
Kembali ke Pasar Ghaib, tempat spirit Emma, Sella dan Cello berada saat ini..
"Sella, Cello! Makasih udah nungguin Kak Emma!" Sapa Emma yang selesai hunting jajanan di pasar ghaib.
Kini perut Emma terasa kenyang sekali hingga ia kesulitan untuk berjalan jadi nya.
'Heungap banget deh nih perut. Duh.. tapi kata Sella, biar bisa bangun lama di Dunia Nyata, aku harus banyak makan sampai kenyang,' gumam Emma tanpa suara.
"Kakak Cantik udah kenyang? Kita pulang sekarang yuk! Sella kangen Mama.." ujar Sella dengan pandangan mengembun.
Emma mengusap kepala Sella dengan sayang. Ia sungguh menyukai anak perempuan di depan nya itu. Jika diberi kesempatan untuk mempunyai adik, Emma ingin memiliki adik perempuan yang bersikap manis seperti Sella.
"Kakak lama sekali! Cello pegal menunggu tahu!" Gerutu Cello di samping Sella.
Senyuman Emma pun seketika mengkerut saat mendengar gerutuan kembaran nya Sella itu.
Emma heran. Bagaimana bisa Sella yang memiliki kepribadian yang manis bisa mempunyai kembaran seperti Cello. Anak lelaki itu cukup menyebalkan dan aneh, menurut Emma.
"Iya. Maaf ya Cell. Jadi, kita pulang sekarang? Gimana caranya tapi? Kakak gak tahu cara nya pulang?" Ujar Emma bertanya kepada si kembar.
"Caranya begini kak.." belum selesai Sella berkata, Cello tiba-tiba memotong ucapan nya.
"Biar Cello! Cello aja yang kasih tahu caranya, Sell!" Potong Cello bersemangat.
Sella merengut dan kesal karena ucapan nya dipotong oleh Cello. Emma mengusap pelan kepala nya untuk menghibur Sella.
"Kenapa gak bareng-bareng aja kalian kasih tahu nya? Siapa tahu Kakak jadi lebih mengerti?" Sahut Emma mencoba menengahi si kembar.
Kedua anak kembar itu oun sontak kembali ceria dan menyetujui usulan Emma tersebut.
Dengan kompak, keduanya lalu menunjukkan gerakan yang sama.
Pertama-tangan menutupi wajah membentuk masker yang menutupi area hidung dan mulut, dengan jari telunjuk yang menyentuh bagian tanda yang ada di kening.
Setiap spirit yang menghuni boneka arwah memiliki tanda di bagian kening nya. Bentuk nya seperti kristal berwarna hijau.
Selanjutnya tangan disapukan ke seluruh wajah sambil berkata, "Ramoriy!".
Dan selanjutnya, Emma pun menyaksikan saat Sella dan juga Cello perlahan menghilang dari hadapan nya.
Emma merasa terkejut, selanjut nya gugup. Dengan sedikit ragu, Emma mencoba mengingat gerakan tangan kedua anak asuh nya tadi. Lalu berucap, "Ramoriy!" Dengan suara sedikit lebih lantang dari yang seharus nya.
Dan perlahan, Emma pun merasakan saat tubuh spirit nya serasa dicubit dan ditarik ke satu arah. Sampai akhirnya pemandangan di sekitar nya perlahan berubah menjadi suasana di kamar para boneka di villa Grandhill.
"Kakak berhasil! Hebat!" Seru boneka Sella memberi selamat.
"Kita.. kita kembali ke dunia nyata?" Tanya Emma memastikan.
"Iya, Kak. Sekarang, Sella mau cari Mama dulu ya. Sella kangen Mama. Kakak mau ikut?" Tanya boneka Sella.
Boneka Emma tampak berpikir sesaat. Ia lalu melihat bahwa dalam ruangan tiu tak ada boneka Cello bersama mereka.
"Di mana Cello?" Tanya boneka Emma.
"Cello sudah duluan pergi, Kak. Biasanya dia langsung pergi ke dapur hntuk mengambil cemilan," jawab boneka Sella.
"Cello sudah lapar lagi?" Emma terheran-heran.
"Bukan, Kak. Kata Cello sih, buat cadangan biar dia punya stok makanan di kantong baju nya. Jadi biar bisa main lebih lama lagi," jawab Sella kembali.
'Oh.. pantas saja aku sering menemukan remahan kue di kantong baju nya Cello. Ternyata anak itu cukup pintar juga ya.. apa aku juga pergi ke dapur dulu ya untuk mencari makanan? Yang pasti, aku harus segera pergi dari Villa ini. Entah bagaimana cara nya..' Emma sibuk dengan pikiran nya sendiri.
"Kakak? Kakak Cantik? Kok kakak diam sih? Kakak mau ketrmu Mama juga gak? Mama Sella baik banget loh! Ikut Sella yuk!" Ajak Sella kembali.
"Iya. Ayo kak! Mama paati senang karena Sella punya teman baru!" Seru Sella bersemangat.
Emma menimbang-nimbang. Haruskah ia menemui Nyonya Sofia? Apakah ia bisa meminta bantuan pada Nyonya Sofia untuk menolong nya pergi dari villa ini?
