
"Sebentar lagi kayaknya matang, Neng. Tungguin aja di sini. Mau teh? Atau susu? Bibi buatkan buat Neng Emma," Bi Hara berbaik hati menawarkan minuman kepada Emma.
Emma mengambil salah satu kursi kosong di meja dapur.
"Mm.. teh boleh deh, Bi. Tapi jangan pake gula banyak-banyak. Satu sendok aja. Makasih ya Bi.."ucap Emma dengan tulus.
Emma kemudian mengamati saat Pak Kiman dan Bi Hara sibuk di dapur. Gadis itu menopang kan wajah nya pada dua telapak tangan milik nya.
"Bibi, kira-kira kalau hari Minggu nanti Emma bisa minta ijin pulang gak ya, Bi ke Nyonya Sofia?" Tanya Emma tiba-tiba.
"Coba saja bilang ke Nyonya, Neng. Siapa tahu diijinkan. Memang nya Neng Emma ada urusan apa?" Tanya Bi Hara sambil membuang air panas dari dispenser ke gelas yang diletakkan teh celup di dalam nya.
"Mau nengokin Mama, Bi. Mama kan lagi pengobatan kanker sekarang ini. Kasihan Mama karena cuma Emma satu-satu nya keluarga Mama di dunia ini," jawab Emma dengan pandangan menerawang.
"Ya ampun. Kasihan banget sih, Mama nya, Neng. Terus Papa nya Neng Emma memang ke mana?" Tanya Bi Hara lagi.
Kali ini ia sudah berdiri di seberang Emma dan menyodorkan segelas teh yang baru diseduh nya.
"Papa udah lama meninggal, Bi. Kejadian nya waktu Emma masih kecil," jawab Emma dengan nada datar.
"Ya ampun, Neng. Sakit?" Tanya Bi Hara singkat.
"Bukan. Papa tenggelam sewaktu berlayar. Kata Mama sih begitu," jawab Emma lagi dengan nada datar yang sama.
Emma memang tak terlalu ingat dengan sosok almarhum Papa nya. Karena saat ia kecil Papa nya sering pergi berlayar.
Emma bahkan tak mengingat satu kenangan pun bersama sang Papa. Miris sekali.
"Ooh.. almarhum Papa Neng Emma itu seorang pelaut?" Tanya Bi Hara memastikan.
"Iya, Bi. Gak tahu juga sih persis nya kerja Papa tuh apa. Tapi kata Mama, Papa baru pulang setiap beberapa bulan sekali. Setahun paling cuma dua sampai tiga kali pulang," jawab Emma lagi.
Suasana di dapur tiba-tiba menjadi hening. Emma baru tersadar dengan keheningan nya setelah Pak Kiman tiba-tiba saja ikut nimbrung dalam perbincangan nya dengan Bi Hara.
"Siapa nama ibu kamu?" Tanya Pak Kiman tiba-tiba dengan suara barito nya.
"Huh?" Emma mengerjap kan mata nya kebingungan.
'Kenapa tiba-tiba Pak Kiman ikutan nimbrung ya? Perlu juga nanyain nama Mama. Kayak kenal aja!' gerutu Emma dalam hati.
"Nama Mama kamu. Siapa nama nya?" Tanya Pak Kiman mengulang.
Saat ini Pak Kiman rupanya telah selesai memasak nasi goreng untuk sarapan pagi. Lelaki paruh baya tersebut kini berdiri di dekat kulkas sambil menenggak air dari dalam botol.
Meski terkesan acuh, entah kenapa Emma merasa kalau Pak Kiman menunggu jawaban dari nya.
"Memang nya perlu apa Bapak mengetahui nya?" Tanya Emma dengan pandangan menantang.
Pak Kiman kini menatap balik Emma dengan pandangan garang. Bi Hara yang melihat situasi di dapur mulai memanas akhirnya mencoba mencairkan situasi dengan mengganti topik pembicaraan.
"Oya, Neng. Memang nya Mama Neng Emma sakit apa?" Tanya Bi Hara terburu-buru.
Emma menyadari maksud dari pertanyaan Bi Hara itu. Namun ia tak menolak untuk menjawab pertanyaan nya.
"Sakit kanker, Bi. Kanker hati stadium 2," jawab Emma dengan lugas.
....
Suasana dapur kembali menjadi hening.
