
Syukurlah, ketakutan Emma tak mewujud nyata. Ternyata Cello mengantarkan mereka ke sebuah ruangan yang belum pernah Emma lihat.
Ruangan ini memiliki pintu yang diukir dengan gambar ular. Sementara seingat Emma, ukiran pada pintu kamar tempat ia disekap dulu bergambar harimau.
"Kamar apa ini, Cell?" Tanya boneka Sella.
"Diam lah! Jangan berisik! Seharusnya aku tak mengatakan ini pada siapa pun. Aku telah berjanji kepada Paman untuk merahasiakan tempat ini. Jika Paman tahu kalau aku telah membocorkan rahasia ini kepada kalian, Paman pasti akan sangat marah kepada ku," ujar boneka Cello terlihat takut.
"Paman? Siapa paman yang kamu maksud, Cell.. aarghh!"
Emma terkejut pada pemandangan yang ada di ujung terdalam ruangan.
"Aarrghh!! Kakak! Seram!!" Boneka Sella menjerit ketakutan dannlangsung menyembunyikan wajah nya di dada boneka Emma.
Emma pun sebenarnya ketakutan dengan penampakan di depan mata nya, namun karena ia menyadari sesuatu hal yang penting, ia pun memaksakan diri untuk tetap melihat pemandangan tersebut.
Di ujung terdalam ruang rahasia itu, seorang lelaki digantung terbalik. Kedua tangan dan kaki nya diikat dengan tali di ke empat penjuru. Lelaki itu hanya mengenakan celana pendek selutut saja.
Yang membuat Emma dan Sella ketakutan adalah banyak nya luka-luka sayatan dan tusukan pada sekujur tubuh, lengan dan kaki dari lelaki tersebut.
Bahkan wajah nya pun tak luput dari luka-luka serupa. Sehingga ada banyak ceceran darah di sekujur wajah dan tubuh lelaki itu. Hingga merembas ke atas lantai.
Lelaki itu tampak terkulai lemas, tak sadarkan diri. Ia mungkin pingsan dikarenakan semua luka dan penyiksaan yang ia terima.
"Apa ini, Cell? Apa kamu yang sudah menahan orang ini?!" Tanya Emma menuding.
Meskipun jelas, Emma sudah bisa menebak kalau Cello bukan lah pelaku kejahatan sadis di depan nya itu.
Lelaki itu bertubuh tinggi dan kekar. Jadi boneka arwah Cello sekali pun belum fentu bisa memenjarakan lelaki itu hingga terikat menempel ke dinding.
"Bukan lah! Tapi, lihat ini, Kak!" Sanggah Cello.
Kemudian boneka lelaki itu mengambil panah-panah kecil yang ada di sebuah kotak di atas meja. Lalu tanpa peringatan, ia melemparkan panah kecil itu ke arah lelaki yang ditahan di dinding.
"Cello, jangan!"
Sayang nya, peringatan Emma itu felat diucapkan. Karna Cello telah lebih dulu melemparkan anak panah nya ke arah lelaki tersebut.
Ctak.
Anak panah Cello meleset dari target nya. Anak panah itu menabrak dinding, sebelum akhirnya terjatuh ke atas lantai.
Emma seketika menghela napas lega.
"Cello! Apa yang kamu lakukan?! Itu bisa menyakiti lelaki itu kan?" Boneka Emma langsung saja memarahi boneka Cello.
Cello cemberut kesal karena telah dimarahi oleh Emma. Ia pun lalu mengutarakan pembelaan nya.
"Gak apa-apa, Kakak Cantik! Dia itu orang jahat! Orang jahat kan sudah sepantas nya dihukum! Cello kan pembasmi kejahatan yang hebat!" Cello membela diri.
"Dari mana kamu tahu kalau dia orang jahat, Cell? Dan gak seharus nya juga orang jahat bisa kita sakiti sesuka hati! Di dunia ini kan ada polisi! Tugas menghukum orang-oramg jahat itu adalah tugas nya polisi!" Emma menyampaikan argumen nya dengan kukuh.
