
Keesokan hari nya, Reno menjemput Emma di rumah nya. Kemarin sore, selesai makan, Sella ikut pulang bersama Emma dsn juga Retno ke rumah lama mereka.
Rencana nya hari ini Retno akan berkemas. Sementara Emma, Sella dan juga Reno akan berkunjung ke rumah Susi.
Sesampai nya di rumah Susi..
"Ya ampun, Emm! Belum ada dua bulan gak ketemu kamu, tahu-tahu anak kamu udah segede gini? Jangan-jangan kalian nikah diam-diam pas kelulusan ya?!" Tuding Susi dalan canda nya.
Sahabat Emma itu sedang duduk santai di depan teras saat rombongan kecil Emma mengunjungi rumah nya.
Emma tak menjawab. Ia langsung menghamburkan diri untuk memeluk Susi. Kerinduan dan perasan haru menyelimuti benak Emma saat itu. Sehingga ia tak mampu mengeluarkan walau satu kata pun untuk sementara waktu.
"Hey.. hey.. kok malah mellow sih? Aku masih hidup loh nih, Emm! Jangan mewek kayak gini ah! Ya iya kalau aku nya udah metong. Kamu boleh lah nangis bombay!" Seloroh Susi dengan asal.
Emma langsung melepas pelukan nya. Kedua mata nya sudah merah dan basah karena menangis.
Meski begitu Emma tak menyukai kalimat terakhir Susi tadi. Karena nya, ia pun spontan menepok bahu sahabat nya itu.
"Dasar! Kalau ngomong tuh dipikir-pikir dulu apa Sus! Jangan ngomongin soal metong-metong ah! Mending ngasih yang mateng-mateng dan enak-enak nih ke kita. Kita kan tamu dari jauh..!" Balas Emma bercanda.
Kedua sahabat itu pun saling melempar cengiran lebar sebelum akhirnya tertawa lepas.
Sampai detik itu, Reno dan Sella hanya menjadi pengamat bagi pertemuan kedua bestie tersebut.
"Eh.. jadi, anak siapa dong ini? Hallo Adek Cantik.. kamu ini bidadari yang turun dari kahyangan ya? Kok cantik banget sih??" Susi menyapa Sella dengan ramah.
Digoda seperti itu, membuat wajah Susi bersemu merah. Dengan malu-malu dan setengah menyembunyikan dirinya di belakang Reno, Sella pun menjawab sapaan Susi.
"Nama ku, Sella, Tante.. Tante juga cantik.." sapa balik Sella.
"..tapi masih lebih cantik Kakak Cantik sih.." imbuh Sella masih dengan suara pelan.
Susi melempar pandang tanya ke arah Emma. Yang langsung dijelaskan seketika oleh sahabat nya itu.
"Kakak Cantik itu tuh maksud nya aku, Sus.. masa kamu gak bisa nebak sih?" Ujar Emma dengan wajah bangga.
Dan Susi pun langsung mengerutkan hidung. Kepada Sella, Susi lalu kembali berkata.
"Iya, Kakak kamu itu memang cantik. Tapi tahu gak, Dek, kalau kakak kamu itu sering banget ngup.. hmmmppphh!!"
Susi tak bisa melanjutkan ucapan nya lagi karena Emma yang menutup mulut nya begitu tiba-tiba.
Kedua bestie itu pun terlibat pergumulan seru yang tak menyakitkan. Hingga selama beberapa saat berikut nya Reno dan Sella sempat merasa terabaikan.
"Duh, Cewek.. kalau udah ketemu aja. Udah deh.. ada raja sama putri kerajaan juga dicuekin habis deh!" Seloroh Reno mengemukakan kekesalan nya.
"Eh! Ya ampun! Iya. Maaf Paduka Yang Mulia. Dan Putri yang jelita, hamba lalai dengan kehadiran kalian. Bi Ijaahh! Cepat ambilin air buat tamu kita!" Teriak Susi kepada Emma.
"Bi Ijah?! Kenapa tuding aku yang jadi babu, sih? Aku juga kan tamu kamu, Sus!" Keluh Emma.
"Lha terus aku mau nyuruh siapa lagi dong, Emma Sayang.. eh, gak jadi sayang deh. Takut Reno cemburu! Hihihi..."
Reno hanya bisa menggelengkan kepala nya kala menyaksikan kegilaan dua sahabat itu saat bertukar kata.
Pada akhirnya, rombongan Emma bertamu dan berbincang lama dengan Susi hingga menjelang zuhur.
"Jadi, kamu beneran gak ingat sama sekali waktu kamu jadi arwah, Sus?" Tanya emma mengulangi untuk kedua kali nya.
"Iya, Emma! Harus ku bilang berapa kali sih, baru kamu mau berhenti nanya soal itu?! Lagian, memang nya semua yang diceritain Reno itu benar terjadi ya? Kamu jadi boneka gitu, Emm?!" Tanya balik Susi, masih tak percaya.
