Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Terbangun



Di saat Emma merasa was was kalau buah pengingat nya akan dirampas oleh orang-orang di sekitar air terjun, ia mendengar sebuah suara di belakang nya. Suara yang sangat ia kenal.


"Akhirnya kau datang juga!" Teriak suara tak jauh di belakang Emma.


Seketika Emma berbalik. Dan terkejut setengah mati saat mendapati hantu Celia yang tiba-tiba muncul dari batang pohon rindang di tepi sungai.


Penampakan hantu Celia yang pucat menyeramkan membuat barisan orang di depan air terjun langsung berlari ketakutan.


"Hantu!! Huaaa!!" Teriak orang-orang sambil kalang kabut berlarian.


Emma pun tak membuang waktu. Ia segera berlari menuju air terjun. Berharap langkah nya bisa sempat melewati air terjun itu sebelum hantu Celia meraih nya.


Emma sedikit kesulitan untuk berlari di atas sungai yang mengalir. Beberapa kali ia hampir terpeleset dan tercebur. Namun keseimbangan nya selalu berhasil ia pertahankan.


"Kau tak akan bisa bebas dari ku, Kakak! Hi..hi..hi..hi..hi.." tawa hantu Celia melengking tinggi.


Semakin banyak orang yang berlari menjauhi area sungai. Tak ada yang ingin terkena imbas dan berurusan dengan hantu menyeramkan tersebut.


Jantung Emma ikut berpacu bersamaan dengan laju lari nga yang menggebu-gebu.


"Hah! Hah! Hah!" Emma tak bisa mengatur aliran napas nya yang juga ikut memburu.


Jarak nya kini dengan air terjun pelupa hanya berkisar beberapa langkah kaki lagi saja. Emma pun sambil berlari sambil mengeluarkan buah keemasan dari dalam kaos nya.


"Berhenti!" Titah hantu Celia terdengar semakin dekat.


Emma spontan menoleh ke belakang dan terperanjat ngeri saat melihat tangan hitam dengan cakar panjang milik hantu perempuan itu terjulur memanjang ke arah nya.


Emma bergegas memacu lari nya lagi. Akan tetapi karena pandangan nya sempat beralih ke belakang, Emma akhirnya terjatuh ke dalam aliran sungai.


Byur!!


Tanpa pikir panjang, Emma kembali bangkit dan berlari lagi. Namun ia terkejut saat mendapati buah pengingat tak lagi berada di tangan nya.


Emma lalu melihat buah itu ternyata ikut terjatuh saat ia tersungkur ke dalam sungai tadi. Dilema antara harus mengambil buah pengingat itu ataukah langsung berlari menuju air terjun, pilihan Emma akhirnya jatuh pada pilihan kedua.


Gadis itu pun akhirnya meninggalkan buah pengingat yang telah susah payah ia dapatkan dan menerobos air terjun pelupa segera. Tujuan nya saat itu hanya satu, yakni menjauh bebas dari sosok hantu Celia di belakang nya.


***


Emma tersentak bangun dengan keringat yang membanjir di atas dahi.


Gadis itu menatap bingung pada ruangan gelap tempat nya berada saat ini. Pandangan nya lalu tertuju pada layar tivi yang masih menyala. Menampilkan tayangan movie premier di salah satu stasiun tivi swasta.


Movie nya tepat menampilkan wajah hantu menyeramkan yang bersimbah darah. Melihat itu, Emma buru-buru meraih remot tivi dan menekan tombol mati.


Klik.


Kini, ruangan tivi pun menjadi gelap sempurna. Dnegan jantung Emma yang berpacu kencang tanpa bisa ia mengerti sebab nya kenapa.


"Aku barusan mimpi apa ya? Kayak nya kaki ngerasa pegal banget," gumam Emma dalam gelap nya ruangan.


Di saat Emma masih mencoba mengingat-ingat mimpi yang ia alami tadi. Tiba-tiba saja lampu di ruangan tivi berkedap-kedip dengan sendiri nya.