"Tapi kata Dokter Liani, Mama bisa sembuh kok. Soalnya masih stadium awal kan. Jadi sekarang Mama lagi persiapan pemulihan fisik dulu. Soal nya kemarin habis kecelakaan juga sih," tutur Emma bercerita.
"Ya ampun, Neng! Mama nya kasihan banget sih?" Bi Hara menatap Emma dengan pandangan iba.
"Tenang aja, Bi. Mama itu wanita yang tangguh. Wanita paling tangguh yang pernah Emma kenal. Jadi Mama gak akan kalah sama penyakit nya itu. Emma yakin!" Ujar Emma dengan nada yakin.
Bi Hara tak berkata-kata lagi. Ia hanya terus menatap Emma dengan pandangan iba.
Sementara itu Pak Kiman masih sesekali menenggak air mineral sambil berdiri di depan kulkas. Perhatian lelaki paruh baya itu tertuju pada jendela yang terbuka.
Kebetulan pemandangan di luar jendela menampilkan kolam di belakang rumah.
"Oya Bi. Udahan dong cerita tentang Mama Emma. Sekarang, gantian Bi Hara yang cerita tentang Bi Hara ya!" Pinta Emma mencoba mengalihkan topik.
"Aduh.. cerita apa, Neng? Bibi mah gak punya banyak cerita.." elak Bi Hara dengan ekspresi jengah.
"Pastilah ada. Masa iya Bibi gak punya cerita tentang kehidupan Bibi sih? Semisal tempat lahir Bibi atau gimana sampai Bi Hara bisa kerja sama Nyonya Sofia, gitu," Emma memberikan contoh.
"Gak ada ah, Neng. Bibi malu! Udah. Neng Emma mau makan duluan sekarang atau gimana? Bibi belum tengok apa Nyonya Sofia udah bangun belum," tutur Bi Hara dengan pandangan tak fokus.
"Emma makan duluan gak apa-apa kan, Bi? Emma udah kelaparan nih!" Imbuh Emma sambil mengelus perut nya yang keroncongan sedari subuh tadi.
Biasanya saat masih di rumah, Retno selalu menyodorkan sarapan pagi sekitar jam enam. Jadi Emma sudah terbiasa untuk makan di pagi hari sebelum memulai aktivitas nya.
"Boleh. Gak apa-apa kok, Neng," jawab Bi Hara.
"Tapi Nyonya gak akan marah kan, Bi kalau Emma makan duluan di sini?" Tanya Emma minta diyakinkan.
"Enggak. Gak apa-apa, Neng. Biar nanti bibi yang jelasin ke Nyonya. Bibi ambilkan ya, Neng?" Bi Hara kembali berbaik hati menawarkan diri untuk mengambilkan sarapan nya Emma.
"Jangan, Bi. Biar Emma aja yang ambil sendiri!" Ujar Emma terburu-buru bangun.
Gadis itu lalu mengambil nasi goreng di wajan ke dalam piring. Emma cukup terkejut saat melihat jumlah nasi goreng yang hampir seperti tumpukan gunung di atas wajan tersebut.
'Lelaki itu benar-benar masak untuk orang banyak. Seperti dua kali lipat dari jumlah sebenar nya orang yang tinggal di villa Grandhill ini,' Emma berkomentar dalam hati.
"Kalau gitu, Bibi mau tengok ke atas dulu, ya, Neng. Siapa tahu Nyonya Sofia sudah bangun," ujar Bi Hara sambil berlalu keluar dari dapur.
"Iya, Bi. Makasih ya," ucap Emma.
"Sama-sama , Neng!" Jawab Bi Hara.
Setelah sosok Bi Hara tak lagi terlihat dari pintu, Emma pun sibuk menyantap nasi goreng yang telah ia ambil sendiri sesaat tadi.
Gadis itu hampir saja akan langsung melahap sarapan pagi nya, dan lupa dengan keberadaan Pak Kiman yang masih berdiri di depan kulkas.
Syukurnya Emma ingat tepat pada waktu nya sebelum ia menyuapkan nasi ke dalam mulut nya.
"Mm.. saya sarapan duluan ya, Pak Kiman!" Emma berbasa-basi. Mencoba untuk tetap bersikap sesopan mungkin.
"Hemm!" Jawab Pak Kiman sebelum akhirnya mengikuti jejak Bi Hara yang menghilang keluar dari dapur.
'Dih! Ngedehem lagi aja. Heran. Apa itu udah jadi kebiasaan nya ya?' Emma pun sibuk dengan pikiran nya sendiri.
***