
"Buahahahahaha!!" Emma tertawa terbahak-bahak.
Gadis itu lupa di mana ia sedang berada saat ini. Hingga ketika tawa nya mereda, barulah Emma menyadari kalau sikap nya sungguh tak terpuji.
Ia telah menertawakan kisah nelangsa dari Mbak Kunti yang duduk di samping nya.
'Ya ampun, Emm! Mati kamu! Bisa-bisa nya sih kamu lupa, sama siapa yang duduk di samping kamu! Itu tuh kuntilanak, Emm! Bukan Mbak-mbak biasa..!' Emma menghardik dirinya sendiri.
Tersadar kalau dirinya telah membuat kesalahan fatal. Apalagi semua pengunjung di Toko Misi itu kini menatap nya tak suka, Emma pun langsung berdiri dan beringsut mendekat ke tempat loket lagi.
"Spirit Emma! Boneka terkutuk silahkan kemari!" Panggil suara pegawai toko terdengar nyaring.
Emma langsung saja mendekat ke tempat loket. Dan memperkenalkan dirinya lagi.
"Saya Emma!" Ujar Emma singkat.
Belajar dari pengalaman, Emma tak akan bicara panjang lebar lagi terhadap pegawai Toko Misi. Karena nampak nya hantu dua wajah tersebut adalah sosok yang pemarah.
"Pilih dua kartu ini. Lalu masuk ke ruangan sana. Buka dan lihat apa misi mu dalam ruangan itu. Lalu tuntaskan misi nya. Setelah itu, kembalilah ke sini lagi untuk mengambil kantong serut mu!" Tutur hantu dua wajah dengan raut wajah serius.
"Ehh? O..oke.." jawab Emma yang sebenarnya masih terlihat bingung dengan arahan dari hantu dua wajah tadi.
Emma lalu memasuki ruangan yang telah ditunjuk oleh hantu penjaga. Kemudian membuka kartu yang tadi dipilih nya secara asal.
Pada kartu itu tertulis: Pergilah ke Dunia Mimpi dan bawa kembali Buah Pengingat. Berikan pada penjaga Toko Misi. Itulah misi mu!
Emma tercenung bingung.
"Buah Pengingat? Rasa-rasa pernah mendengar nya? Dan Dunia Mimpi? Di mana pula itu?" Gumam Emma dengan suara pelan.
Tak lama kemudian pandangan Emma terangkat ketika ia melihat ada sebuah pintu yang di atas nya tertulis, "Pintu menuju Dunia Mimpi".
"Oh? Itu pintu nya? Hm.. tampak nya ini misi yang cukup mudah," Emma menilai misi pertama nya itu.
Tanpa menghabiskan waktu lebih lama lagi, Emma pun langsung membuka pintu di hadapan nya itu dan apa yang ia lihat di balik nya sungguh membuat Emma terkejut.
Begitu membuka pintu, tahu-tahu Emma disuguhi dengan pemandangan bola-bola berukuran sangat besar. Emma bahkan mengira jika ia bisa masuk ke dalam bola dengan ukurna sebesar itu.
Bola-bola itu berada dalam ruangan gelap tanpa cahaya, yang aneh nya Emma masih bisa melihat jelas pemandangan di dalam sana.
Emma menengokkan kepala nya ke sepanjang arah. Dan berhasil menemukan seornag kakek renta yang duduk di depan sebuah meja kecil. Kakek tersebut tanpak sedang pulas tertidur.
Emma sebenarnya tak tega untuk membangunkan kakek renta tersebut. Namun karena ada misi yang hadus dituntaskan oleh nya, akhirnya Emma pun mendekatkan langkah nya kepada sang kakek.
"Permisi, Kek..! Emma menyapa dengan suara pelan.
Sang kakek masih juga pulas tertidur. Sehingga Emma pun kembali menyapa nya. Kali ini dengan suara yang lebih keras.
"Permisi, Kek!" Sapa Emma kembali.
Panggilan kedua dari Emma berhasil membangunkan si Kakek.
Emma ternganga keheranan karena kakek di depan nya itu telah mengetahui tujuan nya datang ke tempat ini tanpa perlu bagi nya untuk memberi tahu.
"Tentu saja aku tahu, Nona kecil. Suara hati mu bergaung kencang di gendang telinga ku," ucap sang Kakek begitu saja.
