Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Ketidaksabaran Celia



Syukurlah, Emma tetap bersikukuh untuk tidak menuruti keinginan Reno yang kelewat ngebet itu.


Keduanya akhirnya hanya mengunjungi Retno di rumah sakit. Setelah itu Reno sempat pamit untuk pergi dulu. Sementara Emma masih menemani Retno.


Selepas maghrib, Reno menjemput Emma untuk kembali pulang ke apartemen. Hingga saat itu Emma belum mengatakan kepada Mama nya kalau ia ikut tinggal di apartemen milik Reno. Jadi sepengetahuan Retno, Emma kembali pulang ke rumah mereka.


Emma tak ingin Retno berpikir yang macam-macam tentang hubungan nya dengan Reno. Toh ia pun tinggal di apartemen yang berbeda dengan pemuda itu.


"Please deh, Yang. Jangan makan chicken goreng lagi dong? Itu tenggorokan gak seret apa makan gorengan terus?" Pinta Reno kepada Emma.


Saat itu mereka baru saja keluar dari halaman rumah sakit. Reno langsung berkata seperti itu usai Emma mengatakan kalau ia ingin makan fried chicken lagi.


"Tuh kan. Salah lagi! Saluran makanan itu bukan tenggorokan, Ren. Melainkan kerongkongan. Kalau tenggorokan itu saluran pernapasan. Gimana sih?! katanya juara umum SMA! Tapi ngomong kecele mulu!" Cibir Emma dari jok belakang.


"Iya Emma ku tersayang.. gak tahu juga deh kenapa. Kalau bareng kamu IQ ku rasa-rasa langsung terjun bebas. Apa pindah ke kamu ya, Sayang? Aduh!"


Reno mengaduh. Lagi-lagi Emma mencubit pinggang nya.


"Ya udah. Makan apa dong?" Tanya Emma.


"Mm.. soto gimana?" Usul Reno.


"Gak mau. Kuah nya bau ayam!" Tolak Emma mentah-mentah.


"Lha? Itu fried chicken juga kan ayam. Memang nya gak bau apa?" Reno terheran-heran.


"Enggak lah! Kan dikeringin. Kalau soto kan dikuahin. Jadi bau nya ke mana-mana," Emma beralasan.


"Mm. Sate gimana?" Usul Reno lagi.


"Gak mau. Gak higienis! Lagian, sate kan pemicu penumpukan zat karsinogenik dalam tubuh, Ren. Kamu lupa atau gak tahu sih?" Emma berceloteh.


Zat karsinogenik adalah zat pemicu kanker.


"Memang nya fried chicken gak memicu kanker apa?" Seloroh Reno.


"Ya bisa juga sih. Kalau makan nya kebanyakan. Tapi kan, aku mah enggak kebanyakan. Paling makan cuma dua atau tiga potong aja.." Emma kembali beralasan.


Reno terdiam tak menyahuti ucapan Emma lagi. Setelah beberapa lama, baru lah pemuda itu kemudian berkata.


"... Kamu pintar banget sih, Yang!" Puji Reno.


"Alhamdulillah.. dipinterin sama Allah!" Jawab Emma.


"Pintar bikin alasan maksud nya.. hahaha.. aduh!" Reno mengaduh.


Lagi-lagi Emma melayangkan cubitan gemas pada pinggang pemuda itu.


Pada akhirnya, Emma tetap membeli fried chicken. Sementara Reno membeli soto untuk dirinya sendiri.


Keduanya lalu makan bersama di apartemen Reno yang ditempati oleh Emma. Selesai makan, Reno tak bergegas kembali ke apartemen nya di lantai atas. Pemuda itu mengajak Emma untuk bermain video game terlebih dulu.


Emma yang tak mahir bermain game akhirnya harus dibantai habis-habisan oleh Reno.


Setelah kalah sebanyak belasan kali, Emma akhirnya menyerah untuk bermain lagi.


"Udah ah! Kamu curang!" Tuding Emma.


"Lho? Curang gimana sih, Emm? Aku kan main nya jujur," elak Reno.


