Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Bertemu dalam Mimpi



Emma pulang kembali ke rumah sekitar pertengahan siang. Syukurlah ketiga nya menaiki mobil Reno. Karena saat mereka pulang hujan deras mengguyur sepanjang jalan.


Setiba nya di rumah, Retno sudah menyiapkan makan siang. Akhirnya keempat orang itu pun makan bersama di ruang tengah.


Selesai makan, Reno membantu mengangkut beberapa barang milik Emma dan juga Retno untuk dibawa ke rumah Sella. Sementara Sella ingin tidur siang di kamar tidur nya Emma.


Semalam pun Sella tidur bersama Emma. Seperti nya anak itu menganggap Emma sebagai pengganti ibu nya.


Dari siang hingga sore, Emma membantu Retno mengemas sisa barang yang hendak mereka bawa.


Rencana nya setelah pindah ke rumah Sella nanti, Retno diminta untuk beristirahat saja di rumah. Meski pada mula nya Retno menolak gagasan itu, namun dengan bujukan dari Emma yang merasa tak tega melihat nya bekerja lagi, akhirnya Retno pun setuju untuk menemani Sella saja di rumah.


Apalagi Emma pun menerima gaji yang cukup besar, meski ia menjadi wali pengganti Sella pula. Besar gaji nya sudah disepakati bersama dengan pengacara keluarga Sofia.


Emma akan menjadi pengasuh sekaligus juga tutor home schooling bagi Sella. Itu adalah pekerjaan yang paling tepat untuk nya saat itu.


Sementara itu, usaha kosmetik milik Sofia sementara diurus oleh sahabat Sofia ysmg jugs menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan itu. Dan Sella tetap menerima profit yang tetap setiap bulan nya.


Syukurlah kehidupan keluarga kecil itu berangsur membaik di setiap waktu nya.


Sella merasa sangat senang dengan kehidupan nya ini sebagai manusia kembali.


Retno pun merasa damai karena tak perlu memikirkan bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari lagi. Ia bahkan merasa senang dengan keberadaan Sella di kehidupan nya bersama Emma saat ini. Ia sudah menganggap anak perempuan itu seperti cucu nya sendiri.


Hanya satu hal yang masih menjadi kekhawatiran Retno. Yakni tentang rencana pernikahan Emma dan juga Reno yang tak pernah ia dengar lagi berita nya.


Akhirnya pada suatu siang yang tenang, saat itu Sella sedang tidur siang, ia mengajak bincang sang putri di balkon kamar tidur milik nya.


Retno selalu sennag duduk di depan balkon kamar nya itu. Karena dengan begitu ia selalu bisa melihat hamparan bunga warna-warna yang tersebar indah di taman halaman rumah.


Hati Retno selalu merasa damai setiap kali ia menangkap keindahan dalam panorama di hadapan nya itu.


"Emm.. gimana kabar hubungan mu sama Reno? Mama kok gak pernah dengar kabar nya lagi sih? Kalian masih.. berhubungan kan?" Tanya Retno tiba-tiba.


Hari itu adalah satu minggu setelah keduanya pindah ke rumah Sella.


"Uhuk! Uhuk! Mama ngagetin aja! Kok tiba-tiba nanyain soal itu sih?" Protes Emma yang masih terbatuk kecil karena kaget.


"Soal nya Mama gak pernah dengar kelanjutan nya lagi. Apa Reno gak pernah bahas soal rencana pernikahan lagi, kah, Emm?" Tanya Retno memancing.


"Mm.."


Emma terlihat bimbang untuk menjawab pertanyaan Retno tersebut.


Sebenar nya hampir setiap kali keduanya jalan di luar, Reno selalu mengajak nya untuk membahas rencana pernikahan mereka. Akan tetapi dengan berbagai alasan Emma selalu berushaa menunda-nunda dan mengalihkan topik tersebut.


Dalam benak gadis itu masih tersisa keraguan nya terhadap lelaki. Apalagi setelah ia mengetahui fakta perselingkuhan mendiang Papa nya yang diam-diam pergi meninggalkan nya dan Retno sedari ia masih kecil dulu.