"...?!apa maksud nya, Kek? Maaf.. saya spirit baru.." tutur Emma menjelaskan kondisi nya kepada sang kakek.
"Kau baru? Tidak.. sebelum nya kau pernah berkunjung ke Dunia Mimpi ini, Nona Kecil. Tapi tentu saja kau tak mengingat nya. Karena buah Pengingat yang susah payah kau ambil itu akhirnya malah kau jatuhkan pula di sungai sana!" Imbuh sang kakek dengan jawaban yang tak dimengerti oleh Emma.
Tapi kemudian Emma tersadar dengan kata "buah pengingat" yang diucapkan oleh sang kakek. Seketika itu pula ia langsung mengesampingkan rasa bingung nya demi segera menuntaskan misi nya ke dunia mimpi ini.
"Kakek tadi bilang buah pengingat? Apa kakek bisa memberitahu saya di mana saya bisa menemukan nya?" Tanya Emma to the point.
"Yah.. mengingat karena kau telah melupakan nya. Aku akan berbaik hati untuk memberitahukan mu lagi, Nona kecil!" Jawab sang kakek dengan senyuman ramah.
Pergilah ke salah satu bola-bola itu. Lalu susuri sungai hingga kau menemukan sir terjun di sama. Tak jauh dari air terjun itu, ada lembang Kuning Mengambang yang bisa kau kenali dari tanah nya yang berwarna kuning.." papar sang akkek menjelaskan.
"Hah?! Lembah apa tadi Kek? Lembah Kuning Mengambang??!" Tanya Emma hampir tergelak saat itu juga.
Namun belajar dari pengalaman nya bersama Mbak Kuyang dan Kunti tadi, Emma menegur keras diri nya sendiri untuk tidak mudah menertawakan apa yang diucapkan oleh orang atau makhluk lain.
Khawatir bila tawa nya itu nanti bisa membuat tersinggung yang ia tertawakan.
"Ya. Tepat begitu nama nya, Nona Kecil. Kenapa? Kau ingin tertawa? Tertawa saja. Aku tak akan tersinggung kok seperti Kuntilanak yang kau tertawakan tadi," ujar sang Kakek mengetahui.
'Ehh? Kok kakek nya bisa tahu soal itu ya?' Emma bertanya-tanya dalam hati.
"Tentu saja aku tahu, Nona Kecil. Suara hati mu jelas-jelas mengatakan seperti itu," ucap sang kakek, menjawab pertanyaan di benak Emma.
"Ke..keren..! Kakek hebat banget bisa baca pikiran ku juga!" Puji Emma dnegan pandangan takjub.
"Ah.. kau terlslu baik dalam emmuji, Nona Keicl. Kau pun sebenarnya bisa mendengar suara hati Kakek," ujar Kakek memberitahu.
"Sungguhkah? Tapi.. aku tak mendengar apapun bila mulut Kakek tak bergerak?" Tanya Emma tak percaya dengan yang Kakek itu ucapkan.
'Itu karena aku selalu mengatakan apa yang ingin ku katakan begitu saja,' jawab sang kakek dalam hati nya.
Dan Emma memang benar mendengar suara sang kakek bicara. Padahal jelas-jelas mulut kakek tersebut tak bergerak sama sekali.
"Ke..kerenn!!" Emma menganga takjub.
"Nah. Kau masih ingin berlama-lama mengobrol dengan ku atau menuntaskan misi mu itu Nona Kecil?" Tanya Sang Kakek mengingatkan.
"Oh, iya! Terima kasih Kek sudhs mengingatkan! Jadi, Emma bisa pilih bola yang mana saja? Lalu menyusuri sungai sampai melihat air terjun, lalu mengambil buah Pengingat di Lembah Kuning Mengambang?" Tanga Emma sekoaigus menyimpulkan arahan dari sang kakek.
"Tepat seperti itu! Temukan saja pohon yang berada di tengah kolam di Lembah Kuning Mengambang. Jika ada buah yang berwarna keemasan, itulah buah Pengingat yang kau cari!" Jelas Sang kakek lebih lanjut.
"Baiklah! Terima kasih, Kek! Kalau begitu, Emma pergi ya, Kek!" Pamit Emma kemudian.
***