Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Boneka Emma



"Ahahahaha!!" Emma spontan terbahak- bahak. Dan itu langsung membuat nya dihadiahi tatapan tajam dari Susi.


Gadis itu sungguh tak bisa membayangkan kejadian yamg dialami Susi itu di benak nya.


Maksud hati ingin menjahili sang kakak, malah diri sendiri yang lari terbirit-birit!


"Lagian kamu nya juga sih jahil! Coba kalau kamu gak jahil, bisa jadi itu ayat kursi malah bikin kamu keenakan pas dibacain," tuding Emma.


"Keenakan gimana sih maksud nya?" Tanya Susi terlihat bingung.


"Ya keenakan. Berasa langung ada kursi empuk yang muncul tiba-tiba di belakang kamu gitu, Sus. Tring! Terus kamu duduk lama deh di kursi empuk itu. Keenakan kan jadi nya?" Seloroh Emma asal.


"Ngece kamu, Emm! Suka banget deh ngeledek!" Cibir Susi yang sedikit kesal dengan gurauan Emma.


"Hihihi.. kayak kamu sendiri gak suka ngeledekin aku aja, Sus.. Sus.." balas Emma tak mau kalah.


"Yaudah! Kalau gitu aku pergi aja deh!" Susi berpura-pura hendak pergi.


Saat itu lah cengiran di wajah Emma langsung menghilang. Gadis itu bahkan langsung mengiba-iba pada sahabat nya itu.


"Ehh, jangan dong, Sus! Tega banget deh kamu! Tolongin aku dong!" Emma mengiba-iba.


Susi kembali berbalik dan berkata.


"Gimana mau nolongin nya, Emm? Aku gak tahu harus minta tolong ke siapa lagi? Iya aja kalau aku masih hidup, aku bakal pergi ke ustadz Untung.."


"USTADZ UNTUNG!!" Seru Emma dan Susi bersamaan.


"Duh! Dodol banget deh ni otak! Kenapa aku bisa lupa soal Ustadz, eh, eyang Untung!" Susi mencibir dirinya sendiri.


"Sama. Aku iuga kelupaan. Yaudah, kamu pwrfi temuin beliau deh sekarnag juga. Siapa tahu hantu nya si Eyang masih ada di rumah nya kan?" Usir Emma setengah mendesak.


"Oke. Siap. Aku pergi dulu ya, Emm!" Pamit Susi, sebelum ikut menghilang dalam sekejap.


Tring.


Sayang nya, Susi lama tak muncul-muncul. Bahkan sampai spirit Emma berhasil dimauskkan paksa ke dalam boneka berambut hitam yang melayang di depan bibi Hara.


Emma baru tersadar kalau ia telah berhasil ditangkap oleh Bi Hara ketika ia melihat pemandangan di sekitar nya yang tahu-tahu berubah. Dari dunia gelap tanpa apapun, menjadi gudang rahasia di bawah tanah yang sempat menjadi tempat Emma disekap dulu.


"?!!!"


Emma semakin dibuat ngeri saat di depan nya berdiri sosok Bi Hara dalam wujud raksasa. Dan Emma pun terkejut saat tangan raksasa dari Bi Hara memegangi perut nya erat-erat.


Wanita jahat itu lalu menyapa Emma.


"Selamat datang kembali, Emma. Dan selamat juga untuk tubuh mu yang baru. Mulai sekarang, kau tak perlu lagi letih-letih menjadi pengasuh. Karena kini, kau lah yang akan diasuh! Hahahahaha!!" Hara tertawa bahak.


Flashback selesai.


Kembali ke masa kini.


Emma berusaha berteriak, namun tak ada suara yang bisa oa keluarkan.


'Ada apa ini? Ada apa dengan suara ku? Kenapa bisa tiba-tiba menghilang??!' benak Emma kalang kabut dan kebingungan.


'Ehh?? Kenapa juga dengan tubuh ku? Ini.. ini bukan tubhh ku! Aku.. aku menjadi boneka?!!' Emma menjerit ngeri saat ia menatap ke tangan nya yang berushaa lepas dari cengkeraman tangan Hara pada pinggang nya.


