
Emma benar-benar mengantuk berat. Setelah meninggalkan Reno dengan terbirit-birit, gadis itu langsung mauk ke kamar nya dan merebahkan badan nya di atas kasur.
Tadi nya Emma berniat untuk shalat isya terlebih dulu. Namun karena rasa kantuk yang kelewat berat, akhirnya Emma pun di kalahkan oleh rasa kantuk nya itu. Gadis itu pun langsung terlelap tak lama setelah ia merebahkan badan nya.
***
Di gudang rahasia yang ada di villa Grandhill...
Hara sedang sibuk membaca mantra yang ia yakini dapat memanggil ruh Emma kembali ke villa ini. Beberapa sajian kemenyan pun terhidang di depan nya.
Kembang tiga belas rupa, kepala dan hati dari ayam hitam yang belum kawin, dupa, air dari tujuh sumur yang dikeramatkan, serta selembar foto Emma seukuran 3x4 cm.
"Dong.. Mariramenotakolodogoduboyo.." Hara terus merapalkan mantra yang ia pelajari dari guru spiritual nya yamg tinggal di lereng gunung yang terkenal angker.
Telah belasan tahun lama nya Hara mempelajari ilmu sihir. Terutama sejak ia bercerai dari suami pertama nya dulu.
Dulu, Hara hanya mempelajari ilmu pelet saja. Ia ingin semua lelaki terpikat pada sosok nya yang tak terlalu cantik sebenar nya.
Dan setelah satu bulan lama nya bersemedi di lereng gunung yang angker itu, Hara pun dinyatakan telah lulus dan berhasil menguasai ilmu pikat.
Suami Sofia adalah lelaki pertama yang berhasil Hara pikat. Terlepas dari beda usia keduanya yang cukup terbilang jauh. Hara bahkan cukup pantas untuk dianggap sebagai ibu bagi suami Sofia itu.
Dan, lelaki kedua yang berhasil Hara pikat dengan ilmu pikat nya adalah Adda. Incaran nya pun sama, yakni para berondong muda.
Ada kepuasan tersendiri dalam benak Hara saat ia bisa menguasai pikiran para lelaki yang masih muda dan kuat itu. Ini mungkin disebabkan karena rasa dendam nya terhadap suami nya dulu, yang juga telah meninggalkan nya demi seorang wanita ABG.
Kembali ke saat ini.
Hara terus merapalkan mantera terhadap foto Emma yang ia rendam dalam air dari tujuh sumur yang telah dikeramatkan.
Tak jauh dari foto itu, terdapat sebuah boneka perempuan yang mirip seperti boneka Sella. Hanya saja terdapat perbedaan pada warna rambut nya.
Warna rambut boneka Sella adalah pirang. Sementara boneka di depan Hara saat ini memiliki warna rambut kehitaman.
Meski begitu ukuran kedua boneka itu terbilang sama.
Hara terus merapalkan mantra yang sudah dihapal nya dil luar kepala. Hingga tiba-tiba saja boneka di depan nya itu bergerak sendiri dan melayang di atas kendi air sumur yang merendam foto Emma.
Selama beberapa saat, tubhh boneka itu berputar dan bergerak tak tentu arah. Seolah ada sesuatu yang telah merasuki tubuh plastik dari boneka itu. Sampai kemudian, secara tiba-tiba, boneka itu mengubah posisi nya menjadi berdiri. Dan kedua mata nya pun mendadak terbuka.
Hara tersenyum. Diraihnya tubuh boneka berambut hitam itu dengan tangan nya. Dan boneka itu langsung berusaha untuk melepaskan diri nya dari kurungan tangan Hara.
Tak ada suara yang bisa terdengar dari mulut boneka itu. Namun jika ia bisa melakukan nya, sudah tentu boneka itu akan menyuarakan kengerian yang dirasakan nya saat melihat sosok Hara.
"Selamat datang kembali, Emma. Dan selamat juga untuk tubuh mu yang baru. Mulai sekarang, kau tak perlu lagi letih-letih menjadi pengasuh. Karena kini, kau lah yang akan diasuh! Hahahahaha!!" Hara tertawa bahak.
Sementara itu, boneka yang dipanggil nya Emma itu masih terus berusaha untuk melepaskan diri dari genggaman tangan Hara.
'Apa..?! Apa yang sebenar nya terjadi?! Kenapa aku bisa ada di sini?!! Dan kenapa.. kenapa Bi Hara terlihat seperti raksasa sekarnag ini?! Apa aku sedang bermimpi??!' batin ruh dalam boneka itu, yang memang adalah ruh nya Emma.
***
Flashback setengah jam sebelum nya...
