Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Kebenaran tentang Pak Kiman



Flashback satu bulan yang lalu.


Rupanya, pertolongan Sein tepat pada waktu nya. Saat itu Sein membawa tim keamanan yang ia pinjam dari teman CEO nya yang lain.


Saat Sein menangkap sinyal ponsel milik Reno, ia terkejut saat menemukan dua buah boneka perempuan tergeletak di belakang semak-semak. Satu boneka utuh berambut pirang. Dan satu boneka yang kedua tangan nya buntung dengan rambut berwarna hitam.


Sein juga menemukan ponsel milik Reno dalam kantung baju salah satu boneka yang berambut pirang. Sebagai barang bukti, Sein pun meminta agar kedua boneka itu dibawa. Sementara ia melanjutkan pencarian ke sekitar lagi demi menemukan sahabat nya.


Syukurlah, tim keamanan yang ahli dalam pencarian orang pun berhasil menemukan jejak yang baru saja dibuat. Jejak nya mengarah melewati semak-semak yang lain.


Dan tepat saat Hara hendak memukulkan tongkat besi tepat ke kepala Reno, tim keamanan segera menghentikan nya saat itu juga.


Reno, Pak Kiman, Pak Adda dan juga Bi Hara segera diamankan.


Reno dan Pak Kiman yang terlihat memiliki luka parah pun segera dibawa ke rumah sakit. Sementara Bi hara yang menunjuk Pak Adda sebagai kaki tangan nya pun segera diamankan ke kantor polisi.


Pencarian terus berlanjut hingga ke villa Grandhill. Di sana petugas keamanan kembali menemukan sesosok mayat wanita yang seperti nya baru saja meninggal. Selain itu, mereka juga menemukan Remaja putri yang terbaring koma (Celia) di salah satu ruang rahasia. Selebih nya, tak ada lagi manusia lain di dalam villa tersebut.


Setelah dilakukan penyelidikan lebih mendalam, banyak barang bukti penyiksaan yang ditemukan di dua ruang rahasia.


Hara dan Adda pun terbukti telah melakukan penganiayaan dan pembunuhan terhadap pemilik villa Grandhill tersebut. Dan berita ini sempat menjadi headline di acara berita di televisi selama beberapa hari lama nya.


Flashback selesai.


"Gimsna sama Reno, Ma? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Emma dengan raut wajah khawatir.


"Iya. Syukurlah nasib baik masih berpihak kepada anak muda itu. Dia hanya menderita luka memar di wajah dan beberapa bagian tubuh nya yang lain saja," jawab Retno segera.


"Hanya saja.." tatapan Retno tiba-tiba menjadi tak fokus.


"Ke..kenapa Ma? Reno kenapa Ma?!" Tanya Emma merasa gugup untuk mendengar ucapan Retno berikut nya.


"Bukan Reno, Emm. Tapi nasib lelaki yang ditemukan terluka parah bersama Reno juga di tempat itu," jawab Retno mengoreksi.


Emma mengerutkan kening. Ia sama sekali tak bisa memikirkan siapa lelaki lain selain Pak Adda. Karena memang yang Emma tahu, Pak Adda dan Bi Hara saja lah yang sedang mengejar-ngejar ia, Reno dan juga Sella saat itu.


Setelah beberapa lama berpikir, Emma pun teringat pada satu lelaki lain yang berada di villa. Lebih tepat nya adalah lelaki lain yang ia dan Reno tinggalkan dalam mobil milik Nyonya Sofia, lantaran mobil yang saat itu mogok tak bisa dihidupkan.


"Pak Kiman! Emma baru ingat, Ma. Ada Pak Kiman juga yang kami tinggalkan di dalam mobil. Apa maksud Mama, Pak Kiman lah yang juga terluka parah di tempat Reno ditemukan?" Emma menebak dengan sangat tepat.


Mendengar jawaban Emma. Seketika kedua mata Retno pun jadi mengembun. Tak lama kemudian, wanita paruh bsya itu pun terisak dan akhirnya menangis tersedu-sedu.


Emma jelas kelimpungan dalam rasa bingung.


"Mama kenapa? Kenapa tiba-tiba nangis, Ma?" Emma panik seketika.


"Hiks.. Mama gak..apa-apa, Emm.. hiks..maaf. Tunggu sebentar. Beri Mama waktu," pinta Retno kemudian.


