
Masih flashback setengah jam sebelum spirit Emma berhasil ditangkap oleh Hara...
"Spi..spirit?!! Maksud kamu, kamu itu sekarang jadi hantu?!!" Tanya Emma terbelalak kaget.
Susi menatap Emma dengan pandangan sedih.
"Iya, Emm.. bisa dibilang begitu," jawab Susi dengan jujur.
"Ta..tapi kan!!? Kamu masih hidup, Sus! Kamu cuma koma aja!" Emma mencoba menolak kenyataan yang dikatakan oleh Susi.
Secara fisik, aku mungkin masih dibilang hidup, Emm. Tapi ikatan antara spirit dan tubuh ku mulai melemah. Spirit ku ini bahkan ditolak berkali-kali sama tubuh ku sendiri," keluh Susi dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu udah pernah kembali ke tubuh mu, Sus?" Tanya Emma mendesak.
"Udah! Berkali-kali malah! Tapi hasil nya selalu sama. Aku terpental lagi dan lagi. Sampai capek rasa nya aku untuk coba lagi! Curhat Susi kepada Emma.
Saat itu Emma masih ditarik secara perlahan oleh benang merah yang mengikat nya. Ia hampir terlupa dengan kondisi darurat nya sendiri, karena larut dalam cerita Susi.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Sus?? Kenapa kamu bisa sampai jadi begini?!" Tanya Emma dalam lirihan sarat akan kesedihan.
"Kamu udah tahu kan kalau aku kecelakaan sepulang nya kita dari rumah Eyang Untung?" Tanya Susi mengingatkan Enma.
Emma menganggukkan kepala sekali.
"Iya. Apa jangan-jangan ada setan lain yang ganggu kamu di perjalanan kah, Sus?" Tanya Emma tiba-tiba.
Gadis itu terpikirkan jika saja setan yang berhasil diusir darinya oleh Eyang Untung malah berbalik menyerang Susi. Jika benar begitu, Emma sungguh akan merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada sahabat nya, Susi.
Susi menggeleng pelan.
"Enggak, Emm. Semuanya lancar-lancar aja pas kita pulang kan?" Sanggah Susi.
"Iya kali pas kamu pulang sendirian.." Emma tak melanjutkan ucapan nya. Mengira kalau Susi pasti mengerti dengan kelanjutan perkataan nya itu.
"Enggak, Emm. Aku gak diganggu hantu kok! Kamu ingat gak sama nasihat hantu nya Eyang Untung sebelum kita pulang?" Tanya Susi tiba-tiba.
Dan Emma pun melayangkan ingatan nya kembali ke malam itu.
Sebelum pulang Eyang Untung memang memberikan nasihat nya kepada masing-masing Emma dan juga Susi.
"Iya. Aku ingat. Ke aku, Eyang nasihatin untuk gak kembali ke Villa Grandhill," ujar Emma secara perlahan.
Sayang nya Emma tak menuruti nasihat dari Eyang. Ia malah kembali bekerja di tempat itu. Tempat di mana semua kejadian mistis itu dialami nya.
"Iya. Terus untuk aku, kamu ingat gak nasihat Eyang Untung kayak gimana?" Tanya Susi menguji daya ingat Emma.
"Ke kamu, Eyang Untung bilang untuk.. berhati-hati waktu naik motor di jalan menikung! Ah ya! Aku ingat! Kata Kak Bobi kamu kecelakaan nya pas lewatin jalan belok dekat rumah kamu kan, Sus??!" Tanya Emma memastikan.
"Iya. Dan aku ceroboh, gak dengar nasihat dari Eyang Untung itu, Emn. Yah.. walaupun nasihat itu datang nya dari hantu. Kalau itu sesuatu yang baik, seharusnya aku merhatiin baik-baik ya.." papar Susi.
"Jadi kamu.."
"Ya aku ceroboh, Emma! Aku main musik di hp. Posisinya waktu itu aku lagi mau ganti lagu di hp sambil bawa motor. Terus aku lalai dan gak nyadar ada mobil yang mau beloj ke arah keluar. Posisi aku pas belok tuh terlalu lebar. Dan aku pun gak pelanin laju motor ku pula! Jadinya aku kecelakaan deh!" Papar Susi menerangkan.
"..."
"..."
"Jadi begitu.. terus, sejak itu kamu koma. Dan kamu jadi hantu kayak sekarang?" Tanya Emma menyimpulkan.
"Jangan panggil aku hantu dong, Emm! Kesan nya kayak aku udah mati aja kan..!" Susi mengajukan protes.
"Oke. Sorry. Ku ralat deh. Jadi kamu sekarang itu adalah..?" Tanya Emma dengan kalimat menggantung.
"Ya. Kamu adalah spirit. Terus, gimana cerita nya kamu bisa jadi spirit?" Tanya Emma penasaran.
