
Gabrukk!!
"Aduh!!" Emma menjerit kesakitan sesaat setelah wajah nya menci um lantai.
Meski begitu Emma tak berlama-lama memanjakan rasa sakit yang dirasakan nya itu. Karena ia teringat dengan sepasang mata merah di bawah kolong tidur yang sempat ia lihat sesaat sebelum Emma terjatuh.
Tergopoh-gopoh Emma pun bangkit dan berlari menuju pintu pada waktu yang bersamaan.
Pikiran nya telah melupakan sosok boneka Sella dan Cello yang tadi sempat menyapa nya di depan pintu. Karena menurut Emma, keberadaan sosok di bawah kolong kasur nya tadi jauh lebih menyeramkan.
Masih dalam jarak satu meter, tangan Emma telah lebih dulu menjangkau gagang pintu.
Dengan tergesa-gesa Emma memutar kenop pintu. Namun ia kesulitan untuk membuka nya.
Setelah beberapa lama Emma baru teringat kalau ia telah mengunci nya sendiri tadi. Maka setelah menyadari kedodolan nya itu, Emma pun bergegas membuka kunci pintu secepat kilat.
Klik.
Terdengar suara kunci pintu terbuka. Emma langsung saja memutar kenop pintu nya lagi. Dan kali ini ia berhasil.
Dalam satu sentakan kuat, Emma menarik pintu hingga terbuka lebar. Dan ia kembali dikejutkan dengan keberadaan sosok sangar di depan mata nya (lagi).
"Aaarrrggghh!!!" Emma spontan menjerit kaget.
Begitu pun dengan lelaki paruh baya di depan Emma yang juga terkejut dengan teriakan Emma.
Lelaki itu mundur selangkah sebelum ia menyapa Emma dengan suara barito milik nya.
"Ada apa dengan mu? Sedari tadi berisik sekali!" Cecar Pak Kiman, koki di villa Grandhill tersebut.
"Pak..! Pak Kiman!! Itu, Pak! Tadi di kolong kasur ada... Ada.." Emma kesulitan untuk menemukan panggilan yang tepat untuk makhluk yang tadi membuat nya ketakutan setengah mati.
"Ada apa?! Kau masih ketakutan dengan Nona Sella dan Den Cello ya? Mereka hanya anak-anak yang terjebak dalam tubuh boneka. Kau tak perlu mengkhawatirkan mereka!" Cecar Pak Kiman kembali.
"Bukan! Bukan mereka! Tadi itu ada.. ada..mata merah..rambut panjang.. di kolong kasur.. narikin kaki Emma.. terus..makanya.." Emma berusaha menceritakan kejadian sesuai dengan pengalaman nya tadi.
Sayang nya Pak Kiman tampak tak sabar mendengar penjelasan Emma yang sepotong-potong. Karena nya ia pun langsung memotong ucapan Emma.
"Diam! Berhentilah meracau! Nyonya menunggu mu di ruang tivi!" Ujar Pak Kiman dengan ekspresi sangar.
Penampilan nya semakin sangar dengan luka sayatan memanjang pada salah satu sisi wajah nya.
"Tapi, Pak! Itu mata merah nya..!" Emma masih terlihat panik dan ketakutan. Ia bahkan berani berpegangan pada lengan baju Pak Kiman sambil menunjuk-nunjuk ke kolong kasur.
"Haishh! Menyusahkan saja! Di mana kau bilang mata merah itu tadi? Di kolong kasur?!" Tanya Pak Kiman sambil memasuki kamar Emma.
Emma yang masih ketakutan, memilih untuk tetap berdiri di depan pintu. Dengan takut, Emma mengangguk-angguk. Sebagai jawaban nya atas pertanyaan Pak Kiman tadi.
Emma lalu mengamati saat Pak Kiman berjalan menuju kolong kasur. Kemudian beliau mengangkat ke atas, kain seprei yang menjuntai hingga hampir menyentuh lantai.
Dan Emma dibuat heran karena ia melihat tak ada apa di bawah sana.
"Mana mata merah nya?! Dasar bocah! Menyusahkan sekali! Sudah cepat temui Nyonya! Jangan salahkan aku kalau Nyonya memarahi mu nanti!" Omel Pak Kiman sambil berlalu pergi meninggalkan Emma.
Emma masih menatap heran ke arah kolong kasur yang kosong melompong. Ia benar-benar tak habis pikir. Ke mana makhluk bermata merah tadi pergi?
Apakah yang Emma lihat tadi itu hanya sekedar ilusi? Atau memang sungguh makhluk jejadian?
Pada akhirnya Emma pun segera teringat dengan peringatan dari Pak Kiman tadi. Bahwa Nyonya Sofia sedang menunggu nya saat ini di ruang tivi.
Detik berikutnya, Emma sudan langsung menyeret kaki nya menuju ruang tivi. Di mana di sana sang majikan memang benar terlihat duduk menunggu Emma. Namun Sofia tak hanya seorang diri. Karena tepat di sisi kanan dan kiri nya, boneka Sella dan Cello terduduk rapih tanpa suara.