'Tidak! Aku berhasil ditangkap oleh wanita gila ini! Bagaimana ini??!' Emma kembali menjeritkan kengerian nya dalam hati.


"Kau pasti sangat terkejut dengan apa yang sebenar nya terjadi, bukan, Emm?" Tanya Hara kepada Emma.


"Yah.. anggap saja tubuh boneka ini sebagai hadiah untuk mu. Tadi nya aku hendak memusnahkan sekalian spirit mu. Tapi, katakan lah, sisi nurani ku menolak ide itu. Hihihi!" Hara terkekeh seperti orang gila.


'Dasar perempuan gila!' umpat Emma tanpa suara.


"Kau marah?" Tanya Hara lagi.


'Sudah tentu aku marah, dasar nenek sihir!' Omel Emma kembali dalam benak nya.


"Yah. Bisa dimengerti juva sih. Tapi jangan khawatir. Aku akan melepaskan mu sekarang juga!" Ujar Bi Hara kemudian.


Ucapan wanita itu langsung dibuktikan nya dengan aksi melepaskan Emma dari genggaman tangan nya.


Seketika itu pula Emma terlepas dan jatuh dari ketinggian sekitar 40 senti meter di atas lantai.


'Aduh! Sakit, Ma!' kekuh Emma mengaduh kesakitan.


"Nah. Sekarang, kau bebas untuk berjalan-jalan. Tapi ingat, jangan pergi terlalu jauh dari villa ini ya. Cantik! Kalau kau tak mau tersesat di hutan dan bertemu makhluk malam lain nya!" Ancam Hara kemudian.


Dengan sisa sakit yang ia rasa, Emma langsung beringsut menjauhi tempat Hara terduduk. Setelah berada pada jarak yang menurut nya cukup aman, Emma langsung saja menudingkan jari telunjuk nya ke arah Hara.


'Apa yang sudah kau lakukan?! Kembalikan aku ke tubuh ku sekarnag juga!' titah Emma juga tanpa suara.


"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Emm? Oh.. tunggu! Biarkan aku berpikir sejenak. Hmm.. apa kau ingin bertanya tentang tubuh asli mu?" Tebak Hara dengan sangat tepat.


Boneka Emma lamgsung mengangguk berkaki-kali saat Hara menyebut tentang tubuh asli nya.


"Tenang saja! Saat ini, putri ku, Celia sudhs menggantikan mengisi tubuh mu itu. Omong-omong, terima kasih ya sudah memberikan tubuh mu kepada putri ku!" Seloroh Hara sambil tersenyum lebar.


'Dasar psiko! Kamu yang sudah memaksaku keluar dari tubuh ku sendiri! Kenapa malah bilang kalau aku yang ngasih tubuh ku ke anak mu itu?!!' boneka Emma kembali mencak-mencak marah di tempat nya berdiri kini.


"Hmm.. seperti nya kau masih marah?" Gumam Hara yang masih cukup jelas didengar oleh Emma.


'Tentu saja, dasar nenek sihir! Siapa juga yang tak akan marah bila diperlakukan seenak nya begini!' umpat Emma dengan emosi yang memuncak.


"Begini saja. Bagaimana kalau aku mengantarkan mu kembali menemui teman-teman mu, hmm?" Usul Hara kemudian.


'Teman? Apa maksud perempuan gila ini?' Emma menatap bingung ke arah Hara.


"Adda! Masuk lah! Aku sudah selesai!" Panggil Hara setelah nya.


Tak lama kemudian, Pak Adda memauski gudang.


"Bawa nona Emma ke kamar anak-anak. Dia mungkin sudah rindu untuk bertemu dengan mereka. Bukan begitu, Nona Emma?" Tanya Hara dengan seringai gila di wajah nya.


Dalam hitungan detik, Adda pun segera menangkap tubuh Emna yang memberontak. Tanpa berkata apa-apa, lelaki itu langsung membawa pergi boneka Emma menuju tempat yang telah diperintahkan oleh Hara kepada nya, sesaat tadi.


Boneka Emma pun akhirnya hanya bisa tergolek lemah di genggaman tangan Adda. Ia menangisi nasib nya yang sungguh tragis dan tak masuk diakal ini.


***