"Aku lupa gimana dan kapan persis nya aku jadi spirit yang gentayangan. Tahu-tahu pas aku sadar, aku udah berdiri di samping tubuh ku yang babak belur di rumah sakit. Aku syok berat lah, Emm! Bayangin aja kamu lihat badan kamu sendiri terbaring penuh luka dengan mata kepala mu sendiri! Horor banget kan tuh!" Ujar Susi dengan ekspresi ngeri.
"Iya. Horor banget itu sih!" Sahut Emma.
"Nah. Jadi gitu deh. Aku langsung coba dekatin tubuh ku sendiri, Emm. Tapi aku malah terpental. Sama sekali aku gak bisa nyentuh tubuh ku sendiri. Itu bikin aku sedih banget!" Curhat Susi yang begitu sedih.
Emma dan Susi pun terdiam selama beberapa saat. Sampai kemudian, Emma teringat dengan sesuatu hal.
"Tapi sebentar deh, asus! Seingatku, kamu pernah ngebalas sms ku deh. Dsn itu kejadian nya pas aku udah balik kerja di villa Grandhill. Itu kan pas kamu udah sakit koma kan?!" Emma menyampaikan kebenaran yang baru disadari nya kini.
"Mm.. iya. Waktu itu, aku ngerasa dengar suara kamu manggil aku di kejauhan. Maka nya aku pun ikutin pikiran ku sampai akhirnya nemuin kamu lagi ada di kamar kamu. Lagi ngetik sms ke aku," ujar Susi menjelaskan.
"Ohh! Mestilah tentang acara reuni itu ya? Terus, kamu kan bisa jemput aku pakai motor kamu kan, Sus? Kita ke acara reuni bareng-bareng??" Emma kembali mengingatkan.
"Iya. Aku juga bingung. Kalau oramg lain, aku gak bisa dilihat. Tapi cuma kamu aja yang bisa aku ajak obrol dan sentuh. Apa jangan-jangan kamu ada keturunan cenayang kah, Emm?" Tanya Susi penasaran.
"Tahu? Iya kali! Tapi waktu itu kamu beneran bisa bawa motor, Sus? Kamu kan.. mm.. maaf. Udah jadi spirit.." Emma menyatakan kesangsian nya atas kemampuan spirit Susi untuk membawa motor.
"Yah.. soal itu.. aku diajarin sedikit sih sama Mbak Kunti yang tinggal di pohon pepaya di belakang rumah ku," ungkao Susi sambil tersenyum-senyum.
"Hah?!! Kun.. kunti??! Serius kamu, Sus?? Mbak Kunti ngajarin kamu naik motor??!" Tanya Emma terbelalak.
"Iya. Camggih bener ya? Awal ketemu Mbak Kunti, aku asli ketakutan, Emm. Hahaha. Lucu gak sih, aku yang udah jadi spirit malah takut sama hantu juga! Aku aja ngerasa aneh sendiri!" Susi bercerita.
"Err.. iya. Agak aneh sih.." sahut Emma dengan wajah yang sedikit pucat.
Gadis itu membayangkan sesosok kunti mengajari Susi naik motor! Dan ternyata malam reuni saat itu, Emma dibonceng oleh hantu eh, salah, spirit nya Susi! Horor gak sih?
"Nah. Iya. Tapi Mbak Kunti nya lumayan baik sih, Emm.. kami jadi temenan sekarang," ujar Susi dengan wajah tersenyum.
Senyuman di wajah Susi itu langsung membuat Emma jadi bergidik ngeri.
'Ya ampun! Susi temenan sama Mbak Kunti!' jerit Emma yang dibekap horor.
"Jadi aku akhirnya bisa jemput kamu deh ke acara reuni," Susi menyimpulkan.
"Iya. Pantas aja malam itu muka mu pucat banget! Aku kira kamu sakit.." seloroh Emma peduli.
"Maaf ya bikin kamu khawatir," sahut Susi kembali.
"Gak apa-apa. Terus kenapa kamu pupang duluan malam itu?" Tanya Emma lagi.
"Memang nya kamu mau kelihatan gila di depan teman-teman SMA kita?" Tanya balik Susi.
"Huh? Maksud kamu apa, Sus?" Tanya Emma terlihat bingung.
"Ya aku kan gak bisa dilihat sama orang lain Emm.. nanti kalau aku nemenin kamu ngobrol di sana, kamu bisa dikira gila sama teman-teman kan.." Susi menjelaskan.
"Oh! Iya juga ya! Makasih kalau gitu ya!" Ucap Emma dengan tulus.
"Iya, sama-sama. Lagian, kamu juga senang kan karena bisa pulang bareng sama Reno?" Goda Susi kemudian.
"Apaan sih?!" Elak Emma dengan wajah bersemu merah.
"Hahaha!"
***