Wanita itu bergegas pergi ke kamar keicl dalan ruangan tersebut. Dan ia tetap berada di sana selama beberapa menit lama nya.


Sementara itu Emma menunggu pintu kamar kecil kembali terbuka. Ia sungguh ingin tahu apa yang sudah menyebabkan Mama nya menangis hingga seperti itu.


Retno kemudian menghela napas dalam sekali, baru mulai berbicara lagi.


"Pak Kiman yang kamu tanyakan itu, Emm.. sebenarnya dia itu adalah Papa kandung mu, Nak.." ungkap Retno dalam satu tarikan napas.


Hening.


Emma membutuhkan beberapa saat untuk mencerna isi kalimat yang disampaikan Retno kepada nya tadi.


"Pak Kiman..? Papa kandung Emma, Ma?!" Tanya Emma yang terkejut bukan main.


Retno lalu meraih kedua tangan Emma untuk kemudian digenggam nya erat. Tanpa memandang mata Emma, Eetno melanjutkan kalimat nya.


"Ya, Emm. Nama Papa mu itu adalah Kimanto," ungkap Retno dalam satu kalimat.


"Tapi..! Tapi bukan nga Papa udah lama meninggal ya, Ma?! Papa tenggelam waktu berlayar kan?!" Cecar Emma tak percaya.


"Ya. Mama kira pun begitu. Tapi ternyata papa kamu masih hidup, Emm!" Lanjut Retno.


"Gimana bisa? Maksud Emma, kalau memang Papa masih hidup, kenapa Papa gak kembali pulang ke rumah kita?!" Cecar Emma masih tak percaya kalau Kimanto adalah Papa nya yang dikabarkan telah lama tiada.


Kali ini Retno mengeratkan pegangan nya pada tangan Emma. Namun pandangan nya terlihat mengeras. Seolah ia menyimpan amarah yang tak tersalurkan.


"Papa mu.. sempat mengalami luka fatal dan terdampar di pulau terasing.. Di sana, dia.." sampai di sini, Retno terlihat begitu marah kepada entah.


"..Papa mu jatuh hati pada seorang wanita di pulau itu. Dan dia akhirnya memilih untuk.. tak kembali kepada kita!" Ungkap Retno dengan suara tertahan.


"Itu.. mana bisa begitu, Ma! Papa gak mungkin begitu kan?! Papa kan udah punya Mama.. dan juga Emma! Jadi mana bisa Papa gak bertanggung jawab kayak gitu?!" Cecar Emma masih tak percaya.


"Mama..! Mama juga gak bisa terima alasan itu, Emm.. tapi, bagaimana pun juga iti adalah masa lalu. Mama sedang mencoba memaafkan kesalahan Papa mu iti, Nak. Jadi Mama harap, kamu juga bisa memaafkan Papa mu ya, Emm?" Pinta Retno dengan kedua mata yang sudah kembali mengembun basah.


"Mana bisa begitu, Ma?! Papa udsh ninggalin kita begitu aja bertahun tahun lama nya. Sementara dia hidup bahagia sama wanita lain yang dia cinta! Dan Mama minta Emma maafin Papa begitu aja?! Emma gak terima , Ma! Emma gak terima!" Pekik Emma meluapkan amarah nya.


"Jangan begitu, Emm! Bagaimana pun juga dia itu tetap Papa kamu. Kamu harus belajar untuk memaafkan semua kesalahan nya.." tegur Retno dengan raut yang menampakkan kepedihan.


"Pokoknya Emma gak terima! Di mana sekarang Pak Kiman, Ma?! Emma mau ngomong sama dia! Biar dia tahu, kalau Emma gak akan mau maafin dia sampai kapan pun juga!" Pekik Emma masih dikuasai oleh emosi marah.


"Itu..!"


Kedua mata Rerno kembali mengembun basah. Dan Emma kembali dibuat tertegun kala sang ibunda malah kembali menitikkan air mata.


"Mama kenapa nangis lagi? Di mana sekarang Pak Kiman, Ma? Emma benar-benar harus ketemu dia sekarang juga!" Pinta Emma lagi. Kali ini dengan suara yang lebih lembut.


Dan Retno pun meyampaikan kebenaran berikut nya tentang Pak Kiman kepada Emma.


"Papa kamu sekarang..."


***