Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Kesimpulan Emma



Setelah itu, Emma diantarkan oleh Bobbi ke kamar Susi.


Dan apa yang dilihat oleh gadis tiu kemudian sungguh membuat hati nya hancur.


Terbaring di atas kasur, dengan selang oksigen dan infus yang terhubung ke lengan nya, Susi tampak damai dalam tidur koma nya.


Melihat itu, Emma langsung melangkah cepat dan mendekati sisi pembaringan Susi.


"Sus! Apa yang sebenarnya terjadi?!" Tanya Emma pada Susi yang terbaring diam di hadapan nya.


"Kenapa kamu bisa jadi begini?!" Tanya Emma lagi dengan suara yang tertekan.


"Aku gak tahu sama sekali kalau kamu sakit begini, Sus! Aku.."


Emma tak mampu melanjutkan ucapan nya lagi. Gadis Itu pun menangis tersedu-sedu di samping Susi untuk waktu yang cukup lama.


Reno yang mengikuti Emma dan berdiri dekat di belakang nya, langsung saja mengusap-usap punggung wanita yang dicintai nya itu. Ia berusaha mengirimkan kekuatan agar Emma bisa menjadi tabah dalam menghadapi kenyataan terkait Susi saat ini.


Tak lama setelah menemui Susi, Emma akhirnya pamit bersama Reno.


Di perjalanan menaiki motor, keduanya memilih untuk diam.


Reno sadar kalau Emma butuh waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Sehingga ia pun mengajak Emma melipir ke sebuah pantai.


Saat itu, waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Pantai yang mereka kunjungi mulai ramai oleh para pengunjung yang ingin bersantai.


Tak terlalu banyak juga sih jumlah nya. Mungkin karena hari itu adalah weekday. Jadi tak banyak yang bisa libur di hari kerja.


Reno sendiri sudah meminta curi libur khusus untuk hari ini untuk menemani Emma. Walaupun kepada Pimpinan nya, pemuda itu mengatakan ada keperluan keluarga yang sangat penting untuk ia hadiri.


Pimpinan dan rekan kerja Reno mengira kslsu pemuda itu akan bertunangan. Dan Reno membiarkan asumsi itu tersiar liar.


"Kenapa kamu ajak aku ke sini?" Tanya Emma tiba-tiba.


Keduanya masih duduk di atas jok motor milik Reno. Hamparan laut lepas tersaji tak jauh di hadapan kedua nya.


Emma memandang deburan ombak yang terlihat saling susul menyusul. Deburan ombak tersebut mengingatkan nya pada diri nya semasa kecil dulu saat bermain kejar-kejaran dengan kawan-kawan nya.


Betapa menyenangkan permainan kejar-kejaran itu. Emma ingat perssaan bebas saat ia berlari sekencang yang ia bisa. Tak ingin tertangkap oleh kawan nya. Karena jika begitu, maka ialah yang harus gantian menjadi si pengejar.


Emma juga ingat dengan sensasi ketika ia menjadi pemenang, karena berhasil lolos dari tangkapan kawan nya saat bermain. Kemenangan yang membuatnya merasa sangat sennag.


"Cantik banget ya?" Bisik Emma sambil menatap ombak di pesisir pantai.


Kini Emma dan Reno sudah turun dari motor. Keduanya kini duduk di atas pasir pantai yang putih tak jauh dari tempat motor Reno terparkir.


"Iya. Cantik!" Sahut Reno sambil menatap lembut wajah Emma dari samping.


"Aku selalu suka melihat ombak," ucao Emma masih dengan suara pelan.


"Ya. Aku tahu itu. Kamu pernah mengatakan nya dulu. Waktu kita kencan di pantai ini," sahut Reno, masih sambil memandangi Emma.


"Setiap deburan nya seolah selalu memiliki misi untuk menarik pasir bersama nya," lanjut Emma.


"Untuk kemudian mengantarkan pasir yang berbeda ke tepian pantai itu lagi," sambung Reno.


"Kamu ingat!" Seru Emma seraya menolehkan wajah nya ke Reno.