Mencintai saja terlalu sulit bagi Emma. Apalagi untuk melupakan dan memaafkan?


Emma masih diliputi kebimbangan untuk menjejaki gubungan yang lebihs erius dengan Reno. Yah, walaupun ia sudah tahu juga bila di SMA dulu, Reno tak oernah selingkuh dengan Mei Chan. Tapi kan tetap sja.. trauma itu masih cukup membekas juga di ingatan nya.


"Hh.. Mama lihat, Reno seperti nya bukan penyebab nya. Tapi Mama berharap, kamu juga tak mempunyai masalah dalma persepsi mu tentang pernikahan," tutur Retno.


"Jangan pandang semua pernikahan seperti apa yang pernah Mama alami, Emm. Setiap orang memiliki jalan takdir yang berbeda-beda. Bisa jadi Reno adalah jodoh terbaik yang sudah dipersiapkan oleh Allah untuk kamu. Jadi jangan menunda-nuda sesuatu yang baik, Emm. Segera lah menikah. Halalkan hubungan kalian.. itu akan membuat Mama jadi merasa lebih tenang.." imbuh Retno lebih lanjut.


"...iya, Ma.." Emma hanya bisa menyahut singkat.


Sementara itu di benak nya, masih terbayang-bayang semua kenangan di masa lalu nya dulu. Saat ia masih kecil dan menyadari kalau ia tak lagi memiliki Papa.. juga saat kejadian kesalahpahaman nya dengan Reno terjadi..


Kebimbangan itu pada akhirnya terus terbawa hingga malam. Bahkan hingga terbawa pula ke dalam mimpi. Sampai Emma tiba-tiba terbangun di pertengahan malam buta. Lalu ia pun tergerak untuk shalat tahajjud yang pertama kali nya.


Dalam ruangan putih yang dibalut keheningan malam, Emma pun menghambakan diri nya di hadapan Allah, Sang Maha Pencipta segala.


Emma mengeluhkan semua pilu dan sedih nya kepada Allah. Hingga satu jam lama nya ia tak sadar telah pulas tidur usai berderai dalam air mata.


Setelah mendapatkan ketenangan di hsti, Emma kembali melanjutkan tidur nya lagi. Dan kali ini, ia tak lagi bermimpi buruk. Emma bahkan memimpikan sesuatu yang menjadi harapan terbesar nya sejak satu bulan yang lalu.


Emma bermimpi bertemu dengan Kimanto, Papa kandung nya yang telah tiada.


***


Dunia Mimpi..


Emma tak tahu ada di mana dia berada saat ini. Tiba-tiba saja ia ada di pinggir pantai. Duduk selonjoran menatap laut biru yang jernih.


Tak ada siapa pun di sekitar nya saat ini. Satu orang pun juga tak ada. Sedikit merasa aneh, namun Emma tak bisa menjelaskan penyebab keanehan tersebut.


"Laut nya indah banget. Dari kecil dulu, aku ingat, kalau Mama sering ngajak aku jalan-jalan di pantai. Kata Mama, Laut adalah tempat Papa mencari nafkah. Dan aku selalu berharap bisa melihat kepulangan Papa. Yang sayang nya, amat jarang bisa kusaksikan," gumam Emma bermonolog.


Masih tenang melihat laut, tiba-tiba saja Emma mendengar suara seseorang menyapa nya.


"Emma.."


Seketika Emma menoleh. Dan, ia dapati seorang pria tinggi kekar seumuran dengan Mama nya sedang berjalan menghampiri Emma.


Sesuatu terbetik di benak Emma, saatbia mencoba mengingat identitas dari lelaki itu. Sampai akhirnya Emma pun mengingat juga siapa lelaki itu.


"Pak Kiman..?" Sapa balik Emma yang hanys mengingat nama lelaki itu saja. Namun lupa dari mana kira nya Emma mengenal nya.


'huh? Aku merasa ada yang salah di sini. Seolah-olah aku sudah melupakan sesuatu yang penting. Tapi.. apa itu ya?' benak Emma kalut dalam rasa bingung yang tak bisa ia jelaskan.


***