Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Chat dengan Reno



Tak ada perubahan ekspresi apapun yang bisa Emma tangkap dari wajah boneka Sella. Meski begitu, nada perhatian yang didengar Emma dalam ucapan Sella berikut nya perlahan menyadarkan gadis itu pada kondisi sebenar nya yang sedang ia hadapi saat ini.


"Kakak kenapa takut lagi lihat Sella? Apa salah Sella, Kak?" Tanya Sella dengan nada sedih.


Boneka Sella perlahan melompat turun dan mendekati Emma. Dan refleks, Emma pun ikut berjalan mundur menjauhi nya.


Boneka Sella pun berhenti melangkah lagi. Kepala nya lalu teleng ke kanan dan menengadah ke atas, menatap Emma.


"Kak Celia takut-takutin Kakak Cantik lagi ya?" Tebak Sella begitu tepat.


Perlahan, Emma mulai kembali tenang. Ia tahu kalau ia telah bersikap tak objektif terhadap boneka Sella.


Meski dia adalah boneka arwah, Sella adalah boneka arwah yang baik. Sejauh ini setiap sikap nya tak pernah menyakiti Emma. Sementara untuk Cello, Emma menilai boneka itu hanya agak jahil saja.


Meski begitu untuk arwah Celia yang gentayangan dan terus mengganggu Emma, gadis itu sudah bisa memastikan kalau hantu Celia adalah sosok arwah yang cukup jahat.


"Mm.. Sella?" Panggil Emma sambil duduk berjongkok di atas lantai.


Sella kembali mendekati Emma. Kali ini Emma tak lagi mundur saat didekati oleh boneka tersebut.


"Ya, Kak?" Sahut Sella.


"Sebenar nya, kenapa kamu bisa jadi boneka? Maksud kakak, sebelum nya kamu juga manusia kan? Apa yang sudah terjadi sampai membuat kamu jadi seperti sekarang?" Tanya Emma dengan kalimat beruntun.


"Huh? Sebenar nya..."


Pluk.


Boneka Sella tiba-tiba saja terjatuh ke atas lantai. Ia seperti kehilangan kesadaran layaknya manusia yang jatuh pingsan.


Emma terkejut dan sempat ternganga selama beberapa detik. Namun kemudian ia tersadar dan buru-buru meraih tubuh ringan boneka Sella dan mengguncang nya beberapa kali.


"Sell? Sella? Kamu kenapa?" Tanya Emma kebingungan.


Boneka Sella benar-benar kehilangan kesadaran nya dan tak bergerak lagi. Ia tampak seperti boneka biasa pada umum nya yang tak lagi diinangi oleh arwah manusia.


Merasa bingung, Emma membawa tubuh boneka Sella. Kemudian membaringkan nya di atas kasur. Gadis itu masih memperhatikan boneka Sella selama beberapa waktu.


Mengira kalau boneka tersebut bisa terbangun sewaktu-waktu.


Malam semakin larut. Dan Emma tersadar kalau ia belum shalat isya. Akhirnya ia pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi yang menyatu dalam kamar tidur nya. Untuk selanjut nya buang air kecil dan mengambil wudhu.


Emma kemudian shalat isya dengan hati yang tak khusyu.


Keberadaan boneka Sella yang tak bergerak di atas kasur nya telah menyita perhatian gadis itu.


Selesai shalat, Emma membuka ponsel nya. Ia lalu melihat beberapa pesan dari Reno yang masuk ke ponsel nya sejak maghrib tadi.


Dari Reno: Emm, aku tadi jenguk mama kamu. Kata nya kamu kerja lagi? Kamu kerja di mana, Emm? Kata Mama kamu, kamu kerja di luar kota?


Emma membaca ulang pesan dari Reno tersebut. Ia tak bisa memungkiri kalau perasaan senang tiba-tiba saja muncul di hati nya saat membaca pesan dari mantan kekasih nya itu.


"Iishkk.. Emma! Jangan baper deh! Dia itu mantan kamu, Emm! Dia memang baik. Tapi jangan lupain juga kalau dia itu pernah selingkuhin kamu sama Mei Chan!" Gumam Emma bermonolog.


