
"Celia itu, siapa ya, Sell? Memang nya.. dia sekarang ada di sini?" Tanya Emma takut-takut.
Sepanjang Emma bertanya, lampu dalam ruangan masih terus berkedap-kedip.
"Kak Celia itu kakak aku dan juga Cello, Kak. Iya. Kak Celia ada di sini. Itu pas banget lagi duduk di samping Kakak Cantik!" Sella menunjuk ke sofa kosong di sisi kiri Emma.
Mendengar ucapan Sella, seketika itu pula jantung Emma berdegup kian kencang. Pasal nya lewat sudut ekor mata nya, tiba-tiba saja Emma menangkap kemunculan sosok anak perempuan seumuran SMP sedang duduk diam dengan kepala yang menunduk.
Anak perempuan tersebut memakai gaun sepanjang betis berwarna putih gading. Dengan rambut yang tergerai sepanjang bahu menutupi wajah nya dari pandangan Emma.
Dengan ketakutan yang terasa nyata, Emma berusaha beringsut menjauh dari sosok perempuan tersebut. Karena Emma jelas menyadari kalau anak perempuan itu adalah makhluk yang tadi telah meneror nya dari kolong kasur.
Emma sangat yakin atas hal itu.
Miris nya, makhluk jejadian tersebut malah ikut bergeser pelan mendekati Emma. Sehingga Emma kembali bergeser menjauh. Dan makhluk itu lagi-lagi kembali bergeser mendekat.
Kejadian ini terus berulang beberapa kali. Hingga Emma akhirnya sudah duduk di bagian paling pinggir dari sofa panjang tersebut.
Jarak nya dengan makhluk halus itu hanya sekitar dua jengkal lengan saja. Sehingga Emma semakin bergidik ketakutan kala makhluk itu masih terus bergeser untuk memperpendek jarak duduk di antara keduanya.
Jantung Emma sudah berpacu begitu cepat hingga Emma bisa merasakan sesak di dada nya.
Sekujur tubuh Emma pun mulai mengeluarkan keringat dingin. Hingga kini kedua tangan nya terasa basah saat ia menyentuh tangan nya sendiri.
Boneka Sella masih berada di pangkuan Emma. Sehingga gadis itu tak bisa begitu saja bangun dan lari ke dalam kamar.
Terpikirkan sebuah ide, Emma pun kemudian meletakkan boneka Sella di antara sofa kosong yang menjadi jarak di antara dirinya dengan sang hantu.
Akan tetapi, kejadian berikutnya sungguh mengejutkan Emma. Karens tiba-tiba saja sosok hantu perempuan itu menghilang begitu saja.
Emma pun langsung menghela napas lega. Meski itu tak berlangsung lama. Karena pada detik berikut nya, Emma dikejutkan oleh tepukan halus pada bahu kanan nya.
Gadis itu pun spontan menoleh ke kanan.
Dan di sanalah sang hantu berdiri. Dengan kedua mata berwarna merah, dengan mulut yang lebih menyerupai lubang hitam yang menyeramkan, hantu itu berhasil membuat Emma melepaskan jeritan nya yang paling kencang.
"AAARRGGHHH!!" Jerit Emma tak tertahankan.
Sosok hantu tersebut lalu mendekatkan wajah nya ke wajah Emma. Emma sebenarnya ingin segera berlari menjauh dari hantu tersebut. Akan tetapi kejadian aneh kembali ia alami.
Emma merasakan tubuh nya kaku tak bisa digerakkan. Seolah-olah ada tali tak terlihat yang telah mengikat tubuh, tangan serta kaki nya untuk tetap berada di sofa tempat ia berpijak kini.
Dengan kengerian yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Emma hanya bisa menyaksikan detik-detik ketika mulut hantu tersebut membuka lebar. Dan Emma seolah bisa melihat kegelapan yang maha gelap dari mulut yang kian membuka lebar tersebut.
Emma tak lagi bisa mendengar suara kikikan boneka Cello di dekat nya. Ataupun juga suara boneka Sella yang memanggil nama nya berkali-kali.
Yang Emma lihat saat ini hanyalah kegelapan dan kengerian yang tak berakhir.
Terlebih ketika Sang hantu terus mendekatkan wajah nya ke wajah Emma.
Gadis itu lalu mulai mencium aroma bunga kantil. Bunga yang disenangi oleh para kaum lelembut.
Aroma bunga tersebut keluar dari mulut sang hantu perempuan. Dan Emma seperti terhipnotis hingga ia tak lagi bisa mengendalikan suara nya lagi.
Mulut Emma tanpa sadar ikut membuka lebar. Dan ia tak bisa menutup nya sekehendak hati. Dari sudut mata nya Emma mengeluarkan air mata yang mengucur tak berhenti. Sementara wajah sang hantu kian mendekati wajah nya lagi.