"Kata Paman juga begitu, kok, Kak! Cello bahkan dikasih permen kalau berhasil melempar panah tepat di badan nya orang jahat itu!" Ungkap Cello kembali.
'Ya ampun! Dari tadi Cello nyebutin Paman, paman, paman melulu! Siapa sih paman gila yang dia maksud ini?! Atau jangan- jangan..?!!!' benak Emma langsung melesatkan satu nama di puncak memori nya.
'Pak Adda kah?!!' tebak Emma tanpa suara.
'Bukan kah Pak Adda adalah komplotan dari Bi Hara? Dan dia juga mengetahui kamar rahasia tempat aku disekap dulu. Bisa jadi lelaki jahat itu juga mengetahui lorong menuju kamar ini?' gumam benak Emma lebih lanjut.
"Itu gak benar, Cello! Dengan kamu menyakiti orang tiu, sama aja kamu sudah berbuat jahat! Kamu memang nya mau ditangkap Pak Polisi nanti?!" Emma mengancam Cello.
"Kakak, jangan tangkap Cello, Kak!" Boneka Sella tiba-riba merengek. Memohon ampun untuk saudara kembar nya yang masih juga terlihat tak merasa bersalah.
Emma mengusap pelan kepala boneka Emma. Ia mencoba menenangkan boneka Sella yang masih terlihat ketakitan usai melihat pemandangan lelaki berlumuran darah di dinding.
"Enggak! Cello gak akan ditangkap sama polisi! Paman kan kuat! Paman nanti akan mengalahkan pak polisi! Dan Cello akan jadi jagoan juga seperti Paman!" Cello setengah meneriaki Emma.
"Tapi Cello ingat. Paman juga pernah bilang kalau ia mau jadiin Kakak sebagai koleksi nya. Seperti nya itu sesuatu yang seru. Kakak Cantik mau kan?" Tanya boneka Cello dengan seringai abadi nya.
Emma terhuyung mundur. Lagi-lagi boneka arwah lelaki itu membuat nya merasa bergidik ngeri.
Ada kala nya Cello membuat nya mengira ia seperti kebanyakan anak lelaki pada umum nya. Namun ada kala nya juga Cello menunjukkan gelagat seperti seorang berkepribadian ganda.
'Tapi, hantu berkepribadian ganda? Mungkin kah itu terjadi?!' Emma sibuk berspekulasi.
"Cello, Paman yang kamu puji-puji itu jelas telah berbuat salah. Dia lah yang sebenar nya orang jahat, Cell! Kamu percaya sama Kak Emma ya!" Emma memberanikan diri untuk memanipulasi pemikiran Cello yang telah melenceng.
Emma sungguh penasaran dengan sosok "Paman" yang disebutkan oleh Cello. Benarkah dia Pak Adda atau bukan?
Tapi bila ditelisik dari populasi manusia yang tinggal di villa ini, hanya ada dua lelaki yang bisa dipanggil Paman oleh Cello. Pak Kiman atau Pak Adda.
'Tunggu dulu! Jika benar salah satu dari Pak Kiman dan Pak Adda adalah "Paman" yang dimaksud oleh Cello, maka satu ellaki lain nya adalah lelaki yang sudah disiksa di dinding itu kah?!!' kepala boneka Emma langsung menoleh cepat ke arah lelaki yang tergantung di dinding.
Dengan gugup dan kalut, Emma lalu melepas pelukan boneka Sella pada dirinya. Selanjut nya ia mencoba melangkah untuk mendekati sosok lelaki yag tergantung terbalik di dinding.
Emma ingin melihat profil lelaki tersebut lebih dekat lagi. Untuk mengetahui identitas sebenar nya dari lelaki itu.
Sekitar dua meter jarak nya dengan lelaki itu, Emma langsung berhenti melangkah. Mata boneka nya membuka selebar yang ia mampu untuk menunjukkan ketakjuban nya setelah mengetahui identitas dari lelaki yang telah disiksa tersebut.
"Pak.. Pak Kiman?!!" Emma pun kemudian menjeritkan nama koki di villa Grandhill itu.
Ya. Lelaki yang tergsntung terbalik di atas dinding itu ternyata adalah Pak Kiman.
***