Kedua boneka tersebut Emma lihat seperti memakai celemek yang terikat di sekitar leher nya. Dan kedua tangan Sofia masing-masing menyuapkan buah mangga pada setiap boneka tersebut.
Apakah kedua boneka arwah tersebut mau memakan makanan seperti manusia pada umum nya?
Jika benar begitu, itu adalah berita yang bagus. Dan berarti selama ini Emma telah salah sangka terhadap kedua boneka tersebut.
Tadi nya Emma pikir makanan untuk dua boneka arwah itu adalah daging hidup seperti diri nya. Atau daging ayam mentah berwarna hitam, seperti yang pernah ia lihat dalam film-film hantu.
Ternyata itu hanyalah prasangka buruk gadis itu saja. Karena nya saat Emma menyadari kalau ia telah salah sangka terhadap para boneka arwah, ia pun sempat tertegun diam di dekat pintu masuk menuju ruang tivi.
"Nona Emma, masuklah! Kebetulan anak-anak sedang makan. Mereka tadi sempat ke kamar Anda untuk meminta makan, tapi kata mereka Anda malah berteriak ketakutan," tutur Nyonya Sofia dengan senyuman tipis.
"Itu.. maaf. Tadi ada kejadian aneh di kamar. Jadi.."
Emma berpikir cepat. Rasa-rasa nya bila ia curhat ke majikan nya itu soal pengalaman mistis yang ia alami di kamar tadi. Belum tentu juga Nyonya Sofia akan percaya kepada nya.
Contoh saja Pak Kiman yang telah bekerja di sini cukup lama. Sekitar tiga tahun lebih (Emma mendengar nya dari ibu Hara, sang asisten rumah tangga yang ramah).
Pak Kiman seperti tak percaya kalau di villa Grandhill ini bisa muncul kejadian mistis. Bukti nya adalah ia menganggap Emma membual saja saat kejadian tadi.
Akhirnya, Emma memutuskan untuk tak berterus terang tentang apa yang ia alami di kamar tadi. Biarlah ia akan menyelidiki sendiri terlebih dulu. Rahasia apa sebenar nya ayng ada di villa mewah bergaya klasik tersebut.
"Tadi itu.. saya kaget, Nyonya. Saya baru bangun tidur dan bermimpi buruk," ungkap Emma tak jujur.
"Begitu.. Nona Emm, kemari lah!Silahkan duduk di sini. Saya akan menjelaskan makanan yang disukai anak-anak. Saya sudah menuliskan daftar menu nya," ujar Ibu Sofia lebih lanjut.
Emma pun lalu mengambil kursi kosong di depan ketiga sosok tersebut. Selama Emma berjalan hingga duduk di sofa, ia menyadari kedua boneka Sella dan Cello memperhatikan gerak-gerik nya dalam diam.
Saat Emma melempar pandang tepat ke mata boneka Cello, barulah boneka lelaki tersebut menyapa Emma kembali.
"Hay, Kakak Cantik! Kakak sudah makan?" Tanya Cello terdengar ramah sekaligus mengerikan di telinga Emma.
Emma nampak nya masih belum terbiasa dengan keberadaan dua boneka yang bisa bergerak sendiri itu. Sehingga ia tak segera menjawab sapaan Cello dan malah menatap was-was boneka yang selalu memasang ekspresi menyeringai di wajah nya itu.
"I..iya. Sudah tadi di kamar," jawab Emma singkat.
"Kakak Cantik makan dengan apa?" Kali ini boneka Sella yang bertanya ramah kepada Emma.
Pandangan Emma pun bergeser ke arah boneka perempuan yang mengenakan gaun loli berwarna burgundi tersebut.
Kali ini, Emma tak terlalu merasa ngeri saat menatap langsung mata boneka Sella. Mungkin ini dikarenakan juga oleh penampilan boneka Sella yang terlihat lebih normal dibanding boneka Cello.
Boneka Sella terlihat seperti boneka cantik dengan senyuman tipis di wajah nya. Jika saja boneka itu adalah boneka biasa, Emma mungkin tak akan menatap nya dengan tatapan was-was pula. Sayang nya Sella pun adalah boneka arwah. Boneka yang bisa bergerak sendiri.
"Sama.. semur daging? Atau apa ya? Lupa. Tadi makan nya buru-buru sih," ujar Emma blak blakan.
"Qiqiqiqiqi.."
"Hihihi.."
Kedua boneka tertawa lepas mendengar jawaban Emma.
"Mama dengar kan? Kakak Cantik sungguhan lucu kan, Ma?!" Seru Cello menengadah ke atas ke wajah sang ibu.
Sofia lalu mengusap kepala Cello dengan senyum keibuan. Yang aneh nya justru terlihat mengerikan di mata Emma.
Bagaimana tidak ngeri? Seorang wanita dewasa bercakap-cakap sambil menatap penuh cinta dua boneka anak di samping nya. Apa tidak gila itu nama nya??
'Ya Ampun! Aku kerja sama orang gila ya ini berarti!' Emma baru tersadar akan satu fakta ini.
***