
'klik. Klak. Klik. Klak. Klik. Klak.'
"Hosh! Hosh! Hosh!"
Gabruk!
"Aduh!"
Boneka Emma mengaduh kesakitan. Meski begitu, ia tak berdiam lama dalam jatuh nya dan langsung bangkit berdiri untuk kembali berlari lagi.
'Klik. Klak. Klik. Klak.'
Suara laju lari dari sang boneka terdengar bergaung di jalanan sepi di pertengahan hutan.
Sampai kemudian, tiba-tiba saja Emma melihat sebuah pohon dengan dahan cukup rendah, namun dedaunan nya rimbun sekali.
Emma pun tercetus sebuah ide untuk menyembunyikan diri di sana.
"Sebaiknya.. aku.. sembunyi.. di sana.. saja..! Hah! Hah! Energi.. ku.. sudah hampir.. habis..!" Gumam Emma sambil terus berlari mendaki pohon tersebut.
Selanjutnya boneka Emma memanjat pohon tersebut dengan susah payah. Sampai akhirnya ia tiba pada salah satu cabang ranting yang cukup rimbun daun nya bila dilihat dari bawah.
"Hah! Capek banget!" Boneka Emma langsung duduk selonjoran di atas cabang ranting tersebut.
Mencoba mengistirahatkan diri dengan memakan dua keping cookies yang ia simpan di dalam kantong serut pada gaun nya.
Tak lama setelah itu, terdengar kembali suara langkah kaki yang cepat. Kali ini suaranya terdengar lebih kencang. Menandakan bobot tubuh pemilik nga yang jelas lebih berat dari boneka Emma.
Mendengar langkah itu, Emma langsung menahan napas hingga hanya menjadi hembusan yang sangat pelan.
'Itu pasti Pak Adda! Ya ampun! Hampir aja aku tertangkap kalau aku terus lari, tadi! Alhamdulillah.. makasih ya Allah!' Emma bersyukur dalam hati.
Langkah kaki itu semakin jelas terdengar hingga kemudian tiba-tiba berhenti tak jauh dari pohon, tempat Emma bersembunyi.
Emma langsung memasang pendengaran nya setajam mungkin. Sekaligus juga menjadi kaku layaknya boneka asli tanpa arwah yang menginangi.
Gadis itu tak ingin bila tempat persembunyian nya itu ditemukan oleh Pak Adda. Karena bila ia sampai ditemukan oleh Pak Adda, Emma merasa ngeri untuk membayangkan hukuman yang akan didapat nya nanti.
"Cepat sekali lari nya. Aku bahkan tak lagi bisa melihat pergerakan di depan sana. Apa jangan-jangan dia mengambil jalan menerabas pohon ya? Atau.. bersembunyi?" Suara Pak Adda terdengar memecah kesunyian malam.
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut lelaki paruh baya itu, Emma langsung merapalkan doa dan harapan nya agar lelaki itu segera pergi dari tempat ini.
"Apa itu?! Seperti nya ada sesuatu yang bergerak di sana! Jangan-jangan itu dia!" Ujar Pak Adda terdengar semakin dekat.
Emma merasa hidup nya semakin menipis bersamaan dengan suara langkah kaki Pak Adda yang berjalan cepat mendekati pohon tempat nya berada.
Gadis itu sudah pasrah saja bila ia memang harus tertangkap lagi kali ini.
"Hmm.. Nona kecil.. keluarlah! Aku melihat mu! Cepat keluar sekarang juga, dan mungkin aku akan meringankan hukuman mu nanti!" Pak Adda membujuk Emma di kegelapan.
'Ya ampun! Ya ampun! Ya ampun! Gimana ini? Masa iya aku harus tertangkap lagi sih?!' Emma gusar sendiri dalam hati.
Tubuh nya telah dibuat sekaku mungkin. Sehingga ia bahkan tak melakukan pergerakan walau sekecil apa pun.
Karena itulah Emma heran, kenapa Pak Adda bisa mengetahui keberadaan nya di pohon itu.
Emma sudah hampir akan melompat dari atas pohon dan berlari, jika saja ia tak mendengar saat langkah Pak Adda berlari menjauhi pohon tempat nya bersembunyi.