Emma pun pasrah dengan apapun yang akan ia alami nanti. Pikiran menyerah itu hampir menguasai Emma jika saja ia tak teringat pada sosok renta sang ibunda yang kini sedang berjuang dan menunggu kepulangan nya di rumah sakit.
'Mama! Emma.. Emma gak bisa menyerah! Apa yang harus kulakukan, Ya Allah?!' tanya batin Emma dalam monolog nya.
Kemudian, secara tiba-tiba, Emma bisa mengendalikan tubuh nya lagi.
Ia pun mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya berdiri dan keluar dari ruangan tivi tersebut.
Emma terkejut hingga langkah nya sempat terhenti beberapa saat.
'Apa tadi, boneka Sella lah yang sudah menolong ku?!' tanya Emma dalam hati.
Emma lalu memutuskan untuk berhenti dan mendengarkan pergumulan di antara boneka Sella dan sosok hantu perempuan itu.
"Jangan begitu kak Celia! Jangan sakiti kakak Cantik!" Ucap Sella menghalangi keinginan sang hantu.
Entah apapun keinginan nya itu. Yang pasti, Emma sudah pasti tak akan menyukai nya.
Sang hantu tak menyahuti ucapan Sella. Akan tetapi sepertinya ia telah mengatakan sesuatu yang tak bisa didengar oleh Emma. Karena pada detik berikutnya, boneka Sella kembali bicara.
"Enggak! Pokoknya Sella gak mau! Nanti Sella bilang ke Mama lho!" Ancam sang boneka perempuan.
Di dekat mereka, boneka Cello terus terkikik menyaksikan saudari nya bergumul dengan sang hantu.
Melihat Cello, Emma jadi kesal sendiri. Bisa-bisa nya boneka lelaki itu senang melihat orang lain, ehh, setan lain bertengkar!
Tak lama kemudian, sosok hantu perempuan pun menghilang tiba-tiba. Dan lampu dalam ruangan tivi itu pun kembali normal dan tak berkedap kedip lagi.
Dengan ragu, Emma melangkah kembali memasuki ruangan tivi. Dalam jarak yang terbilang tak jauh sekaligus juga tak terlalu dekat, Emma pun melontarkan rasa penasaran nya kepada boneka Sella.
"Siapa itu tadi, Sell? Apa mau nya dari Kakak?" Tanya Emma dengan suara yang nyaris seperti lirihan pelan.
"Tadi itu kak Celia, Kak.. dia pingin.."
Ucapan Sella menggantung. Saat tiba-tiba saja terdengar suara wanita yang menyapa Emma dari belakang.
"Neng Emma? Ada apa? Tadi saya seperti mendengar suara Neng menjerit?" Tanya Bibi Hara dari dekat pintu masuk ruangan itu.
Seketika itu pula Emma berbalik dan menjawab.
"I..iya, Bi. Maaf. Tadi Emma lagi.. lagi..main sama anak-anak, Bi!" Seru Emma berdusta.
"Ooh.. begitu.. hmm.. apa Neng Emma mau cemilan? Bibi menyimpan keripik singkong. Jika Neng mau, Bibi akan mengambilkan nya.." Bi Hara menawarkan cemilan.
"Ee.. boleh, Bi. Terima kasih.." ucap Emma dengan senyum malu-malu.
Tiba-tiba Emma teringat sesuatu.
"Maaf Bi. Apa ada cemilan juga untuk anak-anak? Takut mereka juga kelaparan. Ya kan, anak-anak?" Tanga Emma sambil menoleh ke belakang.
Tak ada sahutan dari boneka Sella dan Cello. Sehingga Emma pun kembali bertanya pada kedua boneka arwah tersebut.
"Anak-anak, apa kalian mau cemilan juga?" Tanya Emma kembali.
Akan tetapi lagi-lagi keheningan lah yang menjawab pertanyaan Emma.
Emma kebingungan. Terlebih saat ia menyadari kalau kedua boneka arwah yang ada di sofa dan di atas lantai itu seperti tak bergerak. Mereka mirip seperti boneka biasa lain nya yang tak diinangi oleh arwah.
"Kenapa kalian tiba-tiba diam begitu?" Tanya Emma dengan suara pelan.
"Tak apa-apa, Neng. Mereka memang biasanya begitu kan? Jarang-jarang mereka bicara. Baiklah. Nanti Bibi akan mengambilkan cemilan untuk Neng Emma dan juga aden dan Nona kecil," tutur Bi Hara sambil berlalu dari ruangan tersebut.
Tinggallah Emma yang terlihat bingung, karena lama setelah Bibi Hara berlalu, dua boneka Sella dan cello itu masih juga diam tak bersuara.
Mereka seolah telah kembali menjelma menjadi boneka biasa pada umum nya.
***