
"Kamu ngobrolin apa sih sama Mama waktu tadi aku di luar?" Tanya Emma penasaran.
Saat ini keduanya sedang di parkiran rumah sakit. Rencana nya mereka hendak menuju rumah Emma. Gadis itu hendak mengambil surat-surat penting serta baju ganti milik nya.
Untuk sementara waktu, Emma akan tinggal di apartemen Reno yang ada di lantai bawah. Ini hasil mufakat pasangan itu setelah keduanya memutuskan untuk segera meresmikan hubungan mereka.
"Ada deh.. curhat mertua sama calon mantu. Jadi.. ra ha si a!" Reno menggoda Emma.
"Dih! Baru juga calon, udah girang banget!" Ledek Emma yang merasa sedikit kesal.
"Ya girang lah! Akhirnya cita-citaku tersampaikan juga!" Ucap Reno misterius.
"Kenapa malah bahas cita-cita? Dasar gak nyambung!" Ledek Emma.
"Ya nyambung lah, Yang. Kan cita-cita terbesar ku tuh bisa jadi pendamping hidup kamu untuk selamanya," ujar Reno blak-blakan.
Mendengar itu, wajah Emma kembali bersemu merah jadinya.
"Dasar gom.."
"Reno? Emma? Kalian jengukin siapa?" Tanya sebuah suara wanita di belakang Emma.
Mendengar suara itu, seketika membuat perasaan Emma jadi tak nyaman. Dan benar saja, ketika Emma berbalik, telah ada Mei Chan yang berdiri tak jauh dari keduanya.
Bertemu dengan Mei selalu membuat Emma mengingat kembali rasa sakit saat melihat Reno dan gadis itu bercumbu mesra.
'Tidak! Aku salah. Reno pun sebenarnya tak salah. Saat itu Mei lah yang sudah berani menginisiasi ciu man itu! Reno sudah menjelaskan nya pada ku waktu semalam tadi kan?' koreksi Emma dalam hati.
Ya. Tadi saat Emma dan Reno berada di kantin, pemuda itu akhirnya menjelaskan detail kesalahpahaman yang terjadi di antara keduanya semasa SMA dulu.
Emma sangat tercengang dengan penjelasan itu. Pada mulanya ia masih sulit untuk mempercayai penjelasan Reno. Namun setelah ia memikirkan nya lagi, Reno yang ia kenal memang tak mungkin menduakan nya.
Jika kesalahan dulu dilakukan oleh Mei Chan, maka itu adalah kemungkinan yang paling besar untuk terjadi. Emma pun menyadari kalau Mei sebenarnya menyukai Reno. Karena Emma sering menangkap basah Mei menatap penuh cinta pada kekasih nya itu.
Akhirnya usai menerima penjelasan dari Reno, Emma pun bisa berdamai dengan kesalahan di masa lalu. Gadis itu pun memutuskan untuk kembali memberikan kesempatan kepada Reno. Sehingga tercetuslah ucapan nya di rumah sakit tentang 'calon menantu' di hadapan Retno tadi.
Emma merasakan saat Reno tiba-tiba menggenggam tangan nya erat. Gadis itu spontan mengerjapkan kedua mata nya cepat.
Seolah ada bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh keduanya, Emma pun akhirnya menjadi orang yang menjawab sapaan Mei tadi.
"Mama ku sakit, Mei. Kamu sendiri jengukin siapa? Atau mau berobat?" Tanya Emma dengan nada ramah.
Mei terlihat terkejut dengan keramahan Emma yang begitu tiba-tiba. Gadis itu menyadari kalau hubungan nya dengan Emma tak pernah membaik usai ia ke gape berciuman dengan Reno semasa SMA dulu.
Pandangan Mei lalu tertuju pada kedua tangan Emma dan juga Reno yang saling bertautan. Dan, tanpa diminta rasa cemburu itu pun kembali hadir mengisi jiwa nya.
Mei tak bisa memungkiri kalau Reno adalah obsesi masa muda nya yang belum tersampaikan.
"Aku mau.." ucapan Mei menggantung di udara.
'Duh! Hampir saja aku kelepasan ngomong mau cek ke ob-gyn!' gumam Mei dalam hati.
"Aku mau check up rutin aja. O.. Mama kamu sakit, Emm? Sakit apa?" Tanya Mei ramah.
Wajah Emma terlihat meredup sedikit.
"Kanker hati," jawab singkat Emma.
