
"Akhirnya, Aslan pun mati. Sementara semua harta yang sudah didapatnya dari Sofia telah berada di rekening ku. Aku hanya tinggal membawa pergi Celia ku pergi. Namun ternyata aku mengetahui fakta baru," Bi Hara kembali melanjutkan kisah nya.
"Ternyata Sofia telah lama mengetahui kalau Celia itu bukan putri kandung nya! Dan ternyata penyebab Celia ku sakit keras hingga koma adalah karena ulahnya yang memberikan Celia obat-obatan terlarang sejak ia masih bayi!" Ungkap Bi Hara dengan amarah yang meletup-letup.
"Beruntung nya, sampai kini Sofia tak pernah mengetahui siapa ibu kandung dari Celia. Karenanya aku pun memutuskan untuk membalaskan dendam putri ku. Dan ku buat kedua anak nya sakit koma seperti putri ku, Celia!" Papar Bi Hara dengan tatapan gila.
'Gila! Gila! Gila! Ni orang beneran gila!' rutuk Emma tanpa suara.
"Jadi, kami impas. Seharusnya memang begitu. Tapi tentu saja aku sih belum puas membalas dendam. Aku sengaja belajar ilmu hitam. Di mana dengan ilmu itu aku bisa memerangkap ruh kedua anak Sofia ke dalam boneka. Mereka adalah boneka arwah yang kau asuh saat ini, Emm. Bukankah aku begitu mengagumkan?!" Bi Hara memuji dirinya sendiri.
"Anda gila!" Cerca Emma dengan pandangan takut-takut.
"Hahaha.. terserah apa katamu. Yang jelas, kini aku berhasil membuat Sofia menjadi wanita penggila boneka arwah. Bukankah itu menyedihkan? Hihihihihi.." kali ini, Bi Hara terkikik geli, yang justru membuat Emma jadi bergidik ngeri.
'Ini beneran Bi Hara bukan sih? Apa jangan-jangan dia lagi kesurupan hantu Celia ya?!' Emma menerka sendiri dalam hati.
"Saat itu lah aku terpikirkan untuk menghadiahkan tubuh pengganti untuk putri ku, Celia. Tadi nya aku menawarkan kepadanya tubuh boneka juga. Namun tentu saja putri ku adalah yang paling pintar! Dia tak ingin tubuh boneka. Namun dia ingin tubuh manusia yang sehat sehingga ia bisa bergerak sebebasnya!" Ungkap Bi Hara lebih lanjut.
Mendengar penuturan barusan, Emma kesulitan untuk menelan ludah. Agaknya kini ia sudah tahu alasan penyekapan nya di ruangan ini adalah untuk alasan apa. Terutama ketika ia melihat senyuman lembut di wajah Bi Hara kala menatap nya.
Emma yakin kalau Bi Hara tak menujukan senyuman itu untuk dirinya. Melainkan untuk arwah putrinya yang ia harapkan akan segera menguasai tubuh nya ini.
Langsung saja Emma meraih gagang pintu dan menariknya sekuat tenaga. Sayang sekali usahanya itu sia-sia.
Bi Hara telah mengunci pintu kamar itu. Dan kini kunci nya berada di salah satu kantung kemeja yang wanita itu kenakan.
"Emma.. Emma minta maaf Bi, kalau Emma terlalu ikut campur urusan Bibi.. Emma janji gak akan bilang ke siapa-siapa soal Bibi dan semua kejahatan Bibi. Tapi Emma minta tolong, lepasin Emma ya, Bi?" Emma melantunkan permohonan nya dengan suara lirih.
"Tentu saja aku tak bisa melakukannya, Emma Sayang.. karena sebentar lagi kau akan menjadi putri ku! Adda!"
Bi Hara tiba-tiba saja meneriakkan nama Pak Adda.
Dan Emma dibuat terkejut saat mendapati Pak Adda keluar dari kamar mandi di ruangan itu. Entah sejak kapan Pak Adda berada di sana. Namun yang jelas, keberadaan lelaki itu di ruangan ini menjadi simbol bahaya bagi Emma.
Dalam hitungan detik, Pak Adda berhasil menangkap Emma. Ia kemudian memukul bagian belakang kepala Emma dengan cukup keras menggunakan tangan nya.