Usai menegur diri nya sendiri, perasaan di hati Emma langsung berubah menjadi mendung gulita.


Awal nya Emma tak ingin membalas pesan dari Reno tersebut. Menurut nya akan lebih baik bila ia menjaga jarak dengan mantan kekasih nya itu.


Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin tak ada salah nya juga bila ia tetap berhubungan baik dengan Reno. Lelaki itu bisa ikut membantu nya memantau kondisi sang Mama. Begitu kira nya pemikiran Emma.


Dari Emma: hay, Ren. Iya. Aku sekarang kerja di luar kota. Maka nya aku gak bisa sering pulang jengukin Mama. Pingin nya sih aku selalu tahu kondisi Mama sesering mungkin...


Tak lama kemudian, dugaan Emma benar terbukti. Ini dikuatkan oleh masuk nya pesan dari Reno lagi ke ponsel nya.


Dari Reno: kamu tenang aja, Emm. Aku akan sering tengokin Mama kamu kok. Jadi kamu gak perlu khawatir ya!


'Yes!' Emma berseru girang tanpa suara.


Umpan nya berhasil dimakan Reno bulat-bulat. Sekarang, ia memiliki mata dan kuping tambahan untuk memantau kondisi sang Mama di rumah sakit.


"Mungkin sebaik nya aku meminta tolong Susi dan Inge juga? Siapa tahu mereka juga bisa membantu ku menengok Mama?" Gumam Emma kembali.


Zztt.. zzt..


Ponsel Emma kembali bergetar. Perhatian nya pun segera kembali ke layar TV ponsel nya. Dan ternyata pesan dari Reno kembali masuk dan tertampil di sana.


Dari Reno: Emm? Kamu ngebolehin aku tuk sering jengukin Mama kamu kan?


Tahu kalau Reno menunggu balasan dari nya, Emma pun bergegas mengetikkan balasan.


Dari Emma: iya, boleh kok, Ren. Justru aku makasih banget ke kamu karena mau luangin waktu kamu untuk nengokin Mama.


Dari Reno: it's okay. Nyantai aja, Emm. Buat kamu, apa sih yang enggak?


Dari Emma: mulai deh gombal!


Dari Reno: cuma ke kamu aja kok ngegombal nya..🥰


Dari Emma: basi ah. Gak tidur?


Dari Reno: baru selesai tulis laporan. Besok harus diserahin. Kamu sendiri gak tidur?


Dari Emma: baru bangun. Baru selesai shalat.


Dari Reno: wah. Rajin nya Emma ku.. shalat tahajjud? Aku isya aja belum.


Emma tak sadar kalau ia tersenyum saat membaca pesan dari Reno tersebut. Gadis itu memutuskan untuk tak menjawab pertanyaan Reno tersebut.


'Biarlah dia sangka aku shalat tahajjud! Hihihi' kekeh Emma dalam hati.


Dari Emma: ya udah sana shalat dulu! Kalau tidur dulu, nanti malah kebablasan lagi!


Dari Reno: siap milady! Kamu juga tidur deh ya. Besok kerja lagi kan? Have a sweet dream, Emm..


Dari Emma: 🥱🥱


Dari Reno: 🤒💙 padamu..


"Huh? Apaan sih maksud nya ini? Reno suka gak jelas deh kalau ngirim gambar emotikon!" Gerutu Emma usai membaca pesan terakhir dari Reno.


Antara penasaran dan ingin menyudahi berbalas pesan, pada akhirnya Emma kembali menanyakan maksud dari pesan Reno tersebut.


Dari Emma: maksud nya apa sih, Ren? Gak jelas banget!


Lama menunggu balasan dari Reno yang tak kunjung tiba, pada akhirnya Emma jatuh tertidur di atas kasur nya. Layar chat nya dengan Reno masih tertampil di layar ponsel. Sementara si empunya gawai telah kembali lelap tertidur.


Kali ini, Emma tak memimpikan apapun lagi.


***