Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Cello Marah



Keesokan pagi nya, Emma terbangun tiba-tiba. Hari masih gelap saat Emma merasa pipi nya ditowel oleh seseorang.


"Kakak, Kakak cantik?" Panggil sebuah suara yang tak asing di telinga Emma.


Emma pun perlahan membuka kedua mata nya. Dan ia langsung terkejut manakala wajah nya berhadapan sangat dekat dengan wajah menyeringai milik boneka Cello.


Tak pelak, Emma pun langsung berteriak kaget.


"Aaargghh!!" Jerit Emma cukup kencang.


Emma langsung berdiri dari atas kasur, meraih ponsel yang berada di dekat kaki nya. Lalu siap melemparkan ponsel tersebut ke arah boneka Cello yang dianggapnya sebagai ancaman.


Namun niat hya itu langsung diurungkan oleh Emma. Saat kesadaran nya kembali secara perlahan.


"Ya ampun. cello! Kamu ngagetin aja! Itu kenapa muka kamu belepotan gitu? Kamu habis main lumpur ya di luar?!" Tanya Emma kemudian sambil berjongkok di atas kasur tepat di depan Cello.


"Habis nya kamar kakak pintu nya dikunci lagi. Cello kan jadi nya harus panjat pohon lagi. Di luar kan lagi becek habis hujan. Dan Sella juga gak ada. Jadi nya Cello berkali-kali jatuh ke kubangan lumpur! Pas Cello masuk ke sini lewat jendela, ternyata Sella malah asik tidur sama Kakak. Curang banget sih!" Ucap Cello yang kesal. Meski wajah nya tetap terlihat menyeringai.


Emma tanpa sadar kembali bergidik. Ia tak bisa menjelaskan penyebab rasa tak nyaman nya setiap kali ia harus berhadapan dengan boneka Cello.


Tak seperti boneka Sella, kepada boneka Cello, Emma selalu memiliki perasaan takut. Padahal sejauh ini Cello cukup bersikap baik kepada nya. Walau pun boneka itu ada jahil nya juga sih.


'Apa mungkin aku masih merasa trauma dengan pengalaman pertemuan pertama kami dulu ya? Karena saat itu Cello kan membawa pisau di tangan nya, bahkan sampai tak sengaja membuat lengan ku terluka?' Emma sibuk berpikir dalam hati.


"Kakak? Hey, Kakak Cantik! Kok malah bengong sih? Jadi sebal deh. Dan itu kenapa Sella nya pulas tidur kak? Memang nya semalam kalian main apa? Curang! Cello gak diajak main!" Dumel Cello kembali, dengan wajah yang juga masih menyeringai lebar.


Emma buru-buru menepis rasa tak nyaman yang mengendap di hati nya saat berhadapan dengan boneka Cello.


Dengan perlahan gadis tersebut meraih tubuh Cello dan membawa nya ke atas pangkuan nya.


"Maaf ya, semalam Kakak ketiduran. Dan soal pintu kamar yang terkunci, Kakak minta maaf juga deh. Habis nya, Kakak kamu yang satu itu tuh," ungkap Emma sejujurnya.


"Kak Celia, maksud nya ya, Kak?" Tebak Cello.


"Iya. Dia. Semalam dia jahilin kakak lagi. Kan kakak jadi takut, Cell!" Seru Emma sambil mengerucutkan hidung. Pertanda ia cukup dibuat kesal oleh tingkah hantu Celia semalam tadi.


"Kak Celia kan suka sama Kakak. Jadi mau ikut main juga kali.." tebak Cello mengira-ngira.


"Kamu tahu dari mana?" Tanya Emma tak percaya.


"Tahu ajalah, Kak.. terus, Sella kok bisa tiduran sama Kakak sih di sini?" Tuntut Cello sambil melirik ke arah boneka Sella yang tak jua menunjukkan aktivitas gerak.


"Soal Sella, Kakak sendiri gak tahu kalau Sella main ke kamar Kakak. Kakak jadi penasaran, kamu menang nya ke mana semalam tadi, Cell? Bukan nya biasanya kamu sama Sella selalu bareng ya ke mana-mana?" Tanya Emma penasaran.


"Cello masih tidur, Kak. Pas Cello bangun, Sella udah gak ada. Jadi Cello cariin Sella ke mana-mana. Karena Cello pikir Sella main sama Kakak Cantik, jadi Cello pergi deh ke kamar Kakak. Tapi pintu nya malah dikunci. Jadi nya.."