Pemuda itu masih menatap wajah Emma lekat-lekat.


"Tentu saja! Setiap ucapan mu akan selalu aku ingat, Emm!" Sahut Reno dengan keyakinan yang tak terkalahkan.


Emma langsung memalingkan wajah nya kembali ke depan. Namun tidak sebelum Reno sempat melihat semburat merah telah mewarnai wajah nya. Reno pun tersenyum.


Emma kemudian lanjut bicara lagi tentang ombak. Ia berusaha menetralkan debur jantung nya yang sempat tak teratur usai mendengar ucapan Reno tadi.


"Tapi berbeda dengan ombak di tengah lautan sana," lanjut Emma.


"Mereka seperti anak-anak kecil yang berlari tak tentu arah dan saling bertabrakan. Hingga ada yang tersakiti dan hingga harus mengalah dan akhirnya ombak itu pun pecah."


"Hanya sedikit gelombang ombak yang bisa sampai hingga ke tepi pantai. Lebih sedikit lagi yang berhasil tumbuh menjadi ombak yang sangat besar hingga mampu meluluhlantakkan apapun yang ada di tepi pantai."


"Dan lebih-lebih sedikit lagi ombak yang berhasil tumbuh menjadi tsunami. Yang bisa sampai menjelajahi daratan jauh dari bibir pantai asal nya berada," sambung Reno lagi.


"Ya.. aneh nya, di antara sekian jenis ombak, aku hanya ingin menjadi seperti ombak-ombak kecil di hadapan kita ini, Ren," ujar Emma sambil menunjuk gulungan ombak di bibir pantai.


"Mereka mungkin hanya memiliki misi kecil dalam masa keberadaan mereka yamg singkat ini. Namun mereka tak hanya mengambil sesuatu yang telah disediakan oleh pantai. Namun juga membalasnya dengan membawa benda-benda lain yang mereka dapatkan dari ombak yang lain," papar Emma lebih lanjut.


"Seperti kerang-kerang kecil ini kan, maksud kamu?" Tanya Reno seraya mengambil sebuah kerang yang berada dalam jangkauan tangan nya.


"Ya. Seperti kerang-kerang kecil ini, juga benda-benda lain yang hanyut di tengah laut. Ombak-ombak kecil itulah yang dengan sabar mau mengantarkan semua benda itu kembali ke bibir pantai," terang Emma.


"Usaha ombak itu tampak tak berarti bagi kebanyakan orang. Namun bagi orang-orang tertentu, ombak-ombak ini memiliki peran yang sangat penting dengan misi kecil mereka itu," lanjut Emma lagi.


"Dan aku ingin seperti ombak-ombak kecil itu, Ren. Meski kemampuan ku tidaklah seberapa, namun aku bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk orang-orang yang kutuju. Untuk orang-orang yang kusayangi dan menyayangi ku."


"Dengan kejadian Susi yang bahkan aku sama sekali gak tahu kondisi nya yang terkini, aku benar-benar ngerasa ditampar banget! Aku ingin berbuat sesuatu untuk nya. Karena Susi sendiri udah ngasih aku sesuatu yang berharga banget. Kebebasan!" Ungkap Emma.


"Karena Susi lah yang sudah menolong ku hingga bisa keluar dari villa itu kemarin malam," lanjut Emma lagi.


"Tapi Emm! Kamu dengar sendiri kan dari Kak Bobi tadi. Susi itu udah koma sejak tiga minggu yang lalu! Jadi mana mungkin dia bisa nolongin kamu?!" Tanya Reno yang mencoba berpikir rasionalitas.


Emma menggelengkan kepala nya perlahan.


"Enggak, Ren. Aku yakin banget kalau itu adalah Susi. Bahkan sampai semalam tadi, dia juga kembali nengokin aku. Jika memang tubuh nya terbaring koma dan gak bisa ke mana-mana. Maka berarti yang selama beberapa kali ini aku temui adalah ruh nya. Ku pikir begitu," ucap Emma menyimpulkan.


"?!!"


***