
Kembali ke Reno..
Saat ini Reno sedang berada di rumah sakit. Setelah menemui Sein, Reno langsung menyiapkan segala sesuatu nya untuk pergi mengunjungi villa Grandhill.
Entah kenapa firasat hya kuat mengatakan kalau ruh Emma berada di tempat itu. Walaupun ia sendiri tak mengerti bagaimana bisa hal semustahil itu dapat terjadi.
Flashback satu jam yang lalu..
"Berhati-hati lah, kalau Lo beneran mau ke sana, Ren! Sementara waktu, gue bakal assist (dampingi) lo dari tempat ini. Ini gue punya beberapa barang bagus untuk Lo bawa. Siapa tahu nanti bisa berguna buat Lo!" Ujar Sein seraya menyerahkan sesuatu yang baru diambil nya dari dalam laci meja.
"Apaan ini, Sein?" Tanya Reno penasaran.
"Alat sadap yang bisa ngerekam audio. Dsn ini juga bisa ngerekam segala yang Lo lihat nanti," jawab Sein.
"Bisa rekam hantu juga gak?" Tanya Reno tiba-tiba dengan raut wajah serius.
"Ngece lo! Mana bisa lah! Kecuali hantu nya emang lagi pingin narsis, baru itu sih mungkin!" Balas Sein dengan asal.
Reno terlihat kecewa.
"Sayang banget.. padahal gue pingin ngerekam hantu nya juga kalau bisa mah!" Ujar Reno.
"Hii.. jangan sebut nama hantu lagi deh, Ren! Gue merinding beneran nih, asli!" Pinta Sein yang kembali mengusap tengkuk nyanyang terasa mendingin tiba-tiba.
"Parno, Lo, Sein!" Ledek Reno.
"Bodo amat! Lagian emang seram kan? Emang nya Lo gak ngerasa takut apa pas digangguin sama si anu waktu semalam?" Tuding balik Sein.
Reno menggeleng pelan.
"Enggak. Gue sih gak takut sama hantu nya. Tapi.." ucap Reno menggantung.
"Tapi apa?"
"Tapi gue cuma takut kalau itu hantu berhasil nyelakain Emma. Gile, Sein! Itu hantu bikin tangan Emma mau cekik leher nya sendiri! Maka nya gue buru-buru usir pake wiridan habis shalat!" Jawab Reno berapi-api.
"Anak soleh.. nanti tulisin buat gue ya, Ren!" Pinta Sein tiba-tiba.
"Tulisin apa?" Tanya Reno kebingungan.
"Ya tulisin aja wiridan buat ngusir hantu nya tuh apa aja? Buat jaga-jaga aja. Duh Mak.. kok tengkuk gue dari tadi ngerasa dingin sih ya?" Tanya Sein tiba-tiba.
Reno langsung menarik cuping telinga Sein cukup keras.
"Ya iya lah, Sein! Gimana gak kedinginan, orang dari tadi kipas nya mutar ke bagian belakang kepala Lo doang!" Sahut Reno sedikit kesal.
Sein langsung menengok ke belakang. DN ya. Memang benar kalau kipas standing yang ada di belakang nya itu tak memutar ke segala arah.
"Eh iya! Lupa gue! Tadi sebelum Lo datang, gue emang sempat pencet tombol nya biar muter ke satu arah aja. Tadi nya mau gue belokin kepala nya ke arah dinding. Biar gue gak terlalu kena angin. Ehh, tapi Lo keburu datang. Jadi lupa deh gue! Hehehe.." seloroh Sein dengan ekspresi malu di wajah nya.
"Dasar! Eh, tapi, Lo bisa bantu gue tuk pantau lokasi nya gak nanti? Beneran butuh assist banget nih!" Pinta Reno kembali.
"Bisa.. tapi gue assist dari sini aja ya? Biar gue bisa nyambi-nyambi kerjaan yang lain.." jawab Sein.
"Ok lah, Bro! Makasih ya!"
Flash back selesai.
Kembali ke Reno yang kini berjalan di lorong rumah sakit.
Pertama-tama, ia mengunjungi Tante Retno, yang adalah Mama dari Emma.
Ada yang ingin Reno tanyakan kepada wanita paruh baya tersebut.
"Asalamu'alaikum! Tante.." ucap Reno saat memasuki kamar inap Retno.
"Wa'alaikum salam warohmatullah.. Nak Reno.. masuk sini!" Sapa balik Rerno sambil tersenyum.
Wanita tersebut lalu menengok ke belakang Reno untuk mencari sesuatu.
Reno sudah bisa menebak apa yang sedang dicari oleh Retno saat ini.
"Emma nya gak datang bareng kamu, Ren?" Tanya Retno tiba-tiba.
"Enggak, Tante. Dia tiba-tiba disuruh balik lagi sama majikan nya. Ada situasi darurat. Jadi dia juga gak sempat pamitan ke Tante," jawab Reno dengan pandangan menunduk.
"Ooh.." gurat kekecewaan pun langsung menjejak di wajah Retno.
Tapi itu tak lama. Karena kemudian Retno kembali bertanya.
"Tapi Emma sehat kan, Ren? Soal nya Tante akhir-akhir ini kepikiran dia terus. Takut nya dia terlalu sibuk untuk nyiapin kepulangan Tante ke rumah, nanti.." ujar Retno kembali.