Begitu merebahkan badan ke atas kasur, kedua netra Emma langsung saja terpejam rapat. Gadis itu akan menyesali keputusan nya untuk tidak menyempatkan diri shalat isya terlebih dahulu.
Padahal jika saja ia shalat terlebih dulu, maka dia akan tidur dalam kondisi masih berwudu. Air wudhu itu akan mampu menghalau nya dari sihir kiriman milik Hara yang akan menyerang ruh nya malam itu juga.
Tapi Emma tak shalat isya. Ia langsung terlelap dan transit ke alam mimpi.
Dalam mimpi nya itu, Emma tahu-tahu telah terbelit di sekujur tubuh nya oleh benang merah yang terjulur jauh sampai ke jarak yang tak terjangkau oleh mata Emma.
"Tolong! Siapa pun juga tolong aku!" Jerit Emma meminta tolong.
Sayang nya sat itu Emma berada dalam ruangan gelap yang tak terlihat sudut-sudut nya. Ia bahkan curiga kalau tubuh nya saat ini sedang melayang. Karena ia tak merasakan pijakan tanah menempel di bawah kaki nya.
'Apa yang sebenar nya terjadi?! Mama!! Reno! Kalian di mana?!' Emma kembali menjeritksn nama orang terdekat nya.
Ketakutan itu mulai menjerat diri Emms. Dan gadis itu pun langsung berusaha melepaskan tubuh nya dari jeratan benang yang ukuran nya tak lebih tebal dari jari telunjuk nya sendiri.
Akan tetapi, usaha Emma berakhir sia-sia.
Belitan benang merah pada tubuh nya itu sungguh lah kuat. Bahkan Emma menyadari kalau tarikan benang itu semakin cepat setelah usaha nya utnuk melepaskan diri.
Aneh nya, tak ada yang bisa Emma lihat selama beberapa waktu di dunia itu selain hanya gelap dan kegelapan semata.
Tapi Emma yakin kalau ia telah dibawa pergi menuju tempat yang tak ia tahu. Walaupun firasat nya mengatakan kalau ia tak akan menyukai akhir dari tujuan benang merah itu menarik nya pergi.
"Mama! Reno! Tolong Emma!" Emma kembali menjerit, memohon pertolongan.
Tapi panggilan nya itu tetap tak mendapatkan sambutan dari orang-orang yang ia sebutkan.
"Ren! Reno! Di mana kamu?! Tolong aku! Susi!! Tolong aku, Sus!" Kini gantian nama kawan nya itu yang Emma panggil.
Dan, tiba-tiba saja sosok Susi telah berada di hadapan Emma.
"Susi! Kamu di sini! Syukurlah! Sus! Tolong aku, Sus! Benang ini gak bisa ku lepasin!" Emma meminta tolong dengan nada dan sikap panik.
Susi lalu mencoba menarik lepas benang merah yang mengikat Emma. Akan tetapi usaha nya pun berakhir gagal.
"Aku gak bisa, Emm. Benang ini terlalu kuat!" Ujar Susi dengan wajah menyesal.
"Gu..gunting! Ambil gunting, Sus! Potong bensng ini pakai gunting!" Akal Emma memberikan usulan.
Susi kembali menggelengkan kepala nya.
"Aku gak punya, Emm. Di dunia ini aku gak punya kekuatan apa-apa. Aku cuma bisa datang dan pergi begitu saja. Maaf.." ujar Susi dengan raut menyesal yang sama.
"Sebenar nya apa yang terjadi, Sus? Aku gak ngerti!" Emma berdecak kesal.
Namun tiba-tiba saja Emma teringat sesuatu hal.
"Tunggu dulu! Bukan nya kamu lagi sakit koma ya, Sus?! Baru kemarin mah aku tengokin kamu sama Reno di rumah kamu?!!" Emma tiba-tiba menudingkan pertanyaan nya.
Kali ini Susi memberikan sebuah jawaban yang pasti diketahui nya kepada Emma.
Sebuah senyuman sedih pun terpasang di wajah sahabat nya Emma itu.
"Iya, Emm. Tubuh ku memang lagi koma di rumah Mama," jawab Susi dengan suara menyerupai bisikan.
"Terus sekarang? Kamu udah sembuh gitu??" Tanya Emma penasaran.
Dan Susi pun kembali menggelengkan kepala nya lagi.
"Enggak, Emm. Aku yang lagi berdiri di depan kamu sekarang ini cuma sebentuk spirit aja.." jawab Susi terus ternag.
"Spi..spirit?!! Maksud kamu, kamu itu sekarang jadi hantu?!!" Tanya Emma terbelalak kaget.
***