Emma bisa menceritakan kenyataan tentang Bibi Hara kepada majikan nya itu. Mungkin dengan begitu, Nyonya Sofia akan bisa membalaskan dendam nya pada Bi Hara. Denga begitu, Emma pun bisa terbebas dari ancaman wanita paruh baya itu.
"Ayo, deh. Kakak mau ikut ya, Sell! Eh, tapi.. sekarang udah malam. Nyonya.. maksud Kakak, Mama kamu pasti udah tidur sekarang.." Jawab boneka Emma akhirnya.
"Oh iya ya. Hmm.. ini udah jam sepuluh ya Kak. Mama pasti gak suka kalau kita bangunin ya? Tapi.. Sella kangen Mama, Kak. Kita ke kamar Mama untuk lihat Mama aja boleh ya, Kak?" Boneka Sella memohon ijin.
Setelah berpikir singkat, Emma pun akhirnya mengiyakan permintaan boneka Sella tersebut. Kedua boneka itu pun akhirnya pergi ke kamar Sofia.
Setelah berada di depan pintu, Sella meminta ijin untuk menaiki pundak boneka Emma untuk bisa membuka pintu.Dengan cara seperti itu, Sella pun bisa membuka pintu.
Selanjutnya boneka Sella dan boneka Emma pun masuk ke kamar Sofia.
Di atas kasur nya, Sofia tidur dengan damai. Sella kemudian menaiki kasur dsn mendekati wajah Sofia. Dikecupnya pipi Sofia sekali sebelum akhirnya Sella melihat wajah Mama nya itu dalam diam.
Selama menunggu Sella menuntaskan rasa rindu nya, boneka Emma menunggu di dekat kaki kasur. Ia sedang mempertimbangkan untuk membangunkan Sofia atau tidak.
Ada keraguan dalam hati Emma. Mengingat kalau majikan nya itu sepertinya memiliki kepribadian yang aneh. Jadi Emma khawatir ia malah akan menambah masalah untuk dirinya sendiri bila ia mengatakan perihal Bi Hara kepada Sofia.
Terlebih lagi di Villa Grandhill ini, Bi Hara memiliki teman komplotan, yakni Pak Adda. Sementara Sofia hanya seorang diri saja.
Entah bagaimana dengan Pak Kiman. Emma belum mengetahui nya. Tapi yang pasti, Emma harus berhati-hati dalam mengambil keputusan.
'Mungkin ada baik nya bila aku memantau situasi terlebi dulu? Tapi.. sampai kapan? Aku tak memiliki banyak waktu!' Emma mengeluh dalam hati.
"Kakak, ayo kita keluar. Sella udah ketemu Mama. Sekarang, kita main yuk, Kak!" Ajak Sella dengan suara berbisik.
"Oke. Tapi, bagaimana kalau kita ke dapur dulu? Kita cari Cello dulu. Siapa tahu dia masih ada di sana?" Usul Emma kemudian.
"Ayo, Kak!" Sahut Sella setuju.
Kedua boneka tersebut lalu menuruni anak tangga satu persstu.
Emma sungguh mengeluhkan kondisi nya saat ini. Menuruni anak tangga dalam tubuh mungil boneka ini ternyata cuiup menguras energi.
Baru juga sampai di anak tangga terbawah, Emma sudah merasa ngos-ngosan. Ia bahkan cukup yakin kalau energi nya terkuras separuh dari sejak ia terbangun ke dunia nyata setengah jam yang lalu.
'Klik. Klak. Klik. Klak.'
Kini, Emma mulai terbiasa dengan suara langkah kaki boneka yang ditangkap oleh indera pendengaran nya itu. Bagaimana pun juga. Kini langkah kaki Emma pun memang seperti itu.
Begitu sampai di dapur, boneka Emma dan boneka Sella langsung mencari keberadaan boneka Cello. Akan tetapi mereka tak mendapati nya di sana.
Sebelum keluar dari dspur, Boneka Emma dan Sella terlebih dulu menghisap sari makanan yang terhidang di atas meja. Hingga energi mereka kembali terisi.
Tak lupa pula boneka Emma memasukkan beberapa keping biskuit dalam tas serut yang tersampir di gaun lolita yang ia kenakan. Itu adalah perbekalan nya untuk berkelana semalaman ini.
Saat keduanya, hendak keluar dari dapur, keduanya mendengar jejak langkah seseorang mendekati dapur.
Dengan spontan, Emma langsung bersembunyi di kolong meja. Ia pun menarik serta Sella bersama nya.
Beruntung nya boneka Emma sempat bersembunyi. Karena ternyata yang memasuki dapur saat itu adalah Pak Adda, perawat kebun dan halaman di villa Grandhill itu.
Terhadap Pak Adda, Emma memiliki ketakutan sendiri yang sulit untuk ia jelaskan. Ia terongat momen saat Pak Adda memberinya tatapan bernafsu ketika ia masih disekap di gudang rahasia.
Emma berharap, ia tak perlu berhadapan kembali dengan penjaga kebun tersebut.
***