
"Emma.. sebenarnya aku.."
Ucapan Susi terpotong saat mereka disilaukan oleh sebuah cahaya lampu sen dari sebuah motor yang datang mendekati mereka dari arah depan.
Emma menoleh dan melihat saat ada sebuah motor yang melintas melewati nya. Jantung nya serasa melompat saat motor tersebut berhenti tak jauh dari nya.
Tanpa pikir panjang, Emma langsung bangkit berdiri dan melanjutkan laju lari nya kembali ke arah tujuan nya yang semula.
Tujuan Emma saat ini hanyalah untuk menghindari pengendara motor tadi sejauh mungkin. Ia tak mau ambil risiko harus tertangkap lagi dan disekap dalam ruang rahasia di villa Grandhill itu.
Setelah beberapa lama berlari, Emma kemudian tersadar kalau Susi tak ada di depan nya. Gadis itu lalu menoleh ke belakang dan ia dibuat heran karena Susi pun tak berada di belakang nya.
Tadi nya ia pikir Susi juga ikut berlari bersama nya.
"Apa Susi ditangkap orang tadi?!" Emma menyuarakan prasangka nya.
Seketika itu pula langkah Emma berhenti. Ia menatap ke arah tempat Susi berdiri tadi. Dan ia tak mendapati Susi ada di sana pula.
Sementara itu dilihat nya pengendara motor tadi kini telah berbalik dan melaju ke arah Emma. Merasa bingung sekaligus takut. Akhirnya Emma memutuskan untuk kembali melarikan diri.
Ia tahu usahanya itu bernilai percuma. Karena yang ia lawan adalah mesin beroda yang bisa berpacu hingga kecepatan 120 km/jam jauh nya.
Tapi Emma tak ingin mengalah pada takdir. Dalam prinsip nya, ia harus terus berjuang hingga garis akhir.
Sampai akhirnya motor itu kembali melewati Emma dan berhenti. Emma langsung membelokkan arah larinya menerobos barisan pohon di pinggir jalanan. Ia memutuskan untuk mengejar kebebasan nya melewati rerimbunan pohon di depan nya.
Tapi belum sempat Emma berjalan jauh, saat indera nya menangkap suara panggilan di belakang nya. Suara itu adalah milik seorang pria yang sangat dikenal baik oleh Emma.
"Emma, ini aku! Reno!" Panggil Reno sambil mengatakan identitas dirinya.
Emma langsung berhenti dan menengok ke belakang. Dan ternyata benar.
Memang Reno lah lelaki yang saat ini berlari mendekati Emma. Ternyata dia adalah pengendara motor yang tadi berhenti di tempat gadis itu beristirahat tadi.
"Reno!" Emma langsung berbalik dan berlari ke arah Reno.
Tanpa sadar, gadis itu langsung memeluk Reno erat-erat begitu ia sudah berdiri di hadapan nya. Dan Reno pun menyambut pelukan Emma sambil memeluk pinggang wanita yang dicintai nya itu erat-erat.
Setelah beberapa lama berpelukan, Emma tersadar. Dengan wajah yang merah padam, gadis itu langsung melepas pelukan nya pada leher Reno.
"Sorry! Aku gak sengaja.. tadi itu.."
Emma tak tahu harus mengatakan apa lagi. Pikiran nya terlalu dipenuhi oleh rasa malu yang kian menjadi. Terutama saat dilihat nya Reno tersenyum lebar menatap nya. Dengan kedua tangan pemuda itu yang masih melingkari pinggang ramping nya.
"It's okay, Emm.. nyantai aja. Aku gak akan nolak pelukan mu kok!" Sahut Reno dengan seringai lebar.
Merasa jengah sekaligus kesal dengan ketengilan Reno, Emma pun spontan mencubit dada pemuda itu. Hingga Reno mengaduh dan melepaskan lingkaran tangan nya di pinggang Emma.
"Aduh! Sakit Emm!" Keluh Reno berpura-pura kesakitan.
Emma mengacuhkan aksi pemuda itu. Pikiran nya langsung teringat sesuatu.
Emma pun langsung menoleh ke belakang Reno. Kepala nya melongok ke sana kemari sehingga membuat Reno menjadi bingung melihat nya.
"Kamu kenapa, Emm? Kamu nyari sesuatu?" Tanya Reno tiba-tiba.
"Susi? Aku gak lihat kamu sama siapapun kok tadi," sahut Reno dengan raut bingung.