Emma mengangguk seketika.
"Iya, Sus. Itu beneran terjadi. Ngapain juga sih aku bohong?" Gerutu Emma menjawab ketidaknyakinan Susi.
"Ya kali, kamu ketularan Reno. Jadi tukang ngibul gitu..! Eh, sorry bos! Cuma bercanda.." kekeh Susi terhenti oleh tatapan tajam dari Reno.
"Sella juga jadi boneka kayak aku. Dan kami masih ingat semua kenangan waktu kami menjadi boneka. Tapi kok kamu gak ingat ya, Sus?" Tanya Emma kembali.
"Sella juga? Wow.. kalian berpetualang bareng dong?!" Tanya susi terlihat tertarik dengan pengalaman Emma dan Sella saat menjadi boneka.
"Tauk ah! Kamu rada-rada nyebelin!" Dumel Emma kepada Susi.
"Aku benar gak ingat sama sekali, Emm kalau aku sempat gentayangan dan bantu kamu waktu ada di villa itu. Tapi," imbuh Susi menggantung.
Tiba-tiba saja tawa Susi padam. Dan Emma menangkap raut takut di wajah nya.
"Tapi akhir-akhir ini aku sering dijahilin sama makhluk halus!" Bisik Susi sambil melirik takut ke kanan dan kiri.
"Oh ya?! Digangguin gimana, Sus?" Tanya Emma mulai ikut serius.
"Kamu tahu kan pohon pepaya di belakang rumah ku itu?" Bisik Susi berlanjut.
"Iya. Yang ada di kebon belakang itu kan?" Seru Emma.
"Nah! Iya di belakang situ kan banyak pohon tuh ya. Waktu kemarin, pas aku lagi metikin kembang pepaya buat di oseng-oseng, ngomong-ngomong, aku habis makan berpiring-piring lho sama kembang pepaya. Mama masakin nya enak banget!" Imbuh Susi melantur.
"Woy! Fokus, woy!" Tegur Emma mengingatkan.
"Eh, iya ya. Hehehe.. maaf lah pemirsa.." kekeh Susi sambil menyengir malu.
"Lanjut, lanjut!" Titah Emma mulai tak sabar.
"Oke. Jadi pas kemarin aku lagi metikin kembang pepaya sore-sore, tahu-tahu ada yang ngikik ketawa di dekat aku, Emm!" Besok Susi terdengar lebih keras.
"Hah?! Serius, Sus?!"
"Iya! Seribu rius malah! Qiqiqiqiqi gitu!" Susi meniru suara itu.
"Hush! Gak usah ditiruin juga kali! Serem tahu! Salah-salah aku bisa ngira kamu lagi kesambet nih sekarang!" Emma menoyor bahu Susi pelan.
"Ih.m amit-amit.. jangan sampe deh!"
"oh! jangan-jangan itu tuh Mbak Kunti teman kamu dulu kali, Sus..?" tebak Emma.
"Sembarangan aja kalau ngomong! Eh ya, Reno pernah bilang kalau kamu juga pernah kesurupan ya?" Tanya Susi memastikan.
"Bujan kesurupan! Tapi tubuh ku diambil alih sama arwah Celia!" Koreksi Emma.
"Lha itu kan sama aja, Emm!"
"Eh.. iya juga ya.."
"Ibu-ibu sekalian..maaf nih!" Tiba-tiba saja Reno menyeletuk perbincangan seru Emma dan Susi.
Kedua bestie itu pun seketika menoleh ke arah Reno. Pun juga dengan si kecil Sella.
"Ngomong-ngomong kalian keasikan ngerumpi. Tapi ini tenggorokan udah haus banget nih belum dituangin air barang setetes pun.. jus jeruk atau teh manis juga gak apa-apa.. " imbuh Reno seraya menyentuh area leher nya.
"Hahaha! Sorry mas Bos! Maklum lah cewek. Kakau udah kumpul memang suka lupa sama segala. Emm, tolong ambilin dong di dalam! Aku lagi sendirian doang nih. Yang lain lagi pada keluar soal nya!" susi meminta tolong Emma.
"Oke deh, Tuan Putri. Tunggu bentar ya! Jadi Pangeran Reno, mau minum apa nih? Air butek apa bening? Yg bening-bening aja deh ya! Biasanya kan cowok suka yang bening-bening!" Tawar Emma sambil bercanda.
Reno merengut kesal tak menyahut. Sementara Susi tertawa bahak cukup puas. Di antara mereka, si kecil Sella hanya ikut tersenyum melihat semua orang tertawa lepas.
Meski anak perempuan itu tak terlalu mengerti dengan isi perbincangan para kakak nya. Namun ia tahu kalau kebersamaan yang diiringi tawa dan canda seperti inikah kehidupan yang diinginkan nya sedari dulu.
***