Gadis Itu seperti nya tahu kalau hantu Celia mungkin berada dekat dengan nya di ruangan tivi. Sehingga kejadian ganjil lampu yang berkedip-kedip sendiri itu pun bisa terjadi.


'Syaahhhh....' Suara desa han kembali terdengar.


Spontan saja bulu kuduk Emma berdiri sepenuh nya.


Gadis itu langsung berlari menuju kamar nya. Ia tak lupa untuk membaca bismillah saat menutup pintu kamar nya kali ini. Itu aadalah anjuran dari sang Mama yang tiba-tiba saja diingat oleh Emma.


'Selalu sertai basmalah dalam melakukan segala sesuatu, Emm.dengan begitu, kamu akan selalu dalam perlindungan Allah Swt.!' begitu nasihat Retno kepada nya dulu.


Usia menutup pintu dan mengunci nya, Emma langsung berlari dan melompat ke atas kasur. Dipeluknya guling di atas kasur erat-erat. Berharap guling tersebut dapat menjadi teman penguat nya saat melalui masa-masa horor seperti saat ini.


"A'udzu bi kalimaatil laahit taaammaaati min syarri maa kholaq!" Emma merapalkan satu-satu nya doa yang ia ingat untuk perlindungan diri.


Sementara itu kedua mata nya menatap nyalang ke arah pintu yang telah ia kunci.


'Syaahhhhh..' suara desa han hantu Celia kembali terdengar di luar kamar.


Jantung Emma seketika melompat rasa nya. Ia mempercepat rapalan doa di mulut nya. Berharap ucapan basmallah nya tadi sebelum memasuki kamar bisa menahan hantu Celia dari memasuki kamar nya.


Dan, sepertinya harapan Emma pun terkabul.


Suara desa han hantu Celia memang masih terdengar beberapa kali lagi. Akan tetapi suara itu seperti tertahan did epan pintu Emma.


"Ya Allah! Tolong lindungi aku! Jangan biarkan hantu itu berhasil masuk ke kamar ku! Aku masih mau menemui Mama hidup-hidup!" Doa Emma terucap lirih.


Perlahan suara desa han hantu Celia menjauh dan tak lagi terdengar.


Emma pun perlahan bisa menghela napas lega. Dipeluknya guling semakin erat. Isak tangis pun berhasil lolos dan keluar dari mulut Emma.


Tapi itu tak berlangsung lama. Karena gadis itu menyadari tak ada guna nya juga ia menangisi nasib nya kini. Toh Emma sudah membuat keputusan untuk bekerja di villa Grandhill ini. Jadi ia harus siap pula dengan konsekuensi keberadaan para hantu yang harus ia hadapi.


"Ma, Emma rindu Mama.." lirih Emma sambil memeluk guling.


Tak lama kemudian, ada suara lain di samping Emma yang menyahuti ucapan gadis muda tersebut.


"Kakak Cantik juga punya Mama?" Tanya suara melengking tepat di samping kanan Emma.


"Aarrghh!!" Emma berteriak kencang.


Gadis itu terperanjat kaget dan langsung melompat turun dari atas kasur dengan masih memeluk guling di tangan nya.


Mata nya sempat membulat karena rasa takut bila suara yang menyahuti nya di samping tadi itu adalah milik hantu Celia. Namun syukurlah ternyata bukan sosok hantu Celia yang ia lihat di hadapan nya kini.


Boneka Sella duduk di dekat bantal Emma sambil menatap gadis itu dengan mata nya yang terbuka abadi.


Seulas senyum tipis yang senantiasa tersungging di wajah cantik boneka itu pun membuat Emma kembali bergidik ngeri.


Entah karena ia yang baru saja menghadapi kehororan hantu Celia, hingga Emma pun kembali menganggap bahwa boneka Sella pun sama menyeramkan nya saat ia berdiri bangun dengan sendiri nya.


***