memang jago masak deh. Yah.. walaupun muka nya lumayan sangar juga sih..' gumam Emma dalam hati.
Melihat Emma yang lahap makan, Sofia pun tersenyum dan mengomentari nya seusai makan.
"Sepertinya Anda sudah terbiasa dengan masakan di rumah ini, Nona Emma.." Sofia mengomentari Emma.
"Mm.." Emma menelan sisa daging kepiting yang masih ada di mulut nya. Ia lalu menenggak air putih separuh gelas, baru kemudian menjawab pertanyaan majikan nya itu.
"Iya, Nyonya. Masakan Pak Kiman enak-enak!" Ungkap Emma dengan jujur.
"Hahaha. Ucapan mu itu benar sekali. Kau dengar itu, Kiman? Bukan hanya aku yang menyukai hasil tangan mu selama ini!" Ujar Sofia kepada Pak Kiman.
"Mm.. terima kasih, Nyonya," sahut Pak Kiman merendah.
"Kalian lanjutkan makan. Aku ingin beristirahat lebih awal," pamit Sofia terlebih dulu.
Setelah lama Sofia menghilang, hanya tinggal Emma dan Bibi Hara saja lah yang masih duduk di meja makan.
"Mau tambah lagi, Neng?" Tanya Bi Hara.
"Ee!"
Emma bersendawa cukup kencang. Perut nya benar-benar kepenuhan saat ini. Sudah lama ia tak makan melebihi kapasitas perut nya.
Emma tiba-tiba jadi teringat pada sang ibunda.
'Kalau Mama ada di sini, pastilah aku bakal diomelinya lagi!' Emma melamun singkat.
"Neng Emma? Neng kenapa? Mau nambah lagi kah?" Tanya Bi Hara perhatian.
Emma mengerjapkan mata nya berkali-kali.
"Maaf, Bi. Emma udah kenyang.." jawab Emma dengan tatapan sendu.
Melihat ekspresi Emma yang mendadak murung, Bi Hara pun akhirnya penasaran.
"Neng Emma kenapa?" Tanya Bi Hara.
"Emma kangen Mama, Bi. Kalau Mama ada di sini sekarang ini, pastilah nanti Mama bakal ngomelin Emma," ujar Emma dengan pandangan menerawang.
"Kenapa bisa begitu, Neng?" Tanya Bi Hara lagi.
"Iya. Mestilah nanti Mama bakal bilang gini, 'Emma! Kalau makan jangan berlebihan! Sisakan sepertiga buat makan, sepertiga buat minum, sepertiga nya lagi buat udara! Perut yang kenyang akan membuat pelaku nya malas dalam beribadah!' gitu tuh, Bu.." papar Emma sambil meringis sedih.
"Hmm.. ibu baru tahu soal sepertiga itu. Menurut bibi, kalau Neng Emma mau nambah lagi juga gak apa-apa. Nasi nya masih banyak kok ini," ujar Bi Hara lagi.
Emma menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyuman.
"Gak deh, Bi. Emma udahan aja. Bentar lagi kan waktu isya juga ya. Emma mau jalan-jalan sebentar buat nurunin makanan. Jadi nanti biar bisa langsung shalat," tutur Emma sambil beranjak bangun.
"Udah. Neng Emma jalan-jalan aja gak apa-apa. Piring nya biar bibi yang beresin!" Tukas Bi Hara saat melihat Emma yang hendak membantu nya membawa piring kotor ke dapur.
"Eehh.. gak enak lah, Bi! Gak apa-apa. Biar Emma bantu juga. Sekalian cuci piring, sekalian nurunin makanan juga kan?" Sergah Emma memaksa.
"Kalau gitu, bibi bantu ya.." ujar bi Hara.
Dan kedua wanita beda usia itu pun bersama-sama membawa piring kotor menuju dapur. Di sana, ada Pak Kiman yang terlihat sedang mengambil minuman botol dari dalam kulkas.
Lelaki paruh baya itu tak menyapa Emma maupun bibi Hara. Ia pergi begitu saja usai mengambil minuman botol dari dalam kulkas.
"Udah. Semuanya biar Emma yang cuciin, Bi. Bibi mau istirahat, istirahat aja deh ya," Emma menawarkan diri untuk mencuci piring.
"Jangan deh, Neng. Nanti kelamaan. Mending bibi aja yang cuci piring nya. Neng Emma mau nengokin den Cello dan Non Sella aja ke atas. Atau mau tidur duluan juga gak apa-apa," tukas Bi Hara terlihat tak enak hati.
"Duh. Mana bisa gitu, Bi?! Emma bantu aja deh cuci piring nya!" Tukas balik Emma.
Setelah melalui perdebatan yang cukup alot, pada akhirnya Bi Hara memenangkan argumentasi. Sehingga Emma pun mengalah dan keluar dari dapur.
Gadis itu tadi nya hendak kembali ke kamar nya saja. Namun ia merasa akan cukup bete juga kalau ia berada lama-lama di kamar.
Akhirnya Emma pun mengalihkan haluan kaki nya menuju ruang tivi. Dan ia segera larut dalam tayangan drama yang ditayangkan oleh salah satu stasiun tivi terkenal.
Setelah tayangan drama berakhir, tahu-tahu Emma sudah terlelap di depan tivi.
Bibi Hara yang lewat di depan ruang tivi pun segera mematikan tivi. Tadi nya ia hendak membangunkan Emma agar pindah ke kamar nya. Namun ia mengurungkan niat nya.
Sehingga jadi lah akhirnya Emma terlelap di ruang Tivi selama beberapa jam berikut nya.
***