"Sehat.. Emma sehat wal afiat kok, Tante. Tante tenang aja. Nanti Reno anterin Emma pas jemput Tante pulang ke rumah deh!" Janji Reno bersungguh-sungguh.
'Ya. Aku akan membawa Emma pulang kembali nanti!' ikrar Reno dalam hati.
Retno pun melebsrkan senyum nya usai mendengar celotehan dari Reno.
"Terima kasih ya Nak Reno sudah mau direpotkan sama Tante dan juga Emma," ujar Retno dengan pandangan penuh terima kasih.
"Nyantai aja Tante. Reno senang kok melakukan nya!" Elak Reno menghibur.
Hening sejenak. Sampai Reno kembali melanjutkan perbincangan kedua nya.
"Oya, Tante. Reno mau tanya sesuatu," .ujar Reno tiba-tiba.
"Ya? Tanya apa, Nak Ren?" Sahut Retno.
"Itu.. mm.. apa Tante masih punya foto Om kah? Maksud Reno.. papa nya Emma," tanya Ren lebih lanjut.
"Papa nya Emma?" Retno tampak tertegun selama beberapa saat.
Telah bertahun-tahun lama nya ia tak mengingat mendiang suami nya itu. Jika Reno tak menanyakan nya lagi, mungkin Retno tak akan pernah mau mengingat momen terpahit dalam hidup nya ini.
Yakni saat mendiang suami nya itu dikabarkan tenggelam dalam pelayaran nya..
Nyes.. hati Retno sedikit tercubit. Kesedihan itu sekilas kembali menghampiri. Akan tetapi buru-buru Retno menepis nya. Karena ia pun sadar.
Meratapi masa lalu tak akan membawanya pada perubahan apa pun.
"Untik apa, Nak Reno?" Tanya Retno kemudian.
"Pingin lihat aja, Tante. Sekalian mau ditunjukin ke Papa dan Mama Reno. Siapa tahu kan mereka kenal. Kalau bisa, gak apa-apa foto yang bertiga sama Tante dan juga Emma. Jadi, ada gak Tan?" Tanya Reno mengulang.
"Ada.. ehh, kenapa kamu gak minta aja ke Emma? Dia juga tahu kok di mana Tante simpan foto Papa nya," tanya balik Rerno yang terlihat bingung.
'Aduh! Iya aku lupa! Gawat nih! Bisa-bisa nanti Tante Retno curiga lagi kalau aku gak bisa kasih jawaban untuk pertanyaan nya itu!' pikiran Reno langsung kalut kalang kabut mencari alasan.
"Err.. itu, Tante. Reno lupa tanya ke Emma pas dia pergi tadi pagi. Reno coba telepon, tapi gak diangkat-angkat sama Emma. Mungkin sekarang dia lagi sibuk ya, Tant?" Jawab Reno dengan pandangan sedikit tertunduk.
'Ya ampun Ren! Kebanyakan bohongin orang tua tuh dosa tahu!' Reno mengkritik diri nya sendiri.
"O.. begitu.. mendesak banget memang nya ya, Nak?" Tanya Retno tak curiga.
'alhamdulilkah.. sepertinya Tante Retno gak curiga sama sekali,' pikir Reno merasa lega.
"Ya.. gak terlalu mendesak juga sih, Tant. Tapi Reno sekalian mau pulang siang ini ke rumah Mama-Papa. Jaid sekalian mau ngabarin soal hubungan Reno dan Emma. Dan tunjukin foto Tante sekeluarga juga. Siapa tahu kan Mama-Papa kenal Tante dan Om!" Jawab Reno dengan lancar.
Retno tanpak berpikir beberapa saat.
"Bisa tolong ambilkan tas Tante yang ada di bawah kemari itu, Nak Ren? Kayak nya dalam dompet Tante ada deh foto Papa nya Emma..," ungkao Retno kemudian.
Mendengar itu, dalam hati nya Reno langsung berseru kegirangan. Pemuda itu pun bergegas menuruti permintaan dari calon mertua nya itu.
Dianbil nga tas di laci bawah dari nakas di samping kasur, menyerahkan nya kepada Retno, dan selanjut nya menunggu.
Tak butuh waktu lama, Retno pun langsung menyerahkan selembar foto yang baru diambil nya dari dalam dompet.
"Ini Nak Reno, foto Papa nya Emma. Tapi Tante minta tokong, nanti kembaliin lagi ya, Nak Ren? Soal nya cuma itu satu-satu nya foto keluarga yang tersisa. Kalau di rumah, cuma ada foto sendiri Papa nya Emma," pinta Retno.
Reno memandangi wajah satu-satu nya lelaki dalam foto itu lekat-lekat. Sementara mulut nya menyahut singkat.
"Baik, Tante. Reno akan segera mengembalikan ini ke Tante lagi nanti. Terima kasih ya, Tante!" Ujar Reno dengan hati yang lega.
Bagaimana pun juga, kini ia sudah mendapatkan foto papa nya Emma yang bernama Kimanto. Reno hanya perlu pergi ke villa Grandhill untuk melihat apakah benar Kimanto dalam foto di tangan nya ini memiliki wajah yang sama dengan Kimanto yang tinggal di villa Grandhill saat ini.
***