"Mana bisa begitu, Yang. Dalam permainan itu, kita gak bisa melihat identitas pemain nya dong. Mau saudara atau musuh, main ya main aja. Lagian ini cuma permainan doang kan. Jangan dibikin baper dong, Yang," bujuk Reno merayu Emma yang kesal pada nya.


"Gak asik ah! Udah deh. Aku mau tidur aja. Tuh lihat! Udah jam setengah sepuluh malam, Ren. Kamu balik ya ke kamar mu?" Usir Emma secara langsung.


"Tega banget sih, kamu, Yang.. aku kan masih pingin bareng sama kamu," bujuk Reno kembali.


"Reno! Ingat dong! Besok kan kamu masuk kerja lagi! Udah sana ! Balik ke kamar!" Emma kembali mengusir halus Reno.


"Iya. Iya. Eh. Tapi satu lagi deh nih!" Reno menahan pintu apartemen yang hampir ditutup oleh Emma.


"Apa lagi, Ren?"


"Soal KUA, gimana kalau kita ke sana pas week end depan? KUA mah buka aja kali ya?" Tanya Reno tiba-tiba.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Emma langsung saja menutup pintu dengan cukup keras.


BRAK!


***


Emma lalu membereskan bekas permainan game yang berantakan di ruang tivi. Setelah itu barulah ia bersiap untuk tidur.


Pukul sepuluh lewat seperempat malam, Emma pun sudah terbaring di atas kasur.


***


"Bersabar lah sebentar lagi, Sayang.. Besok ibu akan membuat gadis itu datang sendiri ke villa ini. Jadi kau tak perlu risau ia akan pergi menjauh," Hara bicara pada sosok Celia yang terbaring koma di atas kasur.


Saat ini wanita paruh baya itu sedang berada di gudang rahasia. Setiap hari sebelum tidur, Hara selalu menyempatkan diri untuk menjumpai putri nya di gudang rahasia itu.


Dan meski mulut Celia tak pernah membalas perkataan nya, namun Hara masih bisa mendengar ruh putri nya itu bicara.


Saat ini, ruh milik Celia melayang tak jauh di dekat tubuh fisik nya yang terbaring koma. Ia menatap garang pada Hara, ibu nya sendiri.


"Apa? Kau ingin mengunjungi nya lagi? Pergilah jika itu mau mu, Sayang. Tapi berhati-hati lah. Jangan menarik nya lagi ke Dunia Mimpi. Untuk menghindari sesuatu terjadi padamu lagi, Sayang.." Hara menasihati sang Putri.


Dulu, Celia pernah menarik ruh Emma ke dalam Dunia Mimpi. Itu dilakukan nya tanpa sepengetahuan sang ibu.


Ia berharap bisa menguasai tubuh Emma dengan kekuatan nya sendiri. Yakni dengan cara menyerang ruh Emma hingga terluka di dunia itu, baru kemudian mengambil alih raga nya.


Meski begitu, terdapat kecacatan dalam usaha Celia saat itu. Di Dunia Mimpi, semua ruh bebas dan memiliki kekuatan yang setara.


Sepanjang ia mampu berimajinasi, maka kekuatan ruh seseorang bahkan bisa melawan hantu atau naga sekali pun!


Itu berarti, ruh milik hantu Celia pun bisa ikut terluka pula bila Emma atau orang lain menyakiti nya. Dan itu benar terjadi di satu-satu nya kesempatan yang ia lakukan beberapa waktu lalu.


Ruh Celia terluka cukup parah saat ia berusaha menyerang ruh Emma di Dunia Mimpi. Ia dilukai oleh ruh seorang Pengembara. Seseorang yang dikenal piawai dalam mengarungi Dunia Mimpi.


Yang jelas, setelah dilukai oleh ruh Pengembara itu, hantu Celia pun sempat menjadi lemah selama beberapa waktu.


Akan tetapi, ada satu hal baik yang sempat terjadi kepada Celia di Dunia Mimpi saat itu. Dan itu adalah ia berhasil memakan Buah Pengingat yang tak sengaja terjatuh dari pegangan tangan Emma saat ia hendak kabur melewati air Terjun Pelupa.


Oleh sebab itulah, Hantu Celia bisa memiliki ingatan saat ia berada di Dunia Mimpi.


***