Emma buru-buru memotong ucapan Cello.


"Oke. Oke. Kakak udah tahu kelanjutan nya. Kamu berusaha manjat pohon sendirian untuk bisa masuk lewat jendela kamar kakak, kan, Cell?" Tanya Emma dengan raut serius.


Boneka Cello menganggukkan kepala nya sekali. Pertanda mengiyakan ucapan Emma barusan.


Emma mengernyit nyeri saat Cello tiba-tiba saja berdiri di atas pangkuan nya sambil menunjuk hidung nya dengan jari mungil boneka tersebut.


Tunjukan jari boneka Cello tadi cukup keras dan hampir mengenai mata kiri Emma.


"Duh! Hati-hati dong, Cell! Hampir kena mata Kakak kan tadi!" Emma menegur Cello.


"Pokok nya Kakak Cantik harus janji dulu ke Cello! Selalu ajak main Cello, kalau Kakak main sama Sella!" Boneka Cello kembali menagih janji pada Emma.


Emma dilanda perasaan geli ingin tertawa sekaligus juga jerih dengan sikap Cello yang sedikit bossy tersebut.


'Kecil-kecil, suka banget kasih perintah! Dasar boneka setan!' umpat Emma dalam hati.


"Iya deh, iya. Eh, tapi semalam itu Kakak gak main kok sama Sella!" Papar Emma menerangkan sejujur nya.


"Kakak Cantik jangan bohong! Bohong itu dosa tahu!" Tuding boneka Cello berlagak menggurui.


"Ehh, kakak Cantik gak bohong ya, Cell! Kami memang semalam cuma ngobrol-ngobrol aja kok! Gak main apa-apa!" Jelas Emma kembali dengan bersungguh-sungguh.


"Cuma ngobrol aja?" Tanya boneka Cello mengulang.


"Iya!" Jawab Emma dengan tatapan meyakinkan.


"Tapi kok Sella sampai ketiduran gitu sih? Kayak nya dia capek banget! Jangan bohong deh, Kak!" Tukas Cello tak percaya.


Merasa gemas, Emma pun menarik pelan kuping kiri Cello hingga kepala sang boneka sempat teleng ke kiri.


"Aduh! Kakak Cantik! Cello gak suka Kakak Cantik!" Cello menepis tangan Emma yang tadi sempat menarik kuping nya.


Boneka lelaki tersebut lalu sigap turun dari atas pangkuan Emma ke atas kasur tepat di dekat boneka saudara nya, boneka Sella.


"Ya ampun, Cell. Kamu ngambekan banget sih. Habis nya kamu juga ngeyel dibilangin nya! Kakak cantik jujur lho bilang kalau Kakak dan Sella memang gak main apa-apa semalam tadi. Tapi kamu nya malah gak percaya! Kakak kan jadi kesal, Cell!" Ujar Emma menjelaskan.


"Gak mau! Cello mau ke kamar aja deh! Cello gak mau sama Kakak Cantik! Kakak Cantik tukang bohong!" Tuding Cello yang kemudian langsung berbalik dan melompat turun dari atas kasur.


Boneka Cello lalu berjalan dengan suara 'Klik. Klak' khas nya menuju pintu. Namun begitu ia sudah sampai di depan pintu, boneka Cello tiba-tiba saja berhenti dan diam cukup lama.


Emma memandang bingung pada boneka lelaki tersebut. Sampai ketika boneka Cello tiba-tiba saja melompat-lompat beberapa kali. Sementara tangan nya ia gapai kan ke atas untuk bisa meraih gagang pintu yang tinggi nya mencapai dua kali lipat tubuh boneka tersebut.


Emma langsung mengatupkan rahang nya rapat-rapat. Karena ia menangkap penampakan komedi dalam apa yang ia saksikan saat ini.


Jika gadis tersebut tertawa lepas saat itu juga, sudah tentu boneka Cello akan semakin marah kepada nya.


Tak berselang lama kemudian, boneka Cello tiba-tiba saja berbalik dan mengucapkan sesuatu yang spontan ingin membuat Emma tergelak dalam tawa. Beginilah ucapan boneka Cello tersebut.


"Kakak Cantik. Buka pintu nya dong! Cello mana bisa buka pintu sendirian? Cello kan masih kecil!" Jerit Cello dengan suara melengking tinggi.


'hahaha! Boneka nyeremin ini ternyata kocak juga ya!' Emma tergelak dalam hati.


***