Hingga Emma pun tersungkur jatuh dan pingsan.
"Bawa dia ke gudang rahasia! Dan pastikan tak ada yang mengetahui keberadaannya di sana! Kita masih harus menunggu dua pekan lagi sebelum gerhana bulan tiba. Ketika saat itu tiba, barulah kita bisa melakukan ritual pergantian ruh Celia dengan ruh nya!" Titah Bi Hara panjang lebar pada Pak Adda.
Pak Adda menganggukkan kepala nya sekali, sebelum akhirnya memanggul badan Emma melewati lorong rahasia yang berada di balik lemari baju di ruangan itu.
Tinggal Bibi Hara saja akhirnya yang masih berdiri diam memandangi kepergian Adda dan juga Emma. Setelah beberapa menit menenangkan diri, Bi Hara pun keluar dari ruangan itu untuk membereskan pekerjaan nya yang lain.
Ada banyak hal yang harus ia persiapkan kini. Termasuk persiapan untuk ritual pergantian ruh pada dua pekan nanti.
***
Dengan perlahan Emma mengerjapkan matanya beberapa kali. Dan ia langsung terkejut saat menyadari kalau saat ini ia telah berbaring di atas sebuah kasur ukuran king size. Dengan tangan serta kaki yang terikat oleh tali rantai.
Saat Emma melihat lebih teliti, ternyata rantai itu telah diikat pula ke tiang kasur tempatnya berbaring.
Emma pun tersadar kalau saat ini ia telah berhasil disekap untuk kedua kali nya. Ia sungguh merutuki nasib nya yang kurang beruntung itu.
Selanjutnya, Emma mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Dan lagi-lagi ia dibuat terkejut. Lebih tepatnya lagi adalah dibuat ngeri.
Penyebab nya adalah saat pandangan nya menangkap sosok tubuh terbaring diam di samping nya pada kasur yang sama.
Pada mulanya Emma tak mengenali identitas sosok tersebut. Karena ia terbaring diam dengan masker oksigen yang menutupi separuh wajah nya.
Sosok itu tampak masih sangat muda. Mungkin seusia anak remaja belasan tahun. Rambutnya berwarna hitam dan sepanjang bahu.
Kulit perempuan itu terlihat sangat pucat. Mungkin itu disebabkan karena ia kurang menerima cahaya matahari.
Ia pun tak terlihat kurus dalam tidur nya. Mungkin itu adalah akibat dari pemberian cairan infus yang saat itu tersemat di lengan nya.
Emma lalu berusaha mengguncang tubuh perempuan itu. Namun anak perempuan itu tak jua terbangun.
Saat Emma mencoba duduk dan melihat wajah anak itu lebih seksama, ia langsung beringsut mundur seketika itu juga.
Ini dikarenakan Emma yang akhirnya mengenali identitas dari anak perempuan yang terbaring diam di samping nya itu.
Anak itu adalah Celia!
Sontak saja, Pandangan Emma pun langsung dibayangi oleh kabut ketakutan terhadap sosok Celia yang kini terbaring diam.
Tiba-tiba pula Emma teringat pada bayangan sosok hantu Celia yang ia lihat dalam kolam ikan. Dengan kedua mata merahnya yang menatap marah, Emma langsung berjengit ketakutan di pinggiran kasur.
Inginnya sih ia menjauh pergi dari kamar itu. Terutama menjauh dari sosok Celia. Namun Emma tak bisa melakukannya dikarenakan kedua tangan dan kaki nya yang telah diikat rantai ke tiang kasur.
Sekuat apapun Emma mencoba menariknya, meski itu jelas meninggalkan rasa nyeri pada pergelangan tangan nya, ikatan rantai itu tak jua mengendur.
Pada akhirnya, Emma hanya bisa menatap ngeri pada tubuh Celia yang terbaring diam di dekat nya. Sementara gadis itu melapalkan harapan nya dalam hati.
'Semoga hantu Celia gak mampir ke kamar ini untuk nengokin jasad nya! Kalau dia sampai nengokin ke sini...habis lah aku!' Harap Emma dalam hati.
***