"Ya ampun! Parah banget itu sih! Sabar ya, Emm!" Mei menghibur Emma.
"Iya. Tapi sekarang kondisi nya udah membaik kok!" Sahut Emma menunjukkan sikap tegar.
"Ooh.."
Keheningan sempat mengisi jeda di antara perbincangan kedua nya. Sedari tadi, Reno tak jua bicara. Pemuda itu masih menyimpan rasa kesal nya terhadap Mei. Karena ulah Mei dululah, hubungan Emma sempat merenggang selama bertahun-tahun.
CLBK adalah singkatan dari Cinta Lama Bersemi Kembali.
Reno masih bergeming tak menjawab pertanyaan Mei Chan. Karena itu, Emma lah yang akhirnya kembali menjawab pertanyaan teman SMA nya itu.
"Yah, begitu lah. Doakan ya, Mei. Biar hubungan kami C-KAS!" Ujar Emma tiba-tiba.
(Dalam bahasa Sunda, Cekas bermakna "terang/jelas". Mei sempat mengira maksud ucapan Emma adalah untuk mendoakan hubungan nya dengan Reno agar terang. Sehingga Mei pun menjadi bingung.)
"Cekas? Maksud nya, Emm?" Tanya Mei.
"Iya. C-KAS. Cinta Kami Abadi Selalu!" Jawab Emma dengan pede nya.
Sontak saja Reno tergelak. Sebuah senyuman lebar pun terhias di wajah nya yang tampan.
Sementara itu wajah Mei terlihat kaku seperti orang yang menahan sakit gigi.
"...ya. tentu!" Jawab Mei sekena nya.
"Nah, kalau gitu, kita balik duluan ya Mei!" Pamit Emma dengan senyuman lebar di wajah nya.
Rasanya puas hati Emma saat ia berhasil membuat Mei cemburu sesaat tadi. Emma memang menangkap kekaguman terhadap Reno masih berada di manik mata milik Mei.
Terlebih lagi saat Emma sengaja merangkul pinggang Reno saat ia berpamitan. Dilihat nya wajah Mei semakin masam saja jadi nya.
'Hahaha! Rasain lo rubah! Lagian, dulu jahat banget bikin aku sama Reno pisah!' rutuk Emma dalam hati.
Kali ini Mei tak menyahuti ucapan Emma. Gadis itu hanya mengangguk kaku dan berlalu terlebih dulu menuju lobi rumah sakit. Ia meninggalkan Emma yang kini menyengir lebar di samping Reno.
"Hihihihihi!" Emma terkikik geli.
"Duh. Senang nya bikin nangis anak orang!" Goda Reno di samping Emma.
Pemuda itu kini sedang menghidupkan mesin motor nya.
Emma langsung memasang wajah kesal tiba-tiba.
"Kenapa? Kamu masih perduli sama Mei ya?" Emma berpura-pura kesal.
Gadis itu kini berkacak pinggang dan memelototi Reno sebisanya ia.
"Ya ampun. Langsung nge gas aja sih, Neng Cantik! Ya enggak lah! Siapa juga yang peduli sama dia. Aku tuh dari dulu cuma lihat kamu seorang, Emm.." gombal Reno merayu.
"Huu! Dasar! Pintar banget deh nge gombal!" Cibir Emma.
"Aku gak nge gombal ya, Yang. Aku ngomong sejujurnya, kok! Yuk, Naik, Yang! Mumpung belum siang banget!" Ajak Reno yang sudah bersiap di atas motor nya.
Menerima panggilan "Yang" dari Reno, seketika membuat hati Emma jadi berbunga-bunga.
Tanpa kata, senyum itu kembali mengukir di wajah manis nya Emma. Dan gadis itu pun langsung membonceng di belakang Reno.
"Beli ayam chicken dulu ya, Ren!" Emma mengajukan pinta.
"Gak langsung ke rumah kamu? Atau pas balik aja?" Saran Reno.
"Enggak lah. Nanti kan aku bawa barang-barang. Ribet Kalau pulang nya baru beli chicken. Jadi mending beli chicken duluan!" Tutur Emma menjelaskan alasan nya.
"Gitu.. siap lah, Yang. Pegangan yang erat ya!" Reno mengingatkan. Sebelum akhirnya ia melajukan motor nya menembus jalanan ramai.
Hari itu, panas terik mulai menyambangi pertengahan hari.
***