"Iya! Tadi tuh kita lari bareng dari villa. Dia yang udah nyelametin aku ke gudang tempat aku disekap berhari-hari ini, Ren! Jangan-jangan dia berhasil ditangkap sama mereka lagi!" Emma menjeritkan kata terakhirnya itu dengan penuh rasa khawatir.
"Kita harus balik ke sana, Ren! Kita harus tolong Susi! Mereka itu gila Ren! Jangan sampai Susi juga dijadiin tumbal buat anak nya Bi Hara!" Ujar Emma terdengar mendesak.
"Tunggu sebentar, Emm! Aku mau tanya sesuatu dulu. Maksud kamu Susi itu, Susi teman SMA kita bukan sih?" Tanya Reno tiba-tiba.
"Iya, Susi Malaiholo! Masa kamu lupa sih? Dia kan saingan kamu dapatin juara umum waktu dulu!" Terang Emma dengan nada masih panik.
"Susi yang itu kan ya. Yang sempat pasang behel dan diledek kayak Betty Lafea itu kan, Emm?" Tanya Reno memastikan lagi.
"Iya! Ayo Ren! Cepetan kita tolong Susi! Kasihan dia kalau sampai ketangkap sama orang-orang jahat itu lagi!" Cecar Emma masih dengan nada panik.
"Emma! Please dengerin aku! Kamu tenang dulu tapi nya!" Reno menahan kedua bahu Emma untuk tidak berlari ke arah mereka datang tadi.
"Apalagi sih, Ren?! Kita harus cepat selamatkan Susi! Kamu ngerti gak sih situasinya udah darurat banget ini!" Cecar Emma mulai terdengar sengit.
"No, please! Kamu dengarkan aku dulu, Emm! Ini soal Susi, yang aku tahu! Jadi please kamu tenang dulu, dan dengarkan aku baik-baik!" Reno tak kalah sengit membalas ucapan Emma.
"Oke. Aku tenang! Memang nya apa yang mau kamu omongin sih, Ren?! Cepetan! Dan janji! Habis ini, kita tolongin Susi ya!" Emma mengajukan syarat nya.
"Soal itu, kayak nya gak ada yang bisa kita lakuin deh, Emm untuk menolong Susi," ucap Reno dengan tatapan yang tiba-tiba menjadi teduh.
Kedua mata Emma langsung mengeras. Di tepisnya pegangan Reno pada kedua bahu nya dengan sentakan keras.
"Pengecut kamu, Ren! Kalau kamu gak mau nolongin Susi, fine! Aku akan menolong Susi sendiri!" Sahut Emma berapi-api.
Emma oun langsung berbalik dan berjalan cepat menuju arah datang nya tadi. Hati nya merasa kesal sekaligus kecewa saat mendengar jawaban Reno sesaat tadi.
Tega benar Reno karena ia mau mengabaikan Susi yang jelas-jelas membutuhkan pertolongan mereka saat ini. Padahal jika ia mau, mereka mungkin masih sempat untuk menyelamatkan Susi saat ini.
"Emm! Tunggu sebentar! Aku belum selesai ngomong!" Panggil Reno di belakang Emma.
"No! Buat ku, kamu udah selesai ngomong, Ren! Sana pulang! Dan jangan temuin aku lagi! Aku sudah cukup tahu betapa pengecutnya kamu, Ren!" Cecar Emma tanpa membalikkan pandangan.
Gadis itu terus melangkah cepat menuju villa kembali tanpa menghiraukan panggilan Reno di belakang nya lagi.
"Emm! Emma! Kamu harus dengar omongan ku dulu! Ini soal Susi! Kita gak bisa buat apa-apa lagi soal Susi, Emm, soal nya.."
Ucapan Reno langsung dipotong oleh Emma yang kesal mendengar ucapan nya itu.
Tahu-tahu Emma telah berbalik dan menuding Reno tepat di bagian dada dengan jari telunjuk nya.
"Jangan sampai aku dengar kamu ngomong kayak gitu lagi soal Susi, Ren! Aku akan nyelamatin Susi! Dan aku gak perlu bantuan kamu sama sekali!" Cecar Emma dengan tatapan sengit.
Gadis itu hendak kembali berbalik dan melanjutkan langkah nya lagi. Namun ucapan berikutnya yang keluar dari mulut Reno sontak menghentikan langkah Emma.
"Tapi, Emm. Susi kan lagi koma di rumah nya! Aku gak ngerti sama ucapan kamu tentang nyelamatin dia dari mereka. Mereka siapa sih maksud kamu?!" Ucap Reno setengah berteriak.
***