Setelah beberapa lama tersadar kalau Pak Adda ternyata salah menangkap sinyal keberadaan nya, barulah Emma menghela napas lega.
Boneka Emma pun kembali duduk selonjoran di atas pohon. Sambil bersender ke dahan dan dedaunan nya yang rimbun.
Meski posisi nya saat ini tidak lah nyaman, namun Emma tak mengeluh. Menurut nya, ketidaknyamanan ini jauh lebih bsik dibanding bila ia harus tertangkap oleh Pak Adda kembali.
Merasa terlampau letih, Emma pun kembali merogoh ke dalam kantung serut nya.
"Ah.. hanya tersisa satu biskuit lagi saja. Bagaimana lah ini? Itu tak akan cukup untuk ku bisa kabur hingga ke tepi jalan besar.." Emma mengeluh sedih.
"Ma.. Emma kangen Mama.." lirih boneka yang menangis tanpa bisa mengeluarkan air mata.
***
"Apa?! Boneka itu berhasil kabur?! Bagaimana bisa?" Hara bertanya kepada Adda pada keesokan pagi nya.
Keduanya sedang berada di belakng villa yang menghadap kolam ikan. Saat itu di villa hanya tinggal ada mereka berdua.
Pak Kiman telah mereka penjarakan di ruang rahasia. Sementara Sofia.. telah Hara buat koma dalam pembaringan nya.
Ya. Hara merasa keberadaan Sofia sudah tak lagi ia perlukan. Karena Sofia sudah mengatas namakan semua harta nya atas nama kedua anak nya, yakni Sella dan Cello, pada akhir Minggu lalu.
Pengacara yang disewa oleh Sofia lah yang telah memberitahukan itu kepada Hara dalam telepon mereka. Hara telah membuat perjanjian dengan sang pengacara untuk membagi harta Sofia menjadi dua bagian untuk masing-masing mereka berdua.
Harga yang cukup mahal menurut Hara. Akan tetapi itu bukan masalah besar bagi Hara. Ia hanya tinggal melakukkan sesuatu saja pada pengacara itu nanti nya setelah semua urusan surat-surat tentang harta kepemilikan telah selesai.
Akhirnya, Sejak beberapa hari yang lalu, persis nya adalah sejak Sofia berbincang terakhir kali dengan Pak Kiman, Hara pun langsung melakukan sesuatu terhadap spirit dari Sofia.
Sofia jadi sering tertidur, dan akhirnya tak lagi bangun lagi dalam waktu yang lama.
"Itu.." Adda terlihat takut untuk menceritakan tentang permainan yang dicanangkan nya semalam tadi bersama para boneka.
Melihat ekspresi Adda, Hara bisa langsung menebak apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau pasti melakukan sesuatu bukan dengan nya? Cepat katakan! Apa yang telah kau lakukan, Adda!" Bentak Hara terlihat garang.
"Aku hanya mengajak bermain mereka saja!" Adda akhirnya mengaku.
"Bermain! Kau mengajak mereka bermain! Siapa yang kau maksud dengan mereka? Ketiga boneka itu begitu?!" Tanya Hara masih emosional.
"Hanya dua saja! Dua boneka saja yang kuajak bermain! Gadis itu dan juga si bocah lelaki," Adda kembali mengaku.
"Bah! Kau memang benar-benar bodoh! Bagaimana jika gadis itu berhasil kembali ke tempat tinggal nay? Bukan kah terakhir kali ia kabur juga ia ditolong oleh kawan hya? Bagaimana jika kawan nya itu menyadari sesuatu yang berbeda dari diri Emma yang dikenal nya? Padahal saat ini yang bersemayam di tubuh gadis itu adalah putri ku, Celia!" Omel Hara panjang kali lebar.
"Aku akan mencari nya lagi! Aku akan membawanya kembali ke sini! Tenang saja!" Adda berjanji.
"Pastikan itu kau lakukan. Atau aku akan melakukan sesuatu pada junior mu itu!" Ancam Hara seraya melirik ke bagian bawah tubuh Adda.
Adda seketika mematung. Menyadari kegentingan yang dihadapi nya saat ini sungguh adalah hal yang serius untuk segera ia tangani.
***