
"E..Emma?? Apa itu kau?!"
Panggilan yang datang nya dari arah pintu itu pun seketika mengalihkan perhatian Emma dan juga Pak Adda.
Pergumulan boneka Emma dalam genggaman tangan Pak Adda pun sempat terhenti selama beberapa saat.
Emma memandang tak percaya pada kemunculan sosok lelaki yang tak pernah ia hadapkan akan ada di ruangan ini, saat ini juga.
"Re.. Reno! Kamu di sini!" Pekik Emma dengan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan dalam nada suara nya.
"Itu..benar kamu, Emm?!" Reno terlihat masih sangat shock dengan apa yang dilihat nya saat ini.
Semua ini bermula sejak satu jam yang lalu. Saat ia hendak menyelidiki villa Grandhill tempat di mana Reno menduga spirit Emma terjebak saat ini.
Flashback..
Sekitar jam sebelas malam, Reno keluar dari kamar tidur nya. Ia pun membawa serta ransel berisi segala peralatan yang sekiranya ia butuhkan nanti.
Dengan mengendap-endap, Reno melangkah menuju lantai atas. Tempat di mana ia menduga keberadaan boneka yang menjerat ruh Emma berada.
Begitu sampai di lantai atas, Reno membuka satu persatu pintu kamar secara perlahan.
Pintu kamar pertama yang ia buka adalah milik anak-anak. Ini bisa Reno tebak dari keberadaan tiga kasur ukuran kecil dengan beragam warna merah, kuning, dan biru, serta mainan-mainan lain yang tertata rapih di masing-masing nakas yang ada di samping kasur.
Reno lalu melangkah masuk ke dalam kamar tersebut saat dilihat nya tak ada sosok penghuni di kamar tersebut.
Reno lalu memandngi setiap mainan yang berada di sana.
"Apa ruh Emma ada pada salah satu nya? Hmm.. sepertinya tidak. Kata Pak Ustadz boneka yang menjebak ruh Emma di dalam nya itu bisa bergerak sendiri. Boneka arwah nama nya," gumam Reno dalam monolog nya.
Setelah memastikan kalau tak ada hasil yang ia cari di kamar itu, Reno pun segera berlalu pergi dari nya. Pemuda itu melanjutkan kembali pencarian nya di kamar berikut nya.
Pada pintu yang kedua, Reno hampir saja berlari kabur saat ia melihat seorang wanita terbaring di atas ranjang yang panjang.
Tapi kemudian sesuatu menarik perhatian Reno. Yakni keberadaan sebuah boneka anak perempuan berambut pirang.
Boneka tersebut tampak bergerak sendiri dan mengecup kening wanita dewasa yang terbaring tidur.
"Mama cepat sembuh ya.. Sella kangen sama Mama. Sella nanti cari Cello dulu ya Ma! Dia main gak ajak Sella. Ke mana tahu pergi nya!" Suara mendumel keluar dari mulut boneka itu.
Saat melihat boneka itu bisa bergerak dan bicara sendiri, benak Reno langsung menebak kalau itu adalah Emma nya.
"Emma? Apa itu kau?" Tanya Reno dalam suara berbisik.
Sang boneka langsung menoleh cepat ke belakang. Ada keterkejutan dan ketakutan yang Reno tangkap di manik plastik milik boneka tersebut.
Tanpa berkata apa-apa, boneka itu pun langsung melomoat turun dari kasur dan berlari menuju kamar mandi.
Reno langsung mengejar boneka tadi secepat yang ia bisa.
Begitu melangkah masuk ke dalam kamar mandi, Reno sekilas menangkap pergerakan sosok boneka yang dilihatnya tadi, kini menghilang di balik kaca. Reno bergegas menuju tempat kaca berada dan menahan dinding di belakang nya yang ternyata adalah pintu rahasia menuju lorong panjang dan temaram.
Tanpa pikir panjang, Reno langsung melangkah kan kaki nya menapaki lorong tersebut. Tujuan nya hanya ada satu saat ini. Dan itu adalah menangkap boneka perempuan tadi untuk memastikan apakah itu adalah boneka yang menjadi media penjebak ruh Emma atau bukan?
'Kenapa dia lari? Apa itu berarti dia bukan lah Emma?! Aku harus menangkap nya! Mungkin saja boneka itu mengetahui di mana Emma ku berada saat ini!' batin Reno menetapkan keputusan nya.
Reno lalu terpeleset lantai yang kicin hingga terjatuh. Saat ia kembali berdiri, tak dilihatnya lagi sosok boneka tadi di depan nya.
Begitu Reno berada di titik di mana ia terakhir melihat sang boneka, ianpun tersadar bahwa ada dua lorong di sisi kanan dan juga kiri, yang harus dipilih nya kini.
Reno harus memilih pada lorong mana ia akan melanjutkan pengejaran nya.
Ia mencoba menajamkan pendengaran nya, dan ia pun menangkap suara klik-klak di sebelah kanan. Reno pun segera hendak melanjutkan laju nya lagi ke lorong di sebelah kanan. Namun sebuah teriakan tertangkap oleh telinga Reno.
Suara teriakan itu adalah milik Emma nya. Dan asalnya dari lorong di sebelah kiri.
"Emma?! Aku yakin, tadi itu teriakan Emma!" Gumam Reno terdengar mendesak.
Tanpa pikir panjang, Reno pun membalikkan arah laju nya. Kini ia berlari cepat melewati lorong di sebelah kiri.
Tak lama kemudian, Reno melihat sebuah pintu yang separuh nya terbuka. Kembali, ia mendengar suara jeritan terdengar dari kamar tersebut.
Merasa begitu dekat dengan tujuan nya, Reno pun menggegaskan laju lari nya. Setelah dirasanya telah semakin dekat, Reno melambatkan laju nya. Kemudian melangkah secara perlahan.
Pemuda itu masih bisa berpikir rasional untuk menyelidiki terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi di ruangan itu.
Sambil berjalan pelan, Reno mengeluarkan senjata utama nya dari dalam ransel, lalu menaruh nya di kantung jaket yang ia kenakan. Pemuda itu mulai bersiap-siap untuk menghadapi perseteruan yang mungkin akan pecah beberapa menit kemudian.
Flashback selesai.
"Reno? Kamu di sini?!" Tanya boneka perempuan berambut hitam yang kini berada dalam kurungan tangan milik Pak Adda.
Lelaki yang diketahui Reno sebagai pengurus halaman di Villa Grandhill ini kini menatap Reno denga pandnsgan garang.
"Kau akhirnya muncul juga, bocah! Rupa nya, kau mengenal nona kecil ini ya? Tunggu dulu. Biar ku tebak! Apa kau adalah pacar nya, hum?" Tanya Pak Adda kepada Reno.
"Lepaskan Emma sekarang juga!" Reno berteriak marah.
Dalam satu langkah cepat pemuda itu kini sudah memasuki ruang rahasia tersebut.
Reno menatap pilu ke arah boneka Emma.
'Ya ampun, Emm! Kenapa ini bisa terjadi sama kamu?!' Reno bergumam tanpa suara.
"Lalu apa? Kalian akan pergi dari villa ini begitu saja? Ck.ck.ck.. tentu sjaa aku tak bisa membiarkan itu terjadi, bocah! Sejak pertama kali kalian menginjakkan kaki di villa ini, saat itu juga kalian telah menyerahkan hidup mati nya kalian dalam genggaman ku! Camkan itu!" Hardik balik Pak Adda.
"Apa salah Emma kepadamu, Pak Adda? Apa salah nya sehingga kalian memperlakukan nya sehina ini?!" Tanya Reno dengan luapan emosi.
"Tentang itu, anggap saja. Pacar mu ini memiliki nasib yang bruik, Bocah! Memang sudah takdir nya lah untuk menjadi boneka arwah. Jadi, jangan terlalu menyalahkan ku. Oke?!" Ujar Pak Adda dengan fenang.
"Anda harus melepaskan Emma sekarang juga, Pak! Anda bisa dijerat pasal penculikan dan kejahatan penyiksaan!" Ancam Reno terdengar lemah.
"Hehehe.. kau ini bodoh atau memang hendak melucu sih, Bocah?! Mana ada polisi yang akan menindak ku karena telah menculik boneka? Lagipula, ini adalah boneka majikan ku. Dan ia bahkan tak lagi bisa mengatakan barang satu kata pun jua saat ini!" Ujar Pak Adda meledek ucapan Reno.
Reno sangat geram. Dikepalkan nya kedua tangan erat-erat. Mencoba memikirkan cara penyelesaian dari permasalahan yang sedang dihadapinya saat ini.
'Bagaimana aku bisa membebaskan Emma?! Dia berada dalam genggaman lelaki itu!' gumam